27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
in Tualang
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Suasana Pantai Jimbaran | Foto: Nyoman Tingkat

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI) Pusat menggelar Kongres pada Januari 2023, misalnya, gala dinner yang digelar di Pantai Kedonganan itu disebut di Pantai Jimbaran oleh tour leader. Akibatnya, sejumlah peserta dari Bali dibuat kalang-kabut. Mereka menuju Pantai Jimbaran, tapi tidak ada gala dinner. Begitulah Jimbaran disebut orang luar kadang-kadang untuk mewakili Kedonganan dan Kelan sekaligus. Maklumlah, Jimbaran sesuai dengan namanya memang jimbar ‘luas’.

Demikian juga Kuta. Sering untuk mewakili wilayah Pantai Tuban sampai Legian. Namun, tidak seekstrem penyebutan untuk Pantai Jimbaran. Kisah tentang penyu mataluh di bawah pandan berduri adalah kisah romantik nelayan Kuta tempo doeloe. Pun, kisah penyu mataluh era milenial tidak kalah romantiknya dalam hubungan Bali-Bule. Itu pula sebabnya, orang-orang Kuta dengan pantai pasir putihnya yang membentang dari Pantai Jerman di selatan hingga Legian di utara adalah wilayah kekuasaan nelayan dengan jukung-jukung tradisionalnya. Tempat nelayan mengadu nasib demi sesuap nasi. Pariwisata Kuta mulai dari pergaulan bule dengan nelayan. Itu dulu.

Kini, jejak nelayan Kuta masih ada samar-samar. Satu dua jukung masih ada di seputar Pantai Kuta. Kalah pamornya dengan para peselancar yang menenteng papan surfing berkencan dengan ombak. Kencan mereka dengan ombak sering juga berlanjut di hotel dengan pemandangan Pantai Kuta yang menawan itu. Gambaran itu dapat dibaca di novel, cerpen, dan puisi dengan latar Kuta.

Suasana Pantai Jimbaran | Foto: Nyoman Tingkat

Idem dito Kuta dengan Jimbaran. Kedua desa ini memiliki pantai berpasir putih. Keduanya juga memiliki view sunset yang memukau. Keduanya juga pernah diledakkan bom oleh bromocorah teroris. Bedanya, ledakan bom Kuta di Paddy’s Club, tempat diskotek, sedangkan ledakan bom di Jimbaran di pantai, tempat kuliner ikan bakar. Ledakan Bom Kuta sering disebut Bom Bali I terjadi pada Sabtu Kelabu, 12 Oktober 2002, sedangkan Ledakan Bom Jimbaran, yang sering disebut Bom Bali II, terjadi pada Sabtu Kelabu, 1 Oktober 2005. Kedua ledakan bom itu membuat pariwisata Bali kolaps. Simbol pariwisata Bali hancur lebur. Berkeping-keping.

Sebagai destinasi wisata, Pantai Jimbaran dan Kuta memang berbeda dari karakteristik yang diunggulkan. Jimbaran terkenal dengan ikon ikan bakarnya. Bahkan, Ikan Bakar Jimbaran merambah hingga Jakarta sampai Bandung. Kuta terkenal dengan sunset sebagai ikon utama berdampingan dengan surfing sebagai ikon lainnya. Tentang surfing, pantai-pantai di Gumi Delod Ceking seperti Balangan, Uluwatu, Melasti, Pandawa, Timbis, Gunung Payung, bahkan Geger juga menjadi idola peselancar kini. Jadi, surfing tidak spesifik merujuk pada Pantai Kuta. Namun, surfing pertama di Bali dimulai dari Pantai Kuta.

Menarik dikulik Pantai Jimbaran dengan kuliner ikan bakarnya. Tetamu yang menonton kecak di Uluwatu, Pantai Melasti, dan Pandawa umumnya makan malam di Pantai Jimbaran dan Kedonganan. Seperti yang disebutkan di atas, Pantai Kedonganan sering kalah pamor dengan nama besar Pantai Jimbaran. Dari strategi branding, Jimbaran diuntungkan secara marketing. Dampaknya luas secara ekonomi. Jika pun Kedonganan memiliki puluhan kafe di Pasih Kauh, namanya tidak semendunia Jimbaran dengan sejumlah alasan.

Pertama, sejak dulu sebelum pariwisata booming, Jimbaran sudah terkenal dengan Pasar Jimbaran. Orang-orang krama wed Delod Ceking mameken/mamasar ke Jimbaran. Di Jimbaranlah lalu lintas perdagangan dengan sistem barter berlangsung secara intens. Hasil-hasil pertanian dari Delod Ceking, kalau tidak ke Denpasar, Jimbaranlah yang menjadi tujuan.

Kedua, Jimbaran memiliki keistimewaan. Selain memiliki bukit sebagai benteng bagian selatan, juga memiliki dataran bagian utara. Posisi datarannya persis berada di Ceking, kaki Pulau Bali. Di Ceking itu pula pusat perdagangan sebagai pasar. Persisnya di Jaba Pura Ulun Swi Jimbaran, bersebelahan dengan posisi Catus Pata Desa Adat Jimbaran yang arah baratnya adalah Pantai Jimbaran. Sampai tahun 1990-an, masih ditemukan nelayan dengan jukung tradisionalnya. Nelayan yang disebut bandega kita temukan berteduh di pohon waru dengan jukung kesayangannya sambil ngayum jaring. Jaring yang rusak ibarat pakaian robek harus ditambal (di-ayum) sehingga bila dipasang, ikan tetap terjaring. Begitulah bandega dulu merawat jaring sebagai bentuk dedikasi nelayan yang menyatu dengan perabotannya. Prabot masari, gae mataksu.

