PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk Nectar Waggle, diselenggarakan di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud.
Kabul (I Ketut Suasana) kelahiran Apuan, Tabanan 1978 – menghadirkan dunia lebah sebagai ‘metafora’ kehidupan kolektif. Menurut Encyclopaedia Britannica, istilah “nectar” merujuk pada cairan manis yang dihasilkan oleh kelenjar tanaman (nectaries).
Sedangkan “waggle dance” adalah tarian komunikasi lebah pekerja untuk menunjukkan arah dan jarak sumber makanan.
Tidak ada entri khusus “Nectar Waggle” sebagai satu istilah, melainkan gabungan dua konsep biologis: nectar sebagai sumber energi dan ‘waggle dance’ sebagai sistem komunikasi lebah.

Kabul menjadikan keduanya sebagai ‘bahasa visual’ – bagaimana individu berkontribusi pada koloni, bagaimana energi kecil dapat menjadi kekuatan besar, dan bagaimana seni dapat menjadi medium komunikasi lintas ruang batin.
Karya-karya Kabul dibangun dari ribuan garis repetitif, sebuah teknik yang berakar pada tradisi ‘nyawi’ Bali. Garis bukan sekadar elemen formal, melainkan denyut kehidupan yang menyatukan figur lebah dengan gunung, tubuh manusia, naga, lesung, bahkan arsitektur.
Dari garis – lahir tekstur, dari tekstur lahir kawanan, dan dari kawanan lahir ‘metafora’ tentang kebersamaan. Kabul menegaskan bahwa seni adalah kerja kolektif, sama seperti lebah yang membangun sarang dan menghasilkan madu.
Namun, Nectar Waggle bukan hanya tentang lebah. Ia adalah tentang manusia yang hidup dalam komunitas, tentang desa yang masih dijalani Kabul dengan ‘ngayah’, membuat topeng barong, mengukir bangunan tradisional, dan menjaga ‘ritme sosial’.

Seni Kabul tidak pernah tercerabut dari akar tradisi, tetapi justru menjadikannya ‘fondasi’ untuk ‘eksplorasi kontemporer’. Di sini, garis menjadi jembatan antara ‘ritual’ dan ‘modernitas’, antara ‘spiritualitas’ dan ‘ekologi’.
Dalam konteks seni Bali kontemporer, Kabul memperlihatkan bahwa tradisi bukanlah beban, melainkan ‘reservoir energi’.
Lebah yang ia lukiskan adalah ‘simbol lentur’ – kadang individu, kadang koloni; kadang figur, kadang abstraksi.
Seperti madu yang lahir dari sari bunga, karya Kabul lahir dari pertemuan antara kesabaran tradisi, ketekunan eksplorasi dan keberanian eksperimen.
Kehidupan lebah sebagai ‘metafora kolektif’, komunikasi, energi, dan keberlangsungan hidup. Kabul menggunakan lebah sebagai ‘bahasa visual’ untuk membicarakan hubungan antar individu, lingkungan, kesuburan, dan refleksi sosial.

Menurut saya, Nectar Waggle adalah perayaan kehidupan kolektif. Kabul mengingatkan kita bahwa seni, seperti lebah, bekerja dalam jaringan – menghubungkan individu dengan komunitas, tradisi dengan kontemporer, dan manusia dengan alam.
Garis-garisnya adalah ‘tarian waggle’ yang mengarahkan kita pada sumber energi batin – bahwa seni adalah madu yang memberi kehidupan, dan proses kreatif adalah tarian yang menuntun kita menuju keberlangsungan.
Saya ingin memadankan karya-karya Kabul dengan beberapa perupa dunia. Awal, Dengan pelukis Wu Guanzhong (Tiongkok) yang dikenal dengan lukisan-lukisan yang memadukan tradisi tinta Tiongkok dengan abstraksi modern. Pemadanan kali ini, khususnya karya Wu yang bertajuk “Spring Snow (II)”

