31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

Made Chandra by Made Chandra
October 10, 2026
in Ulas Rupa
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

Suasana persiapan pameran kolektif “Becomen’t” project. | Sumber : Made Chandra

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku belakangan. Terutama saat dihadapkan dengan pameran yang senimannya itu-itu lagi. karyanya juga terasa familiar, mungkin stok lama yang dibiarkan berlayar dari satu pameran ke pameran yang lain.

Hal itu semakin diperparah jika kamu tinggal dan memilih Bali sebagai kubangan berkesenian. Arena yang terlalu bersinggungan dengan pasar semacam pariwisata, membuat kita selalu dihadapkan pada pameran dengan skema curi-curi untung. Barangkali karya-karya dengan sifat Collectable item dan affordable price jadi pilihan (itu loh yang karyanya kecil-kecil gampang dibawa dan tak perlu ribet ngurusi hajat packing-memacking).

Akibatnya jelas, variasi pemajangan menjadi terlalu klise dan tidak terlalu menggairahkan. Kebanyakan memang didominasi lukisan sebagai primadona para pengoleksi dengan skema beli putus. Di titik inilah kita merindukan karya-karya banal nan eksperimental, yang tak melulu menyasar pasar sebagai tujuan utama.

Maka obat untuk itu semua ya pameran kolektif. Sebuah pameran yang mata uangnya adalah pertemanan dan kepercayaan. Tak lebih tak kurang. Jika kemudian ditakar, kebutuhan untuk melihat inisasi semacam ini menjadi mendesak di kala semua seniman berlomba-lomba untuk menggapai tangga established (semacam title yang disematkan pada seniman yang mulai diakui dan masuk pada percakapan arus utama).

Suasana persiapan pameran kolektif “Becomen’t” project. | Sumber : Made Chandra

Kalau dipikir-pikir, tulisan ini juga bermula dari keresahanku  terhadap miskinnya regenerasi seniman-seniman baru; di luar echo chambernya. Bagaimana tidak, mahasiswa seni yang ihwalnya adalah mencipta dan memamerkan karyanya—sering kali hanya terpenjara dalam ketakutan untuk menjamah lingkungan di luar ruang akademisnya. Padahal jika dipikir, selama ini skema pameran-pameran kolektif miskin budget tapi kaya akan akal-akalan—selalu digelar oleh dedengkot mahasiswa yang sedang mengais validasi kesenimanannya.

Memangnya apa sih kelebihan sebuah pameran kolektif? emang bisa ngasilin uang? yang ada malah bikin tekor dan ngabis-ngabisin energi, yang mending dihabiskan untuk rebahan.

Karya-karya pada pameran kolektif “Becomen’t” project. | Sumber : Made Chandra

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang benar adanya. Tapi percayalah justru karna tak menyasar nilai material, maka banyak hal lain yang bisa dirayakan. Semisal kebebasan dalam berimajinasi tanpa terikat eksklusifitas pasar, atau tebaran jejaring antar skena yang jaringannya justru semakin luas, serta tawaran wacana dari wilayah periferi yang minim terjamah.

Nothing to lose, jadi semacam mantra ajaib. Ia mendorong kita untuk memeras seluruh ide yang selama ini tak pernah hadir karena ketakutan-ketakutan akan penerimaan publik, maupun pasar. Maka jadi wajar jika pameran kolektif menjadi penting untuk kembali memetakan ulang potensi seniman-seniman baru, dan wacana yang sedang berputar di antara generasi ini.

Ongkos kolektivitas

Sesuatu yang gila pasti membutuhkan ongkos untuk mewaraskannya. Tak terkecuali kerja-kerja kolektif yang tak jarang menguras waktu, tenaga dan sejumput pikiran yang masih tersisa.

Sebagai contoh aku akan membahas dua pameran kolektif yang belum lama aku kunjungi, dan aku ikut andil pada salah satu pameran tersebut. ketika kemudian dibandingkan dari wilayah pendekatan, maka tampak dua kecenderungan yang berbeda. Namun keselarasan di antara keduanya adalah pameran yang sama-sama dibiayai oleh semangat kolektifitas dan bumbu-bumbu pertemanan.

Suasana persiapan pameran kolektif “Becomen’t” project. | Sumber : Made Chandra

Sebutlah project “Becomen’t”, sebuah pameran yang 19 September lalu menggelar pembukaannya di Purga Art Space, Ubud. Sebagai seorang yang juga ikut andil di dalamnya. Aku sampai pada kesimpulan bahwa menjaga komitmen akan jauh lebih menantang dari pada sekadar menciptakannya.

