Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis, ia menyatakan generasi Bali kini telah kehilangan memori kulturalnya.
Rangsekan budaya pop, lemahnya literasi, adalah salah satu yang didalih paling bertanggung jawab pada kondisi terkini memori kultural itu apus. Ini menunjukkan ”file-file di folder” generasi Bali kini rusak terkena virus zaman. Berbeda dengan memori kultural masyarakat Jepang dan Cina—ia membawa serta memori kulturalnya di mana pun tinggal, hingga bergenarasi-genersi.
Namun, pernyataan Jean Couteau itu terbantahkan dalam Pameran Seni Perupa Payangan, berlangsung di Santrian Art Gallery, Sanur, 18 September-31 Oktober 2026. Gelar karya bertajuk Udhar Banda Karma ini, oleh Ketua Himpunan Perupa Payangan, I Made Dolar Astawa diniatkan untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreatifitas dan mendobrak batas geografi demi masa depan seni rupa Bali.
Memang, dari 18 seniman Payangan yang menggelar karya di situ, hadirin masih bisa membaca, melihat jejak-jejak memori kultural itu. Dari bahasa rupa, pilihan tema, sapuan, garis, warna tak bisa dipunggungi memori tradisi itu sungguh dominan.

Teks-teks sastra kuna yang telah berusia, membumi ratusan abad di Bali masih bisa disimak dalam alih-wahana seni lukis. Sebutlah misalnya, Kakawin Ramayana, sebagai tinggalan epik paling tua di Nusantara. Lukisan I Wayan Badra dari Desa Buahan, Payangan dengan lukisan berjudul Sang Anoman Ketemu Dewi Trijata, walau dengan adegan mengusik kesakralan epik, dengan garis-garis ekspresif, distorsi pigur berani, serta warna yang kontras, menunjukkan sekaligus, bahwa kisah Ramayana tak pernah mati di Payangan, pun belum pernah apus pula di pulau ini.
Kisahan lakon Ramayana Wayan Badra, masih bisa dilacak dalam lukisan bertajuk ”Tari Kecak” karya Made Ariasa. Karya Ariasa ini, walau ia sendiri menyebut Tari Kecak, babon lakon itu adalah epik Ramayana. Di situ, dalam tari kecak di kanvas, terlukis Anoman tengah membakar kraton Alengkapura milik Raja Rahwana. Ini artinya, walau Ramayana telah menjadi milik dari abad-abad silam, milik benua yang jauh India, pengalan-penggalannya, baik dalam cerita utuh maupun episode tertentu, Ramayana tak kuasa dikubur. Dalam memori pelukis-pelukis Bali, terkhusus bagi seniman Payangan memori itu tak lantas hanyut dalam banjir modernisasi.
Memang Walmiki, sang penulis Ramayana diberi janji Dewa Brahma. ”Sepanjang gunung-gunung tegak berdiri, sepanjang sungai-sungai mengalir di bumi, Ramayana akan selalu dibaca, menggenang di memori para pembacanya. Alih-alih menyimak pesan Mpu Yogiswara, sang perajut Ramayana dalam bahasa Jawa Kuna. Dikatakan, yang membaca kisah itu, menjadi semakin bijak, tersucikan jiwanya.

Tak cuma jejak Ramayana bisa kita temukan di pameran ini, alih wahana teks-teks tua semisal Calonarang, Kalatatwa, Kidung Tantri adalah sebagain kisah yang masih menjadi simpanan memori di Himpunan Perupa Payangan. Simak misalnya, karya patung bertajuk ”Akhir Persahabatan”, itu merupakan penggalan kisah yang dipetik dari Kidung Tantri atau Tantri Kamandaka. Persahabatan Singa Candapinggala dengan lembu Nandaka, yang dengan sadar dihasut alus anjing hutan bernama Sambadha.
Patung yang diolah dari tanah liat bakar ini, dengan ukuran 30 x 45 cm, di-finishing hijau gelap, hingga terlihat seperti perungu antik. Di setiap lekukan tubuh hewan tengah berseteru ini, terekam ketegangan hewani, dan di situ pesannya jelas, sudah sejak lama kata-kata menjadi penghasut paling canggih bagi bubarnya persahabatan.


Kisah alih wahana teks bisa kita simak dari lukisan berjudul ”Menguji Kesetiaan” karya Ngakan Kt Suarbawa Eka Putra. Terang lukisan hitam-putih ini dirujuk dari sumber teks-teks ber-entre Siwaistis, lebih jelas tergambar dalam teks Kidung Sudhamala—teks yang kerap dilakonkan dalam upacara penyucian atau ruwatan di Bali.
Sebagian lukisan-lukisan yang dipajang mewakili bagaimana sebuah gnosis, proses pewarisan pengetahuan dari literasi kuna ke bentuk-bentuk alih-wahana lebih real; lukisan, patung, ukiran, topeng, pegelaran, dan sebagainya. Pertanyaan kemudian, dari mana memori kultural para perupa itu mengalir hingga menggenang di benak-benak para pengalir epik itu? Tentu semua ini adalah proses-proses kebudayaan, yang jejaknya bisa dilacak dari media tradisi; wayang, ukiran, seni pertunjukkan, dan media kultural lainnya, hingga ia melekat jadi memori, layaknya folder kumputer.

