SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah kota kecil di Jepang pada 18-24 September 2026. Namun ternyata saya salah. Saya tidak hanya menemukan panggung di sekitar kota itu. Tapi menemukan sebuah kota yang seperti sedang bermain teater.
Begitu mulai berjalan di sekitar Toyooka, kesan pertama yang muncul justru bukan gedung teater, melainkan tanda-tanda kecil bahwa sebuah peristiwa sedang berlangsung. Flyer, banner, poster, penunjuk arah, pengumuman program, dan berbagai materi promosi festival muncul di banyak sudut kota. Stasiun, ruang publik, jalan, tempat berkumpul, sampai ruang-ruang yang sehari-hari mungkin tidak pernah kita anggap sebagai bagian dari dunia pertunjukan, tiba-tiba terasa seperti memiliki hubungan dengan festival.


Seolah-olah Toyooka sedang berkata kepada siapa saja yang datang: “Festival sedang berlangsung. Silakan masuk.” Dan yang menarik, ajakan itu tidak selalu datang melalui kata-kata. Ia hadir melalui suasana. Melalui orang-orang yang kita temui. Melalui banner yang bergoyang diterpa angin. Melalui orang yang menunjukkan arah ketika kita terlihat kebingungan. Melalui seorang warga yang mungkin tidak pernah kita kenal sebelumnya, tetapi memberikan senyum dan membuat kita merasa bahwa kehadiran kita memang diharapkan.
Dalam catatan perjalanan saya, sambutan warga lokal menjadi salah satu hal yang paling membekas. Relawan dan staf festival berbaur dengan pengunjung, membantu menunjukkan lokasi, memberikan informasi, bahkan membantu ketika ada persoalan bahasa. Ada rasa hangat yang sederhana. Tidak dibuat-buat. Mungkin karena itu pula saya mulai merasa bahwa festival di Toyooka bukan sesuatu yang “datang” ke kota. Festival justru seperti tumbuh dari dalam kota. Warga lokal, terutama orang tua dengan sadar membeli tiket pertunjukan, menonton presentasi, ikut sesi workshop.
***
Ada satu hal yang kemudian semakin jelas setelah beberapa hari mengikuti program, yaitu bahwa Toyooka tidak memiliki satu pusat festival. Di sana festival bergerak. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari coffee shop ke kampus, dari kampus ke desa, dari desa ke panggung blackbox, ke pasar, ke stasiun, ke bank.
Hari pertama kami bisa berada di kampus. Kemudian menuju teater bersejarah di Izushi. Setelah itu bergerak ke desa Tanto untuk menyaksikan Tanto Sai Sai. Hari berikutnya kami naik kereta menuju Ebara untuk menonton pertunjukan di panggung blackbox dengan ligthing dan sound system yang keren. Ada pertunjukan di pasar malam, pertemuan internasional, kemudian kembali lagi dengan kereta.


Program hari berikutnya membawa kami ke ruang pertunjukan lain, teater jalanan, berkunjung Kinosaki Internasional Art Center di tengah wilayah pariwisata yang dipenuhi turis yang menjadi kejutan. Hari berikutnya, sesi diskusi dengan Kelompok Teater Tajima Bank, kemudian workshop tari, naik bus untuk menonton pertunjukan di atas mobil pickup (side spesifik space)—yang mengingatkan saya dengan program populer masa kecil, yaitu Benteng Takeshi.
Jadwal resmi program memang dirancang dengan perpindahan antarwilayah seperti ini, lengkap dengan sesi refleksi di penghujung hari. Di situ saya mulai berpikir, mungkin saja festival tidak tentang di mana pertunjukan berlangsung. Mungkin pemerintah kota sudah menyediakan kemungkinan bagi pertunjukan untuk terjadi.

Faktanya, kota kecil dipinggiran Jepang ini memiliki fasilitas kesenian yang berkualitas. Betapa tidak, saya masih tidak menduga, panggung blackbox ada banyak di sekitaran kota. Ada di mall, ada di dalam coffee shop, ada di kampus, ada di sekolah internasional yang dapat di akses dengan berjalan kaki, naik kereta, ataupun naik bus dengan waktu tempuh 10-20 menit.
Catatan saya bahkan menyebutnya sebagai “a festival without one centre.” Kotanya sepi, tapi ketika pertunjukan teater kontemporer di mulai, akan ada 50-100 orang dengan sadar membeli tiket, naik kereta atau bus ke panggung pertunjukan. Bahkan ketika pentas itu di saat jam kerja sekalipun.


Di titik itu saya mulai melihat sesuatu yang lebih besar. Di sana, komunitas tidak hanya menjadi penonton. Komunitas bisa menjadi pemilik pengetahuan. Bisa menjadi pemain. Bisa menjadi partner. Bisa menjadi pencipta. Dan mungkin justru di situlah kekuatan sebuah festival yang benar-benar berhubungan dengan tempat.
Dan ini menarik. Ketika sebuah industri masuk memberi dukungan—seperti Tajima Bank (salah satu bank lokal di Toyooka) atau Japan Railway (JR), misalnya—festival ini bisa menawarkan gagasan bahwa tempat industri itu bisa menjadi tempat pertunjukan, sehingga aktivitas perbankkan bisa menjadi pertunjukan teater, stasiun dan kereta api juga bisa mejadi panggung pertunjukan. Saya teringat Tajima Shinkin Bank Theatre Club. Para pegawai bank tampil di tempat mereka bekerja. Bank tetap merupakan bank, tetapi untuk beberapa waktu ia juga menjadi ruang pertunjukan.

