— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026
*
Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang sangat menarik dibandingkan Bali, terutama dalam tradisi penulisan naskah lontar (palmyra palm-leaf manuscripts) dan sistem pengobatan tradisional (Usadha di Bali dan Kerala).
Kedua wilayah ini berbagi akar budaya Hindu-Budha dan pengaruh tradisi Sanskerta yang melintasi Samudra Hindia berabad-abad lalu.
Baik di Bali maupun di Kerala, daun dari pohon lontar digunakan sebagai media tulis. Proses pengolahan daunnya sangat mirip: direbus, dikeringkan, ditekan agar rata, dan dipotong sesuai ukuran.
Di Bali, alat penggoresnya disebut pengutik atau pengerupak. Di Kerala, alat serupa disebut narayam atau ezhuthani (pena besi). Setelah digores, tulisan dihitamkan menggunakan jelaga atau minyak alami (di Bali menggunakan kemiri yang dibakar).

Di Kerala, naskah ini disebut Grantha atau Thaliyola. Di kedua tempat, lontar digunakan untuk mencatat teks-suci, sastra, astronomi (wariga/jyotisha), dan tentu saja, ilmu medis. Bisa dikatakan juga topik-topik atau isinya mengandung banyak persamaan.
Penulisan lontar tersebar di India Selatan (Tamil Nadu, Kerala, Karnataka dan Andhra Pradesh), India Timur (Odisha/ Orissa), dan India Utara dan Pusat (Berbasis Tinta), seperti di Bihar, Nalanda dan Vikramashila, Bengala Barat dan Nepal (Perbatasan) juga banyak ditemukan manuskrip teks suci Hindu dan Buddha berbahasa Sanskerta ditulis di atas lontar.
Ilmu pengetahuan bermanfaat ketika disebar dan dibagikan secara melintasi ras, wilayah dan bahasa. Itulah yang terjadi dengan sistem Ausaddha atau Usada dimana istilah ini bersumber dari tradisi Sanskrit, yang salah satu tertua dalan Atharwa Weda, lalu berkembang menjadi Usada (India Selatan dan Nusantara) dan Ayurweda di berbagai wilayah India.
Baik di Bali dan Kerala sistem pengobatan dengan nama usada ini berkembang dengan gaya dan muatan lokalitasnya yang kental sehingga memiliki kekhasan masing-masing yang sangat bersifat lokal.[T]





