Nun lima abad silam, di zaman raja-raja, Kamasan boleh jadi merupakan gnosis pertama yang bisa kita catat sebagai desa yang membumikan lukisan-lukisan epik dari kisah-kisah itihasa Ramayana dan Mahabharata. Boleh jadi dengan cara-cara ini pula ajaran dan nilai dua epik itu dibadankan pada setiap pelaku kebudayan di Kamasan. Apa yang kita kenal dengan lukisan Wayang Kamasan sekarang, yang dialihwahanakan baik dari Kakawin Ramayana, Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Arjunawiwaha, serta kisah citraleka dari teks Tantri Kamandaka maupun Tantari Nandaka Harana, menunjukkan dengan jelas ada ajaran, pesan yang mau disampaikan para seniman itu. Sebelum nantinya di abad kemudian, pola-pola lukisan Wayang Kamasan bertransformasi ke Ubud, Batuan, termasuk ke Payangan.
Kita belum tahu historikal nama Payangan yang kemudian menjadi Desa Payangan. Adakah kata ini berasal dari kata bentukan Pa-Hyang-an, kelak dari sisi semantik dengan bebas atau suka-suka diartikan sebagai desa yang dipilih menerima anugerah ”dewa-dewa”, atau ia memiliki makna lain—di mana masyarakatnya dianugerahi kecerdasan artistik meneruskan nilai-nilai epik dari dua Itihasa itu. Boleh jadi setiap orang Bali menyimpan memori artistik seperti itu.

Di pameran himpunan delapan belas perupa Payangan ini, kita juga dihidangkan kehidupan sehari-hari dalam panorama lukisan-lukisan tradisi hitam putih—serta mahluk-mahluk mitologis semisal patung ”Gajah Mina” karya Dr. I Nyoman Suardina. Di mana sebagian mahluk-mahluk mitologis itu tergambar dalam lukisan-lukisan Rai Sumendra berjudul ”Tapel Bali”. Ini sekaligus menguatkan, bahwa mitologi senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi bagi perupa Payangan, menandakan memori kultural itu tetap menjadi milik seniman Payangan, menjadi milik bagi setiap dataran yang dipengaruhi peradaban India.
Namun di Payangan tak cuma epik tradisi yang mengalir dari situ, dari karya-karya I Made ”Dolar” Astawa, kita juga menyaksikan sejenis lompatan kultural, semacam lompatan serta kegelisahan estetik. Dari karya lukis berjudul ”Seve Culture”, Dolar hendak beringsut keluar dari pakem tradisi untuk merambah bentuk-bentuk yang lebih merdeka. ”Save Culture”, misalnya dimaknai sebagai ledakan energi. Di atas altar biru-tosca yang retak dan bertekstur dalam sapuan garis dinamis, berwarna oranye, merah, ungu, dan hitam dalam warna-warna saling bertabrakan.
Dolar menghadirkan semacam retakan, simbol budaya yang tergerus zaman, tekanan, dan modernitas. Sementara garis-garis liar yang menyambar adalah upaya perlawanan. Ini sekaligus menggambarkan urat nadi tradisi yang menolak putus, senantiasa mencari celah untuk hidup dan menyala—walau menurutnya; ”Save Culture” itu bukan tangisan, bukan pula sejenis ketakutan.


Sampai di sini, ”Udhar Banda Karma” menjadi semacam catatan estetik soal bagaimana memori tradisi dirawat, mengalir jauh ke tepian Sanur, di titik diaspora manusia bangsa, di Santrian Art Gallery. Ida Bagus Gede Agung Sidharta, pemilik Santrian Gallery, dalam sambutan pembukaan pameran, membahasakan pertemuan ini dengan kata-kata sedikit merona, ”Melalui seni rupa, malam ini kita menyaksikan pertemuan indah antara dua karakter kultural. Sanur yang sejak awal abad ke-20 telah menjadi ruang hibriditas dan keterbukaan seni rupa modern, kini menjadi saksi bagaimana para perupa Payangan melakukan ”laku udhar”, mengurai melonggarkan, dan membebaskan kreatifitas dari keterikatan pakem tradisional”.
Nun bila pun demikian, tradisi, memori kultural di ”Udhar Banda Karma” tetap tak ternafikan. Sapuan, garis, warna, karakter, pilihan tema karya, masih menyala sebagai memori kultural. Mungkian tak cuma di Payangan, di Sanur pun memori itu masih kental. Betapa, karena gnosis itu, sejak periode Kamasan di abad 14-15 sudah mencelupi kanal-kalan kreatif kita, dan telah menjadi pengalaman yang real, tidak cuma membadan, tapi juga membatin.[T]
Pakubuan Kusa Agra, Sabtu, 26/9/2026.































