24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
in Ulas Buku
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Novel Rumah karya JS Khairen

  • Judul             : Rumah
  • Penulis          : JS Khairen
  • Penerbit        : PT Elex Media Komputindo
  • Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman
  • Tebal buku   : 368 halaman

ADA banyak novel yang mengangkat tema tentang rumah. Sebagian memaknainya sebagai tempat kembali, sebagian lagi menjadikannya simbol keluarga, kenangan, atau luka yang tak kunjung sembuh. Karena itu, ketika mulai membaca ‘Rumah’ karya JS Khairen, kesan pertama yang muncul adalah dugaan bahwa novel ini akan menawarkan kisah yang tidak jauh berbeda: perjalanan seseorang berdamai dengan masa lalu kemudian pulang ke rumah. Dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.

Alih-alih menyajikan kisah yang klise, JS Khairen mengembangkan makna ‘pulang’ menjadi perjalanan batin yang jauh lebih luas. Rumah tidak lagi sekadar bangunan yang berdiri dengan tembok dan atap, melainkan ruang tempat seseorang berdamai dengan diri sendiri, keluarga, masa lalu, bahkan Tuhan. Gagasan itu dipertegas melalui salah satu kutipan: “Rumah tak sekadar dibangun oleh material dan keringat abang-abang proyek. Rumah dibangun oleh tolong, maaf, dan terima kasih.” (hal. 24).

Hal pertama yang paling menonjol dari novel ini justru kesederhanaannya. Namun, saya lebih suka menyebutnya sebagai novel yang ‘ramah’. Ramah bagi pembaca lintas usia, lintas latar belakang, dan lintas keyakinan. Bahasanya ringan, cara bertuturnya bersahabat, tetapi tetap mampu menyampaikan persoalan yang kompleks tanpa terasa menggurui.

Tokoh utamanya adalah Ria, seorang luxury travel planner berusia 27 tahun yang pekerjaannya mengatur perjalanan mewah para klien. Ia telah mengunjungi berbagai belahan dunia, dari kota-kota modern hingga pelosok yang jarang diketahui, bahkan sampai ke luar angkasa. Ironisnya, sejauh apa pun ia pergi, ia tak pernah menemukan tempat yang benar-benar bisa  disebut sebagai ‘rumah’.

Rumah justru menjadi sumber luka. Masa kecil Ria dipenuhi cercaan sang ibu, kekerasan ayah, hingga kenyataan bahwa ayahnya memiliki keluarga lain. Trauma itu membuat kata ‘rumah’ menjadi sesuatu yang ia benci dan jauhi. Perasaan itu sudah ditegaskan sejak halaman-halaman awal.

“Hati-hati pulangnya. Selamat sampai rumah.” Sudah belasan tahun. Aku jijik dan benci kata itu. Rumah. (hal. 7).

“Masalahnya, aku sudahlah jijik, punya dendam pula pada rumah.” (hal. 8).

Dua kutipan itu menjadi fondasi emosional yang menjelaskan mengapa rumah, bagi Ria, bukanlah tempat yang menghadirkan rasa aman.

Penggambaran awal inilah yang menjadi pintu masuk perjalanan panjang Ria. Namun, yang menarik, perjalanan tersebut bukan semata-mata perjalanan geografis. Setiap tempat yang ia datangi, setiap orang yang ia temui, dan setiap peristiwa yang ia alami saling bertaut membentuk proses pendewasaan dirinya. Perlahan-lahan, pembaca diajak menyaksikan bagaimana dendam yang lama dipendam mulai menemukan ruang untuk berdamai.

Sedari awal, pencarian itu sebenarnya telah disiratkan melalui sajak yang muncul dalam novel: ‘Aku sudah keliling dunia, bahkan ke luar angkasa. Namun, tak aku temukan rumah, tempat menampung hati yang patah.’ (hal. 17). Kutipan ini memperlihatkan bahwa perjalanan Ria bukanlah soal jarak tempuh, melainkan pencarian ruang batin untuk pulang.

Kompleksitas perjalanan itu menjadi salah satu kekuatan novel ini. JS Khairen tidak sekadar memindahkan tokohnya dari satu tempat ke tempat lain. Setiap perjalanan memiliki fungsi dalam perkembangan karakter Ria. Tidak ada peristiwa yang terasa sia-sia.