Suasana Pantai Jimbaran | Foto: Nyoman Tingkat

Ketiga, orang-orang Delod Ceking menjadikan Pantai Jimbaran tempat ngujur. Ngujur sebenarnya tidak murni magegendong dalam arti ngidih-idih. Para pengujur umumnya anak-anak sekolah dari Delod Ceking yang siaga menunggu nelayan tradisional datang dari melaut pada pagi hari. Sementara bandega bergadang di tengah laut merayu ikan dengan jaring dan pancing. Tak ubahnya sastrawan yang menjaring dan memancing mutiara kata untuk diangkat dari kedalaman samudra yang tersembunyi di lubuk-lubuk laut sunyi dalam sepi malam.

Anak-anak pengujur ini membantu mengeluarkan ikan yang terjaring yang belum sempat diselesaikan nelayan. Maklumlah, nelayan tradisional menakhodai jukungnya secara manual. Mendayung dengan sekuat tenaga melawan kantuk belum tentu cukup bekal di tengah laut yang ganas. Darmaning bandega paham betul bagaimana bersahabat dengan laut yang ombaknya tak terduga, seperti kumpulan cerpen I Made Suarsa: Gde Ombak Gde Angin.

Dari tradisi melautlah tampaknya inspirasi lahirnya kafe-kafe di sepanjang Pantai Muaya hingga batas utara Jimbaran. Pada kenyataannya, nelayan banyak berasal dari luar Bali, tetapi berlabuh di Kedonganan lalu menjual ikan-ikannya kepada pengepul. Ikan-ikan itu dijual kembali ke kafe-kafe seputar Jimbaran dan Kedonganan.

Muliawan, mantan Panyarikan Desa Adat Jimbaran, mengatakan, “Di Pantai Muaya terdapat 19 kafe yang dibangun oleh pengontrak krama ngarep Desa Adat Jimbaran, sedangkan di Jalan Pemelisan ada 9 kafe yang dibangun oleh Pemda Badung.”

Dukungan Pemda Badung dan Desa Adat tampaknya seiring sejalan walaupun secara kuantitas terkesan timpang. Namun, lebih baik daripada tidak sama sekali. Ke depan perlu didorong agar Pemda Badung lebih proaktif memfasilitasi usaha krama ngarep yang pada ujungnya akan meningkatkan PAD Badung dari pasih dengan Ikan Bakar Jimbaran.

Wisatawan belum menyebut diri sampai ke Bali bila belum sampai ke Pantai Kuta. Begitu pula, belum makan ikan di Bali jika belum makan Ikan Bakar Jimbaran. Ikan Bakar Jimbaran rasanya khas Bali yang kaya rempah. Ikan dibakar dengan arang dari batok kelapa sehingga menghasilkan aroma asap (smoky) yang menjadikannya ikon gastronomi Bali yang mendunia. Ciri khas Ikan Bakar Jimbaran adalah menggunakan bumbu oles kaya rempah dari bawang putih, bawang merah, cabai, ketumbar, kunyit, kemiri, terasi, gula merah, dan air asam jawa yang membuat bumbunya meresap. Ikan bakar yang segar dilengkapi sambal terasi dan sambal matah dengan jukut plecing kangkung plus kacang tanah goreng sebagai pelengkap.

Makanan disajikan di kafe terbuka dengan pemandangan laut. Deburan ombak saling sapa dengan kepulan asap ikan bakar. Pasir putih Pantai Jimbaran yang mengesankan berlatar sunset berwarna keperakan memberikan kenikmatan dan kelangon. Betapa indah ciptaan-Nya, betapa nikmat santapannya. Tidak berlebihan bila rombongan tamu seusai menonton kecak menjadikan kafe-kafe ikan bakar Jimbaran sebagai tempat gala dinner. Jimbaran pun menjadi objek wisata kuliner ikan bakar.

Suasana Pantai Jimbaran | Foto: Nyoman Tingkat

Gala dinner akan menjadi lengkap dan lebih nikmat bila ditutup dengan seiris buah semangka sebagai puisi epigon. Dalam konteks ini, puisi GM Sukawidana (2024) menarik untuk ditampilkan sebagai pelengkap Ikan Bakar Jimbaran. Namun, makan ikan pun perlu hati-hati dan beretika, jangan sampai sukak sebagaimana GM Sukawidana melukiskan dalam puisinya.

Sebuah Sketsa Made Budhiana Tentang Kepala Ikan

ibakar di atas meja
bumbu pedas nasi hangat
aromanya melampui batas penciuman
bercampur bau arak
membuat gairah menyantap semakin liar

hari ini
pesta sunyi orang lapar
makan besar tak terbendung
jangan sampai ada yang tersisa
bagi perut yang memendam dendam

aku menyantap ikan bakar di atas meja
semua terlahap habis
hanya tersisa tulang kerangka

sampai pada batas
bagian kepala
yang masih utuh
tak tersentuh
aku terhenyak
mata ikan itu
membelalak liar
berputar-putar
mencari siapa yang mengoyak tubuhnya

sungguh mengerikan
tatapan tajam
mengiris
menebar ancaman

jangan kau telan semua
sisakan kepalaku
siapa tahu nanti
dapat menggantikan
kepalamu yang terlepas[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh IndonesiaPantai Jimbaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Next Post

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

"Tung Tung Uma": Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co