Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara karya-karya kriya dari berbagai negara. Karya itu berjudul Suwidak Jaran, ciptaan Chrysanti Angge. Karya tersebut sebelumnya dipresentasikan dalam pameran tunggal Suwidak Jaran di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo, pada 21 sampai 28 April 2026, sebelum kemudian tampil dalam International Craft Art Exhibition, Prakriti Pustaka Padma di ARMA pada 5 sampai 18 Juli 2026.
Di hadapan karya itu, mata mungkin pertama-tama tertarik pada kuda-kuda kecil yang memenuhi cabang sebuah pohon. Bentuknya tampak sederhana, tetapi semakin lama diperhatikan, komposisi tersebut seperti membuka percakapan tentang usia, perjalanan, hubungan, dan keberadaan manusia. Suwidak Jaran bukan sekadar susunan figur kuda pada sebuah pohon. Ia adalah cara seorang perupa membaca perjalanan hidup melalui material, teknik, simbol, dan kerja tangan.
Judul Suwidak Jaran secara harfiah mengarahkan perhatian pada jumlah enam puluh dan figur kuda. Angka tersebut berkaitan langsung dengan perjalanan usia sang perupa yang lahir pada 1966. Dalam penjelasan karya, enam puluh tahun kehidupannya dipertautkan dengan shio Kuda Api. Kuda kemudian ditempatkan sebagai titik perhatian utama, sementara pohon menjadi ruang tempat seluruh perjalanan itu tumbuh dan berhubungan.

Pilihan pohon bukan sekadar keputusan visual. Dalam karya ini, pohon dipahami sebagai Tree of Life, pohon kehidupan. Batangnya dibuat dari kayu manis, sementara cabang-cabangnya menjadi tempat kuda-kuda aluminium bertengger. Batang yang tumbuh secara vertikal dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan. Cabang yang bergerak secara horizontal menggambarkan hubungan antarmanusia. Pada saat yang sama, manusia ditempatkan dalam tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dengan alam.
Di titik ini, Suwidak Jaran bergerak melampaui persoalan dekorasi. Pohon menjadi semacam peta kehidupan. Ia memiliki arah ke atas, ke samping, sekaligus ruang untuk bertumbuh. Manusia tidak berdiri sendirian dalam peta tersebut. Kehidupan berlangsung melalui hubungan yang terus bergerak antara manusia, Tuhan, sesama, dan alam.
Kuda-kuda yang mengisi pohon memberi kesan adanya gerak. Kuda secara kultural sering berhubungan dengan tenaga, perjalanan, kecepatan, dan daya hidup. Dalam karya ini, gerak tersebut justru dibekukan melalui material aluminium. Sesuatu yang secara simbolik bergerak ditempatkan dalam bentuk yang relatif tetap. Di situlah muncul ketegangan menarik antara waktu dan benda.
Enam puluh tahun adalah waktu yang telah berjalan, sementara karya seni merupakan upaya untuk menghentikan sebagian kecil dari perjalanan tersebut. Pengalaman hidup yang terus bergerak ditransformasikan menjadi bentuk yang dapat dilihat. Ingatan yang sebelumnya bersifat personal menjadi sesuatu yang dapat ditemui orang lain di ruang pamer.
Namun, pengalaman enam puluh tahun itu tidak ditampilkan sebagai autobiografi dalam pengertian konvensional. Tidak ada kisah hidup yang diceritakan secara linear. Yang muncul adalah simbol. Kuda, pohon, cabang, batang, kain, benang, dan material logam menjadi bahasa yang memungkinkan pengalaman personal dibaca secara lebih luas.
Karya ini juga menarik karena memperlihatkan bagaimana kriya bekerja melalui material. Suwidak Jaran menggunakan aluminium, kayu manis, kain drill hitam, dan benang sulam. Aluminium digunakan untuk figur kuda, kayu manis membentuk pohon kehidupan, sementara kain dan benang menjadi bagian dari latar dan konstruksi visual karya.
Material tersebut tidak hadir secara kebetulan. Masing-masing mempunyai karakter yang berbeda. Aluminium memberikan kesan ringan sekaligus keras. Kayu membawa pengalaman material yang organik. Kain menghadirkan permukaan yang lentur, sedangkan benang membuka kemungkinan garis yang lebih halus. Ketika seluruhnya dipertemukan, karya tidak hanya berbicara melalui bentuk, tetapi juga melalui perbedaan sifat benda.
Di sinilah kekuatan kriya terasa. Sebuah karya kriya tidak lahir hanya dari gagasan yang kemudian diwujudkan secara cepat. Ia menuntut hubungan tubuh dengan material. Tangan harus memahami tekanan, ketebalan, arah, tekstur, dan keterbatasan bahan. Gagasan akhirnya tidak berdiri di luar material. Gagasan justru tumbuh bersama proses pengerjaan.

