3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung. Karena ini bukan pujian kepada koruptor. Jelas mereka tidak bisa dihadirkan sebagai guru tamu pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan.

Pertama, dalam hal ini saya mau sempitkan kalau nasionalisme secara sederhana kita pahami sebagai keinginan agar negara tetap ada, tetap utuh, dan tetap berdiri tidak bubar. Selanjutnya kita bisa bertanya, siapa yang paling berkepentingan agar negara ini jangan sampai bubar? Apakah rakyat? Tentu. Tetapi jangan lupa, orang-orang yang memperoleh kekayaan, jabatan, akses, proyek, izin, dan berbagai keuntungan dari mekanisme negara juga punya kepentingan yang sangat besar.

Jadi wajarlah kalau beberapa oknum mati-matian mempertahankan Indonesia bukan karena terlalu mencintai rakyat Indonesia, tetapi karena Indonesia merupakan tempat yang sangat menguntungkan bagi mereka. Kalau republik bubar, birokrasi yang bisa dimainkan ikut bubar. Anggaran yang bisa dibuat bancakan ambyar. Perizinan tidak lagi berada di tangan yang sama. Akses terhadap sumber daya alam terganggu. Jaringan patronase harus dibangun kembali. Repot. Jadi, Indonesia harus tetap eksis.

Nasionalisme Rente

Di sinilah kita bisa membedakan dua macam kecintaan terhadap negara. Yang pertama adalah nasionalisme yang berangkat dari gagasan bahwa bangsa merupakan komunitas bersama, yang dibutuhkan agar manusia yang hidup di dalamnya dapat mencapai kehidupan yang lebih aman, adil, sejahtera, dan bermartabat. Yang kedua, kita sebut saja secara satiris, nasionalisme rente, adalah ketika keberlangsungan negara menjadi penting karena negara menyediakan sumber daya dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan. 

Keduanya dari luar tampak sama. Sama-sama bicara NKRI dan menolak Indonesia bubar. Tetapi motivasinya berbeda. Yang satu ingin mempertahankan rumah bersama, yang lain ingin mempertahankan properti yang menghasilkan. Jadi bukan soal apakah Anda nasionalis, tapi Indonesia macam apa yang ingin Anda pertahankan.

Dalam ilmu ekonomi politik ada istilah yang sangat cocok untuk membaca keganjilan ini, adalah rent-seeking. World Bank menjelaskan rent-seeking sebagai upaya memanipulasi lingkungan sosial atau politik untuk memperoleh keuntungan ekonomi melalui distorsi yang diciptakan oleh regulasi atau kebijakan, jadi tidak menciptakan kekayaan melalui kegiatan produktif. Istilah lain yang berdekatan dengan ini adalah state capture, yaitu di mana kepentingan privat memengaruhi pengambilan keputusan negara untuk memperoleh keuntungan.

Bahasa gampangnya adalah bukan menciptakan kue, tetapi mengatur siapa saja yang mendapat potongan kuenya. Di sinilah terlihat negara berubah fungsi. Negara yang seharusnya menjadi instrumen bagi kepentingan publik malah berubah menjadi arena perebutan keuntungan privat.  Tengok saja, anggaran publik menjadi objek rebutan, perizinan menjadi pintu keuntungan, jabatan menjadi akses, regulasi dikulik menjadi alat tawar, sampai sumber daya alam menjadi komoditas pemegang kekuasaan.

Penjajah dari Luar dan Penjajah dari Dalam

Indonesia tidak kekurangan tanda, bahkan berlimpah data bahwa persoalan korupsi masih serius. Transparency International juga mencatat bahwa di kawasan Asia-Pasifik, untuk Indonesia, laporan 2025 menyoroti skor 34 dalam konteks kekhawatiran yang lebih luas mengenai akuntabilitas dan ruang sipil. Angka-angka tersebut tentu tidak membuktikan bahwa seluruh pejabat korup. Memang bahwa tidak semua penyelenggara negara bekerja demi kepentingan pribadi. Tetapi skor tersebut cukup untuk memperkirakan adanya apatisme dari rakyat.

Wajar ketika rakyat sinis, tidak percaya., dan mulai berpikir bahwa siapa pun yang berkuasa akan sama saja. Tidak mengherankan jika Cak Nun, sesuai yang saya baca di Aktual.com, mengatakan rakyat siap kehilangan negara, malah syukuran, karena negara dianggap cuma merepotkan rakyat. Berita itu sebenarnya agak menyedihkan, tapi mungkin rakyat kita bukannya tidak nasionalis. Sebab bisa saja yang sedang runtuh bukan kecintaan kepada tanah air, melainkan kepercayaan kepada institusi negara.

