19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
October 19, 2026
in Esai
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

Antrean di SPBU di Bali | Foto: Yoga Wismantara

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi mendapatkan beberapa liter bahan bakar. Bukan untuk menonton pertunjukan atau berjaga di tempat suci, melainkan untuk mengisi tangki kendaraan. Jika mekemit biasanya lekat dengan tradisi berjaga pada malam hari dalam kegiatan keagamaan, kini muncul pemandangan yang menggelitik sekaligus mengundang renungan, mekemit di SPBU.

Melalui tulisan “Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM”, I Wayan Artika mengajak kita melihat ironi kehidupan masyarakat yang berhadapan dengan antrean panjang BBM. Di balik senyum getir itu, sesungguhnya tersimpan pelajaran tentang karakter, pendidikan moral, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.

Selama ini, sekolah dianggap sebagai ruang utama pendidikan. Ada guru, murid, kurikulum, ujian, dan nilai rapor. Padahal, kehidupan sehari-hari juga merupakan ruang belajar yang tidak kalah penting. Bahkan, pelajarannya terkadang lebih nyata daripada materi di buku.

Antrean BBM menjadi ujian sederhana yang tidak selalu mudah. Ketika pasokan terbatas dan semua orang membutuhkan, apakah kita bersedia menunggu giliran? Apakah kita tetap menghormati hak orang lain ketika lelah dan kecewa? Atau justru menyerobot antrean karena merasa kebutuhan sendiri lebih penting?

Di sinilah pendidikan karakter menemukan maknanya. Kejujuran, disiplin, kesabaran, dan kepedulian tidak cukup dihafalkan sebagai definisi. Nilai-nilai itu baru terasa ketika harus dipraktikkan dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Keberhasilan pendidikan moral bukan semata-mata terlihat dari kemampuan menjawab soal tentang kebaikan, melainkan juga dari cara seseorang memperlakukan orang lain saat kepentingannya berbenturan.

Di tengah antrean panjang, sebagian masyarakat berusaha menjaga ketertiban dan menahan diri. Namun, pemandangan berbeda sempat terlihat di ruang media sosial. Percakapan terbelah oleh saling tuding, saling menyalahkan, dan perasaan paling benar. Setiap pihak seolah memiliki kebenarannya sendiri, sekaligus sibuk mencari pembenar atas pendapatnya.

Kritik tentu sah dan diperlukan. Namun, ketika kritik berubah menjadi perlombaan mencari pihak yang paling bersalah, persoalan justru semakin kabur. Apakah pendidikan kita telah cukup mengajarkan cara berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat, mengkritik tanpa terburu-buru menghakimi, dan mencari solusi tanpa sibuk membangun pembenaran?

Kecerdasan bukan sekadar kemampuan menyampaikan pendapat. Kecerdasan juga menuntut kesanggupan mendengar, menimbang persoalan secara adil, dan bertanggung jawab atas pendapat sendiri. Ruang digital semestinya menjadi tempat bertukar gagasan, bukan panggung untuk memenangkan pendapat.

Barangkali, sikap tertib sebagian masyarakat di tengah kesulitan juga mencerminkan nilai yang tumbuh melalui keluarga, adat, kehidupan beragama, dan pergaulan sosial. Kesabaran, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap sesama tidak hanya hidup dalam nasihat, tetapi diuji ketika seseorang harus menunggu berjam-jam dan kebutuhannya belum terpenuhi.

Tentu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa semua masyarakat Bali selalu santun atau bahwa tidak adanya demonstrasi besar berarti semua orang menerima keadaan. Kesantunan bukan berarti dilarang mengkritik. Kesabaran juga bukan tanda bahwa seseorang tidak kecewa. Justru, menyampaikan kritik secara tertib dan bertanggung jawab merupakan bagian dari kedewasaan sosial.

Fenomena mekemit di SPBU menjadi bahan refleksi bagi dunia pendidikan. Pendidikan karakter sering dibicarakan, dimasukkan ke dalam program sekolah, dan dituliskan dalam dokumen perencanaan. Namun, pertanyaan mendasarnya sederhana, “Apakah nilai-nilai tersebut benar-benar telah hidup dalam perilaku?”

