27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Hartanto by Hartanto
August 7, 2026
in Ulas Rupa
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Seni Instalasi karya Ni Nyoman Sani | Foto: Istimewa

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists (IWA) #4. Bertajuk On the Map: Art, Science, Technology & Culture, pameran ini digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Peserta pameran, antara lain: Bibiana Lee, Dyantini Adeline, Kana Fuddy Prakoso, Tara Kasenda, VeDhanito (Jakarta); Endang Lestari, Irene Agrivina, dan Nona Yoani Shara (Yogyakarta); Ni Nyoman Sani, Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan, serta Ines Katamso (Bali); dan Rani Jambak (Lasi).

Dihadirkan pula karya perempuan veteran yang telah almarhum. Mereka adalah Sri Astari Rasjid, Lucia Hartini, Hildawati Soemantri, Marida Nasution, dan Umi Dachlan.

Pameran dikuratori oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi. Pada teks kuratorial yang bertajuk On the Map – Towards New Futures dapat dibaca sebagai “pernyataan reflektif”.

Hal itu menegaskan posisi seni perempuan dalam lanskap seni rupa Indonesia sekaligus membuka jalan bagi wacana global tentang “kesetaraan”.

Jadi, IWA juga memandang bahwa gagasan tentang “kesetaraan gender” merupakan sebuah “kesadaran” dan “gerakan” berskala global.

Sejak awal, Carla menempatkan proyek Indonesian Women Artists (IWA) sebagai koreksi atas sejarah seni yang “bias gender”, sebuah “intervensi” terhadap “narasi dominan” yang selama puluhan tahun “meminggirkan” perempuan dari pusat penulisan.

Dengan mengingat kembali program IWA terdahulu, The Curtain Opens (2007), ia menegaskan bahwa “kuratorial” bukan sekadar “arsip”, melainkan “gerakan sosial-budaya” yang melibatkan “tubuh”, “memori”, dan “ruang” sebagai “medan epistemologi” baru.

Carla mengutip teori Henri Lefebvre bahwa “ruang” bukanlah “wadah netral”, melainkan hasil “produksi sosial” yang sarat “relasi kuasa”.

On the Map menghidupkan gagasan tersebut dengan menempatkan “tubuh”, “alam”, dan “warisan budaya” sebagai “ruang pengetahuan” yang diproduksi melalui “pengalaman perempuan”.

Tubuh menjadi “lokus epistemologi”, alam hadir sebagai “subjek pengetahuan”, dan warisan budaya menjadi “navigasi sejarah”.

Dengan demikian, pameran ini membongkar “ruang dominan” yang ditulis oleh “narasi maskulin” dan menggantinya dengan ruang yang “berlapis”, “cair”, dan “partisipatif”.

Ruang dalam pameran ini bukan sekadar “geografi”, melainkan “proses sosial” yang terus “dinegosiasikan”.

Michel Foucault menyebut “heterotopia” sebagai ruang lain, ruang yang menampung sekaligus menantang “tatanan dominan”.

Mengacu pada pemikiran Michel Foucault, On the Map memang dapat diidentikkan dengan “heterotopia feminis”, sebuah ruang “kuratorial” yang menampung “fragmen tubuh”, “alam”, dan “budaya”, tetapi sekaligus menantang “narasi tunggal” sejarah seni Indonesia.

Karya-karya yang ditampilkan bukanlah “representasi statis”, melainkan ruang-ruang “alternatif”: “lorong ingatan”, “arsip tubuh”, “ritual tanah”, dan navigasi “samudra perempuan”.

Mereka adalah “heterotopia” karena menghadirkan kemungkinan lain, ruang yang tidak tunduk pada “kategori tegas”, melainkan menegaskan “keterhubungan” dan “keberlimpahan”.

Carla juga mengacu pada Donna Haraway dengan konsep “situated knowledge”, pengetahuan yang berangkat dari tubuh, pengalaman, dan konteks. Pernyataan kuratorial ini menolak klaim “universal maskulin” dan justru menegaskan bahwa pengetahuan perempuan adalah “partikular” sekaligus “kolektif”.

