Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang begitu rapat. Warna gelap menjadi medan utama. Di dalam kegelapan itu muncul cahaya-cahaya kecil dari detail figur dan ornamen. Karya tersebut teridentifikasi dalam pemberitaan pameran sebagai “Dalem Waturenggong”. Karya I Gede Susilayasa, merupakan salah satu dari 18 perupa, Himpunan Perupa Payangan yang menampilkan 38 karya dalam tajuk Udhar Banda Karma, yang berlangsung 18 September-31 Oktober 2026. di Santrian Art Gallery, Sanur-Bali. Fajar Bali.1

Namun, ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar persoalan judul atau figur yang digambarkan yakni: cara gambar itu dibangun. Karya ini seolah-olah tidak hanya digambar, tetapi juga ditatah. Garis-garis kecil, lubang-lubang visual, kepadatan ornamen, dan ruang-ruang kosong yang sangat tipis membuat permukaan lukisan terasa seperti kulit wayang yang mengalami proses tatahan. Karena itu, istilah tembus tatahan wayang dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk membaca karya ini. Kanvas tersebut bukanlah benar-benar ditatah seperti kulit wayang, melainkan sebagai pembacaan terhadap logika visual yang bekerja di dalamnya.
Dari lubang menjadi garis
Dalam tradisi wayang kulit, lubang adalah bahasa. Proses mubuk, misalnya, dilakukan dengan membuat lubang-lubang menggunakan pahat khusus (pemubuk). Lubang-lubang tersebut dapat disusun berderet menjadi garis lurus, lengkung, atau lingkaran. Selain sebagai ornamen, tatahan itu membentuk kontur tembus yang akan menghasilkan karakter visual ketika wayang berhadapan dengan sumber cahaya. Disini dapat dikatakan, gambar lahir melalui hubungan antara material, lubang, cahaya, dan bayangan. Scribd.2
Pada wayang Bali, persoalan ini menjadi semakin penting karena wayang memang bekerja melalui bayangan. Seorang penatah membuat figur yang indah ketika dilihat sebagai benda, namun demikian harus memperhitungkan bagaimana lubang dan kontur tersebut menghasilkan bayangan, ketika berhadapan dengan cahaya. Dalam praktik pembuatan wayang Bali, ketepatan lubang dan tatahan menentukan kualitas bayangan yang muncul. Tatkala3
Karena itu, tatahan sebenarnya adalah sebuah teknologi visual. Ia mengajarkan bahwa sebuah gambar juga dapat lahir melalui pengurangan material: mencukil, melubangi, memutus, menyisakan, dan membuka jalan bagi cahaya. Logika semacam inilah yang terasa berpraktek dalam karya Susilayasa.
Kanvas sebagai kulit wayang
Jika pada wayang kulit materialnya adalah kulit, pada karya Susilayasa materialnya adalah bidang lukisan. Tetapi secara visual, bidang tersebut seperti kehilangan sifat datarnya. Kita melihat banyak sekali bentuk kecil yang saling bertaut. Figur-figur tidak berdiri sendirian. Mereka hidup dalam jaringan ornamen. Batas antara tokoh, tumbuhan, awan, binatang, senjata, dan dekorasi menjadi cair.
Sebuah spektrum hubungan sederhana antara figur dan latar. Latar ikut menjadi figure, pigur ikut menjadi ornament, ornamen berubah menjadi tekstur, dan tekstur kemudian kembali menjadi ruang. Inilah salah satu kekuatan karya tersebut. Ia tidak mengandalkan satu tokoh utama yang ditempatkan sebagai pusat perhatian. Mata justru dipaksa berkeliling. Dari wajah satu figur menuju figur lain, dari ornamen menuju ornamen, dari garis menuju lubang visual, lalu kembali menemukan tubuh manusia dan tokoh-tokoh mitologis.
Dalam lukisan Kamasan, keterkaitan antara seni lukis dan wayang kulit bukanlah sesuatu yang asing. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem figurasi Wayang Kamasan memang memiliki hubungan erat dengan ikonografi wayang dan prinsip pertunjukan wayang kulit. Bahkan, transformasi seni lukis Kamasan dari bentuk klasik menuju praktik yang lebih beragam menunjukkan bahwa hubungan antara tradisi, teknik, narasi, dan modernitas selalu bergerak. Jurnal Institut Seni Indonesia Bali.4
Maka, membaca karya De Sila melalui logika tatahan bukanlah upaya memaksakan tradisi wayang ke dalam karya kontemporer. Sebaliknya, ia membantu kita melihat bahwa ingatan terhadap wayang dapat bekerja pada tingkat teknik, struktur visual, dan cara memandang.
