21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

Dini Nastiti Wardani by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
in Opini
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

Ilustrasi diolah dari Pinterest

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada satuan pendidikan negeri—mulai SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi negeri—dapat digratiskan. Presiden bahkan menyatakan akan segera membahasnya dalam rapat terbatas.

Pernyataan tersebut membawa satu pesan penting, bahwa pendidikan memang merupakan hak bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya mudah dijangkau oleh keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi saja. Namun, di balik gagasan sekolah gratis, juga ada pertanyaan yang jauh lebih besar, yakni ketika biaya pendidikan dibuat gratis, apakah persoalan pendidikan Indonesia otomatis selesai? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.

Gratis adalah persoalan akses. Sementara pendidikan bermutu adalah persoalan proses, kurikulum, guru, sarana, teknologi, lingkungan belajar, evaluasi dan hasil belajar.

Karena itu, sekolah gratis seharusnya tidak berhenti pada pembebasan biaya. Jangan sampai negara berhasil membuat sekolah tanpa biaya, tetapi anak-anak tetap mendapatkan pengalaman belajar yang tidak merata.

Sekolah Gratis dan Persoalan Pendidikan Hari Ini

Jika kita sering membaca, mendengar, atau melihat berita di media nasional, Indonesia masih menghadapi persoalan kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Ada sekolah dengan ruang belajar yang baik, perangkat digital, akses internet dan guru yang relatif lengkap. Di sisi lain, masih ada sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana, sumber belajar, bahkan akses teknologi.

Pemerintah sendiri telah menjalankan berbagai program untuk memperbaiki kondisi tersebut. Dalam laporan pemerintah pada Agustus 2026, sebanyak 71.744 sekolah disebut telah diperbaiki pada 2026. Pemerintah juga memperluas pemanfaatan teknologi pembelajaran melalui Interactive Flat Panel (IFP).

Artinya, persoalan pendidikan sebenarnya bukan hanya soal berapa rupiah yang dibayar orang tua, tetapi juga apa yang diterima peserta didik sebagai pengalaman belajar.

Sekolah gratis akan kehilangan maknanya jika orang tua tidak membayar uang sekolah, tetapi anak tetap menghadapi keterbatasan buku, laboratorium, perangkat pembelajaran, kualitas guru, koneksi internet atau pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan.

Dengan kata lain, gratis tidak boleh diterjemahkan sebagai murahnya pendidikan. Gratis harus berarti negara menjamin hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu.

Kurikulum Jangan Ikut “Gratis”

Di sinilah persoalan kurikulum menjadi penting. Kurikulum bukan sekadar daftar mata pelajaran. Kurikulum menentukan kompetensi apa yang harus dimiliki peserta didik, pengalaman belajar seperti apa yang diberikan, bagaimana guru mengajar, bagaimana peserta didik dinilai, dan bagaimana sekolah merespons perubahan zaman.

Indonesia sedang mendorong Pembelajaran Mendalam atau deep learning. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diarahkan pada pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan relevan dengan tantangan nyata. Peserta didik tidak cukup hanya menguasai informasi, tetapi perlu mampu berpikir mendalam, memecahkan masalah, berkolaborasi dan beradaptasi. Tentu, ini menjadi tantangan besar.

Sebab, pendidikan gratis tidak akan banyak berarti apabila proses pembelajarannya masih membuat siswa sekadar menghafal, mengejar nilai, dan menyelesaikan tugas.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya, “Apakah sekolah gratis?” Tapi lebih jauh dari itu, pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang dipelajari anak? Bagaimana anak belajar? Mengapa anak mempelajarinya? Dan apakah pengetahuan itu dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata?”

Persoalan ini relevan dengan kajian Dr. H. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd., akademisi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Salah satu kajiannya pada 2026 membahas peran kurikulum dalam membangun resiliensi akademik mahasiswa di era digital. Ia juga meneliti kesiapan pedagogis guru dalam menghadapi fleksibilitas kurikulum serta hubungan problem-based learning dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital.

Gagasan tersebut memberi pelajaran penting dalam membaca program sekolah gratis, yakni akses pendidikan dan kualitas pembelajaran harus berjalan bersama.

Sekolah gratis membutuhkan kurikulum yang mampu menjawab perubahan masyarakat. Anak-anak hari ini hidup di tengah AI, media sosial, banjir informasi dan perubahan pekerjaan yang cepat.