Dengan menampilkan karya lintas generasi, dari perupa muda hingga yang telah wafat, Carla membangun arsip yang bukan “linear”, melainkan “rhizomatik”.

Peta yang ditawarkan bukan “garis lurus”, melainkan “jaringan” yang saling berlapis, sebuah “epistemologi feminis” yang menolak “dikotomi modernis”.

Di sisi lain, Carla juga menandaskan perlunya Biennale Perempuan di Indonesia. Jika biennale selama ini berorientasi pada “wilayah”, Carla menawarkan “biennale berbasis isu”, khususnya “kesetaraan gender”.

Dengan demikian, menurut saya, kuratorial Carla dan teman-teman menjadi “praksis advokasi”, melantangkan “suara perempuan” dalam “lanskap seni global”. On the Map bukan sekadar pameran, melainkan “pernyataan”, produk pemikiran, dan “ruang baru”.

Produk pemikiran itu menegaskan bahwa rumah “epistemologi perempuan” adalah ruang yang cair, “heterotopia” yang menantang “dominasi”, dan “produksi sosial” yang “terus diperbarui”.

Dengan mengaitkan Lefebvre, Foucault, dan Haraway, Carla Bianpoen dan rekan-rekan tampil sebagai “kurator-manifestan”. Ia tidak hanya “mengarsipkan” seni perempuan, tetapi juga membangun ruang “epistemologi baru”.

Menurut saya, On the Map adalah peta yang tidak selesai, sebuah “heterotopia feminis” yang terus berkembang, dan panggilan menuju “Biennale Perempuan” sebagai “ruang global” bagi “suara” yang lama “disenyapkan”.

***

Pada tulisan ini, saya tertarik “menekuni” karya instalasi Ni Nyoman Sani yang berjudul Home (Rumah). Menyimak teks dialog, muncul pertanyaan dari Sani, “Apakah rumah itu sebuah tempat? Apakah ia tetap dan statis? Atau sebuah proses di dalam tubuh sendiri?”

Karya Home berangkat dari pertanyaan tentang rumah bukan sebagai bangunan, tetapi sebagai rasa. Sani menggunakan “material” yang sifatnya sebagai “wadah”, sesuatu yang “menyimpan”, seperti “tubuh” yang mengendapkan “pengalaman”.

Bentuknya yang memanjang dapat dibayangkan seperti “ruang”, “lorong”, “napas”, sesuatu yang terus “mengalir”. Cahaya dalam karya ini menunjukkan bahwa “rumah” tidak selalu “terlihat”, tetapi bisa “dirasakan”.

Menurut Sani, karya tersebut tidak dianggap sebagai bentuk yang “selesai”, tetapi pengalaman “ruang”. Ketika “audiens” bergerak di sekitar karya, tubuh dan karya memunculkan “kesadaran” tentang “ruang” yang “aman”.

Sani tampaknya mulai mengembangkan karya yang tidak lagi “berfokus” pada “objek” semata, tetapi dalam “praktik seni instalasi” yang bersifat “partisipatif”. Karya tidak dianggap sebagai “benda mati”, melainkan sebagai “situasi” yang terus hidup melalui “interaksi audiens”.

Yang menarik adalah pendapat Sani bahwa karya “tak bergender”. “Sebenarnya, pendapat saya, kehadiran karya saya merupakan keutuhan ‘daya cipta’ seorang dalam ‘curiosity’-nya dan kegelisahan yang tiada batas, karena karya ‘tiada bergender’,” ungkap Sani.

Rumah dalam interpretasi Sani tidak dipahami sebagai bangunan fisik yang statis, melainkan sebagai proses yang berlangsung di dalam “tubuh” dan “ingatan”.

Sani seakan menolak definisi rumah sebagai “tempat tetap” dan justru menekankan sifatnya yang “cair”, “berubah”, dan “berlapis”.

