PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di gedung yang tinggi itu, tepatnya di lantai 25, terdapat gelaran pameran tunggal dengan tajuk “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya” yang berlangsung dari 16–29 September 2026. Pameran tersebut merupakan panggung apresiasi publik perdana bagi karya-karya Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono―selanjutnya ditulis SBY.
Sesampainya di ruang pamer, saya dihadapkan dengan berbagai lukisan karya SBY yang termuat dalam buku monografi berjudul Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya―Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono yang ditulis Suwarno Wisetrotomo (kurator Galeri Nasional 1998–2024) dan beberapa lukisan yang ditelurkan SBY selama berada di Amerika Serikat pada Agustus hingga awal September 2026. Karya-karya dalam ruang pameran disusun sesuai dengan pembahasan dalam buku tersebut. 77 karya pilihan SBY ini menandai milestone (tonggak pencapaian) penting dalam perjalanan kesenimanannya.
Pameran ini diprakarsai oleh pengusaha Hermanto Tanoko bertepatan dengan ulang tahun ke-77 SBY. Mengusung paham realisme yang diperkaya unsur impresionisme puitis, karya-karya SBY merekam keberanian eksplorasi teknik, mulai dari spontanitas melukis di alam terbuka (plein air painting), teknik melukis dengan jari (finger painting), hingga eksperimen teknik seni rupa tiga dimensi yang dibuat dengan cara menggabungkan, merakit, atau mengonstruksi berbagai benda temuan bertema anti-perang.
Sebagaimana telah disinggung di atas, pameran “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya” ini disusun menjadi tiga bagian. Bagian pertama diberi tajuk Lanskap Memori yang bertautan dengan kenangan personalnya. Karya-karya yang ditampilkan menunjukkan pergulatan awal yang menjadi pemicu SBY memilih melukis sepenuh waktu sebagai sarana memproses duka mendalam (trauma healing) pasca-berpulangnya sang istri, Ani Yudhoyono―”I lost my love one”.
Lalu bagian kedua berjudul Lanskap Sosial-Politik yang berisi sikap SBY terhadap perang dan perdamaian dunia. Pada bagian ini, tendensi keadilan dan kedamaian dunia sangat kentara, berbeda dengan lanskap memori atau tatapan langsung.

Selanjutnya, bagian ketiga diberi nama Lanskap Tatapan Langsung (On the Spot). Pada bagian ini kita dapat melihat lukisan-lukisan yang dibuat SBY dengan cara merekam langsung sudut pandang panorama yang dipilihnya, baik direncanakan maupun secara spontan. Bagian ini sangat terasa bagaimana SBY berpacu dengan waktu, pergeseran cahaya yang demikian cepat, yang mengingatkan kita pada para pelukis impresionisme pada abad ke-19 di Paris. Melukis secara on the spot, kata SBY, dapat melatih kepekaan―mengamati, memutuskan sudut pandang, dan mengeksekusi menjadi karya. “Semua proses itu mendekatkan diri pada alam,” ungkapnya. Karena itu, metode tatapan langsung inilah yang kini lebih sering dilakukannya.
Menurut Suwarno Wisetrotomo, pameran ini secara kuat menunjukkan sosok SBY sebagai seniman dalam memandang, memahami, dan menyuarakan lanskap sosial-politik, alam semesta, memori dan suasana serta suara hati sang Bapak Perdamaian.
Bahasa Rupa dan Sikap Politik
Di balik deretan karya yang mendokumentasikan pendar fajar hingga temaram senja Nusantara itu, pameran ini merayakan metafora “cahaya” bukan hanya sebagai elemen teknik impresionisme, tapi sebagai titik balik spiritual. Pasca-berpulangnya sang istri tercinta, melukis menjadi “sumber harapan” sekaligus sarana trauma healing bagi SBY untuk keluar dari masa tergelap duka.
Tentu saja, ketika seorang tokoh yang meniti karier puncak di dunia militer dan menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia selama satu dekade kembali memegang kuas di atas kanvas, karya seni yang lahir saya kira tak lagi sekadar visualisasi estetis yang pasif. Bagi SBY, keputusan untuk kembali menekuni seni lukis pada pertengahan tahun 2021—setelah terpendam selama lebih dari setengah abad—bukan sekadar pengisian waktu luang di masa purnatugas. Lebih dari itu, sekali lagi, kanvas menjadi ruang sublimasi atas duka mendalam. Melalui dorongan emosional bertajuk “I lost my love one”, SBY mentransformasikan ribuan rekam foto karya almarhumah Bu Ani menjadi guratan warna-warna sebagai bentuk penghormatan dan perwujudan janji kebersamaan.
