- Judul : Rumah
- Penulis : JS Khairen
- Penerbit : PT Elex Media Komputindo
- Editor : Trian Lesmana dan Dion Rahman
- Tebal buku : 368 halaman
ADA banyak novel yang mengangkat tema tentang rumah. Sebagian memaknainya sebagai tempat kembali, sebagian lagi menjadikannya simbol keluarga, kenangan, atau luka yang tak kunjung sembuh. Karena itu, ketika mulai membaca ‘Rumah’ karya JS Khairen, kesan pertama yang muncul adalah dugaan bahwa novel ini akan menawarkan kisah yang tidak jauh berbeda: perjalanan seseorang berdamai dengan masa lalu kemudian pulang ke rumah. Dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.
Alih-alih menyajikan kisah yang klise, JS Khairen mengembangkan makna ‘pulang’ menjadi perjalanan batin yang jauh lebih luas. Rumah tidak lagi sekadar bangunan yang berdiri dengan tembok dan atap, melainkan ruang tempat seseorang berdamai dengan diri sendiri, keluarga, masa lalu, bahkan Tuhan. Gagasan itu dipertegas melalui salah satu kutipan: “Rumah tak sekadar dibangun oleh material dan keringat abang-abang proyek. Rumah dibangun oleh tolong, maaf, dan terima kasih.” (hal. 24).
Hal pertama yang paling menonjol dari novel ini justru kesederhanaannya. Namun, saya lebih suka menyebutnya sebagai novel yang ‘ramah’. Ramah bagi pembaca lintas usia, lintas latar belakang, dan lintas keyakinan. Bahasanya ringan, cara bertuturnya bersahabat, tetapi tetap mampu menyampaikan persoalan yang kompleks tanpa terasa menggurui.
Tokoh utamanya adalah Ria, seorang luxury travel planner berusia 27 tahun yang pekerjaannya mengatur perjalanan mewah para klien. Ia telah mengunjungi berbagai belahan dunia, dari kota-kota modern hingga pelosok yang jarang diketahui, bahkan sampai ke luar angkasa. Ironisnya, sejauh apa pun ia pergi, ia tak pernah menemukan tempat yang benar-benar bisa disebut sebagai ‘rumah’.
Rumah justru menjadi sumber luka. Masa kecil Ria dipenuhi cercaan sang ibu, kekerasan ayah, hingga kenyataan bahwa ayahnya memiliki keluarga lain. Trauma itu membuat kata ‘rumah’ menjadi sesuatu yang ia benci dan jauhi. Perasaan itu sudah ditegaskan sejak halaman-halaman awal.
“Hati-hati pulangnya. Selamat sampai rumah.” Sudah belasan tahun. Aku jijik dan benci kata itu. Rumah. (hal. 7).
“Masalahnya, aku sudahlah jijik, punya dendam pula pada rumah.” (hal. 8).
Dua kutipan itu menjadi fondasi emosional yang menjelaskan mengapa rumah, bagi Ria, bukanlah tempat yang menghadirkan rasa aman.
Penggambaran awal inilah yang menjadi pintu masuk perjalanan panjang Ria. Namun, yang menarik, perjalanan tersebut bukan semata-mata perjalanan geografis. Setiap tempat yang ia datangi, setiap orang yang ia temui, dan setiap peristiwa yang ia alami saling bertaut membentuk proses pendewasaan dirinya. Perlahan-lahan, pembaca diajak menyaksikan bagaimana dendam yang lama dipendam mulai menemukan ruang untuk berdamai.
Sedari awal, pencarian itu sebenarnya telah disiratkan melalui sajak yang muncul dalam novel: ‘Aku sudah keliling dunia, bahkan ke luar angkasa. Namun, tak aku temukan rumah, tempat menampung hati yang patah.’ (hal. 17). Kutipan ini memperlihatkan bahwa perjalanan Ria bukanlah soal jarak tempuh, melainkan pencarian ruang batin untuk pulang.
