27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 16, 2026
in Ulas Rupa
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Chrysanti Angge | Foto: Ist

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara karya-karya kriya dari berbagai negara. Karya itu berjudul Suwidak Jaran, ciptaan Chrysanti Angge. Karya tersebut sebelumnya dipresentasikan dalam pameran tunggal Suwidak Jaran di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo, pada 21 sampai 28 April 2026, sebelum kemudian tampil dalam International Craft Art Exhibition, Prakriti Pustaka Padma di ARMA pada 5 sampai 18 Juli 2026.

Di hadapan karya itu, mata mungkin pertama-tama tertarik pada kuda-kuda kecil yang memenuhi cabang sebuah pohon. Bentuknya tampak sederhana, tetapi semakin lama diperhatikan, komposisi tersebut seperti membuka percakapan tentang usia, perjalanan, hubungan, dan keberadaan manusia. Suwidak Jaran bukan sekadar susunan figur kuda pada sebuah pohon. Ia adalah cara seorang perupa membaca perjalanan hidup melalui material, teknik, simbol, dan kerja tangan.

Judul Suwidak Jaran secara harfiah mengarahkan perhatian pada jumlah enam puluh dan figur kuda. Angka tersebut berkaitan langsung dengan perjalanan usia sang perupa yang lahir pada 1966. Dalam penjelasan karya, enam puluh tahun kehidupannya dipertautkan dengan shio Kuda Api. Kuda kemudian ditempatkan sebagai titik perhatian utama, sementara pohon menjadi ruang tempat seluruh perjalanan itu tumbuh dan berhubungan.

Chrysanti Angge (tengah) bersama pengunjung pameran dengan latar karyanya yang berjudul Suwidak Jaran | Foto: Ist

Pilihan pohon bukan sekadar keputusan visual. Dalam karya ini, pohon dipahami sebagai Tree of Life, pohon kehidupan. Batangnya dibuat dari kayu manis, sementara cabang-cabangnya menjadi tempat kuda-kuda aluminium bertengger. Batang yang tumbuh secara vertikal dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan. Cabang yang bergerak secara horizontal menggambarkan hubungan antarmanusia. Pada saat yang sama, manusia ditempatkan dalam tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dengan alam.

Di titik ini, Suwidak Jaran bergerak melampaui persoalan dekorasi. Pohon menjadi semacam peta kehidupan. Ia memiliki arah ke atas, ke samping, sekaligus ruang untuk bertumbuh. Manusia tidak berdiri sendirian dalam peta tersebut. Kehidupan berlangsung melalui hubungan yang terus bergerak antara manusia, Tuhan, sesama, dan alam.

Kuda-kuda yang mengisi pohon memberi kesan adanya gerak. Kuda secara kultural sering berhubungan dengan tenaga, perjalanan, kecepatan, dan daya hidup. Dalam karya ini, gerak tersebut justru dibekukan melalui material aluminium. Sesuatu yang secara simbolik bergerak ditempatkan dalam bentuk yang relatif tetap. Di situlah muncul ketegangan menarik antara waktu dan benda.

Enam puluh tahun adalah waktu yang telah berjalan, sementara karya seni merupakan upaya untuk menghentikan sebagian kecil dari perjalanan tersebut. Pengalaman hidup yang terus bergerak ditransformasikan menjadi bentuk yang dapat dilihat. Ingatan yang sebelumnya bersifat personal menjadi sesuatu yang dapat ditemui orang lain di ruang pamer.

Namun, pengalaman enam puluh tahun itu tidak ditampilkan sebagai autobiografi dalam pengertian konvensional. Tidak ada kisah hidup yang diceritakan secara linear. Yang muncul adalah simbol. Kuda, pohon, cabang, batang, kain, benang, dan material logam menjadi bahasa yang memungkinkan pengalaman personal dibaca secara lebih luas.

Karya ini juga menarik karena memperlihatkan bagaimana kriya bekerja melalui material. Suwidak Jaran menggunakan aluminium, kayu manis, kain drill hitam, dan benang sulam. Aluminium digunakan untuk figur kuda, kayu manis membentuk pohon kehidupan, sementara kain dan benang menjadi bagian dari latar dan konstruksi visual karya.

Material tersebut tidak hadir secara kebetulan. Masing-masing mempunyai karakter yang berbeda. Aluminium memberikan kesan ringan sekaligus keras. Kayu membawa pengalaman material yang organik. Kain menghadirkan permukaan yang lentur, sedangkan benang membuka kemungkinan garis yang lebih halus. Ketika seluruhnya dipertemukan, karya tidak hanya berbicara melalui bentuk, tetapi juga melalui perbedaan sifat benda.

Di sinilah kekuatan kriya terasa. Sebuah karya kriya tidak lahir hanya dari gagasan yang kemudian diwujudkan secara cepat. Ia menuntut hubungan tubuh dengan material. Tangan harus memahami tekanan, ketebalan, arah, tekstur, dan keterbatasan bahan. Gagasan akhirnya tidak berdiri di luar material. Gagasan justru tumbuh bersama proses pengerjaan.

