PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali?
Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih. Semuanya punya rasa dan karakter masing-masing. Tapi begitu disatukan dengan kelapa parut dan siraman juruh gula merah, semuanya justru berpadu menjadi satu sajian yang nikmat. Sederhana memang. Tapi kalau direnungkan, jaje campur ini mirip dengan kehidupan Bali saat ini.
Belakangan, kita dihadapkan pada persoalan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup terasa: BBM yang sulit didapat dan antrean panjang di SPBU. Ada yang harus mengantre berjam-jam, ada yang khawatir tidak bisa berangkat kerja, ada pedagang yang kesulitan menjalankan usahanya, dan ada pula aktivitas pariwisata yang berpotensi ikut terganggu.
Dari situ kita jadi sadar, ternyata kehidupan di Bali saling terhubung. Ketika satu bagian terganggu, bagian lainnya bisa ikut merasakan dampaknya. Bali bukan hanya tentang pariwisata. Bali juga tentang orang-orang yang setiap hari bekerja, berdagang, mencari nafkah, dan menjaga kehidupan tetap berjalan.
Sama seperti sepiring Jaje Campur Bali. Setiap jaje punya tempat dan perannya masing-masing. Tidak ada yang harus lebih penting dari yang lain. Semuanya saling melengkapi untuk menciptakan rasa yang pas.
Begitu juga Bali..
Pariwisata memang penting. Tapi kebutuhan masyarakat lokal, kelancaran aktivitas sehari-hari, kesejahteraan pedagang kecil, dan keberlangsungan lingkungan juga sama pentingnya. Karena harmoni bukan berarti semuanya selalu baik-baik saja. Harmoni justru diuji ketika kita menghadapi keterbatasan, punya kepentingan yang berbeda, tetapi tetap mau saling memahami dan membantu.
Siapa sangka, sepiring Jaje Campur Bali bisa menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan kita di Bali..
Bahwa tidak semua harus sama untuk bisa bersama. Tidak semua harus manis untuk menghasilkan rasa yang nikmat. Dan tidak semua persoalan harus membuat kita kehilangan rasa kebersamaan. Bali sudah melewati banyak perubahan dan tantangan. Persoalan BBM ini menjadi pengingat bahwa di balik ramainya pariwisata dan pesatnya pembangunan, ada kehidupan masyarakat yang juga harus diperhatikan. Bali yang kuat bukan Bali yang tidak pernah menghadapi masalah, tetapi Bali yang mampu melewatinya bersama tanpa kehilangan rasa peduli dan jati dirinya.
Seperti jaje campur, keistimewaan Bali bukan hanya karena keberagamannya, tetapi karena setiap bagiannya bisa tetap saling melengkapi.
Bali boleh berubah, tapi jangan sampai kehilangan rasa.
Bali boleh semakin maju, tapi jangan sampai kehilangan harmoni.
Karena pada akhirnya, Bali bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang datang, tetapi juga tentang bagaimana orang-orang yang tinggal di dalamnya tetap bisa hidup dengan baik.[T]































