27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Naga Agus Kama Loedin

I Wayan Westa by I Wayan Westa
September 16, 2026
in Ulas Rupa
Membaca Naga Agus Kama Loedin

Pameran seni rupa Agus Kama Loedin di Venue Art, Batu & Studio di Batubulan, Gianyar

—Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026

*

Pameran “Jaga Raga Bara Jiwa” dibuka  Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana. Pembukaan itu menjadi penanda bahwa ruang Venue Art, Batu & Studio di Batubulan, Gianyar, malam itu tidak sekadar menjadi galeri, tetapi menjadi ruang temu antara seni, mitologi, sekaligus kegelisahan seniman pada kelindan zaman.

Batu & Studio sendiri merupakan ruang seni milik perupa I Putu Bonuz Sudiana, seniman ”gebuh” yang selama ini dikenal konsisten membuka tempatnya untuk dialog seni kontemporer dan tradisi.

Di ruang itulah Agus Kama Loedin, perupa yang doyan nomaden ini, dan menyebut dirinya arkeolog “gagal”, menghadirkan puluhan karya tunggalnya. Kali ini Agus, demikian ia kerap disapa, seperti menyeruak dunia purba mitologi dalam peradaban Jawa dan Bali. Kawat, serbuk perak, dan tinta adalah media paling lazim dipakai untuk mendaraskan dunia rupa.

Lelaki kelahiran 11 Oktober 1962 ini tidak memberi kita pergulatan  rumit sebagaimana ilmuwan modern, atau seniman avant garde. Dia mengebor, mengeksplorasi kanal dirinya guna melahirkan rupa naga dalam berbagai ekspresi dan medium. Ini  memerlukan ketekunan, ketelatenan, selain pergulatan batin tentu. Semua yang dia wujudkan ke dalam rupa  berkat keberaniannya memasuki dunia gelap mitologi. Ke dunia purba mistis  itu dia berdialog, merenung, lalu dalam pergulatan intuitif itu; naga-naga menyembul dari renungan  kreatifnya.

Entah dia berdialog dengan dirinya sendiri, atau bercakap dengan makhluk-makhluk yang telah menjadi dunia asing di dunia nyata. Namun Agus Kama Loedin menuntun naga-naga itu ke ruang-ruang  lebih kontemplatif maupun ke ruang kerumunan bernama pameran. Di lekukan kawat-kawat itu, atau di tatahan kulit kerbau dan sapi, pria kelahiran Surabaya ini seperti menekuk-nekuk kerinduan intuitif,  lantas mendialogkan kerinduan itu pada para penikmat seni.

Bisa jadi semua yang hadir, termasuk sang  kreator memiliki ruang simak tersendiri, karena di titik ini, seni  menyangkut hal-hal yang tidak selesai di titik definisi — ruang jelajah yang selalu terbuka, tidak pernah purna di ruang perdebatan. Pun tidak pernah selesai di garis perburuan. Bagi Agus, naga-naga itu adalah perburuan di gua mitologi  gelap, lalu  mencari nyala dalam dialog-dialog eksegesis, sekaligus devosi kreatif sang seniman.

Agus seolah menembakkan kegelisahan semesta, manakala bumi senantiasa bersabar dalam penderitaan. Pencemaran, polusi, serta ancaman pestisida adalah teror langsung  – saat  mana manusia hendak melibatgandakan produk,  merebut sebanyak-banyaknya yang bisa manusia kuasai.

Dan di titik ini hidup pun jadi sejenis perlombaan. Lalu  puluhan anyaman naga dari kawat dan kulit  keluar dari  tubuh rohani Kama Loedin. Entah ini sebagai rintihan bumi, lingkungan yang rusak, atau ia  tengah merintih kesakitan menyaksikan vandalisme  yang menimpa alam, menunjukkan tak cuma kerakusan manusia. Namun  juga  menunjukkan   kemaruk kapitalisme. Dari sinilah naga-naga  simbol  penjaga bumi keluar dari  intuisi Agus Kama Loedin. Dan naga-naga itu menghardik dingin.

