16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Naga Agus Kama Loedin

I Wayan Westa by I Wayan Westa
September 16, 2026
in Ulas Rupa
Membaca Naga Agus Kama Loedin

Pameran seni rupa Agus Kama Loedin di Venue Art, Batu & Studio di Batubulan, Gianyar

—Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026

*

Pameran “Jaga Raga Bara Jiwa” dibuka  Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana. Pembukaan itu menjadi penanda bahwa ruang Venue Art, Batu & Studio di Batubulan, Gianyar, malam itu tidak sekadar menjadi galeri, tetapi menjadi ruang temu antara seni, mitologi, sekaligus kegelisahan seniman pada kelindan zaman.

Batu & Studio sendiri merupakan ruang seni milik perupa I Putu Bonuz Sudiana, seniman ”gebuh” yang selama ini dikenal konsisten membuka tempatnya untuk dialog seni kontemporer dan tradisi.

Di ruang itulah Agus Kama Loedin, perupa yang doyan nomaden ini, dan menyebut dirinya arkeolog “gagal”, menghadirkan puluhan karya tunggalnya. Kali ini Agus, demikian ia kerap disapa, seperti menyeruak dunia purba mitologi dalam peradaban Jawa dan Bali. Kawat, serbuk perak, dan tinta adalah media paling lazim dipakai untuk mendaraskan dunia rupa.

Lelaki kelahiran 11 Oktober 1962 ini tidak memberi kita pergulatan  rumit sebagaimana ilmuwan modern, atau seniman avant garde. Dia mengebor, mengeksplorasi kanal dirinya guna melahirkan rupa naga dalam berbagai ekspresi dan medium. Ini  memerlukan ketekunan, ketelatenan, selain pergulatan batin tentu. Semua yang dia wujudkan ke dalam rupa  berkat keberaniannya memasuki dunia gelap mitologi. Ke dunia purba mistis  itu dia berdialog, merenung, lalu dalam pergulatan intuitif itu; naga-naga menyembul dari renungan  kreatifnya.

Entah dia berdialog dengan dirinya sendiri, atau bercakap dengan makhluk-makhluk yang telah menjadi dunia asing di dunia nyata. Namun Agus Kama Loedin menuntun naga-naga itu ke ruang-ruang  lebih kontemplatif maupun ke ruang kerumunan bernama pameran. Di lekukan kawat-kawat itu, atau di tatahan kulit kerbau dan sapi, pria kelahiran Surabaya ini seperti menekuk-nekuk kerinduan intuitif,  lantas mendialogkan kerinduan itu pada para penikmat seni.

Bisa jadi semua yang hadir, termasuk sang  kreator memiliki ruang simak tersendiri, karena di titik ini, seni  menyangkut hal-hal yang tidak selesai di titik definisi — ruang jelajah yang selalu terbuka, tidak pernah purna di ruang perdebatan. Pun tidak pernah selesai di garis perburuan. Bagi Agus, naga-naga itu adalah perburuan di gua mitologi  gelap, lalu  mencari nyala dalam dialog-dialog eksegesis, sekaligus devosi kreatif sang seniman.

Agus seolah menembakkan kegelisahan semesta, manakala bumi senantiasa bersabar dalam penderitaan. Pencemaran, polusi, serta ancaman pestisida adalah teror langsung  – saat  mana manusia hendak melibatgandakan produk,  merebut sebanyak-banyaknya yang bisa manusia kuasai.

Dan di titik ini hidup pun jadi sejenis perlombaan. Lalu  puluhan anyaman naga dari kawat dan kulit  keluar dari  tubuh rohani Kama Loedin. Entah ini sebagai rintihan bumi, lingkungan yang rusak, atau ia  tengah merintih kesakitan menyaksikan vandalisme  yang menimpa alam, menunjukkan tak cuma kerakusan manusia. Namun  juga  menunjukkan   kemaruk kapitalisme. Dari sinilah naga-naga  simbol  penjaga bumi keluar dari  intuisi Agus Kama Loedin. Dan naga-naga itu menghardik dingin.

