malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya,
yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr, ṅa, ika lwirnya, saṅ hyaṅ raditya, riṅ lwaṅiṅ gunuṅ aguṅ, ṅa, i sunaṛ, yan riṅ bhuwana alit, riṅ netra kiwa tәṅәn, uṅgwanya, ika batūr gunuṅ aguṅ, ṅa, añәlәhin gumi lәpa-lәpaniṅ taṅan kalih, maṅkana kawruhakna denta.
(Lontar Tattwa Brata koleksi Klungkung, 10 v)[i]
TEPAT 100 tahun yang lalu, kawasan Batur dan seluruh tatanan peradabannya luluh lantah akibat agni pāwaka ‘lava pijar’ dahsyat yang dimuntahkan oleh Gunung Batur. Dari Pura Hulun Danu hingga rumah warga, termasuk kandang-kandang ternak masyarakat terkena lelehan lahar lalu terkubur untuk selamanya. Warga Batur pun diungsikan ke wilayah tetangga untuk menyelamatkan diri, sembari membawa berbagai barang berharga yang tersisa. Peristiwa ini dikenang dalam kening warga sebagai Rarud Batur ‘eksodus atau pengungsian warga Batur’[ii].
Meski kecintaan masyarakat Batur terhadap tanah kelahirannya begitu membatin, pemerintah Kolonial Belanda yang tengah bercokol di Bali kala itu mengeluarkan kebijakan untuk merelokasi mereka ke wilayah yang bernama Kalang Anyar. Kata kalang adalah bentuk variatif dari karang yang berarti ‘pekarangan’ (lihat variasi kata: Samplangan vs. Samprangan, Rangkung vs. Langkung, dst.). Kata anyar berarti ‘baru’. Dengan demikian, kata Kalang Anyar bermakna ‘pekarangan baru’ tempat tinggal warga yang dalam konteks ini Batur. Wilayah yang mereka tinggalkan lalu bernama Batur Let atau Batur yang lama/kuno.
Sejak saat itu, masyarakat Batur perlahan membangun kembali berbagai bangunan, tatanan adat, dan spiritual yang semula berada di Kaki Gunung Batur di wilayah barunya. Berbagai tantangan anyar pun membuntuti. Tidak hanya persoalan lahan hunian yang sempit dan kondisi tebing rumah warga yang rawan longsor. Akan tetapi juga tantangan eksternal berupa kekuasaan untuk mengelola sumber daya Batur sebelumnya, baik dari desa sekitar maupun tangan-tangan penguasa dan negara. Situasi menjadi semakin kompleks setelah industri pariwisata Bali yang menjadi pilihan tulang punggung ekonomi Bali merangsek hingga berbagai pelosok, tak terkecuali Batur.
Magnitud gunung dan danau Batur yang menarik minat wisawatan lokal dan internasional ternyata diikuti pemodal. Mereka tak mau ketinggalan untuk meraih keuntungan dengan membangun moda dan akomodasi pariwisata. Maka wajah Batur dan kawasan lainnya perlahan berubah. Tak sedikit spot untuk menikmati keindahan Batur kini kian dibatasi. Di sejumlah titiik, masyarakat mesti masuk ke Coffee Shop tertentu yang semakin berjamur di tebing-tebing labil Bangkiang Jaran ‘wilayah punggung kuda’ untuk melihat kaldera, gunung, dan danau Batur. Seperti telah menjadi siklus alami alam, semakin banyak yang datang, pada saat yang bersamaan juga semakin banyak yang akan menepi dan pergi.
Satu Pertanyaan
Melihat situasi ini, satu pertanyaan muncul. Jika 100 tahun lalu masyarakat Batur mengungsi karena letusan Gunung Batur, ke manakah Batur mesti diungsikan apabila di masa depan terjadi bencana lagi? Pertanyaan ini tentu terbuka untuk siapa saja, termasuk warga Bali secara umum dengan konsekuensi setiap pertanyaan akan dijawab dengan cara berbeda oleh setiap orang sesuai dengan latar belakangnya. Apabila kita bertanya kepada praktisi Tantra Bali melalui satu pustaka lontar berjudul Tattwa Brata, ada informasi menarik yang dapat direnungkan.
