25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Hartanto by Hartanto
September 3, 2026
in Ulas Rupa
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Ketut Suasana Kabul

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar Waggle, diselenggarakan di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud. 

Kabul (I Ketut Suasana) kelahiran Apuan, Tabanan 1978 – menghadirkan dunia lebah sebagai ‘metafora’ kehidupan kolektif.  Menurut Encyclopaedia Britannica, istilah “nectar” merujuk pada cairan manis yang dihasilkan oleh kelenjar tanaman (nectaries).

Sedangkan “waggle dance” adalah tarian komunikasi lebah pekerja untuk menunjukkan arah dan jarak sumber makanan.

Tidak ada entri khusus “Nectar Waggle” sebagai satu istilah, melainkan gabungan dua konsep biologis: nectar sebagai sumber energi dan ‘waggle dance’ sebagai sistem komunikasi lebah.

Kabul menjadikan keduanya sebagai ‘bahasa visual’ – bagaimana individu berkontribusi pada koloni, bagaimana energi kecil dapat menjadi kekuatan besar, dan bagaimana seni dapat menjadi medium komunikasi lintas ruang batin.

Karya-karya Kabul dibangun dari ribuan garis repetitif, sebuah teknik yang berakar pada tradisi ‘nyawi’ Bali. Garis bukan sekadar elemen formal, melainkan denyut kehidupan yang menyatukan figur lebah dengan gunung, tubuh manusia, naga, lesung, bahkan arsitektur.

Dari garis – lahir tekstur, dari tekstur lahir kawanan, dan dari kawanan lahir ‘metafora’ tentang kebersamaan. Kabul menegaskan bahwa seni adalah kerja kolektif, sama seperti lebah yang membangun sarang dan menghasilkan madu.

Namun, Nectar Waggle bukan hanya tentang lebah. Ia adalah tentang manusia yang hidup dalam komunitas, tentang desa yang masih dijalani Kabul dengan ‘ngayah’, membuat topeng barong, mengukir bangunan tradisional, dan menjaga ‘ritme sosial’.

Seni Kabul tidak pernah tercerabut dari akar tradisi, tetapi justru menjadikannya ‘fondasi’ untuk ‘eksplorasi kontemporer’. Di sini, garis menjadi jembatan antara ‘ritual’ dan ‘modernitas’, antara ‘spiritualitas’ dan ‘ekologi’.

Dalam konteks seni Bali kontemporer, Kabul memperlihatkan bahwa tradisi bukanlah beban, melainkan ‘reservoir energi’.

Lebah yang ia lukiskan adalah ‘simbol lentur’ – kadang individu, kadang koloni; kadang figur, kadang abstraksi.

Seperti madu yang lahir dari sari bunga, karya Kabul lahir dari pertemuan antara kesabaran tradisi, ketekunan eksplorasi dan keberanian eksperimen.

Kehidupan lebah sebagai ‘metafora kolektif’, komunikasi, energi, dan keberlangsungan hidup. Kabul menggunakan lebah sebagai ‘bahasa visual’ untuk membicarakan hubungan antar individu, lingkungan, kesuburan, dan refleksi sosial.

Menurut saya, Nectar Waggle adalah perayaan kehidupan kolektif. Kabul mengingatkan kita bahwa seni, seperti lebah, bekerja dalam jaringan – menghubungkan individu dengan komunitas, tradisi dengan kontemporer, dan manusia dengan alam.

Garis-garisnya adalah ‘tarian waggle’ yang mengarahkan kita pada sumber energi batin – bahwa seni adalah madu yang memberi kehidupan, dan proses kreatif adalah tarian yang menuntun kita menuju keberlangsungan.

Saya ingin memadankan karya-karya Kabul dengan beberapa perupa dunia. Awal, Dengan pelukis Wu Guanzhong (Tiongkok) yang dikenal dengan lukisan-lukisan yang memadukan tradisi tinta Tiongkok dengan abstraksi modern. Pemadanan kali ini, khususnya karya Wu yang bertajuk “Spring Snow (II)”

Mengutip dari Ensiklopedi Britannica – Wu menghasilkan lanskap pedesaan Tiongkok atau salju musim semi yang elegan. Pada tahun 1947, ia memenangkan beasiswa untuk belajar di Paris di École Nationale Supérieure des Beaux-Arts, di mana ia tertarik pada karya-karya Impresionis dan Pasca-Impresionis dari Van Gogh , Cézanne , dan Pissarro .

