10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
October 10, 2026
in Esai
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari orang-orang yang dipimpinnya, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Seorang pemimpin dianggap berhasil ketika mampu menggerakkan orang lain, menyelesaikan persoalan, dan membawa organisasi maupun masyarakat menuju tujuan bersama. Namun, ada satu dimensi kepemimpinan yang tidak boleh diabaikan, yakni kemampuan menguasai diri sendiri.

Seorang pemimpin mungkin memiliki kecerdasan, kekayaan, kedudukan, keturunan terpandang, bahkan pengaruh sosial yang luas. Akan tetapi, semua kelebihan itu dapat kehilangan makna apabila tidak disertai kebijaksanaan, kerendahan hati, dan pengendalian diri.

Dalam tulisan ini, saya ingin merefleksikan konsep Sapta Timira dalam kaitannya dengan godaan kekuasaan yang dihadapi seorang pemimpin. Dalam ajaran Hindu, Sapta Timira dikenal sebagai tujuh kegelapan yang dapat membutakan kesadaran manusia sehingga kehilangan kejernihan dalam bertindak. Konsep ini relevan untuk memahami dinamika kepemimpinan, terutama ketika jabatan dan kewenangan menghadirkan godaan yang terkadang tidak disadari oleh orang yang memilikinya.

Mengenali Tujuh Kegelapan dalam Diri Pemimpin

Secara umum, Sapta Timira terdiri atas tujuh unsur, yaitu surupa (keindahan rupa), dana (kekayaan), guna (kepandaian atau keahlian), kulina (keturunan atau kebangsawanan), yowana (masa muda), sura (minuman keras atau kemabukan), dan kasuran (keberanian atau kekuatan).

Ketujuh unsur tersebut berkaitan dengan kelebihan atau keadaan yang dapat dimiliki manusia. Persoalan muncul ketika kelebihan itu melahirkan kesombongan, mengaburkan kejernihan berpikir, atau menumbuhkan perasaan bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Dalam konteks kepemimpinan, Sapta Timira dapat menjadi cermin untuk menguji karakter seseorang ketika memperoleh jabatan dan kekuasaan.

Pertama, surupa: ketika penampilan mengalahkan substansi.

Penampilan yang baik dapat membantu seorang pemimpin membangun kepercayaan. Namun, penampilan tidak boleh menjadi ukuran utama kualitas kepemimpinan. Pemimpin yang terlalu terpaku pada citra diri berisiko lebih sibuk membangun kesan keberhasilan daripada benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Kepemimpinan bukan panggung untuk mempertontonkan kehebatan, melainkan ruang pengabdian untuk menghadirkan perubahan nyata. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar pemimpin yang terlihat hebat, melainkan pemimpin yang sungguh-sungguh bekerja dengan integritas.

Kedua, dana: ketika kekayaan melahirkan kesombongan.

Kekayaan dapat menjadi modal untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat. Namun, ketika kekayaan membuat seseorang merasa lebih berharga daripada orang lain, di situlah benih kesombongan mulai tumbuh.

Dalam kepemimpinan, godaan ini dapat muncul ketika jabatan diperlakukan sebagai sarana memperbesar keuntungan pribadi, bukan sebagai amanah untuk melayani. Pemimpin seharusnya menjaga kepercayaan, mengelola sumber daya secara jujur, dan memastikan bahwa setiap keputusan tidak mengorbankan kepentingan masyarakat.

Ketiga, guna: ketika kepandaian berubah menjadi keangkuhan.

Kecerdasan dan keahlian merupakan modal penting dalam kepemimpinan. Namun, kepandaian yang tidak disertai kerendahan hati dapat menjelma menjadi keangkuhan, membuat seseorang merasa paling benar dan menganggap pendapat orang lain tidak layak dipertimbangkan.

Pemimpin yang bijaksana tidak menggunakan pengetahuan untuk membungkam kritik atau memaksakan kehendak. Sebaliknya, ia menjadikan pengetahuan sebagai dasar untuk mendengarkan, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keempat, kulina: ketika keturunan menjadi alat mempertahankan kekuasaan.

Latar belakang keluarga, garis keturunan, dan kehormatan sosial dapat menjadi bagian penting dari identitas seseorang. Namun, semua itu tidak secara otomatis menjadikan seseorang layak memimpin.

Dalam konteks kekuasaan modern, godaan kulina dapat tercermin dalam kecenderungan menjadikan hubungan keluarga sebagai dasar untuk memperoleh atau mempertahankan jabatan. Anak, istri, keponakan, maupun kerabat seorang pemimpin belum tentu memiliki kapasitas dan kelayakan untuk meneruskan kepemimpinan. Karena itu, seorang pemimpin hendaknya tidak memaksakan anggota keluarga atau kerabatnya menjadi penerus hanya demi menjaga pengaruh dan kekuasaan.

