3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
in Ulas Buku
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Novel Rumah karya JS Khairen

  • Judul             : Rumah
  • Penulis          : JS Khairen
  • Penerbit        : PT Elex Media Komputindo
  • Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman
  • Tebal buku   : 368 halaman

ADA banyak novel yang mengangkat tema tentang rumah. Sebagian memaknainya sebagai tempat kembali, sebagian lagi menjadikannya simbol keluarga, kenangan, atau luka yang tak kunjung sembuh. Karena itu, ketika mulai membaca ‘Rumah’ karya JS Khairen, kesan pertama yang muncul adalah dugaan bahwa novel ini akan menawarkan kisah yang tidak jauh berbeda: perjalanan seseorang berdamai dengan masa lalu kemudian pulang ke rumah. Dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.

Alih-alih menyajikan kisah yang klise, JS Khairen mengembangkan makna ‘pulang’ menjadi perjalanan batin yang jauh lebih luas. Rumah tidak lagi sekadar bangunan yang berdiri dengan tembok dan atap, melainkan ruang tempat seseorang berdamai dengan diri sendiri, keluarga, masa lalu, bahkan Tuhan. Gagasan itu dipertegas melalui salah satu kutipan: “Rumah tak sekadar dibangun oleh material dan keringat abang-abang proyek. Rumah dibangun oleh tolong, maaf, dan terima kasih.” (hal. 24).

Hal pertama yang paling menonjol dari novel ini justru kesederhanaannya. Namun, saya lebih suka menyebutnya sebagai novel yang ‘ramah’. Ramah bagi pembaca lintas usia, lintas latar belakang, dan lintas keyakinan. Bahasanya ringan, cara bertuturnya bersahabat, tetapi tetap mampu menyampaikan persoalan yang kompleks tanpa terasa menggurui.

Tokoh utamanya adalah Ria, seorang luxury travel planner berusia 27 tahun yang pekerjaannya mengatur perjalanan mewah para klien. Ia telah mengunjungi berbagai belahan dunia, dari kota-kota modern hingga pelosok yang jarang diketahui, bahkan sampai ke luar angkasa. Ironisnya, sejauh apa pun ia pergi, ia tak pernah menemukan tempat yang benar-benar bisa  disebut sebagai ‘rumah’.

Rumah justru menjadi sumber luka. Masa kecil Ria dipenuhi cercaan sang ibu, kekerasan ayah, hingga kenyataan bahwa ayahnya memiliki keluarga lain. Trauma itu membuat kata ‘rumah’ menjadi sesuatu yang ia benci dan jauhi. Perasaan itu sudah ditegaskan sejak halaman-halaman awal.

“Hati-hati pulangnya. Selamat sampai rumah.” Sudah belasan tahun. Aku jijik dan benci kata itu. Rumah. (hal. 7).

“Masalahnya, aku sudahlah jijik, punya dendam pula pada rumah.” (hal. 8).

Dua kutipan itu menjadi fondasi emosional yang menjelaskan mengapa rumah, bagi Ria, bukanlah tempat yang menghadirkan rasa aman.

Penggambaran awal inilah yang menjadi pintu masuk perjalanan panjang Ria. Namun, yang menarik, perjalanan tersebut bukan semata-mata perjalanan geografis. Setiap tempat yang ia datangi, setiap orang yang ia temui, dan setiap peristiwa yang ia alami saling bertaut membentuk proses pendewasaan dirinya. Perlahan-lahan, pembaca diajak menyaksikan bagaimana dendam yang lama dipendam mulai menemukan ruang untuk berdamai.

Sedari awal, pencarian itu sebenarnya telah disiratkan melalui sajak yang muncul dalam novel: ‘Aku sudah keliling dunia, bahkan ke luar angkasa. Namun, tak aku temukan rumah, tempat menampung hati yang patah.’ (hal. 17). Kutipan ini memperlihatkan bahwa perjalanan Ria bukanlah soal jarak tempuh, melainkan pencarian ruang batin untuk pulang.

Kompleksitas perjalanan itu menjadi salah satu kekuatan novel ini. JS Khairen tidak sekadar memindahkan tokohnya dari satu tempat ke tempat lain. Setiap perjalanan memiliki fungsi dalam perkembangan karakter Ria. Tidak ada peristiwa yang terasa sia-sia.

Yang juga patut diapresiasi adalah cara pengarang mengelola ritme cerita. Banyak novel bertema keluarga atau penyembuhan batin cenderung tergopoh-gopoh menuju penyelesaian. Konflik dibangun cepat, lalu diselesaikan instan demi memberikan akhir yang bahagia.

Dalam novel ‘Rumah’, hal itu tidak terjadi. JS Khairen justru membiarkan banyak pertanyaan tetap menggantung hingga halaman-halaman akhir. Apakah Ria benar-benar akan pulang? Apakah ia akhirnya berdamai dengan keluarganya? Apakah ia benar-benar menikah? Ke mana kehidupannya setelah itu? Bagaimana hubungan Ria dengan saudara tirinya?