Mengutip dari Ensiklopedi Britannica – Wu menghasilkan lanskap pedesaan Tiongkok atau salju musim semi yang elegan. Pada tahun 1947, ia memenangkan beasiswa untuk belajar di Paris di École Nationale Supérieure des Beaux-Arts, di mana ia tertarik pada karya-karya Impresionis dan Pasca-Impresionis dari Van Gogh , Cézanne , dan Pissarro .
Kembali ke Tiongkok, dukungannya terhadap teknik seni Barat membuatnya menjadi sasaran selama Revolusi Kebudayaan. Ia dijatuhi hukuman dua tahun di kamp kerja paksa, dan banyak karyanya dihancurkan. Baru setelah kematian Mao pada tahun 1976 Wu dapat kembali memamerkan lukisannya, dan ia mengadakan pameran tunggal pertamanya pada tahun 1979.
Seperti Kabul, Wu menggunakan garis dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kolektif. Jika Kabul menyalurkan tarian lebah, Wu menyalurkan denyut kota dan lanskap. Keduanya menegaskan bahwa garis bukan sekadar “formalitas”, melainkan “bahasa kehidupan”.
Menurut interpretasi saya – persamaan antara karya-karya Kabul dalam “Nectar Waggle” dan Wu Guanzhong dalam “Spring Snow II” terletak pada cara keduanya menyalurkan “daya” melalui ‘repetisi bentuk’ dan ‘ritme visual’, meskipun berangkat dari tradisi dan medium yang berbeda.
Kabul dan Wu sama-sama memperlihatkan bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan “energi kolektif” yang hidup dalam kehidupan. Lebah Kabul dan salju Wu adalah ‘metafora’ tentang bagaimana kehidupan kecil, ketika berulang, menjadi kekuatan besar.
Dengan demikian, Nectar Waggle dan Spring Snow II dapat dibaca sebagai ‘puisi visual’ tentang ‘kolektivitas’ – Kabul melalui “ekologi sosial”, Wu melalui “lanskap alam”.

Selain itu, saya juga ingin memadankan dengan Paul Klee. Karya Paul Klee Taman Kastil (1931) adalah salah satu contoh bagaimana ia mengolah geometri, warna, dan ritme visual menjadi “bahasa puitis” yang melampaui sekadar ‘representasi’.
Kabul dengan lebahnya sejalan dengan Klee: keduanya menggunakan figur kecil sebagai pintu masuk menuju gagasan besar tentang “kehidupan, komunikasi, dan spiritualitas”.
Klee sering menulis bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi terlihat.” Dalam karya ini, kotak-kotak kecil adalah huruf-huruf visual, membentuk “teks” yang bisa dibaca sebagai “lanskap sekaligus arsitektur”.
Ia seperti menyusun ‘puisi visual’, di mana setiap warna adalah kata, setiap kotak adalah suku kata. Tak jauh berbeda dengan ratusan lebah pada karya Kabul.
Perbandingan antara karya Paul Klee Taman Kastil (1931) dan karya Kabul dalam Nectar Waggle membuka dialog lintas budaya tentang bagaimana seniman menggunakanrepetisi bentuk, warna, dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kehidupan.
Klee dan Kabul sama-sama memperlihatkan bahwa seni bukan sekadar ‘representasi’, melainkan “daya besar” yang lahir dari “repetisi bentuk kecil”.
Namun, Klee berbicara tentang “kosmos dan musik batin”, sementara Kabul berbicara tentang “ekologi dan komunitas”. Keduanya dapat diposisikan sebagai seniman yang menghadirkan “mosaik kehidupan” – Klee melalui “kotak warna”, Kabul melalui “ratusan garis lebah”.
Selanjutnya, menelisik karya instalasi Kabul yang dipresentasikan – adalah ratusan lebah yang dikreasi dari bola-bola kuning yang digantung dan ditumpuk di atas permukaan air.
Ini dapat dibaca sebagai perluasan dari tema lebah dan “energi kolektif” yang ia “eksplorasi” dalam pameran Nectar Waggle.
Bola kuning, tafsir saya – menyerupai butiran nektar atau tubuh lebah, menjadi simbol energi kecil yang berlipat ganda ketika dikumpulkan.
Bola-bola yang bergantung menciptakan kesan kawanan yang bergerak, seolah tarian waggle lebah sedang berlangsung di ruang publik.
Permukaan air memperkuat gagasan dunia ganda – realitas dan bayangan, material dan spiritual. Instalasi ini meresap ke lingkungan, menegaskan hubungan antara seni, alam, dan komunitas.