Ia menandaskan bahwa “Rumah” menjadi wadah “pengalaman”, “lorong napas”, “cahaya” yang tidak selalu “terlihat”, tetapi dapat “dirasakan”.

Dengan demikian, rumah adalah “metafora” bagi tubuh yang menyimpan “memori”, rasa aman, kestabilan, sekaligus ketidakstabilan.

Hal itu menurut pengalaman memori Sani semenjak masih kanak-kanak. “Rumah itu” terus berubah; ia merupakan rasa nyaman yang jarang menemukan tempatnya. “Lalu saya merasakan bahwa tubuh juga merupakan rumah. Bangunan atau tempat tinggal itu juga sebuah tempat singgah, yang dinamakan Rumah,” ujar Sani.

Lalu “Rumah” itu, dalam “daya nalar” Sani, merupakan sesuatu yang cair seperti yang ia jabarkan di atas. “Secara psikologi, tubuh saya terus mengamati pengalaman berpindah tempat tinggal dan mencoba merasakan kenyamanan untuk menyebutkannya sebagai Rumah, namun rasa itu tidak pernah tetap dan diam,” tambahnya.

Masih menurut saya, karya Ni Nyoman Sani ini adalah sebuah “instalasi monumental” yang menegaskan “tubuh” sebagai “ruang”, “ingatan” sebagai “material”, dan “pengalaman” sebagai “dimensi” yang terus “berlapis”.

Analisis detail atas karya ini dapat dibaca dari beberapa aspek: “bentuk”, “material”, “ruang”, “cahaya”, serta “getaran konseptual”.

Dari segi bentuk, karya ini menghadirkan “struktur silindris” besar dengan permukaan berlapis cat “metalik” atau “tembaga”, dilengkapi pipa-pipa yang menonjol dari tubuh utama.

Bentuk “tubular” ini bukan sekadar “konstruksi” teknis, melainkan “metafora” lorong napas, “jalur energi”, atau bahkan “tubuh internal” yang “beresonansi” dengan gagasan rumah sebagai “proses”, bukan tempat “statis”.

Pipa-pipa yang menonjol dapat dibaca sebagai “saluran ingatan”, “resonator tubuh”, atau bahkan “organ-organ” yang memperlihatkan keterhubungan antara “dalam” dan “luar”.

Dengan demikian, bentuknya menolak keutuhan “geometris” yang dingin dan justru menegaskan “kerentanan” serta “keterhubungan”.

Material yang digunakan Sani, antara lain “logam”, cat “tembaga”, dan “tekstur berkarat”, menyiratkan “ambivalensi” antara kekuatan dan kerentanan.

Logam memberi kesan “industrial”, “keras”, dan “tahan lama”, tetapi lapisan “cat” yang tidak rata, “tekstur” yang berkarat, serta kilau yang berubah-ubah di bawah cahaya menegaskan sifat “rapuh”, “sementara”, dan “tidak stabil”.

Di sini, Sani menghadirkan “tubuh” sebagai “wadah” yang menyimpan “jejak waktu”, bukan sebagai “entitas” yang “utuh” dan “permanen”. Material menjadi bahasa yang mengartikulasikan “memori” dan “pengalaman”.

Tentu, ruang pamer memainkan peran penting. Karya ini ditempatkan di galeri dengan pencahayaan hangat dari atas dan bawah, menghasilkan pantulan “lingkaran” di lantai kayu.

Efek cahaya ini memperluas “tubuh karya” ke ruang sekitarnya, menciptakan “atmosfer yang imersif”. Penikmat tidak hanya melihat objek, tetapi juga mengalami ruang yang diproduksi oleh “cahaya”, “bayangan”, dan “pantulan”.

Dalam kerangka Lefebvre, “ruang” di sini adalah “produksi sosial”: ia lahir dari “interaksi material”, “cahaya”, “tubuh audiens”, dan “konteks galeri”. Karya ini tidak bisa dipisahkan dari ruangnya; ia menciptakan “heterotopia”, “ruang lain”, yang menantang “persepsi” sehari-hari.

