27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 16, 2026
in Esai
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

Purbaya

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah terprediksi sebelumnya. Dalam lingkungan yang tidak lagi tepat, seseorang yang membawa perspektif berbeda sering kali akhirnya dipandang sebagai ancaman terhadap kenyamanan kelompok. Bukan selalu karena ia keliru, melainkan karena kehadirannya membuat sesuatu yang selama ini nyaman mulai dipertanyakan.

Ketika pesta telah usai dan piring-piring kotor segera dikumpulkan untuk dibersihkan, mungkin inilah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan merefleksikan sebuah catatan perjalanan. Sebuah perjalanan yang mungkin singkat, tetapi tetap penuh makna. Sebab panjang atau pendeknya seseorang berada dalam sebuah sistem tidak selalu menentukan nilai pengalaman yang diperolehnya. Kadang justru waktu yang singkat memberikan pelajaran yang sangat panjang untuk direnungkan.

Ada masa ketika seseorang berada di dalam sistem dan ada masa ketika ia harus berdiri di luar sistem. Keduanya bukanlah pertentangan, apalagi berarti yang satu lebih mulia daripada yang lain. Setiap ruang memiliki tugas dan tanggung jawabnya sendiri. Ketika berada di dalam pemerintahan, seseorang berkarya melalui kewenangan yang diberikan negara. Ketika berada di luar sistem, ia berkarya melalui pikiran, pengalaman, keberanian bersuara, dan ketulusan memperjuangkan kepentingan yang lebih luas.

Karena itu, ada saatnya kita berhenti menghitung berapa banyak yang telah diberikan dan mulai mensyukuri kesempatan yang pernah diterima. Pernah berada dalam pemerintahan, meskipun mungkin tidak terlalu lama, sesungguhnya merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kita belajar bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kebijakan dirumuskan, bagaimana birokrasi bekerja, sekaligus memahami bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan sesederhana yang terlihat dari luar.

Kini, ketika masa itu telah lewat, justru terbuka ruang pengabdian yang berbeda. Tidak lagi harus berada di balik meja kekuasaan untuk memberikan manfaat. Tidak harus memiliki jabatan untuk bersuara. Bahkan, berada di luar sistem dapat memberikan kebebasan yang lebih besar untuk melihat, mengkritisi, mengingatkan, sekaligus mengapresiasi. Di sinilah pengalaman masa lalu memperoleh makna baru.

Bersyukur Pernah Berkarya di Dalam Sistem

Bekerja di dalam pemerintahan mengajarkan satu hal penting: negara bukan sekadar kumpulan kebijakan dan peraturan. Di balik setiap keputusan ada manusia, ada kepentingan masyarakat, ada keterbatasan anggaran, ada prosedur, ada tarik-menarik kepentingan, dan kadang ada situasi yang tidak mungkin dipahami hanya dari teori. Pengalaman langsung membuat seseorang belajar bahwa mengelola negara jauh lebih kompleks daripada sekadar mengomentarinya.

Karena itu, mereka yang pernah berada di dalam sistem seharusnya tidak membawa pengalaman tersebut menjadi alasan untuk merasa lebih tahu daripada yang lain. Sebaliknya, pengalaman itu semestinya menjadi bekal untuk memahami persoalan dengan lebih utuh. Ia pernah melihat bagaimana sesuatu direncanakan, bagaimana keputusan diterjemahkan menjadi program, dan bagaimana program tersebut akhirnya berhadapan dengan kenyataan di lapangan.

Pada titik tertentu, seseorang perlu mengatakan kepada dirinya sendiri: sudah cukup. Bukan cukup dalam arti berhenti berkarya, melainkan cukup dalam arti tidak lagi mengejar posisi. Tidak lagi memerlukan jabatan untuk membuktikan diri. Tidak lagi menjadikan kekuasaan sebagai ukuran keberhasilan. Yang tersisa adalah kesempatan untuk menggunakan pengalaman sebagai bekal berkarya tanpa pamrih.

Bukankah pada akhirnya jabatan hanyalah sebuah persinggahan? Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan seseorang ketika mendapatkan kesempatan berada di dalamnya. Apakah ia telah bekerja sesuai kemampuan, menjaga integritas, dan memberikan yang terbaik? Jika jawabannya ya, maka saatnya bersyukur. Tidak perlu terus-menerus menoleh ke belakang dengan penyesalan tentang apa yang belum tercapai.

Dari Dalam Sistem ke Luar Sistem

Berada di luar pemerintahan bukan berarti menjadi musuh pemerintah. Kritik tidak identik dengan permusuhan. Justru demokrasi membutuhkan masyarakat yang mampu memberikan kritik dengan pikiran jernih, argumentasi yang kuat, dan niat memperbaiki keadaan. Kritik yang sehat bukan sekadar mengatakan salah, tetapi juga menunjukkan mengapa salah dan bagaimana sebaiknya diperbaiki.

Sebaliknya, apresiasi juga tidak berarti kehilangan daya kritis. Jika pemerintah melakukan sesuatu yang benar, berjalan pada jalur yang tepat, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat, mengapa harus selalu dicari kesalahannya? Mengakui keberhasilan pemerintah bukan berarti menjadi pendukung pemerintah. Itu adalah bentuk kejujuran intelektual. Kita tidak boleh menjadi kritis hanya karena pemerintah yang melakukan, sebagaimana kita tidak boleh memuji hanya karena berasal dari kelompok yang kita sukai.