Instalasi ini mengingatkan pada ekosistem, di mana setiap elemen berperan dalam keseimbangan. Kabul tetap berakar pada praktik repetitif tradisi Bali, namun mengalihkannya ke medium instalasi publik yang kontemporer.
Selanjutnya, saya ingin memadankan karya Kabul tersebut dengan Yayoi Kusama. Instalasi Kusama, juga acap berpusar pada “polkadot dan bola-bola berwarna”, menekankan “repetisi sebagai transendensi”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘Polkadot’ ini merujuk langsung pada pola bintik-bintik atau totol, juga bulir-bulir. Selain pada dunia mode dan pakaian, istilah ‘Polkadot’ juga dikenal dalam dunia teknologi sebagai nama ‘jaringan kripto’ yang menghubungkan berbagai ‘blockchain’ berbeda.
Instalasi Kabul ini adalah ‘tarian waggle’ dalam bentuk ruang publik – bola kuning sebagai lebah – suspensi sebagai gerakan, refleksi sebagai energi ganda. Ia memperluas bahasa visualnya dari kanvas ke ruang, dari garis ke bola, dari figur ke atmosfer.
Dengan cara ini, Kabul menegaskan bahwa seni adalah “metafora kehidupan kolektif” yang dapat dialami bukan hanya sebagai gambar, tetapi sebagai “ruang” yang menyelimuti “tubuh dan batin”.
Kusama dengan polkadot dan repetisi obsesif menghadirkan pengalaman kolektif dan tak terbatas. Kabul dengan ribuan garis repetitif juga membangun dunia yang melampaui individu. Keduanya menegaskan bahwa repetisi adalah jalan menuju transendensi – bahwa pola kecil dapat membuka ruang spiritual yang luas.
Dengan membandingkan Kabul dan seniman dunia, kita melihat bahwa Nectar Waggle bukan hanya pameran lokal, melainkan bagian dari percakapan global tentang seni sebagai ‘metafora kehidupan’. Wu Guanzhong dengan “garis lanskap”, Klee dengan “simbol kosmos”, dan Kusama dengan “repetisi obsesif” – semuanya “beresonansi” dengan tarian lebah Kabul.
Lebah Kabul adalah bahasa universal: ia berbicara tentang kolektivitas, energi, dan keberlangsungan hidup. Dalam tarian waggle itu, seni menjadi komunikasi lintas budaya, lintas tradisi, dan lintas zaman.
Kabul menegaskan bahwa dari Bali, suara seni dapat bergema ke dunia, seperti lebah yang menari untuk menunjukkan arah menuju sumber kehidupan.
Dalam pertemuan imajiner antara “bola perak Kusama” dan “bola kuning Kabul”, kita melihat dua dunia yang berbeda namun saling bersahutan – dunia refleksi yang tak berujung dan dunia kawanan yang berdenyut.
Kusama mengajak kita menatap ke dalam “cermin kosmos”, Kabul mengajak kita “menari bersama lebah”.
Keduanya adalah “metafora” tentang bagaimana seni dapat menyalurkan “keterasingan menjadi keterhubungan, obsesi menjadi kosmos, ekologi menjadi puisi”.
Seolah-olah bola-bola itu, perak dan kuning, berputar bersama di permukaan air, memantulkan langit dan tubuh kita, mengingatkan bahwa kita adalah bagian dari “tarian besar kehidupan”, tarian yang “tak pernah berhenti”, tarian yang selalu “mencari cahaya”. [T]




















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









