DI tengah lingkungan yang rusak, belantara Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali menyusut. Sebab, dari 80.000 hektar di tahun 2000, kini tersisa 64.000-an hektar di 2024. BPS mencatat alih fungsinya mencapai 750 hektar per tahun. Di Denpasar saja, 278 hektar area subak tergerus dalam 4 tahun terakhir. Di Badung, Subak Kedungu menyusut dari 57 hektar jadi 43 hektar dalam 3 tahun.
Dari tahun 2015 -2024, sepanjang sembilan tahun berjalan, DAS Ayung menyusut 459 ha. Dari 2.000 ha jadi 1.500 ha. Di tengah poranda itu, di sebuah ruang putih di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud, I Ketut Suasana — Kabul demikian kami kerap memanggilnya — datang dengan tarian garis melankoli. Kalem penuh jejak meditatif.
Dalam pameran tunggalnya “Nectar Waggle”, Kabul tidak melukis api, tidak juga melukis ranjau perang. Kabul melukis lebah. Ribuan koloni lebah dibuat menari di atas kanvas yang lebarnya melebihi tinggi badan. Kabul seperti memberi sinyal, perihal makin rentannya hunian hijau, bunga-bunga tidak lagi menghias bukit dan lembah – lalu lebah pun dibawa menari di atas kanvas. Di situ, di kanvas putih, jiwa sang pelukis seakan ikut nelangsa, menari dalam tarian warna dan garis.
Ia tahu, hilangnya koloni lebah bertemali langsung dengan kerusakan dan terancamnya ekosistem. Ketika lebah hilang, bunga tidak diserbuki. Ketika bunga mati, tanah jadi gersang. Ketika tanah gersang, manusia juga kehilangan nutrisi unggul. Di titik ini, bisa jadi kita adalah penikmat residu — nyata; ada ribuan anak-anak keracunan dalam program makan bergizi gratis. Saban hari jadi pemandangan menyesakkan. Ini tanda. Tanda agar kita lebih peka memahami sanitasi dan apa yang kita makan.
Nektar atau madu adalah inti dari hidup. Dihasilkan koloni liar bernama lebah. Tapi sayangnya, belakangan ini manusia tak cukup mengerti arti lebah bagi keberlangsungan lingkungan. Kita terlalu sibuk menghitung pancang -pancang investasi beton bertulang, sampai lupa menghitung koloni lebah yang pelan-pelan menghilang dari lingkungan dekat kita. Karena itu Ketut Kabul, entah kebetulan atau sengaja, seperti mengingatkan kita lewat kanvas itu. Atau, barangkali sang pelukis serba bisa ini meniatkan nektar abadi – layaknya meniatkan soma, minuman surga yang diperebutkan sengit para dewa dan raksasa.

Dus, di Ubud, di tengah hiruk pariwisata, lebah cukup dihadirkan di atas bidang lukis. Di kanvas-kanvas yang melebar tinggi, Kabul mencurahkan kesuntukannya; hanya untuk melukis lebah dan nektar. Dan di saat itulah orang mesti insyaf. Saat lebah, atau makhluk apa pun, dipindah ke kanvas atau museum, pertanda ada ekosistem terputus. Bunga-bunga tak lagi sanggup merawat lebah. Serbuk sari tak lagi berpindah. Lalu pelan-pelan, nektar menghilang.
Lewat “Nectar Waggle”, Kabul tidak cuma menunjukkan kesuntukan dan ketangguhan. Ia jua menunjukkan kesunyian meditatif. Kerja kreatif yang nyaris naturalis. Ruang sunyi yang kerap digoda rasa jemu. Jutaan lebah dilukis dengan konsistensi tinggi. Satu demi satu. Titik demi titik. Hingga kerja ini nyaris menjadi tindakan meditasi. Ya, itulah meditasi kreatif. Di kanvas-kanvas lebar memanjang itu, Kabul menekuk titik konsentrasi. Merupa makhluk kecil penghasil madu, nektar kehidupan. Tangannya seperti pengkloning cerdas – lebah-lebah terbang digurat dengan presisi yang sama, tidak acak, namun konsisten.
Dan di situ kita melihat warna-warna Kabul, penuh keranuman, kadang murung penuh konsistensi. Seperti warna suara riungan lebah di lembah dalam mendung panjang. Dari belasan lukisan nektar yang dipajang di galeri Komaneka, dengan warna-warna yang tak menyengat, Kabul seperti memekakkan batinnya sendiri. ”Inilah meditasi kreatifku, berharap nektar surgawi mendekatiku.”
Kabul seperti berbisik pelan: betapa manusia kini, dengan merusak lingkungannya, pelan-pelan ditinggalkan nektar kehidupan. Dan madu murni yang awet ribuan tahun itu pelan-pelan jadi barang langka di bumi. Namun Kabul selalu optimis. Ada banyak jalan, di mana lebah selalu memberi harapan. Nun di ribuan tahun berjalan, koloni ini jadi contoh penabung paling konsisten. Saat musim bunga-bunga, ia menabung madunya di kapsul-kapsul lunak untuk dinikmati saat panceklik. Beda dengan kumbang yang lain, ia tak bisa menabung. Perburuannya ke tengah alam untuk santapan hari itu saja.

