3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 3, 2026
in Esai
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji oleh waktu. Waktu adalah hakim yang tidak dapat disuap. Ia tidak peduli pada reputasi, jabatan, popularitas, ataupun retorika. Pada akhirnya, waktulah yang memperlihatkan apakah seseorang sungguh memegang prinsip, atau hanya sedang menikmati posisi yang membuat prinsip itu terdengar indah.

Karena itu, pengangkatan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres menarik untuk direnungkan. Selama bertahun-tahun Rocky dikenal sebagai pengkritik kekuasaan. Ia berbicara dari luar, mempertanyakan kebijakan pemerintah, menguji logika penguasa, dan menjadikan kebebasan berpikir sebagai bagian penting dari demokrasi. Kini ia masuk ke dalam lingkar kelembagaan kekuasaan.

Rocky sendiri mengatakan bahwa dirinya hanya “pindah dari luar ke dalam” dan tetap akan kritis. Pernyataan itu tentu harus ditempatkan sebagai pernyataan Rocky sendiri. Tidak perlu buru-buru menyimpulkan apakah ia akan berubah atau tidak. Sebab ada hal-hal yang memang tidak bisa dibuktikan melalui kata-kata. Benar atau tidaknya sikap itu biarlah terbukti dan teruji oleh waktu.

Dari Luar ke Dalam

Masuk ke dalam kekuasaan sesungguhnya bukan sesuatu yang salah. Seorang pemikir, aktivis, akademisi, atau pengkritik pemerintah tidak harus selamanya berada di luar pagar kekuasaan. Ketika memperoleh kesempatan memberikan pikiran secara langsung kepada penguasa, ia justru dapat membawa perspektif yang selama ini tidak mudah masuk ke ruang pengambilan keputusan. Persoalannya bukan pada masuk atau tidak masuk.

Persoalannya adalah apakah setelah masuk seseorang masih mampu mempertahankan jarak batin terhadap kekuasaan. Sebab kekuasaan tidak selalu menggoda melalui uang, fasilitas, atau kemewahan. Kekuasaan dapat menggoda melalui sesuatu yang jauh lebih halus: akses. Orang yang sebelumnya hanya bisa berbicara dari luar tiba-tiba dapat masuk ke ruang tempat keputusan dibicarakan.

Dahulu seorang pengkritik hanya melihat keputusan yang sudah jadi. Setelah berada di dalam, ia mengetahui proses yang melahirkannya. Ia mengetahui tekanan, kompromi, kepentingan, keterbatasan, dan informasi yang tidak diketahui masyarakat. Pengetahuan semacam itu dapat membuat seseorang semakin kritis, tetapi juga dapat membuat seseorang semakin mudah memaklumi kekuasaan.

Di situlah seorang intelektual sebenarnya diuji. Bukan ketika ia bebas berbicara dari luar, tetapi ketika kebebasan berbicaranya berpotensi membuat tidak nyaman orang yang memberinya tempat. Apakah ia masih mampu mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar? Ataukah ia perlahan menjadi bagian dari suara yang sebelumnya ia kritik?

Belajar dari Adnan Buyung

Dalam konteks inilah saya teringat kepada almarhum Adnan Buyung Nasution—ABN. Ia pernah menjadi anggota Wantimpres pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2007–2009. Setelah menjalankan tugas tersebut, ia menerbitkan buku Nasihat untuk SBY pada 2012, yang berisi pengalaman dan pemikirannya selama berada di lingkungan kepresidenan.

Ada sesuatu yang menarik dari kisah ABN. Ia tidak sekadar memperoleh akses kepada Presiden, tetapi kemudian meninggalkan catatan tertulis mengenai pengalaman memberikan nasihat kepada Presiden. Buku itu ia kaitkan dengan pertanggungjawaban moral kepada rakyat, karena lembaga kepresidenan dan para penasihatnya pada akhirnya bekerja dalam sistem yang dibiayai oleh rakyat.

Bayangkan saja, untuk bertemu seorang Presiden saja kadang susahnya setengah mati. Ada protokol, jadwal, birokrasi, pengamanan, dan lapisan-lapisan kekuasaan yang membuat seorang rakyat biasa tidak mungkin begitu saja masuk menemui kepala negara. Maka ketika seseorang memperoleh posisi yang memungkinkan dirinya memberikan nasihat kepada Presiden, sesungguhnya ia mendapatkan sebuah amanah yang tidak kecil.

Karena itu, kedudukan penasihat mestinya tidak dipahami sebagai kedudukan untuk selalu membenarkan. Penasihat justru diperlukan karena Presiden tidak mungkin selalu benar. Kalau semua orang yang berada di sekeliling penguasa hanya mengatakan “ya”, maka kekuasaan kehilangan cermin yang jujur.

ABN memberikan contoh yang menarik dalam hal ini. Dalam sejumlah persoalan, ia menyampaikan pandangan yang berbeda dengan pemerintah. Ia pernah mengingatkan Presiden Yudhoyono mengenai kebijakan terkait Ahmadiyah karena khawatir kebijakan tersebut dapat menjadi preseden bagi diskriminasi terhadap kelompok lain. Sikap semacam itu memperlihatkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak otomatis harus berarti kehilangan sikap kritis.

Godaan yang Paling Halus

Godaan kekuasaan tidak selalu berbentuk tawaran yang terang-terangan. Tidak selalu ada seseorang yang datang lalu berkata, “Jangan kritik saya.” Sering kali godaan itu datang dalam bentuk yang sangat manusiawi: Saya sekarang sudah mengetahui persoalan sebenarnya.

