4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Hartanto by Hartanto
September 3, 2026
in Ulas Rupa
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Ketut Suasana Kabul

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar Waggle, diselenggarakan di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud. 

Kabul (I Ketut Suasana) kelahiran Apuan, Tabanan 1978 – menghadirkan dunia lebah sebagai ‘metafora’ kehidupan kolektif.  Menurut Encyclopaedia Britannica, istilah “nectar” merujuk pada cairan manis yang dihasilkan oleh kelenjar tanaman (nectaries).

Sedangkan “waggle dance” adalah tarian komunikasi lebah pekerja untuk menunjukkan arah dan jarak sumber makanan.

Tidak ada entri khusus “Nectar Waggle” sebagai satu istilah, melainkan gabungan dua konsep biologis: nectar sebagai sumber energi dan ‘waggle dance’ sebagai sistem komunikasi lebah.

Kabul menjadikan keduanya sebagai ‘bahasa visual’ – bagaimana individu berkontribusi pada koloni, bagaimana energi kecil dapat menjadi kekuatan besar, dan bagaimana seni dapat menjadi medium komunikasi lintas ruang batin.

Karya-karya Kabul dibangun dari ribuan garis repetitif, sebuah teknik yang berakar pada tradisi ‘nyawi’ Bali. Garis bukan sekadar elemen formal, melainkan denyut kehidupan yang menyatukan figur lebah dengan gunung, tubuh manusia, naga, lesung, bahkan arsitektur.

Dari garis – lahir tekstur, dari tekstur lahir kawanan, dan dari kawanan lahir ‘metafora’ tentang kebersamaan. Kabul menegaskan bahwa seni adalah kerja kolektif, sama seperti lebah yang membangun sarang dan menghasilkan madu.

Namun, Nectar Waggle bukan hanya tentang lebah. Ia adalah tentang manusia yang hidup dalam komunitas, tentang desa yang masih dijalani Kabul dengan ‘ngayah’, membuat topeng barong, mengukir bangunan tradisional, dan menjaga ‘ritme sosial’.

Seni Kabul tidak pernah tercerabut dari akar tradisi, tetapi justru menjadikannya ‘fondasi’ untuk ‘eksplorasi kontemporer’. Di sini, garis menjadi jembatan antara ‘ritual’ dan ‘modernitas’, antara ‘spiritualitas’ dan ‘ekologi’.

Dalam konteks seni Bali kontemporer, Kabul memperlihatkan bahwa tradisi bukanlah beban, melainkan ‘reservoir energi’.

Lebah yang ia lukiskan adalah ‘simbol lentur’ – kadang individu, kadang koloni; kadang figur, kadang abstraksi.

Seperti madu yang lahir dari sari bunga, karya Kabul lahir dari pertemuan antara kesabaran tradisi, ketekunan eksplorasi dan keberanian eksperimen.

Kehidupan lebah sebagai ‘metafora kolektif’, komunikasi, energi, dan keberlangsungan hidup. Kabul menggunakan lebah sebagai ‘bahasa visual’ untuk membicarakan hubungan antar individu, lingkungan, kesuburan, dan refleksi sosial.

Menurut saya, Nectar Waggle adalah perayaan kehidupan kolektif. Kabul mengingatkan kita bahwa seni, seperti lebah, bekerja dalam jaringan – menghubungkan individu dengan komunitas, tradisi dengan kontemporer, dan manusia dengan alam.

Garis-garisnya adalah ‘tarian waggle’ yang mengarahkan kita pada sumber energi batin – bahwa seni adalah madu yang memberi kehidupan, dan proses kreatif adalah tarian yang menuntun kita menuju keberlangsungan.

Saya ingin memadankan karya-karya Kabul dengan beberapa perupa dunia. Awal, Dengan pelukis Wu Guanzhong (Tiongkok) yang dikenal dengan lukisan-lukisan yang memadukan tradisi tinta Tiongkok dengan abstraksi modern. Pemadanan kali ini, khususnya karya Wu yang bertajuk “Spring Snow (II)”

Mengutip dari Ensiklopedi Britannica – Wu menghasilkan lanskap pedesaan Tiongkok atau salju musim semi yang elegan. Pada tahun 1947, ia memenangkan beasiswa untuk belajar di Paris di École Nationale Supérieure des Beaux-Arts, di mana ia tertarik pada karya-karya Impresionis dan Pasca-Impresionis dari Van Gogh , Cézanne , dan Pissarro .