Yang juga patut diapresiasi adalah cara pengarang mengelola ritme cerita. Banyak novel bertema keluarga atau penyembuhan batin cenderung tergopoh-gopoh menuju penyelesaian. Konflik dibangun cepat, lalu diselesaikan instan demi memberikan akhir yang bahagia.

Dalam novel ‘Rumah’, hal itu tidak terjadi. JS Khairen justru membiarkan banyak pertanyaan tetap menggantung hingga halaman-halaman akhir. Apakah Ria benar-benar akan pulang? Apakah ia akhirnya berdamai dengan keluarganya? Apakah ia benar-benar menikah? Ke mana kehidupannya setelah itu? Bagaimana hubungan Ria dengan saudara tirinya?

Sebagian pertanyaan memang tidak dijawab secara gamblang. Namun, di situlah letak kekuatan novel ini. Kehidupan memang tidak selalu memberikan jawaban lengkap. Ada ruang yang sengaja dibiarkan kosong agar pembaca memaknainya sendiri. Pilihan seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak tergopoh-gopoh mengakhiri cerita.

Keunikan lain yang memberi warna pada novel ini adalah penyisipan format percakapan melalui chat atau gaya alternate universe (AU). Kehadiran elemen-elemen tersebut menjadi penyegar di tengah narasi yang panjang. Pembaca dapat membayangkan interaksi antartokoh lebih dekat, sekaligus menghadirkan nuansa akrab bagi generasi muda yang terbiasa berkomunikasi melalui layar.

Kedekatan itu semakin kuat karena Ria bukan hanya tokoh utama, tetapi juga narator cerita. Ia acap berbicara langsung kepada pembaca sehingga pengalaman membaca terasa personal. Seolah-olah kita sedang duduk bersamanya, mendengarkan ia bercerita tentang hidupnya.

Kendati demikian, di balik kesederhanaan bercerita, ‘Rumah’ sesungguhnya adalah novel yang religius. Topiknya sangat lekat dengan tradisi Islam. Ada pembahasan mengenai pesantren, hubungan manusia dengan Tuhan, hingga perjalanan spiritual umrah.

Namun, menariknya, unsur religius tersebut tidak menjadi tembok yang membatasi pembaca dari latar belakang lintas agama. Sebaliknya, JS Khairen mampu mengemasnya secara inklusif dan manusiawi.

Sebagai seorang non-Muslim, saya tetap dapat mengikuti perjalanan spiritual Ria. Yang saya tangkap bukan semata-mata ajaran agama tertentu, melainkan pengalaman manusia yang mencari kedamaian. Pada akhirnya, pulang bukan hanya kembali ke rumah atau keluarga, tetapi juga kembali kepada Tuhan sebagai tempat perlindungan terakhir.

Pergulatan itu mencapai salah satu titik reflektif ketika Ria bertanya kepada dirinya sendiri, “Pulang ini bukan soal bangunan. Bukan soal tempat orangtua dan keluarga kita tinggal. Ini soal hati. Apakah aku yang seberdosa ini masih diminta pulang?” (hal. 167). Di titik ini, makna rumah bergeser sepenuhnya menjadi persoalan batin dan spiritual.

Di sinilah novel ‘Rumah’ memperlihatkan kedalaman maknanya. Mengingatkan bahwa manusia acap kali baru mengingat Tuhan ketika musibah datang, padahal pulang kepada-Nya seharusnya menjadi perjalanan sepanjang hidup.

Novel ini juga berani mengajukan pertanyaan retoris yang jarang diucapkan secara terbuka: “Kalau ada anak durhaka, mengapa tidak ada orang tua durhaka?” (hal. 122). Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghakimi orang tua, melainkan mengajak pembaca melihat relasi keluarga lebih adil dan manusiawi. Tanpa memihak salah satu sisi, JS Khairen menunjukkan bahwa luka dalam keluarga hampir selalu lahir dari relasi yang gagal dibangun dengan sehat.

Selain mengangkat tema keluarga dan spiritualitas, ‘Rumah’ juga menyelipkan berbagai kritik sosial dan politik secara ringan. Kritik-kritik tersebut tidak mendominasi cerita, tetapi hadir sebagai sisipan yang menghidupkan narasi. Pembaca diajak memahami konteks sosial yang melingkupi para tokohnya, bahkan sesekali dibuat tersenyum tipis oleh sindiran maupun anekdot