Kembali ke Tiongkok, dukungannya terhadap teknik seni Barat membuatnya menjadi sasaran selama Revolusi Kebudayaan. Ia dijatuhi hukuman dua tahun di kamp kerja paksa, dan banyak karyanya dihancurkan. Baru setelah kematian Mao pada tahun 1976 Wu dapat kembali memamerkan lukisannya, dan ia mengadakan pameran tunggal pertamanya pada tahun 1979.

Seperti Kabul, Wu menggunakan garis dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kolektif. Jika Kabul menyalurkan tarian lebah, Wu menyalurkan denyut kota dan lanskap. Keduanya menegaskan bahwa garis bukan sekadar “formalitas”, melainkan “bahasa kehidupan”.

Menurut interpretasi saya – persamaan antara karya-karya Kabul dalam “Nectar Waggle” dan Wu Guanzhong dalam “Spring Snow II” terletak pada cara keduanya menyalurkan “daya” melalui ‘repetisi bentuk’ dan ‘ritme visual’, meskipun berangkat dari tradisi dan medium yang berbeda.

Kabul dan Wu sama-sama memperlihatkan bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan “energi kolektif” yang hidup dalam kehidupan. Lebah Kabul dan salju Wu adalah ‘metafora’ tentang bagaimana kehidupan kecil, ketika berulang, menjadi kekuatan besar.

Dengan demikian, Nectar Waggle dan Spring Snow II dapat dibaca sebagai ‘puisi visual’ tentang ‘kolektivitas’ – Kabul melalui “ekologi sosial”, Wu melalui “lanskap alam”.

Selain itu, saya juga ingin memadankan dengan Paul Klee. Karya Paul Klee Taman Kastil (1931) adalah salah satu contoh bagaimana ia mengolah geometri, warna, dan ritme visual menjadi “bahasa puitis” yang melampaui sekadar ‘representasi’.

Kabul dengan lebahnya sejalan dengan Klee: keduanya menggunakan figur kecil sebagai pintu masuk menuju gagasan besar tentang “kehidupan, komunikasi, dan spiritualitas”.

Klee sering menulis bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi terlihat.” Dalam karya ini, kotak-kotak kecil adalah huruf-huruf visual, membentuk “teks” yang bisa dibaca sebagai “lanskap sekaligus arsitektur”.

Ia seperti menyusun ‘puisi visual’, di mana setiap warna adalah kata, setiap kotak adalah suku kata. Tak jauh berbeda dengan ratusan lebah pada karya Kabul.

Perbandingan antara karya Paul Klee Taman Kastil (1931) dan karya Kabul dalam Nectar Waggle membuka dialog lintas budaya tentang bagaimana seniman menggunakanrepetisi bentuk, warna, dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kehidupan.

Klee dan Kabul sama-sama memperlihatkan bahwa seni bukan sekadar ‘representasi’, melainkan “daya besar” yang lahir dari “repetisi bentuk kecil”.

Namun, Klee berbicara tentang “kosmos dan musik batin”, sementara Kabul berbicara tentang “ekologi dan komunitas”. Keduanya dapat diposisikan sebagai seniman yang menghadirkan “mosaik kehidupan” –  Klee melalui “kotak warna”, Kabul melalui “ratusan garis lebah”.

Selanjutnya, menelisik karya instalasi Kabul yang dipresentasikan – adalah ratusan lebah yang dikreasi dari bola-bola kuning yang digantung dan ditumpuk di atas permukaan air.

Ini dapat dibaca sebagai perluasan dari tema lebah dan “energi kolektif” yang ia “eksplorasi” dalam pameran Nectar Waggle.

Bola kuning, tafsir saya – menyerupai butiran nektar atau tubuh lebah, menjadi simbol energi kecil yang berlipat ganda ketika dikumpulkan.