Kembali ke Tiongkok, dukungannya terhadap teknik seni Barat membuatnya menjadi sasaran selama Revolusi Kebudayaan. Ia dijatuhi hukuman dua tahun di kamp kerja paksa, dan banyak karyanya dihancurkan. Baru setelah kematian Mao pada tahun 1976 Wu dapat kembali memamerkan lukisannya, dan ia mengadakan pameran tunggal pertamanya pada tahun 1979.

Seperti Kabul, Wu menggunakan garis dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kolektif. Jika Kabul menyalurkan tarian lebah, Wu menyalurkan denyut kota dan lanskap. Keduanya menegaskan bahwa garis bukan sekadar “formalitas”, melainkan “bahasa kehidupan”.

Menurut interpretasi saya – persamaan antara karya-karya Kabul dalam “Nectar Waggle” dan Wu Guanzhong dalam “Spring Snow II” terletak pada cara keduanya menyalurkan “daya” melalui ‘repetisi bentuk’ dan ‘ritme visual’, meskipun berangkat dari tradisi dan medium yang berbeda.

Kabul dan Wu sama-sama memperlihatkan bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan “energi kolektif” yang hidup dalam kehidupan. Lebah Kabul dan salju Wu adalah ‘metafora’ tentang bagaimana kehidupan kecil, ketika berulang, menjadi kekuatan besar.

Dengan demikian, Nectar Waggle dan Spring Snow II dapat dibaca sebagai ‘puisi visual’ tentang ‘kolektivitas’ – Kabul melalui “ekologi sosial”, Wu melalui “lanskap alam”.

Selain itu, saya juga ingin memadankan dengan Paul Klee. Karya Paul Klee Taman Kastil (1931) adalah salah satu contoh bagaimana ia mengolah geometri, warna, dan ritme visual menjadi “bahasa puitis” yang melampaui sekadar ‘representasi’.

Kabul dengan lebahnya sejalan dengan Klee: keduanya menggunakan figur kecil sebagai pintu masuk menuju gagasan besar tentang “kehidupan, komunikasi, dan spiritualitas”.

Klee sering menulis bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi terlihat.” Dalam karya ini, kotak-kotak kecil adalah huruf-huruf visual, membentuk “teks” yang bisa dibaca sebagai “lanskap sekaligus arsitektur”.

Ia seperti menyusun ‘puisi visual’, di mana setiap warna adalah kata, setiap kotak adalah suku kata. Tak jauh berbeda dengan ratusan lebah pada karya Kabul.

Perbandingan antara karya Paul Klee Taman Kastil (1931) dan karya Kabul dalam Nectar Waggle membuka dialog lintas budaya tentang bagaimana seniman menggunakanrepetisi bentuk, warna, dan ritme visual untuk mengekspresikan energi kehidupan.

Klee dan Kabul sama-sama memperlihatkan bahwa seni bukan sekadar ‘representasi’, melainkan “daya besar” yang lahir dari “repetisi bentuk kecil”.

Namun, Klee berbicara tentang “kosmos dan musik batin”, sementara Kabul berbicara tentang “ekologi dan komunitas”. Keduanya dapat diposisikan sebagai seniman yang menghadirkan “mosaik kehidupan” –  Klee melalui “kotak warna”, Kabul melalui “ratusan garis lebah”.

Selanjutnya, menelisik karya instalasi Kabul yang dipresentasikan – adalah ratusan lebah yang dikreasi dari bola-bola kuning yang digantung dan ditumpuk di atas permukaan air.

Ini dapat dibaca sebagai perluasan dari tema lebah dan “energi kolektif” yang ia “eksplorasi” dalam pameran Nectar Waggle.