Kita mengajarkan gotong royong, apakah anak memperoleh pengalaman bekerja sama? Kita berbicara tentang kejujuran, apakah orang dewasa memberikan keteladanan? Kita mengajarkan kesabaran, apakah guru dan orang tua mampu menghadapi kesalahan anak tanpa merendahkan mereka?

Jangan sampai pendidikan karakter ramai dalam dokumen, tetapi sepi dalam tindakan. Anak-anak tidak cukup mendengar nasihat. Mereka perlu menyaksikan dan mengalami bagaimana kebaikan dijalankan.

Peristiwa antrean BBM dapat menjadi bahan pembelajaran kontekstual. Guru bisa mengajak siswa mendiskusikan keadilan dalam antrean, dampak kelangkaan terhadap masyarakat, pentingnya memeriksa kebenaran informasi, serta cara menempatkan kepentingan pribadi di tengah kepentingan bersama. Dengan demikian, siswa tidak sekadar menghafal nilai, tetapi belajar memahami dan mempraktikkannya.

Menghargai kesabaran masyarakat tidak berarti mengabaikan tanggung jawab penyelenggara pelayanan publik. Jika terjadi gangguan pasokan atau distribusi BBM, persoalan itu harus dijelaskan dan ditangani secara transparan serta bertanggung jawab.

Ketertiban warga bukan alasan untuk membiarkan persoalan berlarut-larut. Kesabaran Bukan Alasan untuk Berdiam Diri. Gotong royong dapat membantu masyarakat bertahan, tetapi tidak menggantikan sistem distribusi yang baik. Warga yang santun tetap berhak menyampaikan kritik, dan masyarakat yang sabar tetap berhak memperoleh pelayanan yang layak.

Di sinilah pendidikan moral dan tata kelola publik bertemu. Masyarakat dituntut tidak merugikan sesame. Sementara penyelenggara pelayanan wajib menjalankan tanggung jawabnya. Kesantunan warga semestinya dibalas dengan kesungguhan pelayanan. Bukan sebaliknya, kesantunan warga hanya dijadikan alasan untuk menganggap semuanya baik-baik saja.

Pada akhirnya, antrean BBM akan berlalu. Aktivitas masyarakat kembali normal dan SPBU kembali menjadi tempat mengisi bahan bakar tanpa harus menghabiskan malam. Namun, pertanyaan pentingnya tetap tinggal, setelah peristiwa ini selesai, apa yang sungguh-sungguh kita pelajari?

Bagi dunia pendidikan, mekemit di SPBU mengingatkan bahwa karakter tidak hanya dibentuk di ruang kelas. Ia tumbuh melalui keluarga, kebudayaan, kehidupan beragama, pengalaman sosial, dan keteladanan. Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi kesempatan merawat kesabaran dan solidaritas tanpa kehilangan keberanian untuk mengkritik. Bagi penyelenggara pelayanan publik, ini merupakan pengingat bahwa kepercayaan masyarakat harus dijaga melalui pelayanan yang nyata.

Mungkin inilah wajah baru pendidikan pasca mekemit di SPBU. Pendidikan tidak berhenti pada pelajaran tentang kebaikan, tetapi menjelma menjadi perilaku; pendidikan yang menumbuhkan kesantunan sekaligus membuka ruang kritik; dan pendidikan yang membangun solidaritas tanpa membenarkan ketidakberesan.

Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan bukan semata-mata nilai di rapor, melainkan juga cara manusia bersikap ketika kecewa, memperlakukan sesama ketika dirinya kesulitan, dan bertanggung jawab ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan bersama.

Jika dari antrean panjang itu kita belajar menjadi lebih sabar, kritis, peduli, dan bertanggung jawab, mekemit di SPBU bukan lagi sekadar parodi kehidupan. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat—di mana saja, bahkan di tengah antrean bahan bakar.[T]

Tags: baliBBMPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

Next Post

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails
Next Post
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co