Di sinilah posisi di luar sistem menjadi menarik. Kita memiliki jarak untuk mengamati tanpa harus ikut terseret seluruh kepentingan internal. Namun, karena pernah berada di dalam, kita juga memiliki pemahaman tentang berbagai keterbatasan yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat luas. Perspektif eksternal bertemu dengan pengalaman internal. Teori bertemu praktik. Idealitas berhadapan dengan realitas.

Pengalaman semacam itu adalah modal yang tidak ternilai. Kita dapat melihat sebuah persoalan dari setidaknya empat perspektif: perspektif internal pemerintahan, perspektif eksternal masyarakat, perspektif teoritis, dan perspektif praktis. Keempatnya tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang sama. Tetapi justru dari perbedaan itulah pemahaman yang lebih utuh dapat lahir. Perspektif yang ke lima dan maha penting adalah dengan kesadaran Vijnanamaya Kosha yang sudah melampaui Manomaya Kosha. Meminjam istilah Guru saya, melampaui gugusan pikiran dan perasaan beserta anak pinaknya yakni memori, obsesi dan sebagainya.

Maka, suara dari luar sistem sebaiknya bukan suara orang yang ingin menjatuhkan sistem. Ia adalah suara warga yang ingin sistem bekerja lebih baik. Ketika pemerintah benar, katakan benar. Ketika kebijakan perlu dikoreksi, katakan dengan argumentasi. Ketika rakyat dirugikan, bersuaralah. Dan ketika ada kebijakan yang baik tetapi belum sempurna pelaksanaannya, berikan masukan agar dapat diperbaiki.

Bersuara Melampaui Kepentingan Pribadi

Pada akhirnya, pengabdian yang paling matang adalah pengabdian yang tidak lagi sibuk menghitung keuntungan pribadi. Tidak semua perjuangan harus menghasilkan jabatan. Tidak setiap suara harus berujung pada penghargaan. Tidak setiap gagasan harus mencantumkan nama orang yang menyampaikannya. Ada kepuasan yang jauh lebih dalam ketika seseorang mengetahui bahwa apa yang dilakukannya memberi manfaat bagi banyak orang.

Di luar sistem, ruang untuk itu sebenarnya sangat luas. Menulis adalah salah satunya. Menyampaikan pemikiran kepada publik, mengingatkan pemerintah, memberikan alternatif, mendampingi masyarakat, ikut mengawasi pembangunan, atau sekadar membuka mata orang lain terhadap persoalan yang selama ini luput dari perhatian, semuanya merupakan bentuk pengabdian.

Yang perlu dijaga adalah niat. Jangan sampai kritik terhadap pemerintah sebenarnya hanya menjadi cara lain untuk mencari panggung. Jangan sampai perjuangan atas nama rakyat ternyata berujung pada kepentingan pribadi atau golongan. Rakyat tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berbicara atas nama mereka, tetapi membutuhkan orang yang sungguh-sungguh bersedia memperjuangkan kepentingan mereka.

Karena itu, pengalaman di dalam pemerintahan hendaknya tidak menjadi tiket untuk meminta kembali ruang kekuasaan. Jadikan ia sebagai bekal untuk memahami kekuasaan. Jangan gunakan pengalaman untuk membangun nostalgia jabatan, tetapi gunakan untuk membangun kejernihan perspektif. Ada perbedaan besar antara orang yang pernah berada dalam sistem lalu kecewa karena tidak lagi berada di dalamnya, dengan orang yang pernah berada dalam sistem lalu bersyukur karena kini dapat melihatnya dari jarak yang lebih bebas.

Purbaya Yudhi Sadewa, mungkin inilah saatnya melangkah ke ruang pengabdian yang baru. Bukan lagi berkarya karena jabatan, melainkan berkarya karena kesadaran. Bukan karena kepentingan pribadi, tetapi karena kepentingan rakyat banyak. Bukan untuk mencari posisi, melainkan untuk memberikan perspektif. Dan bukan untuk selalu mengatakan pemerintah salah, tetapi untuk memastikan bahwa ketika pemerintah berada di jalur yang benar, kita ikut mengapresiasinya.

Sebab negara membutuhkan bukan hanya orang-orang yang bekerja di dalam sistem, tetapi juga warga yang mampu mengingatkan sistem dari luar. Demokrasi membutuhkan keduanya. Pemerintahan membutuhkan kritik yang sehat. Masyarakat membutuhkan suara yang independen. Dan rakyat membutuhkan orang-orang yang bersedia berdiri melampaui kepentingan pribadi dan golongan.

Pengalaman singkat di dalam pemerintahan, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, pada akhirnya bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah bekal. Bekal untuk memahami dari dalam, melihat dari luar, menguji teori melalui praktik, dan membaca praktik dengan perspektif teori. Dari sana lahir suara yang mudah-mudahan lebih adil, lebih jernih, dan lebih manusiawi.

Inilah bentuk pengabdian yang lebih bebas: berkarya tanpa pamrih, mengkritik tanpa membenci, mengapresiasi tanpa menjilat, dan bersuara tanpa takut kehilangan apa pun. Ketika tidak ada lagi jabatan yang harus dipertahankan, suara justru dapat menjadi lebih merdeka. Dan ketika kepentingan pribadi telah diletakkan di belakang, kepentingan rakyat dapat ditempatkan di depan.

Purbaya Yudhi Sadewa, jadilah Manusia Merdeka, dalam arti yang sesungguhnya. Tanpa Partai, tanpa tepuk tangan, bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Inilah sebuah ajakan yang selalu diingatkan oleh Guru saya. Jaya Gurudeva. [T]

Tags: ekonomikeuanganpemerintahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

Next Post

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co