DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto dan Puisi Jelajah Tiga Pulau yang diselenggarakan Klub Membaca Raden Saleh (MRS) pada 18–28 Oktober 2026, pulau-pulau itu hadir kembali di hadapan kita, bukan hanya sebagai bentang alam yang indah, melainkan sebagai tempat yang pernah menampung begitu banyak kisah manusia.
Ada benteng yang masih berdiri, bangunan tua yang bertahan melewati pergantian zaman, juga tanah yang menyimpan bekas kedatangan dan kepergian. Kita bisa melihat semuanya hari ini. Namun, melihat peninggalan sejarah tidak selalu berarti mengenal sejarah itu sendiri. Ada yang tertangkap mata, ada yang tercatat dalam buku, dan ada yang telah lama luput dari ingatan.
Barangkali di situlah pameran ini menemukan artinya. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari kebiasaan memandang sebuah tempat sebagai pemandangan. Sebab, di balik sesuatu yang tampak, selalu ada kehidupan yang pernah berlangsung, meski tidak seluruhnya berhasil dibawa sampai kepada kita.


Foto dan puisi menempuh jalan yang berbeda untuk mendekati masa lalu. Kamera merekam apa yang berada di hadapannya, sedangkan puisi berangkat dari apa yang mengusik pikiran setelah pandangan beranjak pergi. Keduanya tidak bisa mengembalikan waktu, tetapi dapat membuat kita lebih lama tinggal bersama pertanyaan tentang apa yang pernah terjadi.
Onrust, Cipir, dan Kelor bukan sekadar nama pulau yang bisa ditandai di peta. Ketiganya menyimpan bagian dari perjalanan sejarah Jakarta, tentang kekuasaan, pergerakan manusia, dan kehidupan yang berlangsung dalam perubahan zaman. Membacanya kembali berarti memberi kesempatan kepada masa lalu untuk hadir dalam kesadaran kita hari ini.
Benteng, Kamera, dan Sesuatu yang Tak Selesai Dijelaskan
Salah satu kisah yang mengundang perhatian dalam pameran ini berkaitan dengan foto karya fotografer Arbain Rambey yang merekam Benteng Martello di Pulau Kelor. Dalam pemberitaan Kanalnews.co pada 18 Oktober 2026, Arbain menceritakan pengalaman ganjil ketika sejumlah orang melihat sosok manusia dalam foto hitam putih yang dibuatnya. Menurut pengakuannya, tidak ada manusia di lokasi ketika pemotretan berlangsung. Bahkan, seseorang yang semula tertarik memiliki foto tersebut akhirnya memilih menghancurkannya karena menganggap foto itu membawa aura buruk.
Kisah semacam ini mudah mengundang rasa penasaran. Orang bisa memperdebatkan apa yang sebenarnya tertangkap kamera, apa yang dilihat mata, atau apa yang hanya hadir dalam pikiran seseorang ketika memandang sebuah gambar.
Namun, saya justru tertarik pada hal lain: mengapa sesuatu yang tidak dapat kita jelaskan dengan segera kerap menimbulkan kegelisahan?
Sebuah foto mungkin tampak selesai ketika tombol kamera ditekan. Cahaya telah ditangkap, objek telah terekam, dan peristiwa pemotretan telah berlalu. Akan tetapi, ketika foto itu berpindah ke tangan orang lain, ceritanya belum tentu berakhir. Setiap orang datang dengan pengalaman, keyakinan, dan ingatan masing-masing. Gambar yang sama bisa menimbulkan kesan yang berbeda, bahkan menghadirkan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang lain.

Di hadapan Benteng Martello, pengalaman Arbain membawa kita pada pertanyaan tentang batas antara apa yang terlihat dan apa yang kita tafsirkan. Kamera merekam cahaya dan bentuk. Selebihnya, manusia mulai bekerja dengan ingatannya sendiri. Sesuatu yang bagi seseorang tampak biasa bisa terasa ganjil bagi orang lain.