Sebagian pertanyaan memang tidak dijawab secara gamblang. Namun, di situlah letak kekuatan novel ini. Kehidupan memang tidak selalu memberikan jawaban lengkap. Ada ruang yang sengaja dibiarkan kosong agar pembaca memaknainya sendiri. Pilihan seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak tergopoh-gopoh mengakhiri cerita.

Keunikan lain yang memberi warna pada novel ini adalah penyisipan format percakapan melalui chat atau gaya alternate universe (AU). Kehadiran elemen-elemen tersebut menjadi penyegar di tengah narasi yang panjang. Pembaca dapat membayangkan interaksi antartokoh lebih dekat, sekaligus menghadirkan nuansa akrab bagi generasi muda yang terbiasa berkomunikasi melalui layar.

Kedekatan itu semakin kuat karena Ria bukan hanya tokoh utama, tetapi juga narator cerita. Ia acap berbicara langsung kepada pembaca sehingga pengalaman membaca terasa personal. Seolah-olah kita sedang duduk bersamanya, mendengarkan ia bercerita tentang hidupnya.

Kendati demikian, di balik kesederhanaan bercerita, ‘Rumah’ sesungguhnya adalah novel yang religius. Topiknya sangat lekat dengan tradisi Islam. Ada pembahasan mengenai pesantren, hubungan manusia dengan Tuhan, hingga perjalanan spiritual umrah.

Namun, menariknya, unsur religius tersebut tidak menjadi tembok yang membatasi pembaca dari latar belakang lintas agama. Sebaliknya, JS Khairen mampu mengemasnya secara inklusif dan manusiawi.

Sebagai seorang non-Muslim, saya tetap dapat mengikuti perjalanan spiritual Ria. Yang saya tangkap bukan semata-mata ajaran agama tertentu, melainkan pengalaman manusia yang mencari kedamaian. Pada akhirnya, pulang bukan hanya kembali ke rumah atau keluarga, tetapi juga kembali kepada Tuhan sebagai tempat perlindungan terakhir.

Pergulatan itu mencapai salah satu titik reflektif ketika Ria bertanya kepada dirinya sendiri, “Pulang ini bukan soal bangunan. Bukan soal tempat orangtua dan keluarga kita tinggal. Ini soal hati. Apakah aku yang seberdosa ini masih diminta pulang?” (hal. 167). Di titik ini, makna rumah bergeser sepenuhnya menjadi persoalan batin dan spiritual.

Di sinilah novel ‘Rumah’ memperlihatkan kedalaman maknanya. Mengingatkan bahwa manusia acap kali baru mengingat Tuhan ketika musibah datang, padahal pulang kepada-Nya seharusnya menjadi perjalanan sepanjang hidup.

Novel ini juga berani mengajukan pertanyaan retoris yang jarang diucapkan secara terbuka: “Kalau ada anak durhaka, mengapa tidak ada orang tua durhaka?” (hal. 122). Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghakimi orang tua, melainkan mengajak pembaca melihat relasi keluarga lebih adil dan manusiawi. Tanpa memihak salah satu sisi, JS Khairen menunjukkan bahwa luka dalam keluarga hampir selalu lahir dari relasi yang gagal dibangun dengan sehat.

Selain mengangkat tema keluarga dan spiritualitas, ‘Rumah’ juga menyelipkan berbagai kritik sosial dan politik secara ringan. Kritik-kritik tersebut tidak mendominasi cerita, tetapi hadir sebagai sisipan yang menghidupkan narasi. Pembaca diajak memahami konteks sosial yang melingkupi para tokohnya, bahkan sesekali dibuat tersenyum tipis oleh sindiran maupun anekdot yang dituliskan pengarang. Kehadiran unsur ini membuat novel terasa lebih kaya karena tidak hanya berbicara tentang pergulatan pribadi, tetapi juga tentang masyarakat tempat tokoh-tokohnya hidup.

Menariknya lagi, JS Khairen tidak berhenti pada upaya mempertemukan Ria dengan keluarganya. Ia juga memperlihatkan bagaimana seseorang harus berdamai dengan dirinya sendiri sebelum benar-benar mampu pulang. Kesadaran itu tidak datang secara tiba-tiba. Ria terlebih dahulu mengakui kelemahannya sendiri: “Rupanya aku terlalu sombong untuk bahkan meminta maaf kepada diriku sendiri.” (hal. 175). Pengakuan ini menjadi salah satu penanda awal rekonsiliasi dengan masa lalunya.

Perjalanan tersebut juga mengubah cara pandang Ria terhadap banyak hal yang dahulu ia benci. Salah satunya, pesantren. Dulu, Ria menganggap pesantren adalah simbol keterpaksaan dan hilangnya kebebasan. Namun, seiring perjalanan batinnya, pandangan itu perlahan berubah. Ia akhirnya mengakui, “Dulu aku bilang pesantren adalah kuburan massal impian banyak anak. Rupanya tidak. Aku baru paham maksud pentingnya pesantren hari ini.” (hal. 256). Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa kedewasaan acap kali lahir bukan karena keadaan berubah, melainkan karena manusia belajar melihat masa lalu dengan perspektif berbeda.

