SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah terprediksi sebelumnya. Dalam lingkungan yang tidak lagi tepat, seseorang yang membawa perspektif berbeda sering kali akhirnya dipandang sebagai ancaman terhadap kenyamanan kelompok. Bukan selalu karena ia keliru, melainkan karena kehadirannya membuat sesuatu yang selama ini nyaman mulai dipertanyakan.
Ketika pesta telah usai dan piring-piring kotor segera dikumpulkan untuk dibersihkan, mungkin inilah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan merefleksikan sebuah catatan perjalanan. Sebuah perjalanan yang mungkin singkat, tetapi tetap penuh makna. Sebab panjang atau pendeknya seseorang berada dalam sebuah sistem tidak selalu menentukan nilai pengalaman yang diperolehnya. Kadang justru waktu yang singkat memberikan pelajaran yang sangat panjang untuk direnungkan.
Ada masa ketika seseorang berada di dalam sistem dan ada masa ketika ia harus berdiri di luar sistem. Keduanya bukanlah pertentangan, apalagi berarti yang satu lebih mulia daripada yang lain. Setiap ruang memiliki tugas dan tanggung jawabnya sendiri. Ketika berada di dalam pemerintahan, seseorang berkarya melalui kewenangan yang diberikan negara. Ketika berada di luar sistem, ia berkarya melalui pikiran, pengalaman, keberanian bersuara, dan ketulusan memperjuangkan kepentingan yang lebih luas.
Karena itu, ada saatnya kita berhenti menghitung berapa banyak yang telah diberikan dan mulai mensyukuri kesempatan yang pernah diterima. Pernah berada dalam pemerintahan, meskipun mungkin tidak terlalu lama, sesungguhnya merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kita belajar bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kebijakan dirumuskan, bagaimana birokrasi bekerja, sekaligus memahami bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan sesederhana yang terlihat dari luar.
Kini, ketika masa itu telah lewat, justru terbuka ruang pengabdian yang berbeda. Tidak lagi harus berada di balik meja kekuasaan untuk memberikan manfaat. Tidak harus memiliki jabatan untuk bersuara. Bahkan, berada di luar sistem dapat memberikan kebebasan yang lebih besar untuk melihat, mengkritisi, mengingatkan, sekaligus mengapresiasi. Di sinilah pengalaman masa lalu memperoleh makna baru.
Bersyukur Pernah Berkarya di Dalam Sistem
Bekerja di dalam pemerintahan mengajarkan satu hal penting: negara bukan sekadar kumpulan kebijakan dan peraturan. Di balik setiap keputusan ada manusia, ada kepentingan masyarakat, ada keterbatasan anggaran, ada prosedur, ada tarik-menarik kepentingan, dan kadang ada situasi yang tidak mungkin dipahami hanya dari teori. Pengalaman langsung membuat seseorang belajar bahwa mengelola negara jauh lebih kompleks daripada sekadar mengomentarinya.
Karena itu, mereka yang pernah berada di dalam sistem seharusnya tidak membawa pengalaman tersebut menjadi alasan untuk merasa lebih tahu daripada yang lain. Sebaliknya, pengalaman itu semestinya menjadi bekal untuk memahami persoalan dengan lebih utuh. Ia pernah melihat bagaimana sesuatu direncanakan, bagaimana keputusan diterjemahkan menjadi program, dan bagaimana program tersebut akhirnya berhadapan dengan kenyataan di lapangan.
Pada titik tertentu, seseorang perlu mengatakan kepada dirinya sendiri: sudah cukup. Bukan cukup dalam arti berhenti berkarya, melainkan cukup dalam arti tidak lagi mengejar posisi. Tidak lagi memerlukan jabatan untuk membuktikan diri. Tidak lagi menjadikan kekuasaan sebagai ukuran keberhasilan. Yang tersisa adalah kesempatan untuk menggunakan pengalaman sebagai bekal berkarya tanpa pamrih.
Bukankah pada akhirnya jabatan hanyalah sebuah persinggahan? Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan seseorang ketika mendapatkan kesempatan berada di dalamnya. Apakah ia telah bekerja sesuai kemampuan, menjaga integritas, dan memberikan yang terbaik? Jika jawabannya ya, maka saatnya bersyukur. Tidak perlu terus-menerus menoleh ke belakang dengan penyesalan tentang apa yang belum tercapai.
Dari Dalam Sistem ke Luar Sistem
Berada di luar pemerintahan bukan berarti menjadi musuh pemerintah. Kritik tidak identik dengan permusuhan. Justru demokrasi membutuhkan masyarakat yang mampu memberikan kritik dengan pikiran jernih, argumentasi yang kuat, dan niat memperbaiki keadaan. Kritik yang sehat bukan sekadar mengatakan salah, tetapi juga menunjukkan mengapa salah dan bagaimana sebaiknya diperbaiki.
Sebaliknya, apresiasi juga tidak berarti kehilangan daya kritis. Jika pemerintah melakukan sesuatu yang benar, berjalan pada jalur yang tepat, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat, mengapa harus selalu dicari kesalahannya? Mengakui keberhasilan pemerintah bukan berarti menjadi pendukung pemerintah. Itu adalah bentuk kejujuran intelektual. Kita tidak boleh menjadi kritis hanya karena pemerintah yang melakukan, sebagaimana kita tidak boleh memuji hanya karena berasal dari kelompok yang kita sukai.