Lihatlah lukisan I Understand More the Meaning of Life (2021)―lukisan yang pernah diunggah melalui akun Instagram kenangan almarhumah istrinya, Ani Yudhoyono―atau Good Morning (2023)―yang keduanya dipamerkan di bagian Lanskap Memori―yang mengirim pesan kuat bahwa SBY telah melewati masa duka yang sudah diolah menjadi penerimaan.
Di antara ratusan lanskap alam yang diabadikan SBY, karya berjudul “I Understand More the Meaning of Life” yang dipublikasikan pada Oktober 2021 menarik perhatian saya. Karya ini menghadirkan aksentuasi yang sangat personal. Berbeda dari mayoritas lukisannya yang merekam lanskap murni, lukisan 210 x 140 cm ini menampilkan figur potret diri SBY yang tengah berdiri menatap hamparan lahan hijau berlatar langit cerah berawan. Dibuat di tengah suasana akhir pekan yang tenang melalui proses kontemplasi dan tafakur, lukisan ini menjadi cermin batin tempat SBY mengekspresikan perenungan atas perjalanan hidupnya—sebuah dialektika untuk memetik hikmah di antara pasang surut “anugerah-musibah, sukses-gagal”.
Singkatnya, tak perlu menjadi kritikus atau akademisi seni rupa untuk tahu makna di balik I Understand More the Meaning of Life. Melalui guratan warna dan eksplorasi ruang juga sosok kesendirian pada lukisan tersebut, secara terang, selain memperlihatkan ketangkasan teknisnya melukis figur dan alam, SBY juga mentransformasikan pengalaman pahit kehilangan menjadi sebuah pemahaman eksistensial yang lebih dalam tentang arti kehidupan itu sendiri.
Selain itu, pada bagian Lanskap Memori juga terdapat lukisan Purnama yang Kurindukan (2022). SBY menggambarkan keindahan suasana laut malam hari di bawah pancaran cahaya bulan purnama. Di dalamnya, ia memvisualisasikan deburan ombak yang bergulung dengan latar langit malam yang damai namun terlihat emosional. Seperti banyak karya bertema senja dan malam lainnya, lukisan ini tampaknya juga lahir dari ruang perenungan SBY. Unsur cahaya bulan di atas kanvas seakan merefleksikan rasa kerinduan personalnya terhadap mendiang sang istri, sekaligus simbol harapan dalam perjalanan hidupnya.

Menurut saya, dari sekian banyak citraan alam SBY, “Purnama yang Kurindukan” menjadi salah satu penanda spiritual paling menyentuh dalam portofolio kesenimanan SBY. Karya ini tampak berbeda dari mayoritas lukisan lanskapnya. Secara visual, SBY mengolah karya ini dengan pendekatan yang cenderung minimalis. Ia memadukan pendar bulan purnama (full moon) dan awan cerah yang kontras dengan siluet gelap pepohonan dan bukit karang di bagian bawah. Eksplorasi pendar cahaya purnama dalam lukisan ini kelak menjadi cikal bakal dari tema kuratorial pameran tunggalnya di Surabaya, “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya”, yang mengukuhkan posisi cahaya sebagai bahasa rupa utama SBY dalam menyuarakan kedamaian batin.
Pada bagian Lanskap Sosial-Politik, saya mematung di hadapan Gaza, the Extreme Human Suffering (2025) yang mencekam. Latar belakang lukisan menampilkan lanskap perkotaan yang hancur lebur, merepresentasikan reruntuhan bangunan dan struktur beton yang ringsek akibat dentuman senjata. Atmosfer warna dibalut perpaduan merah darah, kebiruan, serta nuansa kelabu abu-abu yang meruapkan kengerian dan duka.
Tampaknya, ini merupakan karya yang monumental karena menandai lompatan estetis dalam perjalanan kesenimanannya. Jika sebagian besar portofolionya berfokus pada keindahan lanskap alam dan ketenangan batin, karya ini hadir sebagai protes moral (sikap politik) yang konfrontatif terhadap krisis kemanusiaan dan tragedi perang. Jelas, karya ini bisa dibilang sebagai bentuk artikulasi empati, keprihatinan, dan seruan perdamaian atas hancurnya nilai-nilai kemanusiaan akibat ekskalasi konflik dan pemboman di Gaza.