Pada Suwidak Jaran, figur kuda dibuat menggunakan teknik tekan pada lembar aluminium setebal 0,2 milimeter. Tekanan tersebut membentuk figur sehingga kuda menjadi titik perhatian dalam struktur pohon kehidupan. Teknik itu memperlihatkan bahwa bentuk yang tampak sederhana sebenarnya lahir melalui penguasaan terhadap material dan proses yang tidak sederhana.
Pengalaman Chrysanti Angge dalam bidang tersebut juga memiliki sejarah panjang. Ia menempuh pendidikan S1 di ISI Yogyakarta pada bidang Kriya Logam pada 1985 sampai 1990, kemudian melanjutkan S2 pada bidang seni penciptaan Kriya Logam di institusi yang sama pada 2000 sampai 2002. Dalam perjalanan akademiknya di Universitas Negeri Surabaya, bidang yang diajarkannya juga berkaitan dengan kriya logam dan berbagai praktik studio.
Karena itu, melihat Suwidak Jaran hanya sebagai karya simbolik akan membuat sebagian pengalaman artistiknya terlewatkan. Ada pengetahuan material yang bekerja di baliknya. Ada tradisi teknik yang diwariskan dan dipelajari, ada disiplin tangan yang bertemu dengan gagasan personal.
Kriya dalam pengertian semacam ini menjadi penting karena ia mempertemukan pikiran dan tubuh. Seniman tidak hanya memikirkan apa yang hendak dikatakan, tetapi juga berhadapan dengan bagaimana sesuatu dapat dibuat. Dalam proses tersebut, material dapat menerima, menolak, atau bahkan mengubah gagasan awal.
Hal itu membuat pohon dalam karya ini terasa lebih dari sekadar simbol kehidupan. Ia juga dapat dibaca sebagai metafora proses berkarya. Sebuah pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh. Demikian pula keterampilan kriya tidak muncul dalam sehari. Ia dibentuk oleh latihan, pengulangan, kesalahan, pengalaman, dan kesabaran.
Enam puluh kuda dengan demikian dapat dibaca sebagai enam puluh bagian perjalanan, tetapi sekaligus sebagai jejak dari proses panjang seorang perupa. Setiap figur berdiri dalam struktur yang sama, namun tidak harus dibaca sebagai pengalaman yang identik. Kehidupan seseorang terdiri dari banyak peristiwa yang saling berhubungan, tetapi tidak pernah benar-benar sama.
Menariknya, pohon itu membuat pengalaman personal tersebut menjadi pengalaman yang kolektif. Kuda-kuda tidak berdiri sendiri. Mereka berada di antara cabang dan terhubung dengan batang. Secara visual saja, struktur tersebut sudah memperlihatkan bahwa perjalanan manusia selalu berlangsung dalam jaringan hubungan.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika karya ini dibawa ke ruang pamer internasional di ARMA. Prakriti-Pustaka-Padma menghadirkan 50 seniman dari delapan negara dengan total 79 karya. Karya-karya tersebut berasal dari beragam medium, mulai dari keramik, terakota, tekstil, batik, kayu, logam, hingga instalasi. Dalam konteks seperti itu, Suwidak Jaran tidak lagi hanya berbicara mengenai pengalaman seorang seniman Indonesia. Ia masuk ke dalam percakapan yang lebih luas mengenai kriya, tradisi, material, dan kehidupan.
Perpindahan dari Sidoarjo ke Ubud juga menarik untuk diperhatikan. Dalam pameran tunggal di Sidoarjo, karya tersebut berada dalam konteks perjalanan personal dan dedikasi Chrysanti terhadap kriya logam. Ketika hadir di ARMA, ia memperoleh konteks baru. Ia berhadapan dengan karya-karya dari latar budaya dan material yang berbeda.

Karya seni memang tidak pernah sepenuhnya memiliki makna tunggal. Ruang pamer dapat mengubah cara sebuah karya dibaca. Penonton yang berbeda akan membawa pengalaman masing-masing. Begitu pula karya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dapat memperoleh lapisan makna baru.
Dalam konteks Ubud, pohon kehidupan juga terasa memiliki resonansi yang kuat. Ubud selama beberapa dekade telah menjadi salah satu ruang penting bagi pertemuan seni, budaya, tradisi, dan praktik kontemporer. Kehadiran Suwidak Jaran di sana membuat gagasan mengenai hubungan manusia dan alam terasa semakin terbuka untuk dibaca dalam konteks yang lebih luas.