Kelima, yowana: ketika semangat muda meremehkan pengalaman.

Masa muda membawa energi, keberanian, kreativitas, dan semangat perubahan. Semua itu sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan, terutama untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.

Pemimpin muda yang kuat bukanlah mereka yang menolak mendengarkan generasi sebelumnya, melainkan mereka yang mampu memadukan keberanian berinovasi dengan kesediaan belajar dari pengalaman. Sebaliknya, pemimpin yang lebih senior pun harus terbuka terhadap gagasan baru dan tidak menjadikan pengalaman sebagai alasan untuk memonopoli kebenaran.

Keenam, sura: ketika kemabukan menghilangkan kesadaran.

Dalam konsep Sapta Timira, sura berkaitan dengan minuman keras dan kemabukan. Nilai reflektif yang dapat ditarik dalam kepemimpinan adalah pentingnya menjaga kesadaran, kejernihan pikiran, dan pengendalian perilaku.

Seorang pemimpin dituntut mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan. Ketika kesadaran melemah dan pengendalian diri hilang, keputusan dapat diambil secara ceroboh, hubungan sosial terganggu, dan kepercayaan masyarakat dipertaruhkan.

Ketujuh, kasuran: ketika keberanian berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Keberanian merupakan sifat penting dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, menghadapi tekanan, membela kebenaran, dan bertanggung jawab atas konsekuensi tindakannya. Namun, keberanian yang tidak dikendalikan oleh kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan, sikap keras kepala, bahkan kesewenang-wenangan dan otoritarianisme.

Pemimpin yang merasa dirinya paling kuat cenderung memaksakan kehendak, mengabaikan kritik, dan menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman. Ketegasan seorang pemimpin tetap diperlukan, tetapi harus berjalan beriringan dengan keadilan dan kebijaksanaan.

Jabatan sebagai Ujian Pengendalian Diri

Sapta Timira mengingatkan bahwa kelebihan yang dimiliki manusia tidak selalu berujung pada kebajikan. Penampilan, kekayaan, kepandaian, keturunan, usia muda, maupun keberanian dapat memberikan manfaat apabila diarahkan oleh kesadaran dan kebijaksanaan. Sebaliknya, semua itu dapat menjadi sumber persoalan ketika tidak disertai pengendalian diri.

Dalam konteks ini, jabatan merupakan ujian yang nyata. Sebelum memperoleh jabatan, seseorang mungkin dikenal sederhana, mudah bergaul, dan terbuka terhadap pendapat orang lain. Namun, setelah memiliki kewenangan, perilakunya dapat berubah. Ia mulai menjaga jarak, sulit menerima kritik, merasa pendapatnya paling benar, atau menganggap orang lain harus selalu mengikuti kehendaknya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa jabatan tidak selalu mengubah watak seseorang, tetapi dapat menyingkap sifat-sifat yang sebelumnya tersembunyi. Karakter seorang pemimpin justru semakin terlihat ketika ia memiliki kekuasaan, menghadapi perbedaan pendapat, menerima kritik, dan harus memilih antara kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama.

Pemimpin yang matang memahami bahwa kewenangan bukanlah hak untuk bertindak sesuka hati. Jabatan merupakan amanah yang menuntut tanggung jawab moral, integritas, dan kesediaan untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan. Pada akhirnya, salah satu kemenangan terpenting dalam kepemimpinan bukanlah keberhasilan mengalahkan lawan, melainkan keberhasilan mengatasi ego sendiri.

Pemimpin yang mampu mengendalikan godaan Sapta Timira akan lebih bijaksana dalam menempatkan kelebihannya sebagai sarana pengabdian, bukan sebagai alasan untuk meninggikan diri. Semua itu hanya dapat terwujud apabila seorang pemimpin memiliki kesadaran untuk terus memeriksa dan memperbaiki dirinya sendiri.

Kepemimpinan sejati dimulai ketika seseorang mampu memimpin dirinya sendiri. Sebelum meminta orang lain mengikuti arah yang ditentukan, seorang pemimpin harus terlebih dahulu memastikan bahwa dirinya tidak tersesat oleh kesombongan, kepentingan pribadi, dan keinginan untuk terus berkuasa.

Jabatan mungkin membuat seseorang dihormati, tetapi hanya karakter yang membuatnya layak dipercaya. Kekuasaan mungkin memberinya kesempatan untuk memerintah, tetapi kebijaksanaanlah yang membuatnya mampu mengabdi.

Pada akhirnya, Sapta Timira bukan sekadar konsep untuk direnungkan, melainkan pengingat bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk dikuasai oleh kegelapan dalam dirinya sendiri. Bagi seorang pemimpin, kemampuan mengenali dan mengendalikan kegelapan itu merupakan bagian penting dari tanggung jawab moralnya. [T]

Tags: pemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co