ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji oleh waktu. Waktu adalah hakim yang tidak dapat disuap. Ia tidak peduli pada reputasi, jabatan, popularitas, ataupun retorika. Pada akhirnya, waktulah yang memperlihatkan apakah seseorang sungguh memegang prinsip, atau hanya sedang menikmati posisi yang membuat prinsip itu terdengar indah.
Karena itu, pengangkatan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres menarik untuk direnungkan. Selama bertahun-tahun Rocky dikenal sebagai pengkritik kekuasaan. Ia berbicara dari luar, mempertanyakan kebijakan pemerintah, menguji logika penguasa, dan menjadikan kebebasan berpikir sebagai bagian penting dari demokrasi. Kini ia masuk ke dalam lingkar kelembagaan kekuasaan.
Rocky sendiri mengatakan bahwa dirinya hanya “pindah dari luar ke dalam” dan tetap akan kritis. Pernyataan itu tentu harus ditempatkan sebagai pernyataan Rocky sendiri. Tidak perlu buru-buru menyimpulkan apakah ia akan berubah atau tidak. Sebab ada hal-hal yang memang tidak bisa dibuktikan melalui kata-kata. Benar atau tidaknya sikap itu biarlah terbukti dan teruji oleh waktu.
Dari Luar ke Dalam
Masuk ke dalam kekuasaan sesungguhnya bukan sesuatu yang salah. Seorang pemikir, aktivis, akademisi, atau pengkritik pemerintah tidak harus selamanya berada di luar pagar kekuasaan. Ketika memperoleh kesempatan memberikan pikiran secara langsung kepada penguasa, ia justru dapat membawa perspektif yang selama ini tidak mudah masuk ke ruang pengambilan keputusan. Persoalannya bukan pada masuk atau tidak masuk.
Persoalannya adalah apakah setelah masuk seseorang masih mampu mempertahankan jarak batin terhadap kekuasaan. Sebab kekuasaan tidak selalu menggoda melalui uang, fasilitas, atau kemewahan. Kekuasaan dapat menggoda melalui sesuatu yang jauh lebih halus: akses. Orang yang sebelumnya hanya bisa berbicara dari luar tiba-tiba dapat masuk ke ruang tempat keputusan dibicarakan.
Dahulu seorang pengkritik hanya melihat keputusan yang sudah jadi. Setelah berada di dalam, ia mengetahui proses yang melahirkannya. Ia mengetahui tekanan, kompromi, kepentingan, keterbatasan, dan informasi yang tidak diketahui masyarakat. Pengetahuan semacam itu dapat membuat seseorang semakin kritis, tetapi juga dapat membuat seseorang semakin mudah memaklumi kekuasaan.
Di situlah seorang intelektual sebenarnya diuji. Bukan ketika ia bebas berbicara dari luar, tetapi ketika kebebasan berbicaranya berpotensi membuat tidak nyaman orang yang memberinya tempat. Apakah ia masih mampu mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar? Ataukah ia perlahan menjadi bagian dari suara yang sebelumnya ia kritik?
Belajar dari Adnan Buyung
Dalam konteks inilah saya teringat kepada almarhum Adnan Buyung Nasution—ABN. Ia pernah menjadi anggota Wantimpres pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2007–2009. Setelah menjalankan tugas tersebut, ia menerbitkan buku Nasihat untuk SBY pada 2012, yang berisi pengalaman dan pemikirannya selama berada di lingkungan kepresidenan.
Ada sesuatu yang menarik dari kisah ABN. Ia tidak sekadar memperoleh akses kepada Presiden, tetapi kemudian meninggalkan catatan tertulis mengenai pengalaman memberikan nasihat kepada Presiden. Buku itu ia kaitkan dengan pertanggungjawaban moral kepada rakyat, karena lembaga kepresidenan dan para penasihatnya pada akhirnya bekerja dalam sistem yang dibiayai oleh rakyat.
Bayangkan saja, untuk bertemu seorang Presiden saja kadang susahnya setengah mati. Ada protokol, jadwal, birokrasi, pengamanan, dan lapisan-lapisan kekuasaan yang membuat seorang rakyat biasa tidak mungkin begitu saja masuk menemui kepala negara. Maka ketika seseorang memperoleh posisi yang memungkinkan dirinya memberikan nasihat kepada Presiden, sesungguhnya ia mendapatkan sebuah amanah yang tidak kecil.
Karena itu, kedudukan penasihat mestinya tidak dipahami sebagai kedudukan untuk selalu membenarkan. Penasihat justru diperlukan karena Presiden tidak mungkin selalu benar. Kalau semua orang yang berada di sekeliling penguasa hanya mengatakan “ya”, maka kekuasaan kehilangan cermin yang jujur.
ABN memberikan contoh yang menarik dalam hal ini. Dalam sejumlah persoalan, ia menyampaikan pandangan yang berbeda dengan pemerintah. Ia pernah mengingatkan Presiden Yudhoyono mengenai kebijakan terkait Ahmadiyah karena khawatir kebijakan tersebut dapat menjadi preseden bagi diskriminasi terhadap kelompok lain. Sikap semacam itu memperlihatkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak otomatis harus berarti kehilangan sikap kritis.
Godaan yang Paling Halus
Godaan kekuasaan tidak selalu berbentuk tawaran yang terang-terangan. Tidak selalu ada seseorang yang datang lalu berkata, “Jangan kritik saya.” Sering kali godaan itu datang dalam bentuk yang sangat manusiawi: Saya sekarang sudah mengetahui persoalan sebenarnya.