Pipa-pipa yang menonjol dapat dibaca sebagai “saluran memori” masa kecil, seperti kisah ayah nelayan yang menopang perahu dengan can (can adalah pelampung yang berfungsi sebagai penanda visual untuk menunjukkan batas jalur air yang aman, area dangkal, atau rintangan di perairan).

Dengan demikian, karya ini adalah “arsip tubuh”: ia menyimpan pengalaman “personal”, sekaligus membuka ruang “dialog” bagi “audiens” untuk merasakan “keterhubungan”.

Interpretasi saya, dalam kerangka “cultural citizenship”, karya ini menegaskan hak perempuan untuk “mengartikulasikan tubuh” dan “ingatan” sebagai bagian dari “lanskap budaya”, bukan sekadar pengalaman “privat”.

Masih menurut saya, karya ini bersifat “partisipatif”. Kehadiran “audiens” menjadi bagian dari “aktivasi”, bergerak di sekitar “instalasi”, merasakan “skala”, mengalami rasa “aman” atau sebaliknya “ketidakpastian”.

Karya ini tidak selesai tanpa tubuh “audiens”. Artinya, ia menolak “logika objek seni” sebagai benda mati dan menegaskan “seni” sebagai “situasi hidup”. Ini adalah “strategi feminis” yang menekankan pengalaman “embodied”, “situated knowledge”, dan “keterhubungan sosial”.

Kesimpulan saya, karya Ni Nyoman Sani adalah “instalasi” yang kompleks, memadukan bentuk “monumental”, “material industrial”, “cahaya imersif”, dan “resonansi konseptual” tentang “rumah”, “tubuh”, dan “ingatan”.

Karya ini bukan hanya objek “estetika”, melainkan juga pernyataan “ruang” dan “pengalaman”, menegaskan bahwa “seni perempuan” juga pusat “wacana kontemporer” yang membuka jalan bagi “politik ruang” dan “kewargaan budaya” yang lebih “setara”.

Lebih lanjut, jika karya Sani kita bandingkan dengan karya Anish Kapoor, misalnya, menurut saya karya Sani yang berbentuk “silindris monumental” dengan permukaan “metalik” dan pipa-pipa menonjol memiliki kedekatan dengan cara Kapoor menghadirkan ruang sebagai pengalaman “imersif”.

Kapoor pernah menulis, “Sculpture is a way of bringing the void into visibility.” (Seni patung adalah cara untuk menghadirkan kekosongan ke dalam ranah yang dapat dilihat). Karya Sani juga menghadirkan semacam “void” atau “lorong internal”, bukan sekadar “objek”, melainkan ruang yang mengundang “audiens” untuk mengalami keterhubungan antara “tubuh” dan “ingatan”.

Bedanya, jika Kapoor sering menekankan “kekosongan metafisik”, Sani menekankan tubuh sebagai “rumah” yang “cair” dan “berlapis”.

Dari sisi “material” dan “cahaya”, karya Sani juga berparalel dengan James Turrell, yang menjadikan “cahaya” sebagai “medium” untuk membentuk “ruang perseptual”. Bisa kita padankan dengan karya Turrell yang bertajuk “Encounter”.

Pada suatu saat, Turrell pernah mengatakan, “My work is more about your seeing than it is about my seeing.” (“Karya saya lebih tentang bagaimana Anda melihat daripada bagaimana saya melihat.”)

Pencahayaan hangat yang memantulkan lingkaran di lantai galeri dalam karya Sani memperluas “tubuh karya” ke “ruang sekitarnya”, menciptakan “atmosfer yang imersif”.

Audiens tidak hanya melihat “objek”, tetapi juga mengalami “ruang” yang diproduksi oleh “cahaya”, “bayangan”, dan “pantulan”. Menurut saya, ini merupakan sebuah pengalaman “bawah sadar” Sani yang dekat dengan Turrell, tetapi tetap berakar pada “tubuh” dan “ingatan lokal”.