Di sinilah posisi di luar sistem menjadi menarik. Kita memiliki jarak untuk mengamati tanpa harus ikut terseret seluruh kepentingan internal. Namun, karena pernah berada di dalam, kita juga memiliki pemahaman tentang berbagai keterbatasan yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat luas. Perspektif eksternal bertemu dengan pengalaman internal. Teori bertemu praktik. Idealitas berhadapan dengan realitas.
Pengalaman semacam itu adalah modal yang tidak ternilai. Kita dapat melihat sebuah persoalan dari setidaknya empat perspektif: perspektif internal pemerintahan, perspektif eksternal masyarakat, perspektif teoritis, dan perspektif praktis. Keempatnya tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang sama. Tetapi justru dari perbedaan itulah pemahaman yang lebih utuh dapat lahir. Perspektif yang ke lima dan maha penting adalah dengan kesadaran Vijnanamaya Kosha yang sudah melampaui Manomaya Kosha. Meminjam istilah Guru saya, melampaui gugusan pikiran dan perasaan beserta anak pinaknya yakni memori, obsesi dan sebagainya.
Maka, suara dari luar sistem sebaiknya bukan suara orang yang ingin menjatuhkan sistem. Ia adalah suara warga yang ingin sistem bekerja lebih baik. Ketika pemerintah benar, katakan benar. Ketika kebijakan perlu dikoreksi, katakan dengan argumentasi. Ketika rakyat dirugikan, bersuaralah. Dan ketika ada kebijakan yang baik tetapi belum sempurna pelaksanaannya, berikan masukan agar dapat diperbaiki.
Bersuara Melampaui Kepentingan Pribadi
Pada akhirnya, pengabdian yang paling matang adalah pengabdian yang tidak lagi sibuk menghitung keuntungan pribadi. Tidak semua perjuangan harus menghasilkan jabatan. Tidak setiap suara harus berujung pada penghargaan. Tidak setiap gagasan harus mencantumkan nama orang yang menyampaikannya. Ada kepuasan yang jauh lebih dalam ketika seseorang mengetahui bahwa apa yang dilakukannya memberi manfaat bagi banyak orang.
Di luar sistem, ruang untuk itu sebenarnya sangat luas. Menulis adalah salah satunya. Menyampaikan pemikiran kepada publik, mengingatkan pemerintah, memberikan alternatif, mendampingi masyarakat, ikut mengawasi pembangunan, atau sekadar membuka mata orang lain terhadap persoalan yang selama ini luput dari perhatian, semuanya merupakan bentuk pengabdian.
Yang perlu dijaga adalah niat. Jangan sampai kritik terhadap pemerintah sebenarnya hanya menjadi cara lain untuk mencari panggung. Jangan sampai perjuangan atas nama rakyat ternyata berujung pada kepentingan pribadi atau golongan. Rakyat tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berbicara atas nama mereka, tetapi membutuhkan orang yang sungguh-sungguh bersedia memperjuangkan kepentingan mereka.
Karena itu, pengalaman di dalam pemerintahan hendaknya tidak menjadi tiket untuk meminta kembali ruang kekuasaan. Jadikan ia sebagai bekal untuk memahami kekuasaan. Jangan gunakan pengalaman untuk membangun nostalgia jabatan, tetapi gunakan untuk membangun kejernihan perspektif. Ada perbedaan besar antara orang yang pernah berada dalam sistem lalu kecewa karena tidak lagi berada di dalamnya, dengan orang yang pernah berada dalam sistem lalu bersyukur karena kini dapat melihatnya dari jarak yang lebih bebas.
Purbaya Yudhi Sadewa, mungkin inilah saatnya melangkah ke ruang pengabdian yang baru. Bukan lagi berkarya karena jabatan, melainkan berkarya karena kesadaran. Bukan karena kepentingan pribadi, tetapi karena kepentingan rakyat banyak. Bukan untuk mencari posisi, melainkan untuk memberikan perspektif. Dan bukan untuk selalu mengatakan pemerintah salah, tetapi untuk memastikan bahwa ketika pemerintah berada di jalur yang benar, kita ikut mengapresiasinya.
Sebab negara membutuhkan bukan hanya orang-orang yang bekerja di dalam sistem, tetapi juga warga yang mampu mengingatkan sistem dari luar. Demokrasi membutuhkan keduanya. Pemerintahan membutuhkan kritik yang sehat. Masyarakat membutuhkan suara yang independen. Dan rakyat membutuhkan orang-orang yang bersedia berdiri melampaui kepentingan pribadi dan golongan.
Pengalaman singkat di dalam pemerintahan, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, pada akhirnya bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah bekal. Bekal untuk memahami dari dalam, melihat dari luar, menguji teori melalui praktik, dan membaca praktik dengan perspektif teori. Dari sana lahir suara yang mudah-mudahan lebih adil, lebih jernih, dan lebih manusiawi.
Inilah bentuk pengabdian yang lebih bebas: berkarya tanpa pamrih, mengkritik tanpa membenci, mengapresiasi tanpa menjilat, dan bersuara tanpa takut kehilangan apa pun. Ketika tidak ada lagi jabatan yang harus dipertahankan, suara justru dapat menjadi lebih merdeka. Dan ketika kepentingan pribadi telah diletakkan di belakang, kepentingan rakyat dapat ditempatkan di depan.
Purbaya Yudhi Sadewa, jadilah Manusia Merdeka, dalam arti yang sesungguhnya. Tanpa Partai, tanpa tepuk tangan, bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Inilah sebuah ajakan yang selalu diingatkan oleh Guru saya. Jaya Gurudeva. [T]