Chrysanti Angge (tengah) bersama bersama Rektor ISI Bali Wayan Adnyana (kiri) Foto: Ist

Pada Suwidak Jaran, figur kuda dibuat menggunakan teknik tekan pada lembar aluminium setebal 0,2 milimeter. Tekanan tersebut membentuk figur sehingga kuda menjadi titik perhatian dalam struktur pohon kehidupan. Teknik itu memperlihatkan bahwa bentuk yang tampak sederhana sebenarnya lahir melalui penguasaan terhadap material dan proses yang tidak sederhana.

Pengalaman Chrysanti Angge dalam bidang tersebut juga memiliki sejarah panjang. Ia menempuh pendidikan S1 di ISI Yogyakarta pada bidang Kriya Logam pada 1985 sampai 1990, kemudian melanjutkan S2 pada bidang seni penciptaan Kriya Logam di institusi yang sama pada 2000 sampai 2002. Dalam perjalanan akademiknya di Universitas Negeri Surabaya, bidang yang diajarkannya juga berkaitan dengan kriya logam dan berbagai praktik studio.

Karena itu, melihat Suwidak Jaran hanya sebagai karya simbolik akan membuat sebagian pengalaman artistiknya terlewatkan. Ada pengetahuan material yang bekerja di baliknya. Ada tradisi teknik yang diwariskan dan dipelajari, ada disiplin tangan yang bertemu dengan gagasan personal.

Kriya dalam pengertian semacam ini menjadi penting karena ia mempertemukan pikiran dan tubuh. Seniman tidak hanya memikirkan apa yang hendak dikatakan, tetapi juga berhadapan dengan bagaimana sesuatu dapat dibuat. Dalam proses tersebut, material dapat menerima, menolak, atau bahkan mengubah gagasan awal.

Hal itu membuat pohon dalam karya ini terasa lebih dari sekadar simbol kehidupan. Ia juga dapat dibaca sebagai metafora proses berkarya. Sebuah pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh. Demikian pula keterampilan kriya tidak muncul dalam sehari. Ia dibentuk oleh latihan, pengulangan, kesalahan, pengalaman, dan kesabaran.

Enam puluh kuda dengan demikian dapat dibaca sebagai enam puluh bagian perjalanan, tetapi sekaligus sebagai jejak dari proses panjang seorang perupa. Setiap figur berdiri dalam struktur yang sama, namun tidak harus dibaca sebagai pengalaman yang identik. Kehidupan seseorang terdiri dari banyak peristiwa yang saling berhubungan, tetapi tidak pernah benar-benar sama.

Menariknya, pohon itu membuat pengalaman personal tersebut menjadi pengalaman yang kolektif. Kuda-kuda tidak berdiri sendiri. Mereka berada di antara cabang dan terhubung dengan batang. Secara visual saja, struktur tersebut sudah memperlihatkan bahwa perjalanan manusia selalu berlangsung dalam jaringan hubungan.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika karya ini dibawa ke ruang pamer internasional di ARMA. Prakriti-Pustaka-Padma menghadirkan 50 seniman dari delapan negara dengan total 79 karya. Karya-karya tersebut berasal dari beragam medium, mulai dari keramik, terakota, tekstil, batik, kayu, logam, hingga instalasi. Dalam konteks seperti itu, Suwidak Jaran tidak lagi hanya berbicara mengenai pengalaman seorang seniman Indonesia. Ia masuk ke dalam percakapan yang lebih luas mengenai kriya, tradisi, material, dan kehidupan.

Perpindahan dari Sidoarjo ke Ubud juga menarik untuk diperhatikan. Dalam pameran tunggal di Sidoarjo, karya tersebut berada dalam konteks perjalanan personal dan dedikasi Chrysanti terhadap kriya logam. Ketika hadir di ARMA, ia memperoleh konteks baru. Ia berhadapan dengan karya-karya dari latar budaya dan material yang berbeda.

Chrysanti Angge | Foto: Ist

Karya seni memang tidak pernah sepenuhnya memiliki makna tunggal. Ruang pamer dapat mengubah cara sebuah karya dibaca. Penonton yang berbeda akan membawa pengalaman masing-masing. Begitu pula karya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dapat memperoleh lapisan makna baru.

Dalam konteks Ubud, pohon kehidupan juga terasa memiliki resonansi yang kuat. Ubud selama beberapa dekade telah menjadi salah satu ruang penting bagi pertemuan seni, budaya, tradisi, dan praktik kontemporer. Kehadiran Suwidak Jaran di sana membuat gagasan mengenai hubungan manusia dan alam terasa semakin terbuka untuk dibaca dalam konteks yang lebih luas.