Bola kuning, tafsir saya – menyerupai butiran nektar atau tubuh lebah, menjadi simbol energi kecil yang berlipat ganda ketika dikumpulkan.

Bola-bola yang bergantung menciptakan kesan kawanan yang bergerak, seolah tarian waggle lebah sedang berlangsung di ruang publik.

Permukaan air memperkuat gagasan dunia ganda – realitas dan bayangan, material dan spiritual. Instalasi ini meresap ke lingkungan, menegaskan hubungan antara seni, alam, dan komunitas.

Instalasi karya Ketut “Kabul” Suasana

Instalasi ini mengingatkan pada ekosistem, di mana setiap elemen berperan dalam keseimbangan. Kabul tetap berakar pada praktik repetitif tradisi Bali, namun mengalihkannya ke medium instalasi publik yang kontemporer.

Selanjutnya, saya ingin memadankan karya Kabul tersebut dengan Yayoi Kusama. Instalasi Kusama, juga acap berpusar pada “polkadot dan bola-bola berwarna”, menekankan “repetisi sebagai transendensi”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘Polkadot’ ini merujuk langsung pada pola bintik-bintik atau totol, juga bulir-bulir. Selain pada dunia mode dan pakaian, istilah ‘Polkadot’ juga dikenal dalam dunia teknologi sebagai nama ‘jaringan kripto’ yang menghubungkan berbagai ‘blockchain’ berbeda.

Instalasi Kabul ini adalah ‘tarian waggle’ dalam bentuk ruang publik – bola kuning sebagai lebah – suspensi sebagai gerakan, refleksi sebagai energi ganda. Ia memperluas bahasa visualnya dari kanvas ke ruang, dari garis ke bola, dari figur ke atmosfer.

Dengan cara ini, Kabul menegaskan bahwa seni adalah “metafora kehidupan kolektif” yang dapat dialami bukan hanya sebagai gambar, tetapi sebagai “ruang” yang menyelimuti “tubuh dan batin”.

Kusama dengan polkadot dan repetisi obsesif menghadirkan pengalaman kolektif dan tak terbatas. Kabul dengan ribuan garis repetitif juga membangun dunia yang melampaui individu. Keduanya menegaskan bahwa repetisi adalah jalan menuju transendensi – bahwa pola kecil dapat membuka ruang spiritual yang luas.

Dengan membandingkan Kabul dan seniman dunia, kita melihat bahwa Nectar Waggle bukan hanya pameran lokal, melainkan bagian dari percakapan global tentang seni sebagai ‘metafora kehidupan’. Wu Guanzhong dengan “garis lanskap”, Klee dengan “simbol kosmos”, dan Kusama dengan “repetisi obsesif” – semuanya “beresonansi” dengan tarian lebah Kabul.

Lebah Kabul adalah bahasa universal: ia berbicara tentang kolektivitas, energi, dan keberlangsungan hidup. Dalam tarian waggle itu, seni menjadi komunikasi lintas budaya, lintas tradisi, dan lintas zaman.

Kabul menegaskan bahwa dari Bali, suara seni dapat bergema ke dunia, seperti lebah yang menari untuk menunjukkan arah menuju sumber kehidupan.

Dalam pertemuan imajiner antara “bola perak Kusama” dan “bola kuning Kabul”, kita melihat dua dunia yang berbeda namun saling bersahutan – dunia refleksi yang tak berujung dan dunia kawanan yang berdenyut.

Kusama mengajak kita menatap ke dalam “cermin kosmos”, Kabul mengajak kita “menari bersama lebah”.

Keduanya adalah “metafora” tentang bagaimana seni dapat menyalurkan “keterasingan menjadi keterhubungan, obsesi menjadi kosmos, ekologi menjadi puisi”.

Seolah-olah bola-bola itu, perak dan kuning, berputar bersama di permukaan air, memantulkan langit dan tubuh kita, mengingatkan bahwa kita adalah bagian dari “tarian besar kehidupan”, tarian yang “tak pernah berhenti”, tarian yang selalu “mencari cahaya”. [T]

Tags: I Ketut Suasana KabulKomaneka Fine Art GalleryPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gol versus Gul

Next Post

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co