13 kepala yang terdiri dari seniman dan penulis dari berbagai macam latar belakang—bersepakat untuk membangun kepercayaan untuk menjalin kerja sama dalam tempo yang singkat—sepenuh-penuhnya paling tidak hingga ihwal opening berhasil dilakukan.

Suasana opening dan performance oleh Yanik Parta pada opening pameran kolektif “Becomen’t” project. | Sumber : Made Chandra

Pada hajatan ini, treatment terhadap seniman-seniman tidak berhenti pada perannya sebagai si pencipta karya; tapi lebih intim pada kerja-kerja remeh di balik terjadinya sebuah event. Mulai dari ide, logistik, publikasi, sampai pada ihwal pen-display-an yang menuntut keseriusan dan sejumlah siasat. Singkat kata, kita tak kekurangan seniman tapi kekurangan orang yang memikirkan seniman.

Dari sanalah kesadaran untuk memikirkan pameran sebagai satu kesatuan utuh dari banyaknya perihal teknis, menjadi catatan tersendiri. Memang pada satu saat, harga mati seniman adalah karyanya. Tapi bukankah lebih asik (baca: bijak) jika mereka paham bagaimana keriwehan sebuah pameran agar dapat tercipta. Sehingga kembali menakar ego adalah sebuah kewajiban.

——

Kemudian beranjak pada posisiku sebagai pengamat dalam sebuah pameran kolektif yang tengah berlangsung dari 9-11 obtober ini. Sebuah kolektif yang menamakan dirinya ISA, menggelar pameran yang hadir di tengah percakapan antara kopi dan geliat perkotaan. Dengan menggandeng Huis Coffee di tengah jantung Denpasar, mereka membawa pendekatan lain dalam kerja-kerja kolektif.

Salah satu karya pada pameran kolektif “Akar yang Berjalan” oleh ISA Collective. | Sumber : Made Chandra

Tawaran lain yang coba dibawa oleh kolektif ini adalah kebebasan pada aktivasi ruang alternatifnya. Maka dari tipikal tempat inilah, kita bisa menakar banyaknya siasat untuk menaklukan aspek keruangannya.

Arena yang spesifik tentu menuntut akal dan siasat lebih untuk membuat pameran yang bisa mengawinkan suasana, jenis pengunjung, dan karyanya. Maka jelas tak cukup bijak jika hanya bermain aman pada karya-karya dua dimensional semacam lukisan—karna sudah tentu akan kalah dengan segala pernak-pernik cafe yang sudah terlanjur estetik.

Sebagai contoh karya Rivaldo dan instal(nasi) kotak makannya menjadi penyegar flow ruangan yang sesungguhnya sangat bisa dieksplorasi. Mengapa demikian? hal itu disebabkan ruangan tersebut memang telah membawa karakter yang cukup kuat. terlihat dari kursi-kursi cafe, lampu kuning di tengah-tengah dinding, permukaan ruang pajang yang penuh dengan bercak, hingga berbagai tanaman hias yang menggantung lunglai pada ujung genteng bangunan. Maka karya dengan penguasaan ruang semacam ini menjadi cara cerdik untuk bekerja sama dengan ambience yang sebegitunya.

Juga hal yang sama, bahkan lebih parah dialami oleh karya kolektif ISA; dengan instalasi bambu dan perangkat TV-nya. Dengan berlokasi di depan akses masuk utama cafe, dengan pernak-pernik yang barang tentu menjadi pemangkas perhatian para pengunjung.

Namun dengan penggabungan objek yang kontras, dan pemanfaatan teknologi semacam video looping dan kesediaan headset menjadi pilihan yang tepat untuk kembali mengarahkan audiens untuk melihat dan berinteraksi dengan karya tersebut.

Karya-karya pada pameran kolektif “Akar yang Berjalan” oleh ISA Collective. | Sumber : Made Chandra

Tapi terlepas dari karya-karya yang hadir. Di sini kita bisa melihat energi yang coba untuk disalurkan dalam sebuah inisasi impulsif para pekerja-pekerja kantoran ini. Tentu dari percakapan yang aku curi-curi dengar, mereka-mereka yang menjadi otak di balik acara ini adalah para pekerja yang kebanyakan telah menyelesaikan rutinitas nine to five-nya—dan merelakan jam tidurnya demi hasrat kolektifitas antar teman-teman yang merasa senasib. Maka dengan sedikit pantikan dan jejaring pertemanan, terjadilah pameran yang mengobati keringnya inisasi-iniasi liar semacam ini.

