2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

S. Bekti Istiyanto by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
in Esai
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

S. Bekti Istiyanto

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, dan Kiai Haji Ahmad Dahlan menanam benih Muhammadiyah satu dekade sebelumnya, kota ini telah menjadi rahim bagi lahirnya gagasan pendidikan yang membebaskan.

Taman Siswa lahir bukan untuk melayani pasar, melainkan untuk membangun “manusia merdeka lahir-batin”, sebuah konsep pendidikan yang berakar pada kearifan lokal dan penghormatan terhadap budaya nasional. Muhammadiyah, melalui Madrasah Mu’allimin yang berdiri pada 1918, hadir untuk membuka jalan bagi kaum santri yang selama kolonialisme sengaja dijauhkan dari akses ilmu.

Dari rahim sejarah itulah Yogyakarta tumbuh menjadi apa yang hari ini kita kenal sebagai Kota Pendidikan. Kampus-kampus berdiri megah, mahasiswa datang dari seluruh penjuru negeri, dan setiap sudut kota bernafaskan akademik. Tapi di balik gemerlap itu, ada retakan yang menganga: tiga wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul justru menjadi kantong-kantong kemiskinan yang persisten.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi DI Yogyakarta mencatat, per Maret 2025, persentase penduduk miskin di Kulon Progo mencapai 14,53 persen, Gunungkidul 14,15 persen, dan Bantul 11,54 persen. Sementara garis kemiskinan di Kulon Progo hanya Rp 452.717 per kapita per bulan, di Gunungkidul Rp 413.617, dan di Bantul Rp 531.456 — jauh di bawah Kota Yogyakarta yang mencapai Rp729.196.

Angka-angka tersebut bukan sekadar angka statistik. Ia adalah sebuah potret anak-anak yang mungkin tidak bisa mengenyam makanan yang layak dan bisa melanjutkan studi lanjut, orang tua yang bekerja keras namun tetap tak mampu menyentuh ambang kelayakan hidup yang standar, dan generasi muda yang melihat masa depan mereka dibatasi oleh sekedar kode pos tempat mereka dilahirkan tanpa kesempatan untuk berkembang lebih jauh.

Ironi terbesar dari kota yang menyebut dirinya Kota Pendidikan ini terletak pada satu fakta yang nyaris tak terucapkan: hanya sekitar 15 persen anak muda asli Yogyakarta yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ketua Bapemperda Gunungkidul, Ery Agustin, menyuarakan kegelisahan yang telah lama berakar: “Banyak anak muda di DIY, terutama yang baru lulus sekolah menengah, tidak melanjutkan kuliah. Salah satu penyebab utamanya adalah kemiskinan”. Data BPS yang ia kutip bahkan lebih menyayat: 22,27 persen warga DIY hanya tamat SD, 39 persen berhenti di jenjang sekolah menengah, dan sisanya putus di tengah jalan.

Inilah paradoks yang menuntut penjelasan. Yogyakarta memiliki lebih dari seratus perguruan tinggi, ribuan program studi, dan mahasiswa yang jumlahnya melebihi populasi sebagian kota kabupaten. Namun akses terhadap pendidikan tinggi justru menjadi barang mewah bagi warga yang tinggal beberapa kilometer dari gerbang kampus. Kampus tumbuh besar, tetapi tidak tumbuh bersama masyarakatnya.

***

Ada yang hilang dalam perjalanan panjang pendidikan tinggi di Yogyakarta. Sesuatu yang pernah menjadi roh Taman Siswa dan Muhammadiyah: keberpihakan pada rakyat kecil. Kampus-kampus hari ini kerap digambarkan sebagai “menara gading”, megah, tinggi, namun berjarak dari realitas sosial di sekelilingnya.

Sebuah kajian akademik di Garuda mengungkap bahwa transformasi pendidikan tinggi Indonesia telah bergeser ke arah orientasi profit dan logika bisnis, dengan konsekuensi pembatasan akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah, komodifikasi pengetahuan, serta privatisasi kampus.

Komersialisasi ini bukanlah fantasi. Ia hadir dalam kenaikan uang kuliah tunggal yang setiap tahun menggerus daya beli keluarga miskin. Ia tampak dalam gedung-gedung megah yang dibangun dari dana yang seharusnya bisa dialihkan untuk beasiswa. Ia terasa dalam kebijakan kampus yang lebih berorientasi pada pasar kerja daripada pada kebutuhan riil masyarakat di sekitarnya.

Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejatinya telah memberikan kerangka yang jelas bahwa kampus bukanlah entitas yang berdiri di atas menara, melainkan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Dirjen Dikti bahkan telah menegaskan bahwa kampus harus menjadi “pusat pengembangan karakter, kepemimpinan, dan literasi masa depan” yang menyambung dengan realitas sosial. Namun antara idealisme dan praktik, jarak itu tetap lebar.

Apa yang bisa dilakukan? Pertama, kampus-kampus di Yogyakarta perlu mengembalikan orientasi pengabdian pada akar historisnya. Bukan sekadar program KKN secara formalitas misalnya, melainkan keterlibatan struktural dalam mengatasi persoalan kemiskinan secara nyata di Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul.

Kedua, kebijakan beasiswa harus dirancang berdasarkan realitas ekonomi warga, bukan sekadar peta administratif zona kemiskinan. Ketiga, pemerintah daerah dan kampus perlu membangun kemitraan yang mengikat: setiap program studi memiliki tanggung jawab sosial untuk mendampingi komunitas di wilayah miskin, sebagaimana yang telah dirintis dalam Program Kosabangsa atau One Village One Sister University, yang dirintis oleh beberapa kampus sebelumnya. Program ini akan menjadikan setiap kampus yang ditunjuk akan bertindak sebagai pendamping kelurahan atau kampung tertentu untuk mengawal pengembangan Program Kampung Tematik berbasis potensi lokal.

Yogyakarta pernah melahirkan pendidikan yang membebaskan. Taman Siswa lahir bukan dari gedung megah, melainkan dari kesadaran bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kemampuan berpikir dan bertindak bebas. Muhammadiyah tumbuh bukan dari kekayaan, melainkan dari keberpihakan pada kaum yang terpinggirkan.

Jika kampus-kampus di Yogyakarta hari ini ingin benar-benar menjadi pewaris sah dari warisan itu, mereka harus berani turun dari menara gading. Bukan untuk mengecilkan ilmu, melainkan untuk mengembalikannya kepada pemilik sahnya,  rakyat yang telah menjaga kota ini selama berabad-abad. [T]

Tags: kampusPendidikanYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

Next Post

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

S. Bekti Istiyanto

S. Bekti Istiyanto

Dekan Fisip UPN Veteran Jakarta dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Related Posts

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co