Pada sisi lain, saya ingin mengkaji karya Ni Nyoman Sani dengan referensi salah satu karya Christo dan Jeanne-Claude yang bertajuk “Konstruksi Drum”. Pasalnya, karya Christo ini juga memakai bahan baku drum.

Mengapa menarik? Karena bagi saya, keduanya sama-sama menekankan pengalaman “ruang”, “skala monumental”, dan “keterlibatan audiens” sebagai bagian “integral” dari karya.

Christo dikenal dengan proyek-proyek besar seperti Wrapped Reichstag (1995) atau The Gates (2005), yang membungkus atau “mengintervensi” ruang publik sehingga audiens tidak hanya melihat karya, tetapi juga “mengalami transformasi ruang” sehari-hari.

Karya Sani, dengan “struktur tubular” besar, pipa-pipa menonjol, dan pencahayaan “imersif”, menghadirkan pengalaman serupa. Ruang yang biasa, galeri atau bengkel, diubah menjadi “heterotopia”, ruang lain yang “menantang persepsi”.

Seperti Christo, Sani menolak karya sebagai “objek permanen”. Ia menekankan proses, “keterlibatan”, dan “pengalaman”. Christo pernah berkata, “Our works are temporary in order to endow them with a feeling of urgency to be seen, and the tenderness to be loved.” (Karya-karya kami bersifat sementara agar memiliki nuansa urgensi untuk dilihat, serta kelembutan untuk dicintai).

Kutipan ini dapat dikaitkan dengan karya Sani, yang juga menekankan “ketidakstabilan rumah”, “tubuh”, dan “ingatan”. Rumah bukanlah “tempat tetap”, melainkan proses yang cair dan, justru karena sifatnya yang rapuh, menghadirkan “urgensi” untuk dialami.

Namun, ada perbedaan penting. Christo acap bekerja dengan “skala urban”, membungkus “gedung”, “jembatan”, atau “lanskap”, sehingga karya menjadi “intervensi politik ruang publik”.

Sani, sebaliknya, menghadirkan “tubuh” sebagai “ruang internal”, “rumah” sebagai “lorong ingatan”, dan material industrial sebagai “metafora kerentanan”.

Jika Christo mengajak audiens untuk “melihat kota” dengan “cara baru”, Sani mengajak “audiens” untuk merasakan “tubuh” dan “ingatan” sebagai “rumah” yang terus “berubah”.

Dengan demikian, padanan Sani dengan Christo memperlihatkan bahwa keduanya berbagi semangat “monumental” dan “partisipatif”, tetapi dengan orientasi berbeda.

Christo pada ruang publik dan politik kota, Sani pada tubuh, rumah, dan memori personal. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni adalah pengalaman ruang yang cair, sementara, dan harus dialami secara langsung.

Dengan memadankan karya Sani dengan Kapoor, Christo dan Jeanne-Claude, serta Turrell, kita melihat bahwa ia berada dalam percakapan “global” tentang “tubuh”, “ruang”, dan “memori”.

Namun, Sani menambahkan lapisan lokal yang khas: kisah ayah nelayan, “rumah” sebagai “lorong napas”, dan “tubuh” sebagai “arsip pengalaman”. Karya ini bukan hanya berelasi dengan getaran “seni internasional”, tetapi juga “artikulasi epistemologi feminis” Nusantara.

Tulisan yang memadukan kutipan seniman internasional ini menegaskan bahwa karya Ni Nyoman Sani adalah bagian dari “jaringan global” seni “kontemporer”, sekaligus suara lokal yang unik.

Ia memperlihatkan bahwa rumah, tubuh, dan ingatan adalah tema universal, tetapi selalu hadir dengan “nuansa partikular” yang lahir dari konteks “budaya” dan “pengalaman personal”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Indonesian Women ArtistsNi Nyoman Sani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Next Post

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co