Dengan menggandeng 15 seniman, dan beberapa teman di belakang pameran ini. Bisa dicermati banyaknya kesempatan yang terbuka untuk orang-orang baru dapat muncul, dan mendapat apresiasi dari publik luas. Baik penikmat seni, maupun orang-orang yang sekadar datang karna memang pengunjung cafe tersebut. Tapi di situlah transaksi itu terjadi. Bukan hanya perihal nominal yang berputar, tapi seberapa luas akhirnya karya dan seniman tersebut dapat muncul, terutama bagi mereka yang sebelumnya belum punya banyak pengalaman.

Suasana pada pameran kolektif “Akar yang Berjalan” oleh ISA Collective. | Sumber : Made Chandra

Tapi juga tak bisa dipungkiri. Bahwa jejaring pertemanan dan jangkauan sebuah skena tentu tidak akan menyediakan ruang untuk semua orang. Pasti akan terjadi kecenderungan yang akan berdiri sendiri-sendiri, dan serapan audiensnya masing-masing. Maka di sanalah pentingnya geliat-geliat baru di antara banyaknya skena yang belum banyak menjamah satu-sama lain. Barang kali semakin banyaknya inisasi semacam ini, semakin bervariasi juga kebertumbuhan ekosistem seni yang kita miliki.

Maka, masih pentingkah pameran kolektif?

Jika disuruh menjawab, tentu hanya satu kata yang bisa mengisinya, yaitu “sangat”. mengapa? karna geliat semacam ini menjadi penyegar di antara kakunya seni sebagai sebuah industri.

Di sini aku tidak mengatakan bahwa industri seni itu jelek, justru menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang ingin hidup dan berkecimpung di dalamnya. Tapi tak jarang label yang terlanjur diamini menjadi jarak yang menjauhkan para seniman dari keliaran berpikir yang tak mungkin diakomodir oleh pasar.

Sudah barang tentu pilihan seniman dan pendekatan artistik yang muncul akan bervariatif. Itu terjadi karena sistem kurasi kolektif yang lumrahnya bertumpu pada praktik yang cair dan akrab dengan perihal nego-nego.

Kesempatan semacam ini memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak pernah terjamah oleh ruang-ruang establish. Baik dari orang-orang baru, hingga karya-karya dengan penggunaaan material tak lazim (kebanyakan terjadi karna ulah budget yang mesti disiasati). Dari sanalah perlahan bentuk-bentuk kesenian yang kerap dipandang remeh, mendapat kesempatan untuk bisa dibaca, diuji dan dipercakapkan pada belantara medan seni.

Salah satu karya pada pameran kolektif “Akar yang Berjalan” oleh ISA Collective. | Sumber : Made Chandra

Mereka yang kini hadir sebagai seniman beken, tak jarang adalah dedengkot kolektif yang terlebih dahulu basah oleh keringat dari praktik semacam ini. Bisa dibilang tangga awal dari karir kesenimanan dimulai dari kerja-kerja palu gada yang menuntut semangat  kolektivitas.

Salah satu karya pada pameran kolektif “Akar yang Berjalan” oleh ISA Collective. | Sumber : Made Chandra

Maka dari itu, pameran kolektif jadi obat mujarab untuk menumpahkan ekspresi-ekspresi lain di luar karir kesenimanan yang terlanjur pingit untuk diutak atik. Dengan kepercayaan dan modal pertemanan yang telah dipupuk lama, tak susah sebenarnya membikin pameran kolektif semacam ini. Namun ada hal lain yang lebih penting dari semua itu, yaitu keberanian untuk memulai dan mewajarkan segala jenis ketidaksempurnaan yang akan hadir. karena di situlah kolektif baru menemukan maknanya, di antara mereka yang merelakan jam-jam malasnya.

Di akhir kita juga harus memahami, bahwa pameran kolektif mungkin tidak selalu menghasilkan karya yang hebat, derasnya penjualan, atau presentasi yang sempurna. Namun, ia memberi kesempatan bagi sesuatu untuk dimulai, diuji, dan dibicarakan.

Sebab, ekosistem seni tidak hanya tumbuh dari nama-nama yang terlanjur beken, tetapi juga dari mereka yang bersedia menyediakan ruang bagi kemungkinan yang belum mekar.

Panjang umur seni rupa!! [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

Next Post

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co