Selain itu, SBY juga melukis Stop War, United for Peace (2025) yang juga menyerukan perdamaian dunia serta keprihatinan mendalam terhadap konflik dan krisis kemanusiaan global, termasuk tragedi di Gaza, Palestina. Dalam lukisan ini, SBY tidak hanya menggunakan media konvensional seperti cat akrilik atau minyak, melainkan bereksperimen dengan teknik assemblage. Ia menggabungkan cat dengan benda-benda fisik tiga dimensi seperti potongan papan, kawat berduri, kepingan kertas karton/board, serta objek rupa lainnya yang menonjol keluar kanvas.
Lihatlah, di bagian tengah kanvas, SBY melukiskan dentuman rudal/misil yang meledak dengan kepulan asap merah membara yang menyeruak hebat. Sedangkan tepat di tengah ledakan itu, terdapat teks yang berbunyi: “It is irresponsible and even immoral to allow countless dead of the innocent and extreme human suffering to continue, without any serious effort to stop it”.
Selain itu, terdapat pula kutipan Albert Einstein ( di kanan atas) yang ditulis dengan huruf kapital di atas latar merah: “The world will not be destroyed by those who do evil, but by those who watch them without doing anything“. Di bawahnya, kutipan Edmund Burke (kanan bawah) menampilkan pemikiran filsuf politik Irlandia itu: “The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing“. Sementara itu, pernyataan “STOP WAR!” (di kiri bawah lukisan) diterakan secara tegas pada media karton/board sebagai aksentuasi utama.
Sedangkan di sebelah kepulan asap ledakan, SBY menancapkan fisik miniatur bendera PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Penempatan bendera ini saya kira berfungsi sebagai kritik semiotik tajam yang mempertanyakan peran dan efektivitas lembaga internasional tersebut dalam menghentikan pembantaian warga sipil. Saya merasa, melalui perpaduan pesan Einstein, Burke, dan gagasan pribadinya, SBY ingin menegaskan bahwa sikap diam atas kejahatan perang adalah bentuk ketidakmoralan.

Jika seniman Gaza seperti Inas Rayan beralih ke warna-warna gelap setelah kehilangan ayahnya untuk mendokumentasikan kehancuran, atau Bisan Al Amasy menggunakan simbol keledai yang terbebani untuk menggambarkan kelelahan kota Gaza, SBY justru memilih jalur sebaliknya. Ia melawan kegelapan dunianya dengan menghadirkan “cahaya.” Bagi SBY, keindahan lanskap adalah bentuk perlawanan terhadap kekerasan dunia; sebuah upaya untuk mempertahankan kewarasan jiwa melalui representasi mimesis keasrian alam.
Saya bergeser menuju bagian Lanskap Tatapan Langsung (On the Spot). Pada bagian ini, seperti telah disinggung di atas, terdapat lukisan-lukisan yang dibuat SBY dengan cara merekam langsung sudut pandang panorama yang dipilihnya, baik direncanakan maupun secara spontan. Pada kisaran 2023, SBY memang mulai sering melukis secara langsung, merekam sepenggal panorama yang menyentuh jiwanya, seperti gunung menjulang, hutan hijau, sungai dan bebatuan, debur ombak, dan hamparan laut tenang. Tak heran jika karya-karya pada bagian ini terlihat lebih ekspresif, baik dari aspek teknik, spontanitas, dan perubahan cahayanya.
Salah satu karya yang menarik perhatian saya ialah The Sound of Klayar Beach (2024). Ini salah satu lukisan yang lahir dari teknik finger painting. Lukisan karang Pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur―tanah kelahiran SBY―itu dilukis bersama Christopher Lemphful, pelukis asal Jerman yang memiliki keahlian khusus finger painting, heavy texture, dan melukis di alam. Keduanya, sebagaimana banyak diberitakan, saat itu sama-sama melukis dengan teknik yang juga sering dilakukan oleh maestro lukis Indonesia Afandi. SBY mengaku pernah belajar langsung kepada Christopher di Berlin. Dia mengatakan teknik melukis Christopher cukup unik.
Mengenai tanah kelahirannya, selain The Sound of Klayar Beach, SBY juga mengabadikan Pacitan lewat Gulf of Pacitan (2026), Srau Beach Pacitan (2026), Grindulu River Pacitan (2026), dll.
Kedudukan Kesenimanan SBY
Sampai di sini, mengusung paham realisme yang diperkaya dengan sentuhan impresionisme, portofolio seni SBY berkembang sangat pesat dengan menghasilkan lebih dari 350 karya lukis dalam kurun waktu empat tahun. Rentang karyanya bergerak dinamis dari keindahan lanskap alam Nusantara dan dunia, ekspresi spiritualitas yang mendalam, hingga eksperimen mixed media dan finger painting yang sarat akan pesan kemanusiaan serta kritik anti-perang.