Tentu saja, pengalaman melihat sosok dalam sebuah foto tidak dengan sendirinya membuktikan keberadaan sesuatu yang misterius. Ada perbedaan antara apa yang terekam, apa yang dikenali seseorang, dan apa yang kemudian dipercayainya. Perbedaan ini penting, sebab rasa ingin tahu seharusnya membuka ruang bagi pertanyaan, bukan buru-buru menutupnya dengan kesimpulan.
Benteng Martello memiliki kisah yang jauh lebih panjang daripada perdebatan tentang satu foto. Bangunan itu merupakan bagian dari peninggalan sejarah kolonial di perairan Jakarta. Dindingnya masih dapat kita saksikan, tetapi kehidupan yang pernah mengitarinya tidak seluruhnya hadir dalam bentuk yang bisa dilihat hari ini.
Saya membayangkan betapa banyak manusia pernah melewati tempat itu dengan urusan dan nasib masing-masing. Ada kehidupan yang tercatat, ada yang hanya meninggalkan bekas, dan mungkin ada pula yang tak pernah memperoleh tempat dalam catatan sejarah. Kita berdiri di hadapan benteng yang sama, tetapi tidak mungkin mengetahui seluruh cerita yang pernah berlangsung di sana.
Maka, persoalannya bukan semata-mata apakah ada sosok tertentu di dalam sebuah foto. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: berapa banyak hal yang luput dari perhatian kita ketika berhadapan dengan peninggalan masa lalu? Kita bisa mengagumi bentuk bangunan, mencari sudut terbaik untuk memotret, lalu pulang membawa gambar. Namun, belum tentu kita membawa pulang pemahaman.


Barangkali sejarah memang tidak selalu memberikan jawaban yang lengkap. Tugas kita bukan mengisi setiap kekosongan dengan dugaan, melainkan belajar membedakan apa yang diketahui, apa yang ditafsirkan, dan apa yang masih menjadi pertanyaan.
Ketika Puisi Mendekati Sejarah
Saya selalu percaya bahwa sebuah tempat dapat menyimpan lebih banyak hal daripada yang sanggup diceritakan oleh bentuk fisiknya. Dinding benteng, misalnya, dapat dipotret dari berbagai sudut. Kita bisa mencatat warna, tekstur, kerusakan, dan perubahan yang tampak. Namun, bagaimana kita mendekati kehidupan manusia yang pernah berada di balik dinding itu?
Puisi tidak selalu datang untuk menjawabnya. Kadang-kadang, puisi hanya mengajukan pertanyaan yang membuat kita memandang sesuatu sedikit lebih lama.

Di Onrust, Cipir, dan Kelor, peninggalan sejarah membawa kita pada pertanyaan tentang manusia. Siapa yang datang dan siapa yang pergi? Siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan nasib orang lain? Siapa yang kehilangan kebebasan? Siapa yang namanya tercatat, dan siapa yang hilang dari halaman sejarah?
Kita tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu hanya dengan memandang sebuah bangunan. Kita membutuhkan catatan, penelitian, dan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, di samping kerja sejarah tersebut, puisi memberi ruang bagi kesadaran kita untuk mendekati pengalaman manusia yang tidak selalu terwakili oleh angka, tanggal, dan kronologi.
Di sinilah fotografi dan puisi saling mendekat tanpa harus menjadi hal yang sama. Foto menghadirkan sesuatu yang pernah berada di hadapan kamera. Puisi bergerak dari perjumpaan itu menuju pikiran yang mungkin tidak selesai bahkan setelah kita meninggalkan tempatnya.
Sebuah foto memperlihatkan dinding tua. Puisi mungkin membuat kita bertanya tentang orang-orang yang pernah menyentuhnya, tentang kehidupan yang berlangsung di sekitarnya, atau tentang waktu yang perlahan mengubah fungsi sebuah bangunan. Pertanyaan itu bukan bukti sejarah, tetapi dapat menjadi jalan untuk mencari tahu lebih jauh.