Tradisi bukan gambar masa lalu
Tema Udhar Banda Karma sendiri memberikan konteks penting. Menurut kurator I Nyoman Suardina, Udhar berarti mengurai atau melepaskan ikatan, Banda berarti belenggu, sementara Karma merujuk pada hasil tindakan masa lalu. Dalam konteks perupa Payangan, tradisi dapat menjadi warisan yang membentuk identitas, tetapi juga dapat menjadi “belenggu” apabila hanya direproduksi tanpa pemaknaan baru. Nusantara Raya News.5
Di sinilah karya Susilayasa menjadi sangat relevan dengan gagasan pameran. Ia tidak meninggalkan dunia wayang, ia juga tidak sekadar menyalin wayang, Yang dibawa adalah cara kerja visual wayang. Ini perbedaan yang penting. Mengutip atau menyalin bentuk tradisional menghasilkan reproduksi. Mengambil prinsip kerjanya menghasilkan transformasi.
Pada karya De Sila, kita dapat melihat kemungkinan transformasi tersebut melalui kepadatan tatahan visual. Figur-figur tradisional tidak ditempatkan dalam ruang kosong sebagaimana ilustrasi naratif yang sederhana. Mereka tenggelam dan sekaligus muncul dari medan gelap yang sangat kompleks. Disini dapat dikatakan, bagaimana tradisi membangun dunia gambar.
Dari tatahan menuju drawing
Menariknya, teknik tatahan sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan konsep drawing. Pada umumnya kita memahami menggambar sebagai kegiatan membuat garis. Tetapi pada tatahan, garis dapat muncul karena material dihilangkan. Sebuah garis tidak selalu dibuat dengan tinta; ia bisa muncul sebagai celah.
Halhasil kita mendapatkan dua cara membangun garis: garis dengan menambahkan material dan garis dengan mengurangi material. Karya Susilayasa seolah-olah berdiri di antara kedua logika tersebut.Ia melukis, tetapi permukaannya terasa seperti ditatah. Ia membuat garis, tetapi garis-garis itu seakan lahir dari proses pencukilan. Ia memenuhi bidang, tetapi kepadatan tersebut justru menciptakan pengalaman tentang lubang, celah, dan cahaya. Saya ingin mengatakan, karya tersebut dapat dibaca sebagai drawing through tradition, menggambar melalui ingatan teknik tradisional.
Bali: tradisi yang terus berubah
Perubahan seperti ini sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam seni rupa Bali. Wayang Kamasan, misalnya, tumbuh dengan sistem visual yang kuat, naratif, simbolik, dan terikat pada pakem. Namun demikian penelitian tentang perkembangan Kamasan, menunjukkan bahwa seni tersebut mengalami transformasi sejalan dengan perubahan pengetahuan teknis, nilai masyarakat, ekonomi, dan pariwisata. Dari sesuatu yang relatif kolektif dan baku, praktiknya berkembang menjadi lebih variatif dan individual. Repositiry ISI Denpasar.6
Karena itu, pertentangan sederhana antara “tradisional” dan “kontemporer” tidak terlalu produktif untuk membaca karya De Sila. Yang lebih menarik adalah pertanyaan: Apa yang terjadi ketika sebuah teknik lama memperoleh tubuh visual baru?
Pertanyaan ini penting karena tradisi tidak pernah hanya terdiri atas bentuk. Tradisi juga terdiri atas kebiasaan tangan, ingatan tubuh, disiplin mata, ritme kerja, cara menggunakan alat, serta pengetahuan tentang hubungan antara material dan makna. Dalam pengertian tersebut, seorang seniman dapat menjadi kontemporer tanpa harus meninggalkan tradisi. Ia justru dapat menjadi kontemporer dengan cara membongkar kembali mekanisme tradisi dari dalam, sekaligus menjadikannya rupa unik.
