4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Hartanto by Hartanto
September 3, 2026
in Ulas Rupa
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Ketut Suasana Kabul

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar Waggle, diselenggarakan di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud. 

Kabul (I Ketut Suasana) kelahiran Apuan, Tabanan 1978 – menghadirkan dunia lebah sebagai ‘metafora’ kehidupan kolektif.  Menurut Encyclopaedia Britannica, istilah “nectar” merujuk pada cairan manis yang dihasilkan oleh kelenjar tanaman (nectaries).

Sedangkan “waggle dance” adalah tarian komunikasi lebah pekerja untuk menunjukkan arah dan jarak sumber makanan.

Tidak ada entri khusus “Nectar Waggle” sebagai satu istilah, melainkan gabungan dua konsep biologis: nectar sebagai sumber energi dan ‘waggle dance’ sebagai sistem komunikasi lebah.

Kabul menjadikan keduanya sebagai ‘bahasa visual’ – bagaimana individu berkontribusi pada koloni, bagaimana energi kecil dapat menjadi kekuatan besar, dan bagaimana seni dapat menjadi medium komunikasi lintas ruang batin.

Karya-karya Kabul dibangun dari ribuan garis repetitif, sebuah teknik yang berakar pada tradisi ‘nyawi’ Bali. Garis bukan sekadar elemen formal, melainkan denyut kehidupan yang menyatukan figur lebah dengan gunung, tubuh manusia, naga, lesung, bahkan arsitektur.

Dari garis – lahir tekstur, dari tekstur lahir kawanan, dan dari kawanan lahir ‘metafora’ tentang kebersamaan. Kabul menegaskan bahwa seni adalah kerja kolektif, sama seperti lebah yang membangun sarang dan menghasilkan madu.

Namun, Nectar Waggle bukan hanya tentang lebah. Ia adalah tentang manusia yang hidup dalam komunitas, tentang desa yang masih dijalani Kabul dengan ‘ngayah’, membuat topeng barong, mengukir bangunan tradisional, dan menjaga ‘ritme sosial’.

Seni Kabul tidak pernah tercerabut dari akar tradisi, tetapi justru menjadikannya ‘fondasi’ untuk ‘eksplorasi kontemporer’. Di sini, garis menjadi jembatan antara ‘ritual’ dan ‘modernitas’, antara ‘spiritualitas’ dan ‘ekologi’.

Dalam konteks seni Bali kontemporer, Kabul memperlihatkan bahwa tradisi bukanlah beban, melainkan ‘reservoir energi’.

Lebah yang ia lukiskan adalah ‘simbol lentur’ – kadang individu, kadang koloni; kadang figur, kadang abstraksi.

Seperti madu yang lahir dari sari bunga, karya Kabul lahir dari pertemuan antara kesabaran tradisi, ketekunan eksplorasi dan keberanian eksperimen.

Kehidupan lebah sebagai ‘metafora kolektif’, komunikasi, energi, dan keberlangsungan hidup. Kabul menggunakan lebah sebagai ‘bahasa visual’ untuk membicarakan hubungan antar individu, lingkungan, kesuburan, dan refleksi sosial.

Menurut saya, Nectar Waggle adalah perayaan kehidupan kolektif. Kabul mengingatkan kita bahwa seni, seperti lebah, bekerja dalam jaringan – menghubungkan individu dengan komunitas, tradisi dengan kontemporer, dan manusia dengan alam.

Garis-garisnya adalah ‘tarian waggle’ yang mengarahkan kita pada sumber energi batin – bahwa seni adalah madu yang memberi kehidupan, dan proses kreatif adalah tarian yang menuntun kita menuju keberlangsungan.

Saya ingin memadankan karya-karya Kabul dengan beberapa perupa dunia. Awal, Dengan pelukis Wu Guanzhong (Tiongkok) yang dikenal dengan lukisan-lukisan yang memadukan tradisi tinta Tiongkok dengan abstraksi modern. Pemadanan kali ini, khususnya karya Wu yang bertajuk “Spring Snow (II)”

Mengutip dari Ensiklopedi Britannica – Wu menghasilkan lanskap pedesaan Tiongkok atau salju musim semi yang elegan. Pada tahun 1947, ia memenangkan beasiswa untuk belajar di Paris di École Nationale Supérieure des Beaux-Arts, di mana ia tertarik pada karya-karya Impresionis dan Pasca-Impresionis dari Van Gogh , Cézanne , dan Pissarro .

