SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda. Perjalanan pertama adalah petualangan, perjalanan kedua merupakan tugas profesional, sedangkan perjalanan ketiga berkaitan dengan dunia akademik. Tetapi setelah saya renungkan, ketiganya seperti sebuah perjalanan yang saling menyambung.
Saya datang ke Ambon sebagai pelancong, kemudian kembali sebagai asesor, dan akhirnya datang lagi sebagai seorang akademisi. Tiga kali menginjak tanah Maluku, tiga pengalaman berbeda, tetapi semuanya meninggalkan kesan yang sama: Indonesia terlalu luas untuk hanya dipahami dari buku, ruang kelas, atau angka-angka statistik. Indonesia harus dijalani. Harus dilihat dengan mata sendiri, didengar dengan telinga sendiri, dirasakan dengan hati sendiri.
Perjalanan pertama ke Ambon terjadi sebagai sebuah hadiah. Setelah saya dikukuhkan sebagai Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya pada tahun 2011, seorang kerabat mengajak saya berpetualang ke Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya. Ia bahkan membiayai perjalanan tersebut. Bukan hadiah berupa benda, melainkan sebuah perjalanan. Hadiah itu baru terlaksana beberapa waktu kemudian, sekitar bulan April 2013, Tanggal persisnya sudah tidak lagi saya ingat. Yang masih saya ingat justru suasananya.
Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul sebelas malam dengan Batik Air. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang ke arah timur, akhirnya kami tiba di Bandara Pattimura pada dini hari. Itulah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Ambon.
Setelah menunaikan shalat Subuh, kami langsung mencarter kendaraan untuk berkeliling kota. Tidak ada itinerary yang terlalu ketat. Kami benar-benar ingin menikmati perjalanan seperti backpacker—datang, melihat, bertanya, merasakan, lalu bergerak lagi.
Tujuan pertama kami adalah Masjid Al Fattah di Kota Ambon. Dari sana kami mencari kedai kopi. Saya masih ingat betul menu sederhana yang saya pilih: kacang hijau, kopi hitam, dan makanan ringan berupa gorengan nangka.
Ada satu makanan yang sampai sekarang masih saya ingat. Nangka digoreng bersama bijinya sampai matang. Bijinya pun ikut dimakan. Sederhana, tetapi justru di situlah kenikmatan perjalanan. Kadang-kadang yang melekat dalam ingatan bukan makanan mahal di restoran, melainkan secangkir kopi hitam dan makanan sederhana yang kita nikmati di sebuah kedai yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Dari kedai kopi itu kami melanjutkan perjalanan. Kami sempat dibawa ke sebuah perkampungan yang pernah menjadi bagian dari wilayah konflik Ambon. Saya bertanya kepada sopir tentang peristiwa yang pernah terjadi di tempat tersebut. Ia justru meminta saya tidak banyak bertanya. Katanya, peristiwa itu terlalu sedih untuk diceritakan. Saya terdiam.
Jawaban pendek itu justru terasa lebih kuat daripada penjelasan panjang. Saya kemudian memahami bahwa konflik bukan sekadar catatan sejarah. Ada manusia yang kehilangan keluarga, kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, bahkan mungkin kehilangan sebagian masa depannya. Bagi orang luar, konflik bisa dibaca sebagai peristiwa politik atau sosial. Tetapi bagi mereka yang mengalaminya, konflik adalah luka yang mungkin tidak pernah benar-benar sembuh.
***
Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke pintu kota, Museum Pattimura, dan Taman Martha Christina Tiahahu. Dari taman yang berada di tempat relatif tinggi itu, Kota Ambon terlihat dari atas. Kota, laut, perbukitan, dan permukiman tampak menyatu dalam satu lanskap. Saya berdiri di sana cukup lama.
Barangkali begitulah sebuah kota seharusnya dibaca. Tidak hanya dari jalan-jalannya, tetapi juga dari ketinggian, dari sejarahnya, dari manusia yang tinggal di dalamnya, dan dari luka yang pernah dilaluinya.
City tour hari itu akhirnya selesai. Kami kemudian mencari penginapan. Untuk ukuran perjalanan backpacker, kami mendapatkan hotel yang menurut saya cukup mewah: Hotel Amaris.
