Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI) Pusat menggelar Kongres pada Januari 2023, misalnya, gala dinner yang digelar di Pantai Kedonganan itu disebut di Pantai Jimbaran oleh tour leader. Akibatnya, sejumlah peserta dari Bali dibuat kalang-kabut. Mereka menuju Pantai Jimbaran, tapi tidak ada gala dinner. Begitulah Jimbaran disebut orang luar kadang-kadang untuk mewakili Kedonganan dan Kelan sekaligus. Maklumlah, Jimbaran sesuai dengan namanya memang jimbar ‘luas’.
Demikian juga Kuta. Sering untuk mewakili wilayah Pantai Tuban sampai Legian. Namun, tidak seekstrem penyebutan untuk Pantai Jimbaran. Kisah tentang penyu mataluh di bawah pandan berduri adalah kisah romantik nelayan Kuta tempo doeloe. Pun, kisah penyu mataluh era milenial tidak kalah romantiknya dalam hubungan Bali-Bule. Itu pula sebabnya, orang-orang Kuta dengan pantai pasir putihnya yang membentang dari Pantai Jerman di selatan hingga Legian di utara adalah wilayah kekuasaan nelayan dengan jukung-jukung tradisionalnya. Tempat nelayan mengadu nasib demi sesuap nasi. Pariwisata Kuta mulai dari pergaulan bule dengan nelayan. Itu dulu.
Kini, jejak nelayan Kuta masih ada samar-samar. Satu dua jukung masih ada di seputar Pantai Kuta. Kalah pamornya dengan para peselancar yang menenteng papan surfing berkencan dengan ombak. Kencan mereka dengan ombak sering juga berlanjut di hotel dengan pemandangan Pantai Kuta yang menawan itu. Gambaran itu dapat dibaca di novel, cerpen, dan puisi dengan latar Kuta.

Idem dito Kuta dengan Jimbaran. Kedua desa ini memiliki pantai berpasir putih. Keduanya juga memiliki view sunset yang memukau. Keduanya juga pernah diledakkan bom oleh bromocorah teroris. Bedanya, ledakan bom Kuta di Paddy’s Club, tempat diskotek, sedangkan ledakan bom di Jimbaran di pantai, tempat kuliner ikan bakar. Ledakan Bom Kuta sering disebut Bom Bali I terjadi pada Sabtu Kelabu, 12 Oktober 2002, sedangkan Ledakan Bom Jimbaran, yang sering disebut Bom Bali II, terjadi pada Sabtu Kelabu, 1 Oktober 2005. Kedua ledakan bom itu membuat pariwisata Bali kolaps. Simbol pariwisata Bali hancur lebur. Berkeping-keping.
Sebagai destinasi wisata, Pantai Jimbaran dan Kuta memang berbeda dari karakteristik yang diunggulkan. Jimbaran terkenal dengan ikon ikan bakarnya. Bahkan, Ikan Bakar Jimbaran merambah hingga Jakarta sampai Bandung. Kuta terkenal dengan sunset sebagai ikon utama berdampingan dengan surfing sebagai ikon lainnya. Tentang surfing, pantai-pantai di Gumi Delod Ceking seperti Balangan, Uluwatu, Melasti, Pandawa, Timbis, Gunung Payung, bahkan Geger juga menjadi idola peselancar kini. Jadi, surfing tidak spesifik merujuk pada Pantai Kuta. Namun, surfing pertama di Bali dimulai dari Pantai Kuta.
Menarik dikulik Pantai Jimbaran dengan kuliner ikan bakarnya. Tetamu yang menonton kecak di Uluwatu, Pantai Melasti, dan Pandawa umumnya makan malam di Pantai Jimbaran dan Kedonganan. Seperti yang disebutkan di atas, Pantai Kedonganan sering kalah pamor dengan nama besar Pantai Jimbaran. Dari strategi branding, Jimbaran diuntungkan secara marketing. Dampaknya luas secara ekonomi. Jika pun Kedonganan memiliki puluhan kafe di Pasih Kauh, namanya tidak semendunia Jimbaran dengan sejumlah alasan.
Pertama, sejak dulu sebelum pariwisata booming, Jimbaran sudah terkenal dengan Pasar Jimbaran. Orang-orang krama wed Delod Ceking mameken/mamasar ke Jimbaran. Di Jimbaranlah lalu lintas perdagangan dengan sistem barter berlangsung secara intens. Hasil-hasil pertanian dari Delod Ceking, kalau tidak ke Denpasar, Jimbaranlah yang menjadi tujuan.
Kedua, Jimbaran memiliki keistimewaan. Selain memiliki bukit sebagai benteng bagian selatan, juga memiliki dataran bagian utara. Posisi datarannya persis berada di Ceking, kaki Pulau Bali. Di Ceking itu pula pusat perdagangan sebagai pasar. Persisnya di Jaba Pura Ulun Swi Jimbaran, bersebelahan dengan posisi Catus Pata Desa Adat Jimbaran yang arah baratnya adalah Pantai Jimbaran. Sampai tahun 1990-an, masih ditemukan nelayan dengan jukung tradisionalnya. Nelayan yang disebut bandega kita temukan berteduh di pohon waru dengan jukung kesayangannya sambil ngayum jaring. Jaring yang rusak ibarat pakaian robek harus ditambal (di-ayum) sehingga bila dipasang, ikan tetap terjaring. Begitulah bandega dulu merawat jaring sebagai bentuk dedikasi nelayan yang menyatu dengan perabotannya. Prabot masari, gae mataksu.

