18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
in Khas
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

Suasana acara Beranda Bentara bertajuk “Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini” di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel, Gianyar, Jumat (25/9/2026) | Foto: Istimewa

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi di telepon genggam, sebagian lain menjadi percakapan di meja makan, kedai kopi, kantor, atau perjalanan pulang. Satu kabar belum selesai dicerna, kabar lain sudah menyusul.

Kita menjadi terbiasa melihat begitu banyak hal dalam waktu yang bersamaan.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah kita mengetahui berbagai persoalan itu, melainkan apa yang terjadi setelah kita mengetahuinya. Apakah semua kabar tersebut benar-benar mengubah cara kita memandang lingkungan dan orang lain? Atau, karena datang terlalu deras, semuanya justru lewat begitu saja?

Suasana acara Beranda Bentara bertajuk “Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini” di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel, Gianyar, Jumat (25/9/2026) | Foto: Istimewa

Seni berada di wilayah yang menarik dalam persoalan semacam ini. Ia tidak bekerja dengan kecepatan notifikasi. Sebuah pertunjukan membutuhkan tubuh, sebuah lukisan membutuhkan waktu untuk dilihat, dan sebuah percakapan membutuhkan orang-orang yang bersedia tinggal lebih lama di dalamnya.

Persoalan itulah yang dibicarakan dalam Beranda Bentara bertajuk “Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini” di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel, Gianyar, Jumat (25/9/2026). Bentara Budaya Bali menghadirkan penulis dan pengamat budaya Dr. Jean Couteau, penari sekaligus koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau Dayu Ani, serta perupa Made Kaek.

Acara tersebut berlangsung sehari sebelum Bentara Budaya genap berusia 44 tahun pada 26 September 2026. Ketiga pembicara memiliki hubungan dengan Kompas, Bentara Budaya Bali, dan jejaring kesenian yang berkembang di sekitar ruang tersebut sejak 2009.

Dari kiri ke kanan: Perupa Made Kaek, penulis dan pengamat budaya Dr. Jean Couteau, dan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau Dayu Ani | Foto: Istimewa

Percakapan sore itu tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang dilakukan seniman. Yang muncul justru pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang tetap memiliki kepekaan ketika hampir setiap hari dibombardir kabar mengenai krisis?

Bagi Dayu Ani, salah satu jawabannya adalah memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti.

Tubuh, Jeda, dan Kepekaan

Sebagai penari dan koreografer, Dayu Ani terbiasa bekerja dengan sesuatu yang paling dekat dengan manusia: tubuh. Tetapi tubuh, baginya, bukan semata alat untuk bergerak di atas panggung. Tubuh adalah tempat pengalaman, kesadaran, dan komunikasi berlangsung.

“Di tengah gempuran informasi dan berita bencana, seni menjadi titik jeda bagi kita. Dari perenungan dan titik jeda tersebut, kita tergerak untuk berbuat sesuatu melalui media karya, sekecil apa pun itu, guna menyebarkan getaran kasih dan pengingat kemanusiaan,” ujarnya.

Kalimat itu terasa dekat dengan cara kerja tari. Penonton tidak membaca gerakan seperti membaca berita. Mereka mengalaminya melalui tatapan, bunyi, ruang, dan tubuh yang bergerak. Ada waktu yang diperlukan untuk menangkap sesuatu yang mungkin tidak bisa dijelaskan hanya dengan kalimat.

Dayu Ani telah beberapa kali menghadirkan karya di Bentara Budaya Bali. Ia terlibat sebagai koreografer dalam film Sekala Niskala karya Kamila Andini, yang mendapat pemutaran khusus di Bentara Budaya Bali pada 2018. Ia juga terlibat dalam film Samsara garapan Garin Nugroho. Belakangan, ia menciptakan pertunjukan tari Gambuh Masutasoma.

Dari pengalamannya sebagai penari, ia melihat tubuh sebagai penghubung. Hubungan itu bukan hanya antara penampil dan penonton, tetapi juga antara manusia dengan lingkungan yang lebih luas.

Koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau Dayu Ani | Foto: Istimewa

“Tubuh adalah jembatan serta media komunikasi antara kita dengan audiens dan semesta,” katanya.

Karena itu, ada pekerjaan yang harus dilakukan sebelum tubuh menjadi bahasa di atas panggung. Bagi Dayu Ani, pekerjaan tersebut berkaitan dengan disiplin dan kemampuan untuk hening.

“Sebelum melangkah menjadi ekspresi seni, tubuh dan jiwa harus dibereskan terlebih dahulu melalui disiplin dan keheningan agar kita mampu mendengarkan serta menumbuhkan empati,” lanjutnya.

Keheningan yang dimaksud bukan keadaan tanpa suara. Ia lebih dekat pada kemampuan untuk memberi perhatian. Di tengah kehidupan yang terus meminta respons cepat, kemampuan semacam itu menjadi semakin penting. Seniman perlu mendengarkan sebelum berbicara melalui karyanya.

Made Kaek membawa pembicaraan ke persoalan yang berbeda, tetapi masih berhubungan dengan cara manusia menjalani proses. Baginya, berkesenian bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan mengandalkan bakat atau kecerdasan saja.

“Kunci utama dalam hidup dan berkesenian bukanlah sekadar kepintaran, melainkan kedisiplinan, fokus, dan keberanian untuk tekun berproses serta berkompetisi secara sehat di era persaingan yang ketat ini,” kata Kaek.

Ruang yang Terus Berubah

Kaek mengetahui bahwa ruang untuk berkesenian juga berubah. Selain aktif berpameran di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri, ia membangun Rumah Paros di Sukawati sebagai tempat bertemu dan bertukar gagasan.

Ia tidak melihat ruang kebudayaan hanya dalam bentuk gedung kesenian atau institusi yang memiliki program resmi. Kehidupan kreatif bisa tumbuh di tempat yang lebih sederhana, bahkan di tempat yang sejak awal tidak dirancang sebagai ruang kebudayaan.

“Ruang publik dan kreativitas hari ini tidak lagi terbatas, tetapi ada di mana-mana, seperti di kedai-kedai kopi tempat generasi muda berkumpul. Di ruang-ruang baru tersebut, kreativitas bergerak, ekonomi berjalan, dan daya hidup kebudayaan terus bergulir,” ujarnya.

Perupa Made Kaek | Foto: Istimewa

Ada perubahan cara orang berkumpul dan bertukar gagasan. Dahulu, ruang kebudayaan mungkin lebih mudah dikenali melalui galeri, gedung pertunjukan, atau taman budaya. Kini, percakapan mengenai musik, seni rupa, film, desain, sastra, dan berbagai persoalan sosial bisa berlangsung di tempat yang jauh lebih cair.

Yang penting bagi Kaek bukan semata-mata tempatnya, tetapi hubungan yang terbentuk di dalamnya.

“Hal yang paling mendasar adalah rasa ‘sesama’ dan empati. Dari sana kita dapat membangun ekosistem kebudayaan yang saling mendukung dan terus bertumbuh bersama,” katanya.

Kaek sendiri telah lama menjalani hubungan dengan ruang-ruang semacam itu. Pada 2024, ia hadir di Bentara Budaya Yogyakarta melalui pameran tunggal Kala Api: The Age of Pawns. Di Bali, Rumah Paros menjadi salah satu tempat yang ia bangun untuk memungkinkan pertemuan berlangsung lebih dekat dan tidak terlalu formal.

Bagi Jean Couteau, kebutuhan terhadap ruang semacam itu berkaitan dengan cara masyarakat memahami kebudayaannya sendiri.

Penulis seni rupa dan pengamat budaya tersebut selama bertahun-tahun menulis tentang manusia, Bali, Indonesia, seni, dan perubahan sosial. Tulisan-tulisannya terbit secara berkala dalam kolom Udar Rasa di Kompas. Ia juga termasuk sosok yang aktif dalam ekosistem Bentara Budaya Bali sejak tahun-tahun awal perjalanan ruang tersebut.