Naskah lontar ini sejatinya disusun oleh sejumlah teks. Karena pada bagian awal mendaras mengenai sistem pengetahuan tentang brata maka naskah ini diberi judul Tattwa Brata. Padahal, di dalamnya terdapat banyak teks sisipan lain seperti Tutur Kuranta Bolong, Kanda Pat, Kanda Tiga, Kanda Tunggal, Samaya Pĕjah, Tattwa Aksara, dan yang lainnya.
Dalam pembahasan tentang Bhuwanaśārīra ‘paralelitas dunia di semesta dan di dalam diri’, Gunung Batur dan Gunung Agung dibahas dalam naskah lontar ini, dengan tujuan tujuan utama untuk mencapai kekuatan adikodrati. Teks ini menyatakan seseorang yang ingin menguasai ajaran kadhyātmikan, patut melengkapi dirinya dengan pengetahuan spiritual berupa nama tempat (uṅgwan) dan gelar (haran) Sang Hyang Matahari dan Rembulan. Tempat dan gelar itu mesti dicari di semesta raya (bhuwana agung) dan di jagat diri (bhuwana alit). Menariknya, teks ini menyebutkan bahwa di alam semesta khususnya Bali, Sang Hyang Rembulan berstana di ceruk Bukit/Gunung Batur. Sementara itu, Sang Hyang Matahari, bertempat di ceruk Gunung Agung. Gelar beliau adalah I Sunar. Selanjutnya, apabila dicari di dalam tubuh, Sang Hyang Rembulan berada di mata kiri, sedangkan Sang Hyang Matahari berlokasi di mata kanan. Dua sumber cahaya inilah yang akan menyinari kedua telapak tangan (lĕpa-lĕpaning taṅan kiwa tĕngĕn).
Berdasarkan penjelasan di atas, kita menemukan paralelitas hubungan antara energi suci Rembulan dan Matahari yang dihubungkan dengan lokasi beliau di Bali, yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung, termasuk posisinya di dalam tubuh, tepatnya di mata kiri dan kanan. Hubungan kekuatan suci rembulan yang lokasinya ada di Gunung Batur dan kekuatan suci matahari yang berada di Gunung Agung masih menyisakan misteri. Kenapa para pemikir tersebut sampai pada penemuan energi halus itu di sumbu geografis bernama Gunung Batur dan Gunung Agung? Lantas, dengan alasan apa kedua sumber cahaya ini dapat menyinari wilayah yang bernama telapakan tangan kiri dan kanan?
Dua pertanyaan ini tidak mudah dijawab, tetapi bukan tidak mungkin dicari. Teks yang seperti tekstil pasti dirajut dengan semaian pemikiran lain. Dalam semaian itulah kelindan hubungan antara semesta dengan interioritas diri akan coba diselami.
Batur: Bhuwana Śarīra Maṇḍala
Tampaknya, para praktisi Tantra Bali memandang pulau ini sebagai suatu maṇḍala ‘ruang mistik’ serupa altar untuk meletakkan dan mengakses kekuatan suci dewa pujaan. Sejak awal perlu digarisbawahi bahwa Tantraadalah sistem ritual atau petunjuk esensial yang membedakan dirinya dari otoritas Weda. Tantra sendiri adalah kitab yang secara umum menjadi pegangan pemuja Śiwa atau Tantrika. [iii]
Merujuk prasasti Bali Kuno tertua yaitu Prasasti Sukawana A I yang berangka tahun 882 Masehi, sejumlah pendeta dengan gelar Śiwa sudah pernah diperintahkan ke wilayah Bukit Cintamani untuk mendirikan tempat suci bernama ulan. Pendeta-pendeta tersebut bergelar Śiwa Kangśita, Śiwa Nirmala, dan Śiwa Prajña. Wilayah Batur sendiri menjadi bagian tidak terpisahkan dari Bukit Cintamani (tua hetu syuruhku senāpati danda kumpu marodaya me bhikṣu śiwa kangśita, śiwanirmala, śiwa prajña)[iv]. Oleh sebab itu, mendekati wacana Batur dengan semesta berpikir Tantra akan memberikan pemaknaan yang signifikan.