Ketiga, orang-orang Delod Ceking menjadikan Pantai Jimbaran tempat ngujur. Ngujur sebenarnya tidak murni magegendong dalam arti ngidih-idih. Para pengujur umumnya anak-anak sekolah dari Delod Ceking yang siaga menunggu nelayan tradisional datang dari melaut pada pagi hari. Sementara bandega bergadang di tengah laut merayu ikan dengan jaring dan pancing. Tak ubahnya sastrawan yang menjaring dan memancing mutiara kata untuk diangkat dari kedalaman samudra yang tersembunyi di lubuk-lubuk laut sunyi dalam sepi malam.
Anak-anak pengujur ini membantu mengeluarkan ikan yang terjaring yang belum sempat diselesaikan nelayan. Maklumlah, nelayan tradisional menakhodai jukungnya secara manual. Mendayung dengan sekuat tenaga melawan kantuk belum tentu cukup bekal di tengah laut yang ganas. Darmaning bandega paham betul bagaimana bersahabat dengan laut yang ombaknya tak terduga, seperti kumpulan cerpen I Made Suarsa: Gde Ombak Gde Angin.
Dari tradisi melautlah tampaknya inspirasi lahirnya kafe-kafe di sepanjang Pantai Muaya hingga batas utara Jimbaran. Pada kenyataannya, nelayan banyak berasal dari luar Bali, tetapi berlabuh di Kedonganan lalu menjual ikan-ikannya kepada pengepul. Ikan-ikan itu dijual kembali ke kafe-kafe seputar Jimbaran dan Kedonganan.
Muliawan, mantan Panyarikan Desa Adat Jimbaran, mengatakan, “Di Pantai Muaya terdapat 19 kafe yang dibangun oleh pengontrak krama ngarep Desa Adat Jimbaran, sedangkan di Jalan Pemelisan ada 9 kafe yang dibangun oleh Pemda Badung.”
Dukungan Pemda Badung dan Desa Adat tampaknya seiring sejalan walaupun secara kuantitas terkesan timpang. Namun, lebih baik daripada tidak sama sekali. Ke depan perlu didorong agar Pemda Badung lebih proaktif memfasilitasi usaha krama ngarep yang pada ujungnya akan meningkatkan PAD Badung dari pasih dengan Ikan Bakar Jimbaran.
Wisatawan belum menyebut diri sampai ke Bali bila belum sampai ke Pantai Kuta. Begitu pula, belum makan ikan di Bali jika belum makan Ikan Bakar Jimbaran. Ikan Bakar Jimbaran rasanya khas Bali yang kaya rempah. Ikan dibakar dengan arang dari batok kelapa sehingga menghasilkan aroma asap (smoky) yang menjadikannya ikon gastronomi Bali yang mendunia. Ciri khas Ikan Bakar Jimbaran adalah menggunakan bumbu oles kaya rempah dari bawang putih, bawang merah, cabai, ketumbar, kunyit, kemiri, terasi, gula merah, dan air asam jawa yang membuat bumbunya meresap. Ikan bakar yang segar dilengkapi sambal terasi dan sambal matah dengan jukut plecing kangkung plus kacang tanah goreng sebagai pelengkap.
Makanan disajikan di kafe terbuka dengan pemandangan laut. Deburan ombak saling sapa dengan kepulan asap ikan bakar. Pasir putih Pantai Jimbaran yang mengesankan berlatar sunset berwarna keperakan memberikan kenikmatan dan kelangon. Betapa indah ciptaan-Nya, betapa nikmat santapannya. Tidak berlebihan bila rombongan tamu seusai menonton kecak menjadikan kafe-kafe ikan bakar Jimbaran sebagai tempat gala dinner. Jimbaran pun menjadi objek wisata kuliner ikan bakar.

Gala dinner akan menjadi lengkap dan lebih nikmat bila ditutup dengan seiris buah semangka sebagai puisi epigon. Dalam konteks ini, puisi GM Sukawidana (2024) menarik untuk ditampilkan sebagai pelengkap Ikan Bakar Jimbaran. Namun, makan ikan pun perlu hati-hati dan beretika, jangan sampai sukak sebagaimana GM Sukawidana melukiskan dalam puisinya.
Sebuah Sketsa Made Budhiana Tentang Kepala Ikan
ibakar di atas meja
bumbu pedas nasi hangat
aromanya melampui batas penciuman
bercampur bau arak
membuat gairah menyantap semakin liar
hari ini
pesta sunyi orang lapar
makan besar tak terbendung
jangan sampai ada yang tersisa
bagi perut yang memendam dendam
aku menyantap ikan bakar di atas meja
semua terlahap habis
hanya tersisa tulang kerangka
sampai pada batas
bagian kepala
yang masih utuh
tak tersentuh
aku terhenyak
mata ikan itu
membelalak liar
berputar-putar
mencari siapa yang mengoyak tubuhnya
sungguh mengerikan
tatapan tajam
mengiris
menebar ancaman
jangan kau telan semua
sisakan kepalaku
siapa tahu nanti
dapat menggantikan
kepalamu yang terlepas[T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto






























