14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guci Nasib di Titik Nol Kota

I Wayan Westa by I Wayan Westa
September 22, 2026
in Ulas Rupa
Guci Nasib di Titik Nol Kota

Performance di sekitar Pandora Paradise

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang, entah tersesat di mana…” [GM Sukawidana]

Nyaris enam tahun silam, tiba-tiba dunia dilanda Covid-19. Pandemi  membuat buram dunia. Sekolah-sekolah tutup,  ruang-ruang pendidikan  diselenggarakan lewat jalur daring. Pasar, tempat suci, kawasan umum  mendadak sepi. Orang-orang menghindar dari kerumunan. Mereka  yang terdeteksi covid dikarantina, tak boleh dijenguk, kecuali  petugas medis.  Wajah-wajah tertutup masker. Siang malam, rumah sakit  bergulat dengan kegawatan.  

Dilanda pandemi mematikan ini, saint, ilmu, agama,  devosi, dan upacara  nyaris tak berkutik, ia lumpuh. Dunia  terkena kutuk massal. Kabar kematian menyeruak  ke seluruh penjuru. Kematian demi kematian  berjalan lurus menunggu waktu. Setiap orang was-was, takut, entah kapan dewa maut itu memanggil. Dunia sosial mendramatisir situasi jadi kian mengerikan.

Di tengah drama pilu itu, di titik nol Kota Denpasar,  seniman kelahiran Tibubeneng, I Ketut Putrayasa, menyajikan  sentakan psikologis, teka-teki nasib pulau. Di tengah kota, di kawasan riungan kendaraan yang biasanya makin memadat — tetiba jalan-jalan jadi melamat — lalu-lalang kendaraan tak sepadat sebelum pandemi merebak.

Dan di tengah kegawatan itu, Ketut Putrayasa menghadirkan seni instalasi  berukuran 660 x 270 x 180 cm,  dengan 5 kotak akrilik transparan, dipajang  sebagai untuk mengingatkan takdir pulau ini – yang dari dulu dirawat dengan puja-puji dan kedermawanan semu, sebagaima mana kata-kata Paoulo Freire. Julukan Bali sebagai Pulau Surga, Pulau Dewata, kerap membuat kita abai, sembari memuji-memuji diri; di pulau surga, neraka tak mungkin mendekat.

Pandora Paradise, seni instalasi karya I Ketut Putrayasa saat dipamerkan di kawasan titik nol Kota Denpasar

Hari itu  tanggal 15 Desember 2020. Gelar  ini dipajang tepat di penghujung tahun  paling murung. Orang-orang kehilangan pekerjaan. Pariwisata mati. Entah, apa maksud sang seniman,  memajang karyanya menghadap rumah jabatan gubernur. Apakah dia tengah menyeru, berharap sang penguasa  tidak kehilangan imajinasi  perihal pulau ini, daya budi generasinya tidak melorot semata kepentingan politik praktis.

Pandora  adalah kisah  mitologi Yunani. Nun setelah Prometheus mencuri api untuk manusia, Zeus murka. Ia memerintahkan Hephaestus menciptakan perempuan pertama dari tanah, namanya; Pandora, yang berarti semua hadiah. Kepadanya diserahkan sebuah Pithos, guci besar yang kedap, berisi segala keburukan dunia: penyakit, kematian, kebencian, kelaparan, termasuk kerakusan pada kekuasaan.

Karena rasa ingin tahu, Pandora membuka guci itu. Seketika semua keburukan  beterbangan menyeruak ke bumi. Pandora segera menutupnya kembali. Tertinggal di dasar kotak, satu yang tidak sempat keluar: Elpis, harapan.