Begitu pula ketika kita memandang lanskap pulau yang indah. Keindahan tidak perlu disangkal untuk mengakui bahwa tempat tersebut juga memiliki masa lalu yang rumit. Alam, bangunan, dan sejarah manusia hadir dalam satu ruang, tetapi tidak selalu menceritakan hal yang sama kepada setiap orang.


Bagi saya, puisi tidak harus menjadikan sejarah sebagai bahan untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang terdengar agung. Justru ketika berhadapan dengan masa lalu, ada baiknya kata-kata tahu batas. Ada kehidupan yang tidak kita alami, penderitaan yang tidak kita saksikan, dan pengalaman yang tidak pantas kita klaim seolah-olah sepenuhnya kita pahami.
Puisi cukup membuka pintu. Pembaca boleh masuk melalui pengalaman dan pengetahuannya sendiri, sambil tetap menyadari bahwa imajinasi bukan pengganti fakta.
Melalui perjumpaan foto dan puisi dalam pameran ini, melihat memperoleh kemungkinan lain. Kita tidak hanya berhenti pada apa yang tampak, tetapi juga mulai mencari tahu apa yang melatarinya. Dari sana, sejarah tidak lagi terasa jauh sebagai urusan masa silam. Ia menjadi bagian dari cara kita memahami kehidupan hari ini.
Pembukaan: Seni sebagai Ruang Perjumpaan
Pembukaan Pameran Foto dan Puisi Jelajah Tiga Pulau berlangsung khidmat. Di antara foto-foto yang merekam Onrust, Cipir, dan Kelor, pembacaan puisi serta persembahan tari menghadirkan suasana yang berbeda. Sejarah tidak hanya hadir sebagai objek yang dipandang, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan melalui berbagai bahasa seni.
Acara diawali dengan pembacaan puisi dan persembahan tari dari Suku Dinas Kebudayaan Kepulauan Seribu. Kurnia Effendi, mewakili Klub Membaca Raden Saleh, menyampaikan sambutan. Setelah itu, puisi dibacakan oleh Emi Suy dan Nova Archie. Ibu Misari, Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta, kemudian meresmikan pameran, dilanjutkan dengan kunjungan untuk menyaksikan karya-karya yang dipajang.


Ada sesuatu yang menarik ketika berbagai bentuk seni bertemu di ruang museum. Benda-benda peninggalan menghubungkan kita dengan masa lalu, foto menghadirkan jejak yang tertangkap mata, puisi mengajak kita berdiam sejenak dalam pikiran, sedangkan tari membawa kebudayaan hadir melalui gerak tubuh.
Masing-masing memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan sesuatu. Tidak semuanya harus menjelaskan hal yang sama. Justru dari perbedaan itulah kita bisa melihat bahwa pengalaman manusia tidak pernah cukup diwakili oleh satu bahasa.
Museum menjaga benda-benda yang diwariskan zaman. Namun, menjaga benda tentu berbeda dari menjaga ingatan tentang kehidupan yang pernah menyertainya. Sebuah bangunan bisa bertahan selama puluhan atau ratusan tahun, sementara pengetahuan tentang orang-orang yang pernah berada di sana perlahan menghilang.
Seni tidak menggantikan penelitian sejarah, tetapi dapat membuat orang kembali tertarik untuk mendekatinya. Seseorang mungkin datang karena ingin melihat foto, lalu tertarik membaca puisi. Orang lain mungkin berhenti pada sebuah gambar, kemudian mencari tahu tentang pulau yang direkamnya. Dari perjumpaan-perjumpaan kecil semacam itu, keingintahuan bisa tumbuh menjadi kesediaan untuk belajar.
Barangkali inilah salah satu hal yang membuat pameran seperti Jelajah Tiga Pulau penting: ia mempertemukan orang dengan sejarah melalui jalan yang tidak selalu mereka tempuh sebelumnya.