Malam harinya kami kembali keluar. Kami meminta dijemput untuk mencari makanan khas Maluku. Salah satu yang kami cari adalah gulai ikan yang dinikmati bersama nasi papeda. Di meja makan, laut Maluku seperti hadir dalam bentuk yang paling sederhana: ikan, cumi, dan berbagai hidangan laut lainnya.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Pulau Seram. Kami naik angkutan penyeberangan dari Ambon menuju Pulau Seram. Tujuannya adalah Masohi. Setelah tiba, kami bermalam dan sempat berkeliling kota kecil tersebut.
Pagi harinya perjalanan diteruskan menuju kawasan yang menjadi bagian dari perjalanan kami ke Ora Resort. Alam Seram mulai memperlihatkan wajahnya yang berbeda. Hutan, laut, perbukitan, dan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota membuat perjalanan terasa benar-benar seperti petualangan. Ora menjadi salah satu pengalaman yang sulit dilupakan. Kami menginap semalam. Makanan yang disajikan tentu saja didominasi hasil laut: ikan, cumi, dan berbagai makanan khas pesisir.
Di tempat seperti itu, makanan terasa berbeda. Ikan tidak lagi sekadar menu. Ia seperti bagian dari lanskap. Laut yang kita lihat sepanjang perjalanan kemudian hadir di meja makan.
Pagi harinya kami kembali menyeberang dan meneruskan perjalanan menuju Ambon. Tetapi petualangan belum selesai. Dari Ambon kami sebenarnya mempunyai rencana menuju Tual. Namun karena pada hari itu tidak tersedia penerbangan yang sesuai, rencana berubah. Kami memutuskan menuju Pulau Buru.
Perjalanan malam hari dengan kapal menjadi pengalaman tersendiri. Lebih dari delapan jam kami berada di atas kapal. Tidak mendapatkan kabin, kami duduk berhimpitan dengan para penumpang lain, termasuk para pengemudi truk yang ikut menyeberang. Kapal feri itu cukup besar, tetapi suasananya tetap sederhana.
Menjelang Subuh kami tiba di Pelabuhan Kota Namlea. Pulau Buru bagi saya bukan sekadar pulau. Ia mempunyai sejarah yang sensitif dan memilukan. Nama Pulau Buru dalam sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kisah para tahanan politik yang pernah ditempatkan di sana setelah peristiwa politik 1965.

Kami mengunjungi beberapa tempat yang berkaitan dengan sejarah tersebut. Tempat yang sempat kami kunjungi perkampungan Sektor V, VI, dan IX. Diantar oleh mobil carteran setempat. Saya kembali diingatkan bahwa sebuah tempat dapat menyimpan dua wajah sekaligus. Di satu sisi ada alam yang indah, gunung, laut, dan masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, ada sejarah yang pernah meninggalkan luka panjang.
Pada saat kami datang, masyarakat Pulau Buru juga sedang ramai dengan aktivitas mencari dan menambang emas di kawasan Gunung Batok. Aktivitas itu membuat sebagian kegiatan ekonomi lain, termasuk usaha minyak kayu putih, seperti kurang mendapat perhatian. Saya sendiri sempat membeli minyak kayu putih sekitar 600 mililiter sebagai oleh-oleh.
Dua hari kami menyusuri Pulau Buru. Kemudian kami kembali ke Ambon dan meneruskan perjalanan pulang ke Banten. Perjalanan pertama itu sebenarnya sederhana. Tidak ada konferensi internasional, tidak ada jabatan, tidak ada acara resmi. Hanya perjalanan seorang pelancong yang ingin melihat dunia. Tetapi justru perjalanan semacam itulah yang kadang-kadang paling banyak mengajarkan sesuatu.
***
Beberapa tahun kemudian, saya kembali ke Ambon. Kali ini bukan sebagai backpacker. Tahun 2018, saya mendapat tugas dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, untuk menjadi salah satu penilai dalam program Kota Layak Pemuda. Saya ditemani seorang staf kementerian dan seorang sahabat yang saya sertakan sebagai asisten asesor.
Tujuan utama perjalanan kali ini adalah Dobo, Kepulauan Aru, Maluku. Dari Bandara Soekarno-Hatta kami terbang menuju Ambon, dan transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Setelah itu kami melanjutkan penerbangan ke Ambon. Kami tiba di Ambon dini hari.