Penyair GM Sukawidana membaca puisi di sisi Pandora Paradise

Mitos ini ditafsir ulang secara bebas  Ketut Putrayasa, dan karena itu ia menjadi relevan  bagi pulaunya yang tengah ringkih dari tindihan segudang masalah. Jika kotak Pandora  kedap dan tertutup rapat, kotak di Titik Nol  justru dibuat transparan, terlihat ranum memabukkan mata. Sebab dunia kini memang sudah tanpa rahasia. Di bawah terpaan lampu malam, bambu-bambu sintetis runcing warna-warni — merah, putih, kuning, hijau, orange, emas — tampak melayang dan menembus kotak dari dalam ke luar. Atau sang seniman menafsir pulaunya sedang ditelanjangi.

Karena kotak itu transparan, kita bisa melihat dengan jelas bahwa itulah keburukan yang telah keluar, kekacauan yang menyeruak dari dalam. Warna-warni itulah yang menipu mata, dan karena itu kurator pameran Tatang Bsp menjelaskan dengan satire tajam: “Yang tampak warna-warni itu jadi palsu. Seperti kedermawan palsu para penguasa. Dan Pandora Paradise seakan medan tarung antara keindahan dan kengerian yang menghujam. Warna psychedelic pada bambu-bambu sintetik itu menenggelamkan rasa ngeri di  ujung runcing bambu.”

Lewat  bahasa rupa menohok, sebagaimana esai-esai  mengiris Albert Camus, Putrayasa seperti mengingatkan khalayak. ”Kita suka menutupi kesalahan, kelemahan, dan keburukan  dengan keindahan semu”.  Dengan cara ini pula  pula  pulau dirawat.  Citra  yang dibangun dengan bahasa tinggi, sementara realitas;  jauh panggang dari api.  Keinginan  naif ditutupi  bahasa kebajikan. Maka pulau ini pun digambarkan Putrayasa menyerupai Kotak Pandora. Karena bau busuk tak cukup disemprot  wewangian.

Sekali waktu, bila titik  nadir itu  menegang, politisi berselingkuh dengan pemodal, alam dirusak sekehendak investor. Dan di situ, di pulau yang dirawat dengan slogan-slogan indah  bisa meledakkan bencana — sebab tak ada rahasia bisa ditutup dengan rapi.   Karenanya,  kerap ia tersimpan   menjadi  ”magma  derita”  siap meledak kapan saja.

Pandora Paradise, seni instalasi karya I Ketut Putrayasa saat dipamerkan di kawasan titik nol Kota Denpasar

Menurut Putrayasa, ketidakadilan, keculasan, kuasa yang korup, perselingkuhan oligarki, perusakan lingkungan  yang masif akan berakumulasi menjadi racun pulau yang ganas. Lokasi pemajangan karya itu memperkuat akumulasi racun tersebut. Di pusat kota, di pusaran ambisi dingin pialang politik. Betapa di situ, nun 120 tahun lalu, dalam perang Puputan Badung, ratusan jenazah kestaria Bali tergelatak  gugur dengan luka-luka menganga. Boleh jadi luka-luka itu belum tersembuhkan hingga kini.

Di titik nol itu, Pandora Paradise seperti tengah mencatat  perjalanan perih pulau ini. Di tanah lapang, di depan kotak Pandora  itu, siang hari [20 September 1908],  ratusan tentara Bali dipimpin  I Gusti Ngurah Made Agung, juga dikenal  dengan panggilan Cokorda Mantuk Dirana tergelatak mati ditembus peluru Belanda.

“Banyak di antara mereka yang terluka menyeret dirinya mendekati jenazah raja untuk menutupinya dengan badan mereka,” tulis  Dr.H.M. van Weede, seorang sipil Belanda yang menyaksikan perang  hebat itu. Sementara, satu dua orang  menunggui jenazah sang raja tergulung tikar, tergeletak di tengah medan perang, dengan badan dan kepala hancur.

Hari makin sore, jenazah-jenazah itu dikumpulkan oleh kesatria yang masih hidup. Mereka rakyat Badung  melakukan perang puputan, saat dialog kemanusiaan gagal menemui kata damai, perang menjadi  jalan  terhormat menegakkan etik kesatria. Karena akan dianggap hina bila seorang kesatria mati di tempat tidur. Sama dengan tidak bijaknya seorang pendeta mati karena sakit. Sebab seorang pendeta dianggap tahu jalan benar meniada.