Banyak Pandangan, Satu Ruang Ingatan
Pameran ini melibatkan para peserta dari beragam latar belakang yang menghadirkan pandangan mereka tentang sejarah dan kehidupan di Kepulauan Seribu melalui fotografi dan puisi. Mereka adalah Iksaka Banu, Endah Sulwesi, Aryani Tina Sitio, Georgie T. Kadarusman, Susanto Heru, Emi Suy, Archie Nova, Asmariah Supriyadi, Hayati Sisie, Yudiati Kuniko, Susan Misero, Puspa Felicita, Nurina Malinda, Ecka Pramita, Min Mika, Naomi Kanaya, Ria Badriah, Sisie Dimetra Macallo, Tannia Margaret, Ininani Yugo, Peter Setiawan, Shantined, Yulis Misbach, Yulis Diana Misbach, Ellya Soraya, Umi Hikmawati, Astrid Wahono, Richa Pioscha, Yuni Agus, Eka Sovia Harti, Ungunya Rahma, Emma Abdullah, Yulia Astitut, Mia Warsito, Vivid Sambas, Putriavianta Ferdy, Evin Burhan, dan peserta lainnya.
Mereka datang dengan cara pandang masing-masing. Ada yang mungkin tertarik pada bentuk bangunan, ada yang memilih lanskap, sementara yang lain menemukan sesuatu dalam kesunyian sebuah tempat. Objek yang sama bisa melahirkan karya yang berbeda, bergantung pada apa yang diperhatikan dan bagaimana pengalaman itu diolah.


Keragaman semacam ini membuat pameran menjadi lebih dari sekadar kumpulan gambar dan teks. Pengunjung dapat berjalan dari satu karya ke karya lain, berhenti pada sesuatu yang menarik perhatiannya, lalu menemukan bahwa pandangannya tidak selalu sama dengan pandangan orang yang membuat karya tersebut.
Perbedaan itu tidak harus diselesaikan dengan mencari satu tafsir yang paling benar. Untuk urusan sejarah, fakta tetap perlu diperiksa dan klaim tetap harus memiliki dasar. Namun, dalam membaca karya seni, pengalaman seseorang dapat membuka kemungkinan yang tidak terpikirkan oleh orang lain.
Foto dan puisi kemudian menjadi semacam percakapan. Keduanya tidak berbicara serempak, tetapi saling memberi ruang. Sebuah gambar mungkin membuat kita teringat pada sesuatu yang pernah dibaca. Sebuah puisi bisa mengubah cara kita memandang bangunan yang sebelumnya hanya tampak tua dan diam.
Ingatan bersama tumbuh melalui kesediaan untuk kembali melihat dan mencari tahu. Ia tidak cukup dipelihara dengan menyimpan benda atau merayakan suatu peristiwa setiap tahun. Kita juga perlu memahami mengapa sesuatu layak diingat dan apa yang dapat kita pelajari darinya.
Ketika sebuah tempat hanya dikenal karena keindahannya, sejarah yang menyertainya bisa tertinggal di luar bingkai. Kita mengenal bentuknya, tetapi tidak mengenal kisahnya. Kita menyimpan fotonya, tetapi tidak selalu merasa perlu mengetahui apa yang membuat tempat itu penting.
Di sinilah karya seni dapat mengambil bagian. Bukan dengan memberikan jawaban untuk semua persoalan, melainkan dengan membuat orang kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang sungguh-sungguh kadang lebih berarti daripada kesimpulan yang disampaikan tanpa keinginan untuk memahami.
Sejarah yang Tidak Selesai Menjadi Pemandangan
Saya teringat pada kebiasaan kita ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kita mencari sudut yang bagus, menunggu cahaya yang tepat, lalu mengambil foto. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke tempat lain. Ada gambar yang dibagikan, ada kenangan yang disimpan, tetapi tidak selalu ada keinginan untuk mengenal lebih jauh tempat yang baru saja kita kunjungi.
Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menikmati keindahan atau mengabadikan perjalanan. Namun, sebuah tempat bersejarah menawarkan sesuatu yang lebih daripada latar untuk berfoto. Di sana ada kehidupan yang pernah berlangsung, perubahan yang membentuk zaman, dan manusia yang nasibnya mungkin tidak pernah kita ketahui sepenuhnya.


