23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

I Wayan Westa by I Wayan Westa
September 3, 2026
in Ulas Rupa
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

Energi 2 Naga, Acrylic on canvas, 250cm x 300cm, 2026 --- Karya Ketut Suasana yang dipamerkan di di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di tahun 2000, kini tersisa 64.000-an hektar di 2024. BPS mencatat alih fungsinya mencapai 750 hektar per tahun. Di Denpasar saja, 278 hektar area subak tergerus dalam 4 tahun terakhir. Di Badung, Subak Kedungu menyusut dari 57 hektar jadi 43 hektar dalam 3 tahun.

Dari tahun 2015 -2024,  sepanjang sembilan tahun berjalan, DAS Ayung  menyusut 459 ha. Dari 2.000 ha jadi 1.500 ha. Di tengah poranda itu, di sebuah ruang putih di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud, I Ketut Suasana —  Kabul demikian kami  kerap memanggilnya — datang dengan tarian garis melankoli. Kalem penuh jejak  meditatif.

Dalam pameran tunggalnya “Nectar Waggle”,  Kabul tidak melukis api,  tidak juga  melukis ranjau perang.  Kabul melukis lebah. Ribuan koloni  lebah dibuat menari di atas kanvas yang lebarnya melebihi tinggi badan. Kabul seperti memberi sinyal, perihal makin rentannya hunian hijau, bunga-bunga tidak lagi menghias bukit dan lembah – lalu lebah  pun dibawa menari di atas kanvas. Di situ, di kanvas putih,  jiwa sang pelukis seakan ikut  nelangsa,  menari dalam  tarian warna dan garis.

Ia tahu, hilangnya koloni lebah bertemali langsung dengan kerusakan dan terancamnya ekosistem. Ketika lebah hilang, bunga tidak diserbuki. Ketika bunga mati, tanah jadi gersang. Ketika tanah gersang, manusia juga kehilangan nutrisi unggul.  Di titik ini, bisa jadi kita adalah  penikmat residu —  nyata; ada ribuan anak-anak keracunan dalam program  makan bergizi gratis. Saban hari jadi pemandangan menyesakkan. Ini tanda. Tanda agar kita lebih peka memahami  sanitasi dan apa yang kita makan.

Nektar atau madu adalah inti dari hidup. Dihasilkan  koloni liar bernama lebah. Tapi sayangnya, belakangan ini manusia tak cukup mengerti arti lebah bagi keberlangsungan  lingkungan. Kita terlalu sibuk menghitung pancang -pancang investasi beton bertulang, sampai lupa menghitung koloni lebah yang pelan-pelan menghilang dari lingkungan dekat kita. Karena itu Ketut Kabul, entah kebetulan atau sengaja, seperti mengingatkan  kita lewat kanvas itu. Atau, barangkali sang pelukis serba bisa ini meniatkan nektar abadi – layaknya meniatkan soma, minuman surga  yang diperebutkan sengit para dewa dan raksasa.

Elu & Lesung, Acrylic on canvas, 200cm x 300cm (Diptych) 2025 –— Karya Ketut Suasana yang dipamerkan di di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

Dus, di Ubud, di tengah hiruk pariwisata, lebah cukup dihadirkan di atas bidang lukis. Di kanvas-kanvas  yang melebar tinggi, Kabul mencurahkan kesuntukannya; hanya untuk melukis lebah dan nektar. Dan di saat itulah  orang mesti insyaf. Saat lebah, atau makhluk apa pun, dipindah ke kanvas atau museum, pertanda ada ekosistem  terputus. Bunga-bunga tak lagi sanggup merawat lebah. Serbuk sari tak lagi berpindah. Lalu pelan-pelan, nektar  menghilang.

Lewat “Nectar Waggle”, Kabul tidak cuma menunjukkan kesuntukan dan ketangguhan.  Ia jua menunjukkan kesunyian meditatif. Kerja kreatif yang nyaris naturalis. Ruang sunyi yang kerap digoda rasa jemu. Jutaan lebah dilukis dengan konsistensi tinggi. Satu demi satu. Titik demi titik. Hingga kerja ini nyaris menjadi tindakan meditasi. Ya, itulah meditasi kreatif. Di kanvas-kanvas  lebar memanjang itu,  Kabul  menekuk titik konsentrasi. Merupa makhluk kecil penghasil madu,  nektar kehidupan. Tangannya seperti pengkloning cerdas – lebah-lebah terbang digurat dengan presisi yang sama, tidak acak,  namun konsisten.

Dan di situ kita melihat warna-warna Kabul, penuh keranuman, kadang murung  penuh konsistensi.  Seperti warna suara riungan lebah di lembah  dalam mendung panjang. Dari belasan lukisan nektar yang dipajang di galeri Komaneka, dengan warna-warna yang tak menyengat, Kabul seperti memekakkan batinnya sendiri. ”Inilah meditasi kreatifku, berharap nektar surgawi mendekatiku.”