Kompleksitas perjalanan itu menjadi salah satu kekuatan novel ini. JS Khairen tidak sekadar memindahkan tokohnya dari satu tempat ke tempat lain. Setiap perjalanan memiliki fungsi dalam perkembangan karakter Ria. Tidak ada peristiwa yang terasa sia-sia.
Yang juga patut diapresiasi adalah cara pengarang mengelola ritme cerita. Banyak novel bertema keluarga atau penyembuhan batin cenderung tergopoh-gopoh menuju penyelesaian. Konflik dibangun cepat, lalu diselesaikan instan demi memberikan akhir yang bahagia.
Dalam novel ‘Rumah’, hal itu tidak terjadi. JS Khairen justru membiarkan banyak pertanyaan tetap menggantung hingga halaman-halaman akhir. Apakah Ria benar-benar akan pulang? Apakah ia akhirnya berdamai dengan keluarganya? Apakah ia benar-benar menikah? Ke mana kehidupannya setelah itu? Bagaimana hubungan Ria dengan saudara tirinya?
Sebagian pertanyaan memang tidak dijawab secara gamblang. Namun, di situlah letak kekuatan novel ini. Kehidupan memang tidak selalu memberikan jawaban lengkap. Ada ruang yang sengaja dibiarkan kosong agar pembaca memaknainya sendiri. Pilihan seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak tergopoh-gopoh mengakhiri cerita.
Keunikan lain yang memberi warna pada novel ini adalah penyisipan format percakapan melalui chat atau gaya alternate universe (AU). Kehadiran elemen-elemen tersebut menjadi penyegar di tengah narasi yang panjang. Pembaca dapat membayangkan interaksi antartokoh lebih dekat, sekaligus menghadirkan nuansa akrab bagi generasi muda yang terbiasa berkomunikasi melalui layar.
Kedekatan itu semakin kuat karena Ria bukan hanya tokoh utama, tetapi juga narator cerita. Ia acap berbicara langsung kepada pembaca sehingga pengalaman membaca terasa personal. Seolah-olah kita sedang duduk bersamanya, mendengarkan ia bercerita tentang hidupnya.
Kendati demikian, di balik kesederhanaan bercerita, ‘Rumah’ sesungguhnya adalah novel yang religius. Topiknya sangat lekat dengan tradisi Islam. Ada pembahasan mengenai pesantren, hubungan manusia dengan Tuhan, hingga perjalanan spiritual umrah.
Namun, menariknya, unsur religius tersebut tidak menjadi tembok yang membatasi pembaca dari latar belakang lintas agama. Sebaliknya, JS Khairen mampu mengemasnya secara inklusif dan manusiawi.
Sebagai seorang non-Muslim, saya tetap dapat mengikuti perjalanan spiritual Ria. Yang saya tangkap bukan semata-mata ajaran agama tertentu, melainkan pengalaman manusia yang mencari kedamaian. Pada akhirnya, pulang bukan hanya kembali ke rumah atau keluarga, tetapi juga kembali kepada Tuhan sebagai tempat perlindungan terakhir.
Pergulatan itu mencapai salah satu titik reflektif ketika Ria bertanya kepada dirinya sendiri, “Pulang ini bukan soal bangunan. Bukan soal tempat orangtua dan keluarga kita tinggal. Ini soal hati. Apakah aku yang seberdosa ini masih diminta pulang?” (hal. 167). Di titik ini, makna rumah bergeser sepenuhnya menjadi persoalan batin dan spiritual.
Di sinilah novel ‘Rumah’ memperlihatkan kedalaman maknanya. Mengingatkan bahwa manusia acap kali baru mengingat Tuhan ketika musibah datang, padahal pulang kepada-Nya seharusnya menjadi perjalanan sepanjang hidup.
Novel ini juga berani mengajukan pertanyaan retoris yang jarang diucapkan secara terbuka: “Kalau ada anak durhaka, mengapa tidak ada orang tua durhaka?” (hal. 122). Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghakimi orang tua, melainkan mengajak pembaca melihat relasi keluarga lebih adil dan manusiawi. Tanpa memihak salah satu sisi, JS Khairen menunjukkan bahwa luka dalam keluarga hampir selalu lahir dari relasi yang gagal dibangun dengan sehat.