Lubang, Celah, dan Ruang negatif
Jika diperluas ke konteks Asia, logika visual semacam ini sebenarnya memiliki banyak kerabat. Pada tradisi katagami Jepang, misalnya, gambar dibuat melalui teknik memotong dan melubangi kertas sebagai stencil. Keindahan desain tidak hanya terletak pada bentuk yang tersisa, tetapi juga pada hubungan antara bidang positif dan negatif. Lubang, celah, dan ruang kosong menjadi bagian integral dari komposisi. RISD Museum.7

Di Tiongkok kontemporer, seniman Fu Xiaotong menggunakan jarum untuk melakukan perforasi berulang pada kertas xuan. Ribuan tusukan membentuk permukaan baru, menghasilkan bayangan dan tekstur yang tidak mungkin dicapai melalui gambar konvensional. Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana tindakan sederhana—menusuk permukaan berulang kali—dapat berkembang menjadi bahasa visual tentang material, waktu, dan proses. Ocula.8

Dua contoh Asia tersebut tentu bukan berarti menjadi sumber langsung karya Susilayasa. Tidak ada dasar untuk menyatakan demikian. Namun keduanya membantu memperluas pembacaan kita: melubangi permukaan bukan berarti merusak gambar. Lubang dapat menjadi cara lain untuk menggambar. Disinilah tatahan wayang memperoleh relevansi yang lebih luas
Kanvas belajar menjadi kulit
Karya I Gede Susilayasa mengingatkan kita bahwa pembaruan seni rupa Bali bisa lahir ketika seorang seniman masuk lebih dalam ke dalam tradisi, menemukan mekanisme kecil yang selama ini tersembunyi, lalu membawanya ke medan penciptaan yang berbeda. Dalam elan ini, tatahan adalah pintu masuknya. Dari lubang-lubang kecil pada kulit wayang, lahir bayangan, kemudian lahir cerita. Dan pada karya Susilayasa, logika tersebut seakan berpindah ke kanvas: tatahan tidak lagi semata-mata membentuk wayang, ia kemudian membentuk cara melihat.
Kanvas tidak benar-benar menjadi kulit wayang, ia seperti mengingat bagaimana kulit wayang bekerja. Di situlah letak kekuatan karya ini.Ia tidak bertanya apakah tradisi harus dipertahankan atau ditinggalkan, ia mengajukan pertanyaan yang lebih sulit:Bagaimana sebuah tradisi dapat terus hidup ketika cara kita melihat dunia sudah berubah?
Dan jawabannya mungkin terletak pada ribuan garis kecil itu—pada celah, lubang, bayangan, dan cahaya—yang membuat tradisi tidak berhenti sebagai masa lalu, melainkan terus menembus permukaan masa kini. [T]
Catatan kaki
1. Himpunan Perupa Payangan. (2026). Udhar Banda Karma, Santrian Art Gallery, Sanur, 18 September–31 Oktober 2026. Pameran melibatkan 18 perupa dengan 38 karya. Informasi pameran juga memosisikan karya-karya peserta dalam spektrum tradisi, hibriditas, abstraksi, dan eksplorasi material.
2. Mengenai mubuk dan tatahan pada wayang kulit Bali, lihat uraian mengenai proses pembuatan lubang berjajar yang membentuk garis dan kontur tembus. Ensiklopedia bidang seni lukis klasik, seni ukir, dan tekstil di Bali.
3. UNESCO. (2007). Teknik pertunjukan: Wayang kulit Parwa Bali. Dokumentasi ini ditempatkan dalam program revitalisasi dan pengembangan wayang Indonesia.
4. Suyasa, I. N., & Gozali, A. (2017). Teknik seni lukis klasik Bali gaya Kamasan karya I Nyoman Mandra. Acintya, 7(1). Kajian ini membahas hubungan teknik, bentuk, narasi, dan perkembangan seni lukis Kamasan.
5. Vickers, A. (2011). The Old Javanese Kapiparwa and a recent Balinese painting. Dalam From Laṅkā Eastwards. Vickers menunjukkan bagaimana lukisan Bali dapat menyimpan lapisan narasi dan transformasi ikonografis yang berhubungan dengan tradisi wayang dan teks Jawa Kuno.
6. Geertz, H. (1994). Images of power: Balinese paintings made for Gregory Bateson and Margaret Mead. University of Hawai‘i Press. Karya Geertz penting untuk memahami lukisan Bali bukan hanya sebagai objek estetis, tetapi sebagai bagian dari sistem representasi dan kebudayaan. Rujukan bibliografis ini juga dicantumkan dalam kajian tentang relasi seni Bali dan seni global.
7. RISD Museum. (1998). Carved paper. Kajian mengenai katagami menunjukkan bagaimana teknik memotong dan melubangi kertas Jepang menghasilkan relasi positif-negatif, bidang dan ruang kosong, serta ritme visual.
8. Ocula. (n.d.). Fu Xiaotong. Fu Xiaotong mengembangkan teknik perforasi berulang menggunakan jarum pada kertas xuan, menghasilkan tekstur dan bayangan melalui ribuan tusukan. Contoh ini digunakan sebagai perbandingan konseptual, bukan sebagai sumber pengaruh langsung terhadap Susilayasa.






