Kembali ke Tiongkok, dukungannya terhadap teknik seni Barat membuatnya menjadi sasaran selama Revolusi Kebudayaan. Ia dijatuhi hukuman dua tahun di kamp kerja paksa, dan banyak karyanya dihancurkan. Baru setelah kematian Mao pada tahun 1976 Wu dapat kembali memamerkan lukisannya, dan ia mengadakan pameran tunggal pertamanya pada tahun 1979.

Seperti Kabul, Wu menggunakan garis dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kolektif. Jika Kabul menyalurkan tarian lebah, Wu menyalurkan denyut kota dan lanskap. Keduanya menegaskan bahwa garis bukan sekadar “formalitas”, melainkan “bahasa kehidupan”.

Menurut interpretasi saya – persamaan antara karya-karya Kabul dalam “Nectar Waggle” dan Wu Guanzhong dalam “Spring Snow II” terletak pada cara keduanya menyalurkan “daya” melalui ‘repetisi bentuk’ dan ‘ritme visual’, meskipun berangkat dari tradisi dan medium yang berbeda.

Kabul dan Wu sama-sama memperlihatkan bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan “energi kolektif” yang hidup dalam kehidupan. Lebah Kabul dan salju Wu adalah ‘metafora’ tentang bagaimana kehidupan kecil, ketika berulang, menjadi kekuatan besar.

Dengan demikian, Nectar Waggle dan Spring Snow II dapat dibaca sebagai ‘puisi visual’ tentang ‘kolektivitas’ – Kabul melalui “ekologi sosial”, Wu melalui “lanskap alam”.

Selain itu, saya juga ingin memadankan dengan Paul Klee. Karya Paul Klee Taman Kastil (1931) adalah salah satu contoh bagaimana ia mengolah geometri, warna, dan ritme visual menjadi “bahasa puitis” yang melampaui sekadar ‘representasi’.

Kabul dengan lebahnya sejalan dengan Klee: keduanya menggunakan figur kecil sebagai pintu masuk menuju gagasan besar tentang “kehidupan, komunikasi, dan spiritualitas”.

Klee sering menulis bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi terlihat.” Dalam karya ini, kotak-kotak kecil adalah huruf-huruf visual, membentuk “teks” yang bisa dibaca sebagai “lanskap sekaligus arsitektur”.

Ia seperti menyusun ‘puisi visual’, di mana setiap warna adalah kata, setiap kotak adalah suku kata. Tak jauh berbeda dengan ratusan lebah pada karya Kabul.

Perbandingan antara karya Paul Klee Taman Kastil (1931) dan karya Kabul dalam Nectar Waggle membuka dialog lintas budaya tentang bagaimana seniman menggunakanrepetisi bentuk, warna, dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kehidupan.

Klee dan Kabul sama-sama memperlihatkan bahwa seni bukan sekadar ‘representasi’, melainkan “daya besar” yang lahir dari “repetisi bentuk kecil”.

Namun, Klee berbicara tentang “kosmos dan musik batin”, sementara Kabul berbicara tentang “ekologi dan komunitas”. Keduanya dapat diposisikan sebagai seniman yang menghadirkan “mosaik kehidupan” –  Klee melalui “kotak warna”, Kabul melalui “ratusan garis lebah”.

Selanjutnya, menelisik karya instalasi Kabul yang dipresentasikan – adalah ratusan lebah yang dikreasi dari bola-bola kuning yang digantung dan ditumpuk di atas permukaan air.

Ini dapat dibaca sebagai perluasan dari tema lebah dan “energi kolektif” yang ia “eksplorasi” dalam pameran Nectar Waggle.

Bola kuning, tafsir saya – menyerupai butiran nektar atau tubuh lebah, menjadi simbol energi kecil yang berlipat ganda ketika dikumpulkan.