Kalimat itu pada awalnya mungkin benar. Orang yang berada di dalam memang mengetahui lebih banyak daripada orang yang berada di luar. Tetapi pengetahuan yang lebih banyak tidak boleh berubah menjadi alasan untuk kehilangan keberanian moral. Memahami alasan sebuah kebijakan tidak berarti harus menyetujui kebijakan tersebut.
Di sinilah garis tipis antara memahami dan membenarkan. Memahami membuat kita lebih bijaksana dalam mengkritik. Membenarkan tanpa kritik dapat membuat kita kehilangan fungsi sebagai pengingat. Seorang penasihat seharusnya bukan pengeras suara penguasa, melainkan salah satu cermin yang memungkinkan penguasa melihat dirinya sendiri.
Saya teringat pula pada prinsip sederhana: manusia memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan memiliki manusia. Jabatan seharusnya menjadi alat untuk menjalankan tugas, bukan sumber identitas. Ketika seseorang mulai merasa dirinya penting karena kursinya, bukan karena nilai yang dapat diberikannya, pada saat itulah kebebasan batin mulai terancam.
Maka tantangan Rocky sekarang bukan lagi membuktikan bahwa ia mampu mengkritik pemerintah. Itu sudah menjadi bagian dari perjalanan publiknya selama bertahun-tahun. Tantangan yang lebih berat adalah membuktikan bahwa ketika ia berada dekat dengan kekuasaan, ia tetap mampu menjaga kejernihan berpikirnya.
Waktu yang Akan Menjawab
Karena itu saya tidak ingin buru-buru menilai Rocky Gerung setelah masuk Wantimpres. Ia baru memasuki babak baru. Terlalu cepat memberikan kesimpulan justru akan menghilangkan kesempatan untuk melihat perjalanan yang sesungguhnya. Biarkan ia menjalankan tugasnya, memberikan nasihatnya, dan menghadapi berbagai persoalan yang muncul di depan.
Publik tentu berhak mengamati. Kalau dahulu Rocky mengkritik kekuasaan dari luar, sekarang publik dapat melihat bagaimana kritik itu bekerja ketika ia berada di dalam. Apakah kritik menjadi lebih matang karena pengetahuan yang lebih luas? Apakah ia tetap berani menyampaikan perbedaan? Atau apakah kedekatan dengan kekuasaan perlahan mengubah cara pandangnya?
Tidak perlu dijawab sekarang. Sebab ada pertanyaan yang memang lebih baik diserahkan kepada waktu. Terbukti dan teruji oleh waktu bukan sekadar ungkapan tentang benar dan salah. Ia adalah cara untuk menahan diri agar kita tidak terlalu cepat menghakimi seseorang berdasarkan satu peristiwa.
ABN pun tidak bisa dipahami hanya dari jabatan Wantimpres-nya. Ada jejak pemikiran, tindakan, dan tulisan yang dapat dibaca setelah perjalanan itu selesai. Nasihat untuk SBY menjadi salah satu catatan yang memungkinkan publik melihat bagaimana seorang tokoh hukum dan demokrasi memandang kekuasaan setelah mengalami kedekatan dengannya.
Mungkin di situlah relevansi ABN bagi Rocky hari ini. Bukan untuk mengatakan Rocky harus menjadi seperti ABN, apalagi membandingkan siapa yang lebih baik. Melainkan untuk mengingatkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan selalu meninggalkan ujian bagi integritas seseorang. Dan integritas tidak selesai dibuktikan dengan pernyataan ketika seseorang menerima jabatan.
Integritas justru diuji oleh keputusan-keputusan kecil yang tidak selalu terlihat kamera. Ketika nasihat kita tidak disukai, apakah tetap kita sampaikan? Ketika pendapat kita berbeda dengan orang yang memberi jabatan, apakah kita tetap mengatakannya? Ketika suatu kebijakan ternyata tidak sesuai dengan keyakinan kita, apakah kita berani menyatakan keberatan?
Pada akhirnya, jabatan akan selesai. Presiden berganti, pemerintahan berganti, para penasihat berganti, dan kursi yang hari ini terasa penting suatu saat akan ditempati orang lain. Yang tinggal bukan kursinya, bukan protokolnya, bukan aksesnya, melainkan rekam jejak seseorang ketika memperoleh kesempatan berada dekat dengan pusat kekuasaan.
Maka saya memilih untuk tidak bertanya apakah Rocky akan berubah. Saya juga tidak perlu memastikan bahwa ia akan tetap sama. Pertanyaan semacam itu terlalu dini. Saya lebih memilih mengamati, mencatat, dan membiarkan waktu bekerja.
Sebab manusia boleh mengatakan apa saja tentang dirinya. Kekuasaan boleh memberikan jabatan apa saja. Bahkan sejarah pun kadang membutuhkan waktu panjang untuk menemukan maknanya. Tetapi pada akhirnya, yang terbukti dan teruji oleh waktu akan jauh lebih kuat daripada apa pun yang kita katakan tentang diri kita sendiri.
Dan mungkin, inilah ujian sesungguhnya bagi Rocky Gerung: bukan bagaimana menjadi kritis ketika berada di luar kekuasaan, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia merdeka ketika sudah berada di dalamnya. Bukan bagaimana memperoleh akses kepada Presiden, tetapi bagaimana menggunakan akses itu untuk menyampaikan sesuatu yang memang perlu didengar Presiden.
Sebab orang yang paling sulit dikritik bukan selalu penguasa. Kadang justru kekuasaan yang sudah memberi kita tempat.
Di sanalah kesadaran diuji.
Dan sekali lagi, biarlah waktu yang membuktikan. [T]