Menatap bayangan-bayangan naga, baik yang terbuat dari kulit maupun dari anyaman kawat, terkesan betapa jauhnya jarak itu. Agus seperti membangun jarak imajiner. Betapa dari kegelisahan  itu  mesti dipahami, manusia disusui alam,  lalu dengan akalnya yang  cerdik, dengan keangkuhan rasio, manusia memporada ibu bumi dengan segala upaya tehnik. Tentu ini adalah tindakan yang  memunggungi  kearifan hidup  dan juga memberangus   kesinambangun ekosistem.

Di pojok di lain, di ruang Batu Studio, kita  menyaksikan bayangan naga terbang, dianyam dan dirajut dari kulit. Bayangan-bayangan naga itu, menyerupai bayangan naga langit, dari mitologi Cina. Walau di Nusantara sendiri, dalam tradisi kuna, sebagaimana digambarkan kitab Adiparwa, kita juga membaca naga terbang bernama Taksaka.

Agus seakan-akan menampilkan dua tipologi naga. Baik naga bumi maupun naga langit. Naga bumi memanggil manusia bagaimana merawat bumi, supaya bumi selalu menjadi sumber hidup bersama. Naga langit, selain bersifat mitologis, dia adalah gambaran dari kekuasaan naga, kekuasaan yang pelan-pelan dipreteli  manusia  dalam kerakusannya menguasai bumi. Inilah  sekaligus  memotret kegelisahan intuitif Agus Kama Loedin, dan dalam pameran itu menunjukkan ia adalah seniman yang selalu mencari jalan, memburu bayang-bayang naga mitologis.

Ada satu naga kecil berwarna hijau lumut, tengah memeluk batu hitam, kepala naga memakai mahkota emas, sementara ekornya juga memakai perhiasan emas. Kita teringat narasi “tutur tiga” dari kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular. Saat seekor naga hendak memangsa Sutasoma, tiba-tiba sang naga mendapat penyadaran ilahi, sang naga lalu memohon menjadi murid Sutasoma, yang telah purna dalam kesempurnaan jiwa —  membalik keangkeran menjadi welas asih, membalik api menjadi air, menuntaskan kemarahan menjadi keteduhan perawat jiwa. Boleh jadi seperti itulah harapan sang kreator, berniat menyadarkan supaya  kerakusan berpulang menjadi energi yang merawat, membalik kemarahan menjadi tutur penyejuk.

Saya berdiri cukup lama di depan naga kecil itu. Hijau lumutnya tenang, tapi mahkota emasnya seperti menahan sesuatu yang berat. Di titik itu saya merasa ditegur. Bahwa welas asih bukan kelemahan, melainkan keberanian puncak  melawan kerakusan, eksploitasi tanpa kendali. Nafas Buddha tergenang dalam ikon naga kecil itu.

Dengan naga-naga ini, Agus sesunggunya tengah menggelar kisah seribu naga dari dataran Asia — daratan yang nyaris dipengaruhi peradaban dan literasi India. Satu drama kolosal yang menggeber dunia mitologi ke panggung seni penyadaran, dunia  di mana Agus Kama Loedin memburu makna, mengejar keseimbangan  mikro dan makro kosmos diri.

Dalam tradisi Bali, mahluk mitologis ini menjadi bagian penting. Bagaimana mahluk-mahluk ini dirawat dalam literasi, menghias bangunan tempat suci, menjadi dasar dari bangunan Padmasana. Ukiran-ukiran naga yang menghias tempat-tempat suci di Bali bukan semata hiasan. Namun  merupakan  doa sepanjang hayat, devosi rupa tanpa gema.

Di Pura Besakih misalnya, kita mengenal mahluk mistis Naga Basuki, atau Ananta Boga dalam tradisi Jawa Kuna. Naga Basuki misalnya, sebagai arketif tua, merupakan doa arstistik. Bagaimana orang Bali melakukan devosi, berharap Naga Basuki, bumi ini tetap memberi  kemakmuran dan keselamatan. Bukankah Basuki juga berati selamat.

Di dalam kisah lain, dalam kisah Manik Angkeran kita juga membaca tragedi naga. Suatu hari, Mpu Sidhimantra, hendak memberi sahabatnya semangkuk susu, sesosok Naga Basuki penguasa kawasan Besakih di Kaki Gunung Agung. Sayang saat itu, Mpu Sidhimantra tengah tak enak badan. Maka diutuslah putranya, Manik Angkeran ke kaki Gunung Agung, membawa serta semangkuk susu. Dan untuk memanggil sang naga, Manik Angkeran serta-merta membawa genta.