Dalam konteks ajaran Śiwa Tantra, sejak berabad-abad silam konsep maṇḍala telah menjadi pilar penyangga tradisi spiritual ini. Ajaran tersebut menyebar dari India ke berbagai kawasan, termasuk Nusantara dan hingga kini masih dipraktikkan sebagai tradisi yang hidup di Bali. Maṇḍala yang secara umum diartikan sebagai ‘wilayah geometris’ atau ‘diagram geometris’ ini melengkapi anasir-anasir tantra terutama dalam praktik ritual yang menggunakan mantra dan sikap tubuh (mudrā). Anasir lainnya adalah peran sentral ritual inisiasi (dikṣa) yang dilakukan secara rahasia oleh guru; yoga yang melibatkan fisiologi esoterik dengan pemberdayaan energi tubuh melalui visualisasi; kompleksitas pemanfaatan suara dan aksara; serta praktik spiritual (sādhana) dan pencapaian pembebasan (mokṣa)[v].
Dalam konsep maṇḍala, Pulau Bali memang terlihat seperti wajah atau prarai yang semua orang pasti sepakat bahwa Gunung Batur dan Gunung Agung berada di wilayah hulu. Gunung Batur yang disanding danaunya tampak seperti mata yang menempati arah kiri, sedangkan Gunung Agung menempati mata di arah kanan. Posisi Sang Tantrika sendiri berada di wilayah selatan, selaras dengan tempat orang yang ingin memohon anugerah. Kakawin Arjuna Wiwāha menyebutkan bahwa Arjuna sebelum menerima anugerah paśupatiśāstra dari Hyang Śiwa bahkan menempatkan dirinya di ujung debu kaki beliau yang menjadi asal dan tujuan seluruh ciptaan. Barangkali itulah yang dilakukan dalam proses bhāwāna (dalam istilah Buddha: utpattikrama) atau visualisasi oleh para praktisi Tantra sehingga sampai pada penemuan titik gegrafis sekaligus mistis Gunung Batur dan Gunung Agung sebagai stana energi halus Rembulan dan Matahari. Untuk apa menemukan itu di dalam mata kiri dan mata kanan?
Dari berbagai pustaka lain yang bisa dirujuk seperti Paramatattwa Sūkṣma, penemuan energi rembulan pada mata kiri dan matahari pada mata kanan bertujuan untuk membangkitkan tranggana ‘bintang’ yang ada di dalam lawang kumĕrĕb atau sĕlaning lalata ‘bagian tengah kening.’ Pustaka Homa Dhyātmika menjelaskan proses itu sebagai bagian awal dari penyucian diri bersarana aksara (bhūtasuddhi)[vi]. Penyucian itu sendiri dimulai dengan pembangkitan energi api di pangkal pusar dengan bīja aksara Ang untuk membakar seluruh kekotoran. Lalu, membangkitan air suci amerta di dasar otak dengan bīja aksara Ah untuk menghanyutkannya ke sungai dan laut yang ada di telapak kaki kiri dan kanan bawah. Proses-proses internalisasi energi halus api dan air ini memang khas laku Tantrika. Oleh sebab itulah mereka mengklaim bahwa ajarannya lebih unggul (wiśeṣaśāstra) dibandingkan dengan yang lainnya dalam proses pencapaian kekuatan supranatural (siddhi) dan kenikmatan surgawi di alam semesta sesuai pilihan merek (bhoga).
Pertanyaan yang masih tersisa, kenapa pustaka Tattwa Brata ini menyatakan bahwa dua energi yaitu bulan di mata kiri dan matahari di mata kanan untuk menyinari telapak tangan kanan dan kiri?