Saya yakin betul bahwa rakyat, melalui pernyataan Cak Nun itu, sebenarnya tetap mencintai Indonesia. Tetapi kecewa terhadap pemerintah. Tetap mencintai bahasa Indonesia tetapi kecewa terhadap birokrasi, tetap bangga menjadi orang Indonesia tetapi marah terhadap korupsi. Maka di sini korupsi punya efek yang lebih serius daripada angka rupiah yang hilang. Ia bisa membuat hubungan antara rakyat dan negara menjadi dingin.

Rakyat masih mati-matian taat membayar pajak, punya KTP, berusaha mengikuti aturan, mengajarkan lagu kebangsaan pada anak-anak. Tetapi di dalam hati mulai ragu, mulai menduga, jangan-jangan mereka sebagai rakyat sudah tidak penting lagi? Bukan lagi pemegang kedaulatan, tapi cuma sapi perah?

Di sinilah metafora penjajah dari dalam menjadi menarik. Tentu para koruptor tidak identik dengan penjajah kolonial. Namun secara metaforis ada satu kesamaan, bahwa kekayaan negara dan masyarakat dimanipulasi untuk kepentingan segelintir pihak yang berkuasa. Kalau penjajah kolonial datang dari luar, ini para koruptor tidak perlu begitu. Ia bisa lahir dari masyarakat itu sendiri, masuk ke institusi negara, berpakaian resmi, mengucapkan sumpah jabatan lalu berpidato tentang kepentingan rakyat. Kalau para penjajah kolonial membutuhkan wilayah yang menghasilkan, penjajah dari dalam membutuhkan negara yang tetap berdiri agar berfungsi sebagai mesin rente. Kalau kaum penjajah dulu naik kapal untuk datang ke Indonesia, penjajah dari dalam cukup naik jabatan. 

Kemudian, kekuasaan itu disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, dan rakyat harus merasakan bentuk eksploitasi yang ironis, bahwa kini yang mengambil kemakmuran mereka bukan orang asing. Melainkan orang kita sendiri. Pantaslah muncul istilah Londo Ireng, Belanda berkulit hitam, orang kita sendiri yang bertindak layaknya penjajah tempo doeloe..

Nasionalisme yang Aneh

Maka mari kembali ke paradoks awal. Seorang nasionalis sejati tentu ingin Indonesia tetap ada. Tetapi orang yang mendapatkan keuntungan dari sistem yang koruptif juga dapat mempunyai kepentingan agar Indonesia tetap ada. Keduanya bisa sama-sama teriak, “NKRI harga mati!”  Tetapi ternyata harga mati itu bisa mempunyai alasan yang berbeda. Bagi warga, Indonesia harus ada, karena ini rumah mereka. Bagi para koruptor Indonesia harus ada karena ini sumber rente dan kemakmuran.

Dan ini mungkin menjelaskan mengapa mempertahankan negara tidak selalu sama dengan mempertahankan cita-cita negara. Kita bisa sangat nasionalistis secara simbolik, tetapi gagal secara substantif. Menyedihkan saat para oknum mengibarkan bendera setinggi-tingginya sambil membiarkan kepentingan publik jatuh serendah-rendahnya. Sembari mengutuk kaum separatis tetapi merasa nyaman saja ketika kekayaan publik mereka privatisasi secara tidak etis.

Padahal, kalau memakai logika Pembukaan UUD 1945, republik dibentuk bukan sekadar agar Indonesia ada di peta. Negara dibentuk untuk melindungi bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial. Maka, nasionalisme bukan soal apakah Indonesia akan tetap utuh, tetapi soal untuk apa Indonesia harus tetap utuh.

Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Uang

Pada akhirnya, persoalan korupsi bukan cuma perkara uang. Yang dipertaruhkan adalah alasan rakyat untuk percaya kepada republik. Negara akan menghadapi persoalan yang jauh lebih serius, ketika rakyat mulai merasa bahwa keberadaan negara tidak lagi ada hubungannya dengan martabat hidup mereka.  Nasionalisme akan mulai kehilangan bahan bakarnya. Bukan karena rakyat membenci tanah air, tapi karena tanah air terasa semakin jauh dari pengalaman sehari-hari.

Kewajiban negara salah satunya adalah juga harus mampu memberi alasan kepada rakyatnya untuk dicintai. Dan di sinilah lelucon kita berawal. Sepertinya para koruptor lebih nasionalis daripada rakyat biasa. Karena mereka gigih memastikan Indonesia tetap berdiri, untuk menjamin kemakmuran segelintir mereka yang menguasainya. Sementara rakyat menginginkan sesuatu yang sedikit berbeda. Bukan sekadar Indonesia yang tetap ada, tetapi Indonesia yang benar-benar menjadi rumah bersama. Omon-omon, nasionalisme Anda model yang mana? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: koruptornasionalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co