Setelah shalat Subuh, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini kami naik pesawat berbaling-baling milik Wings Air menuju Dobo. Pesawat kecil itu membawa kami semakin jauh ke timur Indonesia, selama dua jam, transit di Tual untuk mengisi bahan bakar.
Ketika tiba di Dobo, kami langsung dijemput oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Dobo. Kami diantar menuju hotel sederhana untuk beristirahat. Sore harinya kegiatan dimulai. Kami dijemput dan dibawa melihat berbagai aktivitas kepemudaan, kesenian, olahraga, kerohanian baik pemuda kristen maupun Muslim.
Malam harinya kami menikmati makanan khas setempat, kemudian menuju gelanggang olahraga untuk menyaksikan kegiatan pemuda, sedang bertanding olahraga volly. Selama sekitar dua hari kami melihat bagaimana anak-anak muda di daerah kepulauan menjalankan aktivitas mereka. Ada semangat yang terasa sederhana, tetapi kuat.
Bagi saya, tugas sebagai asesor bukan yg hanya memberikan penilaian terhadap sebuah daerah. Lebih dari itu, kita belajar melihat bagaimana pemerintah daerah, masyarakat, dan anak muda membangun harapan mereka sendiri.
Setiap daerah mempunyai konteks kebudayaan yang berbeda. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak selalu dapat dibaca hanya melalui angka. Ada semangat, ada partisipasi, ada kreativitas, ada keterbatasan, dan ada cita-cita yang harus dilihat secara utuh.
Tentu saja, perjalanan ke Dobo juga tidak lengkap tanpa menikmati makanan khas laut. Maluku memang seperti tidak pernah kehabisan cara untuk memperkenalkan lautnya melalui makanan. Setelah tugas selesai, kami kembali ke Jakarta untuk menyampaikan laporan mengenai penilaian Kota Layak Pemuda.
Saya meninggalkan Maluku dengan kesan yang berbeda dari perjalanan pertama. Jika perjalanan pertama mengajarkan saya tentang manusia dan sejarah melalui mata seorang pelancong, perjalanan kedua mengajarkan saya melihat masyarakat melalui tanggung jawab profesional.
***
Enam tahun kemudian, saya kembali lagi ke Ambon. Kali ini, September 2024, saya datang dalam konteks akademik. Ada rapat kerja dan seminar internasional ASPIKOM. Saya juga mendapat kesempatan memberikan kuliah umum bersama Prof. Burhan Bungin dan Prof. Iskandar Zulkarnain di FISIP Universitas Pattimura.
Ambon yang saya datangi kali ini adalah Ambon sebagai kota akademik. Saya datang bukan lagi sekadar membawa ransel seorang backpacker dan bukan pula membawa instrumen penilaian sebagai asesor. Saya datang membawa ilmu pengetahuan yang selama bertahun-tahun saya tekuni dan ajarkan.
Tetapi ternyata manusia tidak pernah benar-benar berubah ketika melakukan perjalanan. Di sela-sela agenda akademik, kami tetap mencari makanan. Kedai kopi tetap menarik. Pisang goreng tetap menggoda. Gulai ikan tetap dicari. Papeda tetap menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan. Mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja.
Di tengah seminar, rapat, kuliah umum, dan diskusi akademik, kita tetap membutuhkan secangkir kopi dan sepiring makanan untuk mengingat bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya tetap berhubungan dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Saya memandang kembali Ambon dengan perasaan yang berbeda. Dulu saya datang sebagai seorang pelancong yang ingin tahu. Kemudian saya datang sebagai seorang asesor yang menjalankan tugas. Dan akhirnya saya datang sebagai seorang akademisi yang berbagi pengetahuan. Tiga kali ke Ambon. Tiga peran. Tiga cara melihat manusia dan kehidupan.
Tetapi ada satu hal yang semakin saya sadari: perjalanan ternyata bukan hanya perpindahan geografis. Perjalanan adalah cara manusia membaca dirinya sendiri. Ketika kita pergi jauh, kita sebenarnya sedang meninggalkan sebentar ruang yang selama ini membuat kita merasa paling benar. Kita bertemu dengan bahasa yang berbeda, makanan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, sejarah yang berbeda, dan cara hidup yang berbeda.