Meski begitu, karya ini tidak perlu dipaksa menjadi representasi tunggal tentang Bali atau Indonesia. Ia berangkat dari pengalaman seorang perupa yang memiliki sejarah pendidikan, kehidupan, dan praktik artistiknya sendiri. Justru karena berangkat dari sesuatu yang personal, ia memiliki kemungkinan untuk berbicara kepada pengalaman yang lebih universal.

Enam puluh tahun dalam karya ini akhirnya bukan hanya persoalan umur. Usia menjadi pintu masuk untuk membicarakan waktu. Waktu yang berjalan meninggalkan pengalaman, sementara pengalaman meninggalkan ingatan. Seni kemudian menjadi salah satu cara manusia menyimpan ingatan agar tidak sepenuhnya hilang bersama waktu.

Kriya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan persoalan tersebut karena setiap karya menyimpan jejak tangan. Pada permukaan material terdapat keputusan-keputusan yang pernah dibuat. Tekanan, bentuk, jahitan, susunan, dan sambungan menjadi semacam arsip kecil dari proses penciptaan.

Karena itu, Suwidak Jaran dapat dibaca sebagai arsip kehidupan yang tidak menggunakan kata-kata. Ia tidak menceritakan siapa yang ditemui, ke mana perjalanan dilakukan, atau peristiwa apa saja yang terjadi selama enam puluh tahun. Ia memilih bahasa yang lebih sunyi, yakni benda.

Benda-benda tersebut kemudian berbicara melalui hubungan. Kuda dengan pohon. Aluminium dengan kayu. Kain dengan benang. Batang dengan cabang. Vertikal dengan horizontal. Personal dengan sosial. Manusia dengan Tuhan dan alam.

Pada akhirnya, seluruh hubungan itu mengarah pada satu gagasan penting yang menjadi dasar karya ini, yaitu keseimbangan. Manusia dapat tumbuh setinggi mungkin, tetapi tetap membutuhkan akar. Ia dapat bergerak ke berbagai arah, tetapi tetap membutuhkan tempat berpijak. Ia dapat mengejar perjalanan hidupnya sendiri, tetapi tetap hidup bersama manusia lain dan alam.

Dalam dunia yang semakin cepat, pesan tersebut terasa sederhana sekaligus penting. Banyak hal dalam kehidupan modern mendorong manusia untuk bergerak terus-menerus. Kecepatan sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Suwidak Jaran menawarkan pandangan berbeda. Perjalanan tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang bergerak, tetapi juga oleh bagaimana ia menjaga hubungan selama perjalanan itu.

Di situlah Suwidak Jaran menemukan kekuatannya sebagai karya kriya kontemporer. Ia tidak meninggalkan tradisi demi mengejar kebaruan, tetapi juga tidak berhenti pada pengulangan bentuk lama. Tradisi, material, pengalaman hidup, dan gagasan personal dipertemukan dalam satu bentuk yang memungkinkan penonton membaca masa lalu sekaligus membayangkan masa depan.

Enam puluh kuda yang bertengger pada pohon kehidupan akhirnya terasa seperti kumpulan perjalanan. Mereka tidak sedang berlomba menuju satu tujuan. Mereka berada dalam satu ekosistem, saling terhubung melalui struktur pohon yang sama. Di sana, kehidupan tidak dipahami sebagai garis lurus, melainkan sebagai jaringan yang terus tumbuh.

Mungkin itu pula yang membuat karya ini terasa dekat meskipun berangkat dari pengalaman seorang seniman. Setiap orang memiliki pohonnya sendiri. Ada akar yang menyimpan masa lalu, batang yang menopang kehidupan sekarang, dan cabang-cabang yang terus membuka kemungkinan. Ada pula perjalanan yang ditempuh bersama orang lain, dengan segala pertemuan, kehilangan, dan perubahan yang menyertainya.

Pada usia enam puluh tahun, Chrysanti Angge memilih menghadirkan perjalanan itu bukan sebagai monumen bagi diri sendiri, melainkan sebagai sebuah pohon yang masih memungkinkan kehidupan bergerak. Kuda-kuda menjadi ingatan yang tidak diam sepenuhnya. Mereka mengingatkan bahwa masa lalu dapat menjadi bagian dari pertumbuhan, bukan sekadar sesuatu yang telah selesai. Dan mungkin, setelah enam puluh tahun, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa jauh seseorang telah berjalan. Pertanyaannya adalah apa yang tertinggal dari perjalanan itu. Suwidak Jaran menjawabnya melalui sebuah pohon yang penuh kehidupan. Selama masih ada sesuatu yang dapat ditumbuhkan, dibagikan, dan dijaga, perjalanan itu belum selesai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Museum ARMAPameran Seni RupaSeni KriyaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

Next Post

Membaca Naga Agus Kama Loedin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Naga Agus Kama Loedin

Membaca Naga Agus Kama Loedin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co