Karena itu, kurikulum tidak cukup mengajarkan anak untuk mengetahui. Anak harus dilatih untuk bertanya, menganalisis, memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi dan menciptakan sesuatu. Kurikulum harus menjadi jembatan antara sekolah dan kehidupan.

Jika tidak, sekolah gratis hanya memperluas jumlah anak yang masuk sekolah tanpa memastikan mereka mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.

Teknologi Pendidikan Bukan Sekadar Layar di Kelas

Pada era digitalisasi seperti sat ini, sering kali teknologi pendidikan dipahami secara sederhana, yakni menyediakan komputer, tablet, internet, atau layar digital di ruang kelas. Padahal teknologi pendidikan jauh lebih luas.

Teknologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana manusia, proses, sumber belajar, metode, dan teknologi dirancang secara sistematis untuk memecahkan masalah belajar. Karena itu, ketika pemerintah menyediakan layar pintar di sekolah, pertanyaan berikutnya ialah “Apakah guru sudah siap menggunakannya? Apakah materi pembelajarannya tersedia? Apakah metode mengajarnya berubah? Apakah peserta didik menjadi lebih aktif? Dan apakah teknologi tersebut benar-benar menyelesaikan masalah belajar?”

Pemerintah pada 2026 memang mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dan menyebut penggunaan IFP untuk menghadirkan sumber pembelajaran serta pengajaran berbagai bidang.

Namun, perangkat hanyalah alat. Teknologi pendidikan tidak boleh berubah menjadi proyek pengadaan barang. Teknologi harus ditempatkan sebagai bagian dari desain sistem pembelajaran.

Jika guru tetap menggunakan metode lama, sementara papan tulis diganti layar digital, maka yang berubah mungkin hanya medianya. Proses belajarnya belum tentu berubah. Di sinilah teknologi pendidikan memiliki peran strategis.

Dari Sekolah Gratis Menuju Pendidikan Bermutu

Program pendidikan gratis juga perlu dilihat dalam konteks berbagai kebijakan pendidikan yang sudah berjalan.

Pemerintah telah menjalankan Sekolah Rakyat sebagai program pendidikan gratis bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Hingga April 2026, pemerintah menyebut program tersebut telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi di 36 provinsi.

Ini menunjukkan bahwa perluasan akses pendidikan sudah menjadi bagian dari agenda kebijakan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan ekuitas kualitas. Anak dari keluarga miskin tidak cukup hanya diberi tempat duduk di kelas. Ia harus mendapatkan guru yang kompeten, kurikulum yang relevan, sumber belajar yang memadai, lingkungan belajar yang aman, teknologi yang sesuai kebutuhan, serta kesempatan mengembangkan potensinya. Di sinilah konsep keadilan pendidikan menjadi penting.

Adil bukan berarti semua sekolah menerima benda yang sama. Adil berarti setiap anak memperoleh dukungan yang sesuai agar memiliki kesempatan belajar yang bermakna. Sebab, hakikatnya, pendidikan gratis jangan hanya menggratiskan kursi, namun juga menggratiskan hambatan untuk belajar. Negara perlu memastikan anak tidak berhenti sekolah karena biaya, tetapi sekaligus memastikan mereka tidak kehilangan kualitas pendidikan karena lokasi tempat tinggal, kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan teknologi atau kualitas pembelajaran.

Sekolah gratis harus bertemu dengan kurikulum yang adaptif. Kurikulum harus bertemu dengan pedagogi yang tepat. Pedagogi harus didukung teknologi pendidikan. Teknologi harus digunakan berdasarkan kebutuhan belajar. Dan semuanya harus bermuara pada satu tujuan, peserta didik yang mampu berpikir, belajar, beradaptasi dan menghadapi kehidupan nyata.

Karena pendidikan bukan sekadar persoalan apakah orang tua membayar atau tidak. Pendidikan adalah investasi negara terhadap manusia. Sekolah gratis adalah pintu masuk. Pendidikan bermutu adalah tujuan. Dan teknologi pendidikan, kurikulum, guru serta desain pembelajaran adalah bagian dari jalan untuk mencapainya.[T]

Penulis: Dini Nastiti Wardani
Editor: Jaswanto

Tags: PendidikanPresiden Prabowo Subiantosekolah gratissekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

Next Post

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Dini Nastiti Wardani

Dini Nastiti Wardani

Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa sekaligus penyiar Pro 1 RRI Surabaya.

Related Posts

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails
Next Post
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co