Meski begitu, karya ini tidak perlu dipaksa menjadi representasi tunggal tentang Bali atau Indonesia. Ia berangkat dari pengalaman seorang perupa yang memiliki sejarah pendidikan, kehidupan, dan praktik artistiknya sendiri. Justru karena berangkat dari sesuatu yang personal, ia memiliki kemungkinan untuk berbicara kepada pengalaman yang lebih universal.
Enam puluh tahun dalam karya ini akhirnya bukan hanya persoalan umur. Usia menjadi pintu masuk untuk membicarakan waktu. Waktu yang berjalan meninggalkan pengalaman, sementara pengalaman meninggalkan ingatan. Seni kemudian menjadi salah satu cara manusia menyimpan ingatan agar tidak sepenuhnya hilang bersama waktu.
Kriya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan persoalan tersebut karena setiap karya menyimpan jejak tangan. Pada permukaan material terdapat keputusan-keputusan yang pernah dibuat. Tekanan, bentuk, jahitan, susunan, dan sambungan menjadi semacam arsip kecil dari proses penciptaan.
Karena itu, Suwidak Jaran dapat dibaca sebagai arsip kehidupan yang tidak menggunakan kata-kata. Ia tidak menceritakan siapa yang ditemui, ke mana perjalanan dilakukan, atau peristiwa apa saja yang terjadi selama enam puluh tahun. Ia memilih bahasa yang lebih sunyi, yakni benda.
Benda-benda tersebut kemudian berbicara melalui hubungan. Kuda dengan pohon. Aluminium dengan kayu. Kain dengan benang. Batang dengan cabang. Vertikal dengan horizontal. Personal dengan sosial. Manusia dengan Tuhan dan alam.
Pada akhirnya, seluruh hubungan itu mengarah pada satu gagasan penting yang menjadi dasar karya ini, yaitu keseimbangan. Manusia dapat tumbuh setinggi mungkin, tetapi tetap membutuhkan akar. Ia dapat bergerak ke berbagai arah, tetapi tetap membutuhkan tempat berpijak. Ia dapat mengejar perjalanan hidupnya sendiri, tetapi tetap hidup bersama manusia lain dan alam.
Dalam dunia yang semakin cepat, pesan tersebut terasa sederhana sekaligus penting. Banyak hal dalam kehidupan modern mendorong manusia untuk bergerak terus-menerus. Kecepatan sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Suwidak Jaran menawarkan pandangan berbeda. Perjalanan tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang bergerak, tetapi juga oleh bagaimana ia menjaga hubungan selama perjalanan itu.
Di situlah Suwidak Jaran menemukan kekuatannya sebagai karya kriya kontemporer. Ia tidak meninggalkan tradisi demi mengejar kebaruan, tetapi juga tidak berhenti pada pengulangan bentuk lama. Tradisi, material, pengalaman hidup, dan gagasan personal dipertemukan dalam satu bentuk yang memungkinkan penonton membaca masa lalu sekaligus membayangkan masa depan.
Enam puluh kuda yang bertengger pada pohon kehidupan akhirnya terasa seperti kumpulan perjalanan. Mereka tidak sedang berlomba menuju satu tujuan. Mereka berada dalam satu ekosistem, saling terhubung melalui struktur pohon yang sama. Di sana, kehidupan tidak dipahami sebagai garis lurus, melainkan sebagai jaringan yang terus tumbuh.
Mungkin itu pula yang membuat karya ini terasa dekat meskipun berangkat dari pengalaman seorang seniman. Setiap orang memiliki pohonnya sendiri. Ada akar yang menyimpan masa lalu, batang yang menopang kehidupan sekarang, dan cabang-cabang yang terus membuka kemungkinan. Ada pula perjalanan yang ditempuh bersama orang lain, dengan segala pertemuan, kehilangan, dan perubahan yang menyertainya.
Pada usia enam puluh tahun, Chrysanti Angge memilih menghadirkan perjalanan itu bukan sebagai monumen bagi diri sendiri, melainkan sebagai sebuah pohon yang masih memungkinkan kehidupan bergerak. Kuda-kuda menjadi ingatan yang tidak diam sepenuhnya. Mereka mengingatkan bahwa masa lalu dapat menjadi bagian dari pertumbuhan, bukan sekadar sesuatu yang telah selesai. Dan mungkin, setelah enam puluh tahun, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa jauh seseorang telah berjalan. Pertanyaannya adalah apa yang tertinggal dari perjalanan itu. Suwidak Jaran menjawabnya melalui sebuah pohon yang penuh kehidupan. Selama masih ada sesuatu yang dapat ditumbuhkan, dibagikan, dan dijaga, perjalanan itu belum selesai. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole






