Selain mengangkat tema keluarga dan spiritualitas, ‘Rumah’ juga menyelipkan berbagai kritik sosial dan politik secara ringan. Kritik-kritik tersebut tidak mendominasi cerita, tetapi hadir sebagai sisipan yang menghidupkan narasi. Pembaca diajak memahami konteks sosial yang melingkupi para tokohnya, bahkan sesekali dibuat tersenyum tipis oleh sindiran maupun anekdot yang dituliskan pengarang. Kehadiran unsur ini membuat novel terasa lebih kaya karena tidak hanya berbicara tentang pergulatan pribadi, tetapi juga tentang masyarakat tempat tokoh-tokohnya hidup.
Menariknya lagi, JS Khairen tidak berhenti pada upaya mempertemukan Ria dengan keluarganya. Ia juga memperlihatkan bagaimana seseorang harus berdamai dengan dirinya sendiri sebelum benar-benar mampu pulang. Kesadaran itu tidak datang secara tiba-tiba. Ria terlebih dahulu mengakui kelemahannya sendiri: “Rupanya aku terlalu sombong untuk bahkan meminta maaf kepada diriku sendiri.” (hal. 175). Pengakuan ini menjadi salah satu penanda awal rekonsiliasi dengan masa lalunya.
Perjalanan tersebut juga mengubah cara pandang Ria terhadap banyak hal yang dahulu ia benci. Salah satunya, pesantren. Dulu, Ria menganggap pesantren adalah simbol keterpaksaan dan hilangnya kebebasan. Namun, seiring perjalanan batinnya, pandangan itu perlahan berubah. Ia akhirnya mengakui, “Dulu aku bilang pesantren adalah kuburan massal impian banyak anak. Rupanya tidak. Aku baru paham maksud pentingnya pesantren hari ini.” (hal. 256). Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa kedewasaan acap kali lahir bukan karena keadaan berubah, melainkan karena manusia belajar melihat masa lalu dengan perspektif berbeda.
Puncak pemaknaan tentang rumah hadir menjelang akhir novel ketika Ria menyadari apa yang selama ini hilang dari keluarganya: “Rupanya ini yang luput dari keluarga kami selama ini. Percakapan. Bahasa keren anak zaman sekarang, deep talk. Selama ini, rumah kami hanya bangunan kosong, tanpa bicara. Tanpa nyawa. Sekarang, saat justru jauh dari rumah, nyawa itu hidup.” (hal. 317). Kutipan ini seolah merangkum keseluruhan gagasan novel: rumah tidak hanya dibangun dengan material, melainkan oleh percakapan, kehadiran, dan kesediaan untuk saling mendengar.
Dengan ketebalan 368 halaman, ‘Rumah’ berhasil menghadirkan kisah yang hangat tanpa kehilangan kedalaman. Ia tidak menawarkan jawaban atas semua persoalan hidup, tetapi memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan makna rumah menurut pengalaman masing-masing. Justru karena tidak semua persoalan diselesaikan secara tuntas, novel ini terasa lebih jujur dalam menggambarkan kehidupan. Sebab, hidup memang tidak selalu berakhir dengan semua luka yang sembuh atau semua pertanyaan yang terjawab.
Pada akhirnya, saya kembali pada kesan pertama ketika usai membaca kisah ini: ‘Rumah’ adalah novel yang ‘ramah’. Ramah bagi siapa saja yang sedang merindukan rumah, lama tidak mengenal rumah, atau bahkan sengaja menjauh dari rumah. Novel ini tidak hanya mengajak pembaca pulang kepada keluarga, tetapi juga pulang kepada diri sendiri, kepada percakapan yang hilang, dan kepada Tuhan sebagai tempat kembali yang paling hakiki.
Intinya, rumah bukan hanya sebuah bangunan yang menunggu kita pulang. Rumah adalah orang-orang yang masih membuka pintu ketika kita datang, ruang yang memberi kesempatan untuk saling memaafkan, dan tempat di mana hati akhirnya menemukan ketenangan. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