Jelajah Tiga Pulau mengajak kita mendekati lapisan-lapisan itu melalui foto dan puisi. Bukan untuk membuat setiap gambar menjadi penjelasan sejarah atau memaksa setiap puisi menyampaikan pesan tertentu, melainkan untuk membuka kesempatan melihat dengan lebih saksama.
Sebab, melihat dan memahami adalah dua pekerjaan yang berbeda. Kita bisa melihat benteng, tetapi belum tentu mengetahui mengapa ia dibangun. Kita bisa membaca sebuah catatan, tetapi belum tentu memahami seluruh pengalaman manusia yang berada di baliknya. Pemahaman membutuhkan waktu, pengetahuan, dan kesediaan untuk menerima bahwa apa yang kita ketahui mungkin belum lengkap.
Onrust, Cipir, dan Kelor menyimpan jejak masa lalu yang tidak dapat kita hadirkan kembali secara utuh. Waktu telah berjalan, manusia telah pergi, dan sebagian cerita mungkin tidak lagi bisa ditemukan. Yang tersisa adalah peninggalan, dokumen, ingatan, serta berbagai upaya untuk mendekati apa yang telah berlalu.
Di hadapan semua itu, kita perlu berhati-hati. Tidak setiap kekosongan harus diisi dengan dugaan. Tidak setiap kesan harus dipercaya sebagai fakta. Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa kita tidak tahu, lalu mencari jalan untuk mengetahui lebih banyak.
Bagi saya, di situlah pertemuan fotografi, puisi, dan sejarah menjadi menarik. Kamera membuat kita berhenti pada sebuah gambar. Puisi membawa kita tinggal lebih lama bersama pertanyaan. Sejarah mengingatkan bahwa setiap penafsiran perlu berhadapan dengan kenyataan, bukan hanya dengan apa yang ingin kita percayai.
Pada akhirnya, merawat ingatan bukan pekerjaan yang selesai ketika sebuah pameran ditutup atau ketika foto-foto diturunkan dari dinding. Ia berlanjut dalam cara kita memperlakukan peninggalan, dalam keinginan untuk mencari tahu, juga dalam kesediaan mewariskan pengetahuan kepada mereka yang datang sesudah kita.
Kita mungkin tidak pernah mendengar suara orang-orang yang dahulu hidup di pulau-pulau itu. Kita tidak selalu mengetahui nama mereka, pekerjaan mereka, atau apa yang mereka pikirkan ketika memandang laut yang sama. Namun, keterbatasan itu tidak membuat sejarah kehilangan arti. Justru karena tidak semua hal dapat kita ketahui, peninggalan yang masih tersisa perlu dijaga dan dipelajari dengan sungguh-sungguh.
Sebuah benteng bukan hanya susunan batu yang bertahan dari perubahan zaman. Sebuah pulau bukan hanya bentang alam yang menawarkan keindahan. Di dalamnya ada perjalanan manusia, ada kuasa yang pernah bekerja, ada kehidupan yang berubah, dan ada bagian-bagian masa lalu yang masih menunggu untuk dipahami.
Barangkali itulah yang saya bawa pulang dari Jelajah Tiga Pulau. Bukan keinginan untuk menemukan jawaban atas segala sesuatu, melainkan kesadaran bahwa sebuah tempat selalu lebih luas daripada apa yang tertangkap mata.
Foto akan menyimpan apa yang sempat direkamnya. Puisi akan tumbuh dari apa yang mengendap dalam pikiran manusia. Sejarah akan terus dibaca ulang oleh generasi yang berbeda. Di antara ketiganya, ada tanggung jawab yang tidak boleh kita abaikan: jangan sampai peninggalan masa lalu tetap berdiri, tetapi maknanya hilang dari ingatan kita.
Sebab, merawat sejarah bukan sekadar menjaga apa yang masih ada. Kita juga perlu menjaga kesediaan untuk bertanya tentang apa yang telah hilang, siapa yang pernah hadir, dan mengapa kisah mereka layak terus diingat.
Jakarta, 18 Oktober 2026