Nun di arah timur Pandora Paradise, dari arah matahari terbit, menjulang Padmasana Pura Jagatnatha. Pura untuk memuja kebesaran raja semesta Siwa. Dihadapan Tuhan Maha Pelebur itu Pandora Paradise seperti tengah membisikkan doa sembari memeluk  derita dunia.

Dari sinilah tafsir Pandora menyeruak, dari mitos  ke jalan sejarah nasib pulau,  dan karena itu gema suara penyair GM Sukawidana seakan melontarkan kegelisahan perih. Dalam bait-bait puisinya,  Pandora Paradise menjadi semacam guci nasib, takdir pulau yang tidak saja ditentukan pemodal, tapi ditentukan juga oleh penduduknya yang abai menjaga  rumah sendiri. Lalu, undang-undang disahkan, regulasi ditulis. Lalu dengan cara itu pulau dijamah.

Performance di sekitar Pandora Paradise

Putrayasa tahu ribuan hektare subak beralih fungsi sepanjang tahun, sehingga sawah sebagai penopang pangan dan budaya runtuh. Ribuan hekter tanah ulayat dikuasai jadi banguan bisnis yang cuma menguntungkan segelintir orang.  Ruang hidup jadi menyempit dan tekanan ekonomi menindih, angka-angka bunuh diri kian menanjak, dan grafik perceraian juga meroket, sampah tak kunjung tertangani, sungai tercemar, empat danau mengalami kontaminasi pestisida akut, dan pendangkalan terus-menerus terjadi.

Akibat rantai perusakan itu, pembangunan tak dirancang terintegerasi, kemacetan tak mudah diurai, kriminalitas  menjadi  patologi sosial kian benderang. Ini seakan menunjukkan sinyal bahwa racun dari kotak Pandora Bali  kian meleleh, menunggu takdir pulau entah jadi apa kelak.

Karena itulah di depan kotak pandora itu, GM Sukawidana, penyair yang dituakan merintih, sebagaimana puisi yang dibaca di depan  kotak ajaib itu. ”Dalam labirin, aku mencari guci nasibku yang tersimpan dalam kabut kebuntuan.”  Guci nasib itu, “menjatuhkan kutuk, menjatuhkan bencana, tak ku tahu berapa lama tersimpan sebagai rahasia.”

Namun seperti dalam mitos aslinya, tidak semua keburukan keluar. Karena itulah Putrayasa menahan tiga bambu agar sengaja tidak menembus kotak. Tiga bambu itulah kuncinya, itulah kotak harapan. Harapan yang menyelamatkan manusia setelah pandemi. Elpis yang tertinggal di dasar kotak itu, yang karena masih tersisa, membuat kita masih bisa menutup kembali guci nasib itu.

Sampai di sini, terkenang nasihat Raja Badung yang jenazahnya tergeletak di tengah medan perang ”rana yadnya.” ”Sungguh tak ada  yang kuasa menghapus  derita kali sangara, sastra dan upacara  pun tidak.  Satu-satunya obat itu adalah: budi hening.

PenyairHartanto membaca puisi di sisi Pandora Paradise

Sampai di titik ini, Pandora Paradise itu akhirnya menjadi catatan sejarah,  duka  dari kesengsaraan zaman. Di tengah-tengah Covid-19 — menjelang enam tahun tragedi mengerikan itu, dan 120 tahun tragedi perang puputan, toh masih begitu akut daya rusak politik kekuasaan di pulau ini. Dan Putrayasa seperti menggerundel, berhenti berolok-olok dengan kekuasaan — kedermawan semu cuma akan melahirkan budak politik  dan penjilat yang kehilangan akal dan kemanusiaan. [T]

Pakubuan Kusa Agra

Mengenang 120 tahun Puputan Badung

Tags: I Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

Next Post

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co