- Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia
- Penulis : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si
- Penerbit : Indigo Media, Kota Tangerang
- Cetakan I : Juli 2026
- Ketebalan : xx+274 halaman; 15 x 23 cm
- ISBN : 978-623-7709-92-3
ORANG mendengarkan lagu untuk beragam tujuan. Ada yang ingin memenangkan hati dan pikiran. Ada yang mendengarkan lagu untuk menyemangati diri sendiri. Ada lagu yang dapat mengingatkan orang pada seseorang, tempat, atau peristiwa. Ada pula yang mendengarkan lagu untuk membangkitkan semangat perlawanan.
Namun di tangan Ahmad Sihabudin, sebuah lagu dapat ditafsirkan dalam konteks komunikasi manusia. Lewat pendekatan hermeneutika, Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya ini mencoba memaknai dan menafsirkan setiap lirik lagu dalam buku berjudul “Hermeneusical Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia”. Tentu tak begitu sulit baginya, karena sejak remaja Ahmad Sihabudin telah mengakrabi dunia musik Barat, terutama yang beraliran heavy slow rock, blues, dan psychedelic rock.
Musik dan lagu menurut Ahmad Sihabudin merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya manusia paling universal. Sejak masyarakat tradisional hingga masyarakat modern, musik senantiasa hadir sebagai medium ritual, hiburan, eskpresi emosional, hingga kristik sosial. Lirik lagu bisa dipahami sebagai teks komunikasi yang bersifat simbolik, naratif, dan sekaligus perfomatif.
Membaca buku ini seolah mengajak orang untuk bersenandung sambil mencerna makna setiap lagu. Diawali dengan tulisan berjudul “Ketika Dunia Berhenti Tepuk Tangan”. Sebuah ulasan atas lagu Like a Rolling Stone yang dinyanyikan Bob Dylan. Dalam tafsirnya, Ahmad Sihabudin memandang hidup ini, seperti lagu Dylan, tidaklah sentimental. Ia menggelinding.
Di titik inilah lirik satire lagu ini bekerja: bukan untuk menghina kejatuhan, melainkan menyingkap kepalsuan rasa aman. Mereka yang dulu merasa “di dalam”, kini tiba-tiba berada “di luar”. Mereka yang biasa bicara tentang meritokrasi, mendadak menyadari bahwa dunia tidak selalu adil, padahal keadilan itu dulu menguntungkan mereka.
“Di sinilah Like a Rolling Stone berubah menjadi cermin sosial. Bukankah kita hidup di masyarakat yang terlalu mencitai orang sukses, tapi malas mendengarkan orang jatuh?” tulis Ahmad Sihabudin.
Tafsir lagu dan musik dalam buku ini terasa lengkap, hingga lagu Money dari Pink Floyd pun diulas dalam judul tulisan “Uang, Tuhan Kecil yang Terlalu Serius”. Uang dalam kehidupan modern bukan lagi alat tukar. Ia telah naik pangkat menjadi tujuan, identitas, bahkan semacam “tuhan kecil” yang tak pernah mengaku ilahi, tetapi ditaati lebih khusyuk daripada nilai-nilai moral.
Menurutnya, dari kepala desa sampai menteri, dari pengusaha hingga birokrat, dari politisi sampai pejabat publik, semuanya seperti bergerak dalam satu orbit yang sama. Bukan lagi orbit pelayanan, melainkan orbit akumulasi. Uang bukan sekadar menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga mengatur arah nurani.
Buku ini ditutup dengan tafsir “Keberanian Menjadi Manusia”, sebuah kajian hermeneutika atas lagu legendaris Bohemian Rhapsody yang dipopulerkan Queen. Bohemian dalam pandangan Ahmad Sihabudin bukan sekadar cara berpakaian yang nyentrik, memadukan warna-warni etnik dan vintage atau menghias rumah dengan barang-barang unik. Bohemian sesungguhnya ialah cara memandang dunia. Ia adalah keberanian untuk mengatakan, “Aku tidak harus sama dengan orang lain”.
Menjadi bohemian tak berarti hidup tanpa arah. Bukan pula berarti memberontak terhadap segala sesuatu. Bohemianisme juga tidak identik dengan kemalasan atau hidup tanpa aturan. Sebaliknya, banyak seniman besar yang hidup dengan disiplin tinggi. Mereka mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, tetapi mereka bekerja keras pada bidang yang mereka cintai.
Membaca buku ini hingga tuntas memang memerlukan kesabaran, karena harus melewati 274 halaman. Namun pembaca tidak dibuat bosan karenanya. Ilustrasi dalam setiap judul di buku ini cukup menarik. Tafsir komunikasi yang dilakukan juga sangat relevan dengan berbagai isu kekinian, dengan gaya bahasa yang kontekstual. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole






















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)