Menatap bayangan-bayangan naga, baik yang terbuat dari kulit maupun dari anyaman kawat, terkesan betapa jauhnya jarak itu. Agus seperti membangun jarak imajiner. Betapa dari kegelisahan  itu  mesti dipahami, manusia disusui alam,  lalu dengan akalnya yang  cerdik, dengan keangkuhan rasio, manusia memporada ibu bumi dengan segala upaya tehnik. Tentu ini adalah tindakan yang  memunggungi  kearifan hidup  dan juga memberangus   kesinambangun ekosistem.

Di pojok di lain, di ruang Batu Studio, kita  menyaksikan bayangan naga terbang, dianyam dan dirajut dari kulit. Bayangan-bayangan naga itu, menyerupai bayangan naga langit, dari mitologi Cina. Walau di Nusantara sendiri, dalam tradisi kuna, sebagaimana digambarkan kitab Adiparwa, kita juga membaca naga terbang bernama Taksaka.

Agus seakan-akan menampilkan dua tipologi naga. Baik naga bumi maupun naga langit. Naga bumi memanggil manusia bagaimana merawat bumi, supaya bumi selalu menjadi sumber hidup bersama. Naga langit, selain bersifat mitologis, dia adalah gambaran dari kekuasaan naga, kekuasaan yang pelan-pelan dipreteli  manusia  dalam kerakusannya menguasai bumi. Inilah  sekaligus  memotret kegelisahan intuitif Agus Kama Loedin, dan dalam pameran itu menunjukkan ia adalah seniman yang selalu mencari jalan, memburu bayang-bayang naga mitologis.

Ada satu naga kecil berwarna hijau lumut, tengah memeluk batu hitam, kepala naga memakai mahkota emas, sementara ekornya juga memakai perhiasan emas. Kita teringat narasi “tutur tiga” dari kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular. Saat seekor naga hendak memangsa Sutasoma, tiba-tiba sang naga mendapat penyadaran ilahi, sang naga lalu memohon menjadi murid Sutasoma, yang telah purna dalam kesempurnaan jiwa —  membalik keangkeran menjadi welas asih, membalik api menjadi air, menuntaskan kemarahan menjadi keteduhan perawat jiwa. Boleh jadi seperti itulah harapan sang kreator, berniat menyadarkan supaya  kerakusan berpulang menjadi energi yang merawat, membalik kemarahan menjadi tutur penyejuk.

Saya berdiri cukup lama di depan naga kecil itu. Hijau lumutnya tenang, tapi mahkota emasnya seperti menahan sesuatu yang berat. Di titik itu saya merasa ditegur. Bahwa welas asih bukan kelemahan, melainkan keberanian puncak  melawan kerakusan, eksploitasi tanpa kendali. Nafas Buddha tergenang dalam ikon naga kecil itu.

Dengan naga-naga ini, Agus sesunggunya tengah menggelar kisah seribu naga dari dataran Asia — daratan yang nyaris dipengaruhi peradaban dan literasi India. Satu drama kolosal yang menggeber dunia mitologi ke panggung seni penyadaran, dunia  di mana Agus Kama Loedin memburu makna, mengejar keseimbangan  mikro dan makro kosmos diri.

Dalam tradisi Bali, mahluk mitologis ini menjadi bagian penting. Bagaimana mahluk-mahluk ini dirawat dalam literasi, menghias bangunan tempat suci, menjadi dasar dari bangunan Padmasana. Ukiran-ukiran naga yang menghias tempat-tempat suci di Bali bukan semata hiasan. Namun  merupakan  doa sepanjang hayat, devosi rupa tanpa gema.

Di Pura Besakih misalnya, kita mengenal mahluk mistis Naga Basuki, atau Ananta Boga dalam tradisi Jawa Kuna. Naga Basuki misalnya, sebagai arketif tua, merupakan doa arstistik. Bagaimana orang Bali melakukan devosi, berharap Naga Basuki, bumi ini tetap memberi  kemakmuran dan keselamatan. Bukankah Basuki juga berati selamat.

Di dalam kisah lain, dalam kisah Manik Angkeran kita juga membaca tragedi naga. Suatu hari, Mpu Sidhimantra, hendak memberi sahabatnya semangkuk susu, sesosok Naga Basuki penguasa kawasan Besakih di Kaki Gunung Agung. Sayang saat itu, Mpu Sidhimantra tengah tak enak badan. Maka diutuslah putranya, Manik Angkeran ke kaki Gunung Agung, membawa serta semangkuk susu. Dan untuk memanggil sang naga, Manik Angkeran serta-merta membawa genta.