Lihatlah masyarakat Desa Tanto yang menampilkan Tanto Sai Sai, sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi lokal. Anak-anak dan warga ikut terlibat langsung, mengorganisir pertunjukan itu dengan profesional dan tiket terjual habis dengan voucher berhadiah. Warga lokal yang berjualan.
***
Ah, kota yang ramah terhadap pendatang—orang yang tidak dikenal.
Saya menyadari ada pengalaman yang sulit ditulis dalam laporan. Ia terlalu kecil untuk menjadi data, tetapi justru sering menjadi bagian yang paling lama tinggal dalam ingatan, seperti ketika berjalan mencari sebuah venue, kemudian melihat orang lokal yang tersenyum dan mencoba membantu. Atau ketika duduk di sebuah ruang publik dan melihat orang-orang dengan santai menunggu lampu lalu lintas khusus pejalan kaki dan mengizinkan ia berjalan, walaupun tidak ada mobil. Atau ketika seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal tiba-tiba mengajak berbicara karena tahu kita datang dari negara lain.


Hal-hal seperti itu tidak tercatat sebagai “program”. Tetapi justru membentuk pengalaman.
Program resmi Intersecting Peripheries memang dirancang bukan hanya sebagai kegiatan menonton pertunjukan, tetapi juga penelitian wilayah dan komunitas serta sesi percakapan.
Biasanya, di tempat lain, setelah pertunjukan kita akan pulang. Tetapi di sini selalu ada ruang untuk berhenti sebentar. Berbicara, mengingat apa yang baru saja dilihat. Bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sebenarnya saya lihat hari ini?
Yang saya suka, refleksi itu tidak terasa seperti ujian. Tidak ada keharusan menghasilkan kesimpulan yang hebat. Kadang seseorang berbicara panjang. Kadang hanya satu kalimat. Kadang muncul perbedaan pandangan. Kadang justru muncul pertanyaan baru. Dan itu cukup. Saya kira di situlah saya mulai memahami filosofi Intersecting Peripheries.

Program ini memang sejak awal membawa lima kata penting: Nature, Community, Embodied Knowledge, Periphery, dan Ritual. Ia mengajak peserta untuk melihat wilayah pinggiran bukan semata-mata sebagai lokasi geografis, tetapi sebagai ruang tempat pengetahuan dan praktik budaya masih hidup.
Tetapi pengalaman di lapangan membuat saya memikirkan ulang kata “periphery”. Dalam catatan saya, saya menulis hasil perjalanan sebagai refleksi bahwa periphery menjadi knowledge resources; rural menjadi engagement space; tradition menjadi knowledge of life; community menjadi partner; festival menjadi ecosystem. Ini tentu bukan definisi tunggal tentang periphery. Ini hanya refleksi personal saya setelah mengikuti program.
Tetapi justru karena ia personal, mungkin ia menjadi penting. Sebab saya pulang dari Toyooka bukan hanya membawa foto-foto pertunjukan. Saya membawa pertanyaan, “Bagaimana jika yang kita sebut ‘pinggiran’ justru menyimpan pengetahuan yang tidak dimiliki pusat? Bagaimana jika desa bukan ruang yang tertinggal, tetapi ruang yang menyimpan cara hidup? Bagaimana jika tradisi bukan benda lama yang harus disimpan, tetapi pengetahuan yang terus digunakan?” Ayo kita jawab bersama-sama.
***
Nah, saatnya dinner party di akhir program.
Setelah presentasi, setelah berbicara tentang apa yang kami pelajari dan kemungkinan kolaborasi, malam ditutup dengan makan malam bersama seluruh artis, official program, directur festival dan coordinator program.
Akhirnya kami punya waktu untuk tidak membicarakan program secara resmi di coffee shop kecil dengan suasana yang hangat, dengan alunan musik yang pas di telinga. Tidak ada panggung besar yang membuat semua orang harus menghadap ke satu arah. Tidak ada jarak di antara kami. Orang-orang makan, berbicara, tertawa, berpindah tempat, membicarakan karya, membicarakan kota masing-masing, membicarakan kesulitan produksi, membicarakan kemungkinan bertemu lagi. Dan terkadang percakapan yang paling menarik justru terjadi di antara percakapan yang tidak direncanakan.


Makan malam itu terasa seperti epilog yang tidak benar-benar mengakhiri cerita. Sebab ketika orang masih duduk dan berbicara, sebenarnya program belum selesai. Pertukaran masih berlangsung. Jejaring masih tumbuh. Ide-ide baru mulai muncul. Dan mungkin beberapa kolaborasi masa depan justru lahir dari percakapan yang tidak masuk dalam agenda resmi..
Terakhir, dda kalimat yang terus saya ingat dari perjalanan ini: “I came to Toyooka to see a festival, but I discovered an ecosystem where art, community, place, and local knowledge meet.” Ya, saya datang untuk melihat festival, saya pulang membawa ekosistem.
Dan ketika seluruh kota sudah menjadi panggung, mungkin yang paling menarik bukan lagi pertunjukan yang berada di atasnya, melainkan orang-orang yang kita temui di sepanjang perjalanan itu.[T]
Penulis: I Putu Ardiyasa
Editor: Jaswanto




![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-360x180.png)


