Menurut Kabul, hanya lebah-lah serangga terbang yang memiliki keunikan. Ia bisa menciptakan madu, sekaligus mengeluarkan racun. Madu, cairan abadi itu ternyata keluar dari serangga terbang ini – yang di ujung pantatnya tersimpan jarum lancip penghasil racun. Sayapnya yang kecil benggetar 200 kali per detik, membawa pesan nektar dari bunga ke bunga. Dari aktifitas terbang itulah ”waggle dance”, tarian kehidupan. Dari sini Ketut Suasana lalu memaknai lebah sebagai pembawa ”madu dan racun”, lalu dibahasakan sebagai rwa bhineda. Sang pembawa baik kehidupan dan kematian.
Bila manusia selalu bijak merawat alam, tarian lebah itu pasti senantiasa membawa nektar. Sebagaimana juga harapan Ketut Kabul, menjadikan setiap goresan tindakan meditatif. Dan karena itu, Kabul lebih memilih proses ”menjadi” tinimbang ”memiliki”. Saban hari ia melukis lebah di kanvas, ia menikmati ritual ini sebagai proses menjadi, seperti juga laku meditasi itu. Berharap ”nektar intuitif-nya” mengalir di kanvas. Seperti itu pula batinnya bekerja. Kabul merindukan nektar kreatif, kelak ia juga menemukan nektar kehidupan.
Dalam lukisan bertajuk ”Elu & Lesung” misalnya, orang bisa dengan bebas menafsir-nafsir tanda. Bisa jadi Kabul tengah menghadirkan pertemuan mistis, ”sanggama tantrik” yang menggoda lebah mengawini bunga-bunga. Dari ”perkawinan” lebah dengan putik sari itulah nektar tercipta. Maka lukisan bertajuk ”Elu & Lesung itu adalah pertemuan cipta lingga-yoni. Layaknya juga pertemuan langit dan bumi. Atau, boleh jadi Kabul memilki simpul yang lain, tanda bagaimana alam bekerja menghasilkan nektar – bagaimana pula sang pelukis bekerja menghasilkan nektar intuitif.
“Nectar Waggle”. Tarian lebah, seperti tarian semesta hidup, ketika menemukan bunga-bunga, ia menari memutar, lalu koloni lain mengikut. Tanpa pemimpin. Tanpa perintah. Hanya terkoneksi getaran sayap, lebah senantiasa menari mengejar putik sari. Ini semacam perjumpaan mistis, dimatangkan kesunyian – di mana putik-putik luruh dalam tarian pagi para lebah – dan dari perjamuan pagi itu nektar tercipta. Iya, Kabul sedang menari, menarikan tarian lebah, serangga terbang pembawa madu dan racun.
Mungkin itu yang ingin Kabul katakan. Bahwa menyelamatkan bumi tidak harus selalu berisik. Kadang cukup dengan duduk, menunduk, dan melukis satu lebah dengan setia – sampai ribuan koloni lebah berkumpul di kanvas – walau tanpa dengung dan riungan — seperti upacara pagi koloni lebah. Kabul seolah bertanya kalau lebah sekecil itu masih mau menari mencipta nektar, kita menari untuk apa? Entah. Sebagaimana keawetan madu ribuan tahun itu, Kabul seperti ingin abadi. Karya-karya senantiasaa mengusik, bertahan untuk setiap masa. Sebagaimana kekuatan nektar itu sendiri.

Kabul seperti memberi kabar untuk generasi seribu tahun kelak, bahwa nektar-lah yang menjadi perburuan abadi bagi semua yang hidup. Sebab di situ, dibalik kegelisahan dirinya, orang-orang tengah kehilangan kemurnian. Seperti juga alam kehilangan nektar – layaknya dewa kehilangan soma. Kabul tengah berjuang mengawetkan perburuan intuitifnya, sementara lebah berjuang dari bunga menuju bunga. [T]
Kamis, 3 September 2026
Pakubuan Kusa Agra





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)