Bola-bola yang bergantung menciptakan kesan kawanan yang bergerak, seolah tarian waggle lebah sedang berlangsung di ruang publik.

Permukaan air memperkuat gagasan dunia ganda – realitas dan bayangan, material dan spiritual. Instalasi ini meresap ke lingkungan, menegaskan hubungan antara seni, alam, dan komunitas.

Instalasi karya Ketut “Kabul” Suasana

Instalasi ini mengingatkan pada ekosistem, di mana setiap elemen berperan dalam keseimbangan. Kabul tetap berakar pada praktik repetitif tradisi Bali, namun mengalihkannya ke medium instalasi publik yang kontemporer.

Selanjutnya, saya ingin memadankan karya Kabul tersebut dengan Yayoi Kusama. Instalasi Kusama, juga acap berpusar pada “polkadot dan bola-bola berwarna”, menekankan “repetisi sebagai transendensi”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘Polkadot’ ini merujuk langsung pada pola bintik-bintik atau totol, juga bulir-bulir. Selain pada dunia mode dan pakaian, istilah ‘Polkadot’ juga dikenal dalam dunia teknologi sebagai nama ‘jaringan kripto’ yang menghubungkan berbagai ‘blockchain’ berbeda.

Instalasi Kabul ini adalah ‘tarian waggle’ dalam bentuk ruang publik – bola kuning sebagai lebah – suspensi sebagai gerakan, refleksi sebagai energi ganda. Ia memperluas bahasa visualnya dari kanvas ke ruang, dari garis ke bola, dari figur ke atmosfer.

Dengan cara ini, Kabul menegaskan bahwa seni adalah “metafora kehidupan kolektif” yang dapat dialami bukan hanya sebagai gambar, tetapi sebagai “ruang” yang menyelimuti “tubuh dan batin”.

Kusama dengan polkadot dan repetisi obsesif menghadirkan pengalaman kolektif dan tak terbatas. Kabul dengan ribuan garis repetitif juga membangun dunia yang melampaui individu. Keduanya menegaskan bahwa repetisi adalah jalan menuju transendensi – bahwa pola kecil dapat membuka ruang spiritual yang luas.

Dengan membandingkan Kabul dan seniman dunia, kita melihat bahwa Nectar Waggle bukan hanya pameran lokal, melainkan bagian dari percakapan global tentang seni sebagai ‘metafora kehidupan’. Wu Guanzhong dengan “garis lanskap”, Klee dengan “simbol kosmos”, dan Kusama dengan “repetisi obsesif” – semuanya “beresonansi” dengan tarian lebah Kabul.

Lebah Kabul adalah bahasa universal: ia berbicara tentang kolektivitas, energi, dan keberlangsungan hidup. Dalam tarian waggle itu, seni menjadi komunikasi lintas budaya, lintas tradisi, dan lintas zaman.

Kabul menegaskan bahwa dari Bali, suara seni dapat bergema ke dunia, seperti lebah yang menari untuk menunjukkan arah menuju sumber kehidupan.

Dalam pertemuan imajiner antara “bola perak Kusama” dan “bola kuning Kabul”, kita melihat dua dunia yang berbeda namun saling bersahutan – dunia refleksi yang tak berujung dan dunia kawanan yang berdenyut.

Kusama mengajak kita menatap ke dalam “cermin kosmos”, Kabul mengajak kita “menari bersama lebah”.

Keduanya adalah “metafora” tentang bagaimana seni dapat menyalurkan “keterasingan menjadi keterhubungan, obsesi menjadi kosmos, ekologi menjadi puisi”.

Seolah-olah bola-bola itu, perak dan kuning, berputar bersama di permukaan air, memantulkan langit dan tubuh kita, mengingatkan bahwa kita adalah bagian dari “tarian besar kehidupan”, tarian yang “tak pernah berhenti”, tarian yang selalu “mencari cahaya”. [T]

Tags: I Ketut Suasana KabulKomaneka Fine Art GalleryPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gol versus Gul

Next Post

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co