1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
in Tualang
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

Makam Ki Hadjar Dewantara di kompleks Taman Wijaya Brata, yang berada di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta | Foto: Dok. Penulis

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya akan berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara, apalagi mengunjungi Candi Prambanan. Acara berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara itu terjadi secara mendadak setelah saya menghirup udara pagi di Titik Nol Yogyakarta dan Jalan Malioboro yang legendaris. Walaupun semalam sebelumnya sempat menikmati aneka musik di seputar Malioboro, pagi itu terasa memanggil saya untuk menikmati auranya. Pagi yang cerah dan rada menyengat itu kontras dengan malam yang dingin, dengan lampu-lampu terang bersinar.

Berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara, selain untuk sungkem kepada tokoh pejuang bangsa menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, juga selaras dengan tugas saya sebagai guru sekaligus kepala sekolah yang mendampingi Pemilihan Duta SMA Tingkat Nasional. Para duta ini diproyeksikan menjadi bagian dari generasi emas pada 2045. Untuk mewujudkan generasi emas, mau tidak mau kita harus melongok ke Tamansiswa dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai arsiteknya.

Berziarah ke makam tokoh pendidikan bangsa menjelang HUT RI ke-81 adalah cara untuk mengingat dan mengenang semangat juangnya. Ia boleh mati secara fisik, tetapi api semangatnya tetap menyala di hati para murid bangsa. Lebih-lebih bagi para Duta SMA dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Yogyakarta. Bila mereka sempat menikmati Malioboro dan berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara di luar agenda resmi, itu adalah bonus plus. Pertama, menemui Sang Pendidik jiwa bangsa dan bersenang-senang di sepanjang Malioboro. Keduanya menghubungkan Duta SMA dengan jalan pendidikan yang berkebudayaan dalam menyiapkan Indonesia Emas 2045.

Pusara Ki Hadjar Dewantara di kompleks Taman Wijaya Brata, yang berada di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta | Foto: Dok. Penulis

Dengan bantuan Google Maps, ditemukan jarak antara Makam Ki Hadjar Dewantara dan Candi Prambanan sekitar 16 km, dengan prakiraan waktu tempuh 30 menit. Saya tiba di loket karcis Candi Prambanan menjelang pukul 10.00 WIB, sedangkan boarding pesawat pukul 13.40 WIB. Harga karcis masuk kawasan dengan objek Candi Prambanan saja Rp50.000,00 untuk dewasa. Saya berkomitmen paling lambat pukul 11.00 WIB sudah meninggalkan Candi Prambanan menuju Bandara YIA Kulon Progo.

Sebelum memasuki pelataran candi, aura Kemerdekaan Republik Indonesia tampak nyata. Sejumlah spanduk perayaan 81 Tahun RI terpasang di berbagai sudut. Menjelang siang, sejumlah panggung juga disiapkan. Petugas pemasang tenda tampak sibuk. Sesekali mereka beristirahat sambil minum di tengah terik matahari. Itu pula sebabnya penyewaan payung laris manis, dibanderol dengan harga Rp10.000,00 per payung. Payung dikembalikan ketika keluar dari area Candi Prambanan.

Pagi itu, bertepatan dengan Buda Umanis Tambir yang berbarengan dengan Tilem Sasih Karo (12 Agustus 2026), setelah tiba di Candi Prambanan saya baru ngeh. Buda Umanis Tambir nemu gelang Tilem Karo. Di sana, dua pemangku memuja dengan genta persis di sebelah kiri pintu masuk Candi Siwa. Saya tidak tahu apakah karena Tilem mereka melakukan ritual pemujaan atau karena penganugerahan Duta SMA dipusatkan di Pelataran Candi Prambanan.

Makam Ki Hadjar Dewantara di kompleks Taman Wijaya Brata, yang berada di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta | Foto: Dok. Penulis

Awalnya, saya tidak ingin naik ke Candi Siwa dengan mempertimbangkan waktu menuju bandara yang cukup lama, lagi pula jaraknya jauh. Arif Prabowo yang mengantar saya nyeletuk, “Rasanya wajib naik, deh, menurut perasaan saya,” katanya. Saya pun bergegas naik ke candi menemui Hyang Ibu Siwa yang seperti bertapa di dalam kegelapan. Posisinya berdiri tegak. Langsing. Seorang pemandu wisata memberikan penjelasan kepada wisatawan asing sambil menghidupkan lampu senter sehingga tampak relief lukisan di dalam tembok candi yang sangat indah dan penuh makna filosofis. Saya berimajinasi, bagaimana tingkat konsentrasi undagi yang mengerjakannya dalam kegelapan. Lagi pula, jika memperhatikan catatan sejarah, candi ini berdiri sekitar abad ke-9, tepatnya pada tahun 850 Masehi, pada zaman Raja Rakai Pikatan, raja Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya. Sebuah karya arsitektur yang nyaris sempurna ketika teknologi belum secanggih kini.