Bola-bola yang bergantung menciptakan kesan kawanan yang bergerak, seolah tarian waggle lebah sedang berlangsung di ruang publik.

Permukaan air memperkuat gagasan dunia ganda – realitas dan bayangan, material dan spiritual. Instalasi ini meresap ke lingkungan, menegaskan hubungan antara seni, alam, dan komunitas.

Instalasi karya Ketut “Kabul” Suasana

Instalasi ini mengingatkan pada ekosistem, di mana setiap elemen berperan dalam keseimbangan. Kabul tetap berakar pada praktik repetitif tradisi Bali, namun mengalihkannya ke medium instalasi publik yang kontemporer.

Selanjutnya, saya ingin memadankan karya Kabul tersebut dengan Yayoi Kusama. Instalasi Kusama, juga acap berpusar pada “polkadot dan bola-bola berwarna”, menekankan “repetisi sebagai transendensi”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘Polkadot’ ini merujuk langsung pada pola bintik-bintik atau totol, juga bulir-bulir. Selain pada dunia mode dan pakaian, istilah ‘Polkadot’ juga dikenal dalam dunia teknologi sebagai nama ‘jaringan kripto’ yang menghubungkan berbagai ‘blockchain’ berbeda.

Instalasi Kabul ini adalah ‘tarian waggle’ dalam bentuk ruang publik – bola kuning sebagai lebah – suspensi sebagai gerakan, refleksi sebagai energi ganda. Ia memperluas bahasa visualnya dari kanvas ke ruang, dari garis ke bola, dari figur ke atmosfer.

Dengan cara ini, Kabul menegaskan bahwa seni adalah “metafora kehidupan kolektif” yang dapat dialami bukan hanya sebagai gambar, tetapi sebagai “ruang” yang menyelimuti “tubuh dan batin”.

Kusama dengan polkadot dan repetisi obsesif menghadirkan pengalaman kolektif dan tak terbatas. Kabul dengan ribuan garis repetitif juga membangun dunia yang melampaui individu. Keduanya menegaskan bahwa repetisi adalah jalan menuju transendensi – bahwa pola kecil dapat membuka ruang spiritual yang luas.

Dengan membandingkan Kabul dan seniman dunia, kita melihat bahwa Nectar Waggle bukan hanya pameran lokal, melainkan bagian dari percakapan global tentang seni sebagai ‘metafora kehidupan’. Wu Guanzhong dengan “garis lanskap”, Klee dengan “simbol kosmos”, dan Kusama dengan “repetisi obsesif” – semuanya “beresonansi” dengan tarian lebah Kabul.

Lebah Kabul adalah bahasa universal: ia berbicara tentang kolektivitas, energi, dan keberlangsungan hidup. Dalam tarian waggle itu, seni menjadi komunikasi lintas budaya, lintas tradisi, dan lintas zaman.

Kabul menegaskan bahwa dari Bali, suara seni dapat bergema ke dunia, seperti lebah yang menari untuk menunjukkan arah menuju sumber kehidupan.

Dalam pertemuan imajiner antara “bola perak Kusama” dan “bola kuning Kabul”, kita melihat dua dunia yang berbeda namun saling bersahutan – dunia refleksi yang tak berujung dan dunia kawanan yang berdenyut.

Kusama mengajak kita menatap ke dalam “cermin kosmos”, Kabul mengajak kita “menari bersama lebah”.

Keduanya adalah “metafora” tentang bagaimana seni dapat menyalurkan “keterasingan menjadi keterhubungan, obsesi menjadi kosmos, ekologi menjadi puisi”.

Seolah-olah bola-bola itu, perak dan kuning, berputar bersama di permukaan air, memantulkan langit dan tubuh kita, mengingatkan bahwa kita adalah bagian dari “tarian besar kehidupan”, tarian yang “tak pernah berhenti”, tarian yang selalu “mencari cahaya”. [T]

Tags: I Ketut Suasana KabulKomaneka Fine Art GalleryPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gol versus Gul

Next Post

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co