Puncak pemaknaan tentang rumah hadir menjelang akhir novel ketika Ria menyadari apa yang selama ini hilang dari keluarganya: “Rupanya ini yang luput dari keluarga kami selama ini. Percakapan. Bahasa keren anak zaman sekarang, deep talk. Selama ini, rumah kami hanya bangunan kosong, tanpa bicara. Tanpa nyawa. Sekarang, saat justru jauh dari rumah, nyawa itu hidup.” (hal. 317). Kutipan ini seolah merangkum keseluruhan gagasan novel: rumah tidak hanya dibangun dengan material, melainkan oleh percakapan, kehadiran, dan kesediaan untuk saling mendengar.

Dengan ketebalan 368 halaman, ‘Rumah’ berhasil menghadirkan kisah yang hangat tanpa kehilangan kedalaman. Ia tidak menawarkan jawaban atas semua persoalan hidup, tetapi memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan makna rumah menurut pengalaman masing-masing. Justru karena tidak semua persoalan diselesaikan secara tuntas, novel ini terasa lebih jujur dalam menggambarkan kehidupan. Sebab, hidup memang tidak selalu berakhir dengan semua luka yang sembuh atau semua pertanyaan yang terjawab.

Pada akhirnya, saya kembali pada kesan pertama ketika usai membaca kisah ini: ‘Rumah’ adalah novel yang ‘ramah’. Ramah bagi siapa saja yang sedang merindukan rumah, lama tidak mengenal rumah, atau bahkan sengaja menjauh dari rumah. Novel ini tidak hanya mengajak pembaca pulang kepada keluarga, tetapi juga pulang kepada diri sendiri, kepada percakapan yang hilang, dan kepada Tuhan sebagai tempat kembali yang paling hakiki.

Intinya, rumah bukan hanya sebuah bangunan yang menunggu kita pulang. Rumah adalah orang-orang yang masih membuka pintu ketika kita datang, ruang yang memberi kesempatan untuk saling memaafkan, dan tempat di mana hati akhirnya menemukan ketenangan. [T]

    Penulis: Dede Putra Wiguna
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: BukuJS KhairenSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

    Next Post

    Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

    Dede Putra Wiguna

    Dede Putra Wiguna

    Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

    Related Posts

    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

    by Hartanto
    October 21, 2026
    0
    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

    SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

    Read moreDetails

    Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

    by Ahmad Hirzan Anwari
    October 13, 2026
    0
    Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

    BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

    Read moreDetails

    Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

    by Emi Suy
    October 8, 2026
    0
    Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

    KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

    Read moreDetails

    Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

    by Abdul Karim Abraham
    September 29, 2026
    0
    Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

    LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

    Read moreDetails

    Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

    by Wisnu Oktaditya
    September 12, 2026
    0
    Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

    AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

    Read moreDetails

    Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

    by Chusmeru
    September 3, 2026
    0
    Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

    Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

    Read moreDetails

    SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

    by IRZI
    August 3, 2026
    0
    SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

    Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

    Read moreDetails

    Tuhan Yang Maha Puisi

    by Heski Dewabrata
    August 1, 2026
    0
    Tuhan Yang Maha Puisi

    The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

    Read moreDetails

    SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

    by I Wayan Sujana Suklu
    July 26, 2026
    0
    SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

    SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

    Read moreDetails

    Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

    by Azwar
    July 17, 2026
    0
    Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

    Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

    Read moreDetails
    Next Post
    Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

    Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
    Esai

    Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

    BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

    by I Ketut Suar Adnyana
    November 3, 2026
    Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
    Pendidikan

    Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

    KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

    by Dede Putra Wiguna
    November 3, 2026
    Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
    Pendidikan

    Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

    FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

    by Dede Putra Wiguna
    November 3, 2026
    Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
    Esai

    Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

    PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

    by I Gusti Made Darma Putra
    November 2, 2026
    Poem by Sugi Lanus | Yamuna
    Poetry

    Poem by Sugi Lanus | Yamuna

    My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

    by Sugi Lanus
    November 2, 2026
    Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
    Kritik Sastra

    Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

    SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

    by I Kadek Adhi Dwipayana
    November 2, 2026
    Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
    Kritik Sastra

    Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

    Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

    by Putu Eka Guna Yasa
    November 2, 2026
    Musik, Agama dan Politik
    Esai

    Musik, Agama dan Politik

    ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

    by Agung Sudarsa
    November 2, 2026
    Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
    Pameran

    Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

    SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

    by Ayu Kahuatu Tamar
    November 1, 2026
    “The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
    Khas

    “The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

    CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

    by Ayu Kahuatu Tamar
    November 1, 2026
    Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
    Panggung

    Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

    Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

    by tatkala
    November 1, 2026
    Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
    Bahasa

    Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

    SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

    by I Made Sudiana
    November 1, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co