Tidak berlebihan bila Malam Penganugerahan Duta SMA V Tahun 2026 dipusatkan di Pelataran Candi Prambanan, di ruang terbuka budaya tanpa sekat. Tampaknya, kesibukan pemasangan tenda dan panggung sejak pagi hingga menjelang sore juga dalam rangka menyiapkan karpet merah bagi para Duta SMA dari seluruh provinsi di Indonesia. Malam itu dikukuhkan 76 Duta SMA dari seluruh Indonesia yang mewakili 38 provinsi dengan mempertimbangkan kesetaraan gender. Mereka akan menjadi pelantang sebaya untuk memperkuat budaya bangsa. Pendekatan budaya dalam pendidikan tampaknya menjadi pilihan yang disadari, mengingat Indonesia beragam dalam banyak hal. Karena itu, pendekatan desa, kala, patra, sesuai dengan kearifan lokal Bali, layak dipertimbangkan.

Berpose di kawasan Candi Prambanan—candi Hindu terbesar di Indonesia | Foto: Dok. Penulis

Candi Prambanan adalah simbol toleransi tempo doeloe, ketika agama Hindu dan Buda hidup berdampingan dengan ikon Candi Borobudur. Jarak kedua candi sekitar 40 km. Masa pembangunannya pun berdekatan dari segi waktu. Borobudur berdiri pada zaman Syailendra sekitar tahun 780–840 Masehi. Raja Syailendra dan Rakai Pikatan telah memberikan fondasi untuk memuliakan perbedaan sebagai inspirasi membangun toleransi. Sejak dulu, “Rukun Sama Teman” sudah diajarkan dan kini kita mesti merawatnya, tidak cukup hanya dengan menyanyikan lagunya setiap pagi di sekolah. Lebih penting adalah tindakan nyata sehingga harmonisasi antarmanusia terbangun dan dihayati. Perbedaan dirawat untuk saling menguatkan. Tidak ada yang menutup warung makan karena makanan yang dijual adalah babi guling, misalnya. Apa salahnya babi guling? Bukankah itu makanan terenak sedunia versi guyonan Romo dengan Gus Dur yang membuat tawa berderai?

Berpacu dengan waktu sambil melihat jam di layar handphone, pukul 11.00 WIB saya bergegas meninggalkan area Candi Prambanan setelah berkeliling di sejumlah candi, walaupun tidak semua candi saya masuki karena keterbatasan waktu. Sebagaimana objek wisata pada umumnya, pengunjung disapa oleh pedagang di pintu masuk. Begitu pun ketika keluar dari kawasan wisata, saya melewati deretan pedagang kuliner, cendera mata, serta pakaian dengan aneka warna dan ukuran.

Berpose di kawasan Candi Prambanan—candi Hindu terbesar di Indonesia | Foto: Dok. Penulis

Dari Google Maps terbaca, jarak dari Candi Prambanan ke Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, sekitar 63 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Oleh karena hari sudah siang dan lapar mulai terasa, saya mesti makan siang di perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit. Saya percayakan kepada Arif Prabowo, sopir sekaligus pemandu, untuk mencari tempat makan asalkan ada ikannya. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, saya belum sampai di bandara. Diuntit rasa gelisah di mobil yang saya tumpangi, saya tergesa-gesa mengambil tas dan dompet untuk membayar sopir.

Akhirnya, pukul 13.10 WIB saya sampai di bandara dengan napas terengah-engah. Syukurlah, penumpang di Bandara YIA Kulon Progo tidak seramai Bandara Ngurah Rai, Denpasar, sehingga check-in tidak perlu menunggu lama. Di ruang tunggu, petugas memanggil penumpang untuk masuk ke pesawat. Tenggorokan terasa kering, padahal sebelumnya sempat minum air mineral yang terbawa di tas. Sungguh perjalanan yang menyenangkan, menenangkan, dan menegangkan menjadi satu. Apakah karena saya dari Taman Makam Widjaya Brata langsung ke Candi Prambanan tanpa masuk paon (area dapur) terlebih dahulu sebagaimana orang Bali pada umumnya? Entahlah! Yogyakarta istimewa, penuh kejutan.[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: Candi PrambananKi Hadjar Dewantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Next Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails
Next Post
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co