Kabul seperti berbisik pelan: betapa manusia kini, dengan merusak lingkungannya, pelan-pelan ditinggalkan nektar kehidupan. Dan madu  murni yang awet ribuan tahun itu  pelan-pelan  jadi barang  langka di  bumi. Namun Kabul selalu optimis. Ada banyak jalan, di mana lebah selalu memberi harapan. Nun di ribuan tahun  berjalan, koloni ini jadi contoh penabung paling konsisten.  Saat musim bunga-bunga, ia menabung madunya di kapsul-kapsul lunak untuk dinikmati saat panceklik. Beda dengan kumbang yang lain, ia tak bisa menabung. Perburuannya ke tengah alam untuk santapan hari itu saja.

Introspeksi Diri, Acrylic on canvas, 170cm x 170cm, 2026 — Karya Ketut Suasana yang dipamerkan di di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud

Menurut Kabul, hanya lebah-lah serangga terbang yang memiliki keunikan. Ia bisa menciptakan madu, sekaligus mengeluarkan racun. Madu, cairan abadi itu ternyata keluar dari serangga terbang ini – yang di ujung pantatnya tersimpan jarum lancip penghasil racun. Sayapnya yang kecil benggetar 200 kali per detik, membawa pesan nektar dari bunga ke bunga. Dari aktifitas terbang itulah ”waggle dance”, tarian kehidupan. Dari sini Ketut Suasana lalu  memaknai lebah   sebagai pembawa ”madu dan racun”,  lalu dibahasakan sebagai rwa bhineda. Sang pembawa baik kehidupan dan kematian.

Bila manusia  selalu bijak merawat alam, tarian lebah itu pasti senantiasa membawa nektar. Sebagaimana juga harapan Ketut Kabul, menjadikan setiap goresan tindakan meditatif. Dan karena itu, Kabul lebih memilih proses ”menjadi” tinimbang ”memiliki”. Saban hari ia melukis lebah di kanvas, ia menikmati  ritual ini sebagai proses menjadi, seperti juga laku meditasi itu. Berharap ”nektar intuitif-nya” mengalir di kanvas.  Seperti itu pula batinnya bekerja. Kabul merindukan nektar kreatif, kelak ia juga menemukan nektar kehidupan.

Dalam lukisan bertajuk ”Elu & Lesung” misalnya, orang bisa dengan bebas menafsir-nafsir  tanda. Bisa jadi Kabul tengah menghadirkan pertemuan mistis, ”sanggama tantrik”  yang menggoda lebah mengawini bunga-bunga. Dari ”perkawinan” lebah dengan putik sari itulah nektar tercipta. Maka lukisan bertajuk ”Elu & Lesung itu adalah pertemuan cipta lingga-yoni. Layaknya juga pertemuan langit dan bumi. Atau, boleh jadi Kabul memilki simpul yang lain, tanda  bagaimana  alam bekerja menghasilkan nektar – bagaimana pula sang pelukis bekerja menghasilkan nektar intuitif.

“Nectar Waggle”. Tarian lebah, seperti tarian semesta hidup, ketika menemukan  bunga-bunga, ia menari memutar, lalu koloni lain mengikut. Tanpa pemimpin. Tanpa perintah. Hanya  terkoneksi  getaran sayap, lebah senantiasa menari mengejar putik sari. Ini semacam perjumpaan mistis, dimatangkan kesunyian – di mana putik-putik luruh dalam tarian pagi para lebah –  dan dari perjamuan pagi itu nektar tercipta. Iya, Kabul sedang menari, menarikan tarian lebah, serangga terbang pembawa madu dan racun.

Mungkin itu yang ingin Kabul katakan. Bahwa menyelamatkan bumi tidak harus selalu berisik. Kadang cukup dengan duduk, menunduk, dan melukis satu lebah dengan setia –  sampai  ribuan koloni lebah berkumpul di kanvas – walau tanpa dengung dan riungan — seperti upacara pagi koloni lebah. Kabul seolah bertanya kalau lebah sekecil itu masih mau menari mencipta nektar,  kita menari untuk apa? Entah. Sebagaimana keawetan madu ribuan tahun itu,  Kabul seperti ingin abadi. Karya-karya senantiasaa mengusik, bertahan untuk setiap masa.  Sebagaimana kekuatan nektar itu sendiri.

Ketut Suasana sedang berkarya

Kabul seperti memberi kabar untuk generasi seribu tahun kelak, bahwa nektar-lah yang menjadi perburuan abadi bagi semua yang hidup. Sebab di  situ, dibalik kegelisahan dirinya, orang-orang  tengah kehilangan kemurnian. Seperti juga alam kehilangan nektar – layaknya dewa kehilangan soma. Kabul tengah berjuang mengawetkan perburuan intuitifnya, sementara lebah berjuang dari bunga menuju bunga. [T]

Kamis, 3 September 2026

Pakubuan Kusa Agra

Tags: I Ketut Suasana KabulKomaneka Fine Art GalleryPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Next Post

Gol versus Gul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails
Next Post
Gol versus Gul

Gol versus Gul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co