Jean mengingatkan bahwa kebudayaan dapat kehilangan daya kritisnya jika hanya diterima sebagai sesuatu yang sudah selesai. Tradisi, karya, dan berbagai produk kebudayaan perlu terus dibicarakan, bahkan dipertanyakan.

“Kebudayaan tidak boleh hanya diteruskan secara komersial atau diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Kita memerlukan ruang publik tempat di mana kebudayaan dan produknya dipertanyakan secara kritis, baik dari sudut pandang sosiologis, estetis, maupun filsafati,” ujarnya.

Ada perbedaan antara melestarikan sesuatu dan sekadar mengulanginya. Dalam pengertian pertama, kebudayaan diberi kesempatan untuk hidup dan berhadapan dengan keadaan baru. Dalam pengertian kedua, ia berisiko menjadi benda yang hanya dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah dibaca ulang.

Hal serupa berlaku dalam seni. Menurut Jean, seniman perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan yang berlangsung di sekelilingnya.

“Penciptaan seni modern bermula dari kesadaran intuitif dan analitis. Seniman yang kreatif adalah mereka yang menyadari adanya pergeseran sosial, politik, maupun pertarungan bawah sadar yang digugah oleh modernitas, lalu meresponsnya melalui karya,” kata Jean.

Perubahan itu bisa muncul dalam bentuk yang besar—pergeseran politik, persoalan ekonomi, perubahan lingkungan—atau dalam pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seniman kemudian mengolahnya melalui medium masing-masing.

Penulis dan pengamat budaya Dr. Jean Couteau

Karena itulah seni tidak selalu harus menjelaskan sesuatu secara gamblang. Sebuah karya dapat bekerja melalui pengalaman yang lebih samar: perasaan tidak nyaman, ingatan, kegelisahan, keindahan, atau bahkan keheningan.

Di sanalah percakapan tentang ruang publik menjadi penting. Orang datang ke sebuah ruang kebudayaan dengan latar belakang yang berbeda, membawa pengalaman masing-masing. Mereka kemudian bertemu di hadapan sebuah karya atau dalam sebuah percakapan.

“Di tengah fenomena sosial dan dinamika zaman, kebudayaan serta ruang perjumpaan hadir sebagai sarana untuk berupaya menutupi dan mengikis jarak yang memisahkan antarmanusia,” ujar Jean.

Empati, dalam pengertian ini, tidak muncul karena seseorang diperintah untuk berempati. Ia dapat tumbuh karena manusia berkesempatan bertemu dengan pengalaman yang berbeda dari dirinya.

Sebuah pertunjukan tari mungkin membuat seseorang memikirkan kembali tubuhnya. Sebuah lukisan dapat membuka ingatan yang sudah lama tersimpan. Sebuah dialog bisa membuat seseorang pulang dengan pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam pikirannya.

Bentara Budaya Bali selama ini menjadi salah satu tempat berlangsungnya pertemuan-pertemuan semacam itu. Sebagai bagian dari Kompas Gramedia, ruang ini mempertemukan seniman, penulis, pemikir, dan masyarakat melalui berbagai kegiatan, mulai dari dialog, pameran, hingga pertunjukan.

Barangkali fungsi ruang kebudayaan memang tidak selalu terlihat hasilnya pada saat itu juga. Tidak semua percakapan menghasilkan kesimpulan. Tidak semua karya mengubah cara pandang penontonnya. Kadang-kadang yang tertinggal hanya sebuah pertanyaan yang baru menemukan jawabannya beberapa hari kemudian.

Dan mungkin memang itu yang dibutuhkan dari seni ketika dunia bergerak terlalu cepat: bukan tambahan kebisingan, melainkan kesempatan untuk memperhatikan kembali.

Memperhatikan tubuh. Memperhatikan lingkungan. Memperhatikan orang lain. Lalu, setelah cukup lama berhenti, kembali berjalan dengan kesadaran yang sedikit berbeda.[T]

Sumber/Penulis: Rilis/Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Beranda BentaraDr. Jean CouteauIda Ayu Wayan Arya SatyaniMade Kaek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

Next Post

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co