Cerita singkatnya, Manik Angkeran  sampai di depan gua di kaki Besakih. Dengan membunyikan genta, Naga Basuki  keluar. Manik Angkeran menyerahkan titipan sang ayah.  Basuki menerima dengan  suka cita. Sampailah adegan di mana Manik Angkeran mau dikasi upah, apa saja yang diminta akan dipenuhi Naga Basuki.  Namun ia menolak. Naga Basuki kembali ke gua. Begitu Naga Basuki berbalik, hendak masuk ke dalam goa, Manik Angkeran melihat ekor naga itu penuh emas dan permata. Sebagai penduji ulung di sabung ayam, ia tergoda memiliki emas dan permata itu.  Ekor Naga Basuki lalu ditebas, emas dan emas dilarikan.

Naga Basuki tiba-tiba marah, membakar Manik Angkeran. Karena lama tak datang, di Jawa Mpu Sidimantra gelisah,  kemudian menjemput putranya ke Besakih.  Namun lacur, didapati sang putra  telah  menjadi abu. Sidhimantra  memohon supaya sang putra dihidupkan kembali, untuk seterusnya menjadi abdi di Besakih. Ia pun tidak diperkenankan  balik ke Jawa.

Manik Angkeran insyaf, ia jadi pengabdi setia di Besakih.Namun di tangan Agus, setiap naga yang dia rupa, kerap menjadi drama dan lakon tersendiri. Kisah-kisah naga penyelamat bumi dan langit. Kisah-kisah naga penjaga kemakmuran tanah. Cerita-cerita awal bagaimana makanan, ruang-ruang hidup dirawat, dan di  titik ini mitos-mitos perihal naga adalah cerita perihal keberlangsungan hidup dunia.

Akan tetapi selain simbol bumi, penjaga kemakmuran,  dalam tradisi Bali, naga adalah simbol jeratan nafsu-nafsu duniawi. Inilah kenapa kemudian raja-raja Bali, dalam upacara kematian selalu menyertakan   ”naga banda”, ular besar  pembelit nafsu dunia. Maka untuk melapaskan raja dari dosa dan belitan nafsu  dunia, ”naga banda” itu harus dilepas, dipanah pendeta ber-jnana mumpuni, berharap raja  lepas dari belitan nafsu dunia.

Namun, menurut Agus Kama Loedin, “Naga-naga ini adalah  keseimbangan  antara alam, waktu dan diri’. Baginya, dunia mitologi  naga bukanlah dunia klenik, bukan tanpa rasio,  bukan tanpa sains. Dunia mitologi adalah rumah awal manusia. Dari situ dunia dimaknai, diurai sebagai sains pertama umat manusia sebelum teori-teori modern, filsafat, matematika, fisika dijabarkan lebih rigid. Dan dari mitologi itulah magnitud kegelisahan Agus menyeruak.

Keluar dari Batu Studio, segera kita mengalami pemernungan. Bukan karena karya-karyanya  begitu mistis, menyengat kalbu, tapi karena ia  tanpa rasa takut memasuki lorong-lorong permenungan dunia mitologi. Naga-naga Agus mengingatkan kita, bahwa kita semua sedang berhutang pada bumi. Dan “Jaga Raga Bara Jiwa” bukan sekadar  tema pameran. Ia menjadi tamparan pelan yang harus kita jawab.

“Jaga Raga Bara Jiwa” pada akhirnya adalah sebuah seruan. Seruan untuk menjaga raga sebagai wadah, dan menjaga bara jiwa sebagai api nyala kreatif.  Di ruang Venue Art itu, seorang “arkeolog gagal” justru  menemukan kembali harta paling berharga: cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan tanggung jawab kita untuk menjaga bumi  semesta hidup yang sedang terluka. [T]

Kusa Agra 16/9/2026

Tags: Agus Kama LoedinBatu & StudioPameran Seni RupaSeni RupaVenue Art
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Next Post

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails
Next Post
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co