Kalimat itu pada awalnya mungkin benar. Orang yang berada di dalam memang mengetahui lebih banyak daripada orang yang berada di luar. Tetapi pengetahuan yang lebih banyak tidak boleh berubah menjadi alasan untuk kehilangan keberanian moral. Memahami alasan sebuah kebijakan tidak berarti harus menyetujui kebijakan tersebut.

Di sinilah garis tipis antara memahami dan membenarkan. Memahami membuat kita lebih bijaksana dalam mengkritik. Membenarkan tanpa kritik dapat membuat kita kehilangan fungsi sebagai pengingat. Seorang penasihat seharusnya bukan pengeras suara penguasa, melainkan salah satu cermin yang memungkinkan penguasa melihat dirinya sendiri.

Saya teringat pula pada prinsip sederhana: manusia memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan memiliki manusia. Jabatan seharusnya menjadi alat untuk menjalankan tugas, bukan sumber identitas. Ketika seseorang mulai merasa dirinya penting karena kursinya, bukan karena nilai yang dapat diberikannya, pada saat itulah kebebasan batin mulai terancam.

Maka tantangan Rocky sekarang bukan lagi membuktikan bahwa ia mampu mengkritik pemerintah. Itu sudah menjadi bagian dari perjalanan publiknya selama bertahun-tahun. Tantangan yang lebih berat adalah membuktikan bahwa ketika ia berada dekat dengan kekuasaan, ia tetap mampu menjaga kejernihan berpikirnya.

Waktu yang Akan Menjawab

Karena itu saya tidak ingin buru-buru menilai Rocky Gerung setelah masuk Wantimpres. Ia baru memasuki babak baru. Terlalu cepat memberikan kesimpulan justru akan menghilangkan kesempatan untuk melihat perjalanan yang sesungguhnya. Biarkan ia menjalankan tugasnya, memberikan nasihatnya, dan menghadapi berbagai persoalan yang muncul di depan.

Publik tentu berhak mengamati. Kalau dahulu Rocky mengkritik kekuasaan dari luar, sekarang publik dapat melihat bagaimana kritik itu bekerja ketika ia berada di dalam. Apakah kritik menjadi lebih matang karena pengetahuan yang lebih luas? Apakah ia tetap berani menyampaikan perbedaan? Atau apakah kedekatan dengan kekuasaan perlahan mengubah cara pandangnya?

Tidak perlu dijawab sekarang. Sebab ada pertanyaan yang memang lebih baik diserahkan kepada waktu. Terbukti dan teruji oleh waktu bukan sekadar ungkapan tentang benar dan salah. Ia adalah cara untuk menahan diri agar kita tidak terlalu cepat menghakimi seseorang berdasarkan satu peristiwa.

ABN pun tidak bisa dipahami hanya dari jabatan Wantimpres-nya. Ada jejak pemikiran, tindakan, dan tulisan yang dapat dibaca setelah perjalanan itu selesai. Nasihat untuk SBY menjadi salah satu catatan yang memungkinkan publik melihat bagaimana seorang tokoh hukum dan demokrasi memandang kekuasaan setelah mengalami kedekatan dengannya.

Mungkin di situlah relevansi ABN bagi Rocky hari ini. Bukan untuk mengatakan Rocky harus menjadi seperti ABN, apalagi membandingkan siapa yang lebih baik. Melainkan untuk mengingatkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan selalu meninggalkan ujian bagi integritas seseorang. Dan integritas tidak selesai dibuktikan dengan pernyataan ketika seseorang menerima jabatan.

Integritas justru diuji oleh keputusan-keputusan kecil yang tidak selalu terlihat kamera. Ketika nasihat kita tidak disukai, apakah tetap kita sampaikan? Ketika pendapat kita berbeda dengan orang yang memberi jabatan, apakah kita tetap mengatakannya? Ketika suatu kebijakan ternyata tidak sesuai dengan keyakinan kita, apakah kita berani menyatakan keberatan?

Pada akhirnya, jabatan akan selesai. Presiden berganti, pemerintahan berganti, para penasihat berganti, dan kursi yang hari ini terasa penting suatu saat akan ditempati orang lain. Yang tinggal bukan kursinya, bukan protokolnya, bukan aksesnya, melainkan rekam jejak seseorang ketika memperoleh kesempatan berada dekat dengan pusat kekuasaan.

Maka saya memilih untuk tidak bertanya apakah Rocky akan berubah. Saya juga tidak perlu memastikan bahwa ia akan tetap sama. Pertanyaan semacam itu terlalu dini. Saya lebih memilih mengamati, mencatat, dan membiarkan waktu bekerja.

Sebab manusia boleh mengatakan apa saja tentang dirinya. Kekuasaan boleh memberikan jabatan apa saja. Bahkan sejarah pun kadang membutuhkan waktu panjang untuk menemukan maknanya. Tetapi pada akhirnya, yang terbukti dan teruji oleh waktu akan jauh lebih kuat daripada apa pun yang kita katakan tentang diri kita sendiri.

Dan mungkin, inilah ujian sesungguhnya bagi Rocky Gerung: bukan bagaimana menjadi kritis ketika berada di luar kekuasaan, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia merdeka ketika sudah berada di dalamnya. Bukan bagaimana memperoleh akses kepada Presiden, tetapi bagaimana menggunakan akses itu untuk menyampaikan sesuatu yang memang perlu didengar Presiden.

Sebab orang yang paling sulit dikritik bukan selalu penguasa. Kadang justru kekuasaan yang sudah memberi kita tempat.

Di sanalah kesadaran diuji.

Dan sekali lagi, biarlah waktu yang membuktikan. [T]

Tags: kekuasaanrocky gerung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Next Post

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails
Next Post
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co