Di situlah komunikasi lintas budaya menemukan maknanya yang paling nyata. Buku dan teori memang penting. Hall, Hofstede, Gudykunst, Kim, Geertz, dan para pemikir lainnya memberi kita konsep untuk memahami perbedaan budaya. Tetapi pengalaman bertemu manusia secara langsung memberi pelajaran yang tidak selalu ditemukan di dalam buku.
Seorang sopir yang meminta kita tidak membuka kembali luka konflik, misalnya, telah mengajarkan kepada saya sesuatu tentang komunikasi yang tidak tertulis dalam teori. Bahwa tidak semua hal harus ditanyakan. Bahwa diam kadang-kadang adalah bentuk penghormatan. Bahwa sebuah luka sosial mempunyai ingatan sendiri. Dan bahwa memahami kebudayaan bukan hanya soal mengetahui adat istiadat, bahasa, simbol, atau makanan, tetapi juga memahami perasaan manusia yang hidup di dalamnya.
Kini ketika mengingat tiga perjalanan ke Ambon, saya tidak lagi hanya mengingat Bandara Pattimura, Masohi, Pulau Seram, Ora, Pulau Buru, atau Dobo. Saya mengingat wajah-wajah manusia. Saya mengingat kopi hitam dan kacang hijau. Saya mengingat nangka goreng bersama bijinya. Saya mengingat gulai ikan, papeda, ikan dan cumi. Saya mengingat kapal feri yang kami naiki sepanjang malam tanpa kabin.

Saya mengingat pemandangan Kota Ambon dari ketinggian Taman Martha Christina Tiahahu. Saya mengingat kisah konflik yang membuat seorang sopir memilih diam. Saya mengingat Pulau Buru dengan sejarahnya yang getir. Dan saya mengingat ruang-ruang akademik di Universitas Pattimura tempat ilmu pengetahuan kembali mempertemukan saya dengan banyak orang.
Pada akhirnya, mungkin itulah arti sebuah perjalanan. Kita pergi membawa rencana, tetapi pulang membawa cerita. Kita berangkat dengan rasa ingin tahu, tetapi pulang dengan kesadaran bahwa ternyata masih begitu banyak hal yang belum kita pahami.
Dan semakin jauh kita berjalan, semakin kita menyadari betapa luasnya Indonesia, betapa beragamnya manusia, dan betapa kecilnya pengetahuan yang kita miliki. Tiga kali saya datang ke Ambon. Pertama, sebagai petualang. Kedua, sebagai penilai. Ketiga, sebagai akademisi.
Tetapi jika ditanya apa yang paling saya bawa pulang dari ketiga perjalanan itu, jawabannya bukan oleh-oleh, bukan foto, bukan pula catatan perjalanan. Saya membawa rasa syukur. Syukur karena masih diberi kesempatan melihat negeri ini. Syukur karena masih diberi kesempatan bertemu manusia dengan kebudayaannya yang beragam. Dan terutama, syukur karena Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk mengabdikan ilmu yang Dia titipkan.
Pada akhirnya, gelar Guru Besar, jabatan, perjalanan, seminar, penelitian, dan berbagai tugas akademik hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup. Yang lebih penting adalah bagaimana semua kesempatan itu menjadi jalan untuk mengenal manusia, memahami kebudayaan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sebab semakin jauh perjalanan ditempuh, mestinya semakin rendah hati seseorang. Sebab semakin banyak tempat yang dikunjungi, mestinya semakin sadar bahwa dunia ini terlalu luas untuk disombongkan. Dan semakin banyak ilmu yang dimiliki, mestinya semakin terasa bahwa pengetahuan manusia hanyalah setitik kecil dari keluasan ilmu Allah.
Ambon mengajarkan saya tentang itu. Tiga kali datang. Tiga cerita. Tetapi satu pelajaran: perjalanan yang paling jauh bukanlah perjalanan dari barat ke timur Indonesia, melainkan perjalanan dari pengetahuan menuju kebijaksanaan.[T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole





![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-360x180.png)