Menurut pustaka Aji Waringin Sungsang[vii] telapak tangan adalah tempat munculnya Api Rĕkara (gĕni rĕkara mĕtu saking lĕpaning tangan). Berdasarkan penjelasan ini, adakah penemuan energi halus rembulan-matahari di mata kiri dan kanan itu dapat diberdayakan untuk membangkitkan Api Rekara yang tersembunyi halus di dalam kedua telapak tangan? Jika mengacu kepada Kakawin Arjuna Wiwāha sebagai pegangan kanon ajaran Śiwa di Nusantara yang dikemas dalam bentuk yang estetis, tampaknya kompas dugaan ke arah itu masih memungkinkan. Sebab, sebelum Arjuna menerima anugerah Śiwa, raksasa yang diperintahkan Śiwa untuk memberikan panah paśupati mengeluarkan api dari kedua telapak tangannya (mijil tang apuy ri tangan). Setelah api sirna, barulah api berubah rupa menjadi senjata panah yang pada gilirannya digunakan Arjuna untuk membunuh raksasa Niwatakawaca. Daya api dalam khazanah naskah kawiśeṣan Bali dapat digunakan untuk kepentingan konstruktif di jalur kanan (dakṣinācāra) dan kepentingan destruktif di jalur kiri (wamācāra).
Pengungsian Terakhir Batur
Sampai di titik ini, kita mencoba memberikan pemaknaan terhadap sejumlah kemungkinan atas esotersime ajaran yang ada di balik bagian pustaka Tattwa Brata dengan teks kadhyātmikannya. Yang paling tahu kebenaran makna ajaran ini tentu adalah penulis teks sendiri dengan berbagai pengalaman spiritual yang pernah dilakoninya dalam laboratorium hidupnya.
Jika apa yang direpresentasikan teks ini benar, kita melihat Batur tidak lagi bentang kawasan geografis, tetapi telah berubah menjadi satu diskursus tersendiri bagi pengamal ajaran spiritual, khususnya kadhyātmikan dan kawiśeṣan. Batur dengan energi femiminimya yang śakti menyimpan kehalusan daya adikodrati bulan yang bersatana di mata kiri. Masyarakat memuliakan beliau dengan sebutan Dewi Danuh. Tentu Batur dalam konteks ini mesti ditautkan dengan Gunung Agung sebagai satu dua pasangan utuh yang saling melengkapi.
Dengan demikian, jika kelak Batur mengalami berbagai tantangan, setiap insan yang menyadari energi halus di baliknya dapat ‘mengungsikan’ Batur di mata kiri. Inilah pengungsian terakhir Batur. Bagi siapa? Para Tantrika!
[i] Tulisan ini berhutang budi kepada kebaikan sahabat Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Klungkung, khususnya Sang Made Joni beserta rekan-rekan yang lainnya. Atas informasi yang diberikannya, penulis bisa menelusuri lontar Tattwa Brata di wilayah ini. Demikian pula kepada I Made Agus Atseriawan HS yang telah menemani dengan cerita dan bantuannya dalam digitalisasi. Tulisan ini dipertajam setelah berdiskusi dengan Cokorda Gede Bayu Putra dan IGA Paramitha di UNHI.
[ii] Disarikan dari Ariana, I Ketut Eriadi. 2025. Seabad Rarud Batur: Jelajah Ingatan, Merawat Kekerabatan (dalam kumpulan tulisan Seabad Relokasi Batur). Singaraja: Mahima Institut Indonesia.
[iii] Sanderson, Alexis. 1998. Śaivism and Trantic Traditions (in The World’s Religions, edited by S. Sutherland, et. al. London: Routledge and Kegan Paul (1988), pp. 660-704. Reprinted in The World’s Religions: The Religions of Asia, edited by F. Hardy. London: Routledge and Kegan Paul (1990), pp. 128-72.
[iv] Goris, R. 1954. Prasasti Bali I. Bandung: N.V Masa Baru.
[v] Silakan baca lebih lanjut, Tantra (Overview) oleh Shaman Hatley. Department of Asian Studies
University of Massachusetts Boston
[vi] Selanjutnya silakan baca, Palguna, IBM Dharma. 2014. Homa Dhyatmika [Terjemahan]. Mataram: Sadampatyaksara.
[vii] Palguna, IBM. 2015. Kamus Anatomi Mistis Hindu. Surabaya: Paramitha.





