Namun, di balik pendar warna akrilik dan ketegasan garisnya, karya rupa SBY menghadirkan dialektika yang menarik untuk dibedah. Di satu sisi, perspektif komunikasi politik melihat karya-karyanya sebagai bentuk strategi komunikasi politik mantan presiden yang mentransmisikan ideologi kepemimpinan yang stabil, progresif, dan berorientasi pada perdamaian. Di sisi lain, kritik seni rupa menguji sejauh mana sapuan kuas seorang mantan negarawan mampu melepaskan diri dari formalitas kekuasaan menuju kebebasan ekspresi yang murni. Dalam konteks tersebut, sejauh mana kedudukan kesenimanannya dalam peta kesenian Indonesia modern?
Kedudukan kesenimanan SBY dapat ditinjau dari beberapa dimensi utama berdasarkan kajian kuratorial, analisis komunikasi politik, dinamika pasar seni, dan kritik estetika. Dalam seni lukis, secara personal, SBY memposisikan dirinya secara rendah hati sebagai beginner (pelukis pemula) yang baru kembali melukis secara intensif sejak pertengahan 2021. Meskipun memiliki latar belakang sanggar seni pada masa SMP di Pacitan, aktivitas melukisnya sempat terhenti selama lebih dari 50 tahun akibat pengabdian di dunia militer dan pemerintahan.

Namun, kesenimanan SBY―terlepas apakah ia seorang yang berpengaruh atau tidak―telah diakui dalam arena seni rupa kontemporer utama, salah satunya ketika karya-karyanya dipilih sebagai special appearance/spotlight dalam ajang bergengsi Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD 15) 2025 di Jakarta. Dan peta kesenimanannya dilegitimasi oleh kurator-kurator terkemuka macam Suwarno yang menyusun buku monograf karya-karyanya, serta pameran tunggal di Voza Tower Surabaya―meskipun tak sedikit kritik estetis yang menyoroti bahwa lukisan SBY kadang masih memunculkan kesan “citra energi yang dijinakkan” di mana sang pelukis dinilai masih menjaga kewibawaan formalnya di atas kanvas daripada membiarkan eksplorasi emosi estetis meluap secara liar.
Meski demikian, di pasar seni rupa dan lelang Indonesia, karya SBY juga mencatatkan rekor nilai yang sangat tinggi, seperti lukisan Kuda Api yang terjual seharga Rp6,5 Miliar. Pengamat dan pemilik rumah lelang macam Amir Sidarta menganalisis bahwa tingginya valuasi karya SBY dipengaruhi oleh perpaduan antara reputasi SBY sebagai mantan presiden (reputation capital), keunikan momentum, kualitas teknis, serta nilai filantropi karena hasil lelang disalurkan untuk kegiatan bantuan kemanusiaan masyarakat prasejahtera.
Selain itu, kehadiran Museum dan Galeri Seni SBY-Ani di Pacitan serta Cikeas Art Gallery mengukuhkan posisinya sebagai salah satu tokoh bangsa yang mentradisikan pemeliharaan dan preservasi karya seni secara mandiri bagi publik.
Saya keluar dari ruang pameran dan beranggapan bahwa SBY ingin menunjukkan bahwa seni adalah pelabuhan terakhir bagi jiwa yang mencari kedamaian. Melukis baginya adalah sebuah manifestasi ontologis untuk menemukan “beauty” di tengah dunia yang kerap didera kekerasan dan kehilangan. Cahaya dalam setiap lukisannya bukan sekadar soal pencahayaan teknis, tapi simbol kehadiran Tuhan dan harapan yang tak kunjung padam.
Saya kira, legacy kesenimanan SBY dalam sejarah budaya Indonesia akan dicatat sebagai bentuk resiliensi seorang tokoh bangsa yang berhasil mentransformasi duka menjadi harapan―bahkan kekuatan. Ia telah menaklukkan batu Sisyphus-nya sendiri, mengubah beban kerja repetitif menjadi perayaan atas kehidupan yang terus tumbuh di antara bukit-bukit terjal sejarah. SBY telah menetapkan posisinya bukan hanya sebagai mantan pemimpin negara, tetapi juga sebagai penjaga harapan melalui kekuatan visual yang subtil namun mendalam.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole




