Cerita singkatnya, Manik Angkeran  sampai di depan gua di kaki Besakih. Dengan membunyikan genta, Naga Basuki  keluar. Manik Angkeran menyerahkan titipan sang ayah.  Basuki menerima dengan  suka cita. Sampailah adegan di mana Manik Angkeran mau dikasi upah, apa saja yang diminta akan dipenuhi Naga Basuki.  Namun ia menolak. Naga Basuki kembali ke gua. Begitu Naga Basuki berbalik, hendak masuk ke dalam goa, Manik Angkeran melihat ekor naga itu penuh emas dan permata. Sebagai penduji ulung di sabung ayam, ia tergoda memiliki emas dan permata itu.  Ekor Naga Basuki lalu ditebas, emas dan emas dilarikan.

Naga Basuki tiba-tiba marah, membakar Manik Angkeran. Karena lama tak datang, di Jawa Mpu Sidimantra gelisah,  kemudian menjemput putranya ke Besakih.  Namun lacur, didapati sang putra  telah  menjadi abu. Sidhimantra  memohon supaya sang putra dihidupkan kembali, untuk seterusnya menjadi abdi di Besakih. Ia pun tidak diperkenankan  balik ke Jawa.

Manik Angkeran insyaf, ia jadi pengabdi setia di Besakih.Namun di tangan Agus, setiap naga yang dia rupa, kerap menjadi drama dan lakon tersendiri. Kisah-kisah naga penyelamat bumi dan langit. Kisah-kisah naga penjaga kemakmuran tanah. Cerita-cerita awal bagaimana makanan, ruang-ruang hidup dirawat, dan di  titik ini mitos-mitos perihal naga adalah cerita perihal keberlangsungan hidup dunia.

Akan tetapi selain simbol bumi, penjaga kemakmuran,  dalam tradisi Bali, naga adalah simbol jeratan nafsu-nafsu duniawi. Inilah kenapa kemudian raja-raja Bali, dalam upacara kematian selalu menyertakan   ”naga banda”, ular besar  pembelit nafsu dunia. Maka untuk melapaskan raja dari dosa dan belitan nafsu  dunia, ”naga banda” itu harus dilepas, dipanah pendeta ber-jnana mumpuni, berharap raja  lepas dari belitan nafsu dunia.

Namun, menurut Agus Kama Loedin, “Naga-naga ini adalah  keseimbangan  antara alam, waktu dan diri’. Baginya, dunia mitologi  naga bukanlah dunia klenik, bukan tanpa rasio,  bukan tanpa sains. Dunia mitologi adalah rumah awal manusia. Dari situ dunia dimaknai, diurai sebagai sains pertama umat manusia sebelum teori-teori modern, filsafat, matematika, fisika dijabarkan lebih rigid. Dan dari mitologi itulah magnitud kegelisahan Agus menyeruak.

Keluar dari Batu Studio, segera kita mengalami pemernungan. Bukan karena karya-karyanya  begitu mistis, menyengat kalbu, tapi karena ia  tanpa rasa takut memasuki lorong-lorong permenungan dunia mitologi. Naga-naga Agus mengingatkan kita, bahwa kita semua sedang berhutang pada bumi. Dan “Jaga Raga Bara Jiwa” bukan sekadar  tema pameran. Ia menjadi tamparan pelan yang harus kita jawab.

“Jaga Raga Bara Jiwa” pada akhirnya adalah sebuah seruan. Seruan untuk menjaga raga sebagai wadah, dan menjaga bara jiwa sebagai api nyala kreatif.  Di ruang Venue Art itu, seorang “arkeolog gagal” justru  menemukan kembali harta paling berharga: cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan tanggung jawab kita untuk menjaga bumi  semesta hidup yang sedang terluka. [T]

Kusa Agra 16/9/2026

Tags: Agus Kama LoedinBatu & StudioPameran Seni RupaSeni RupaVenue Art
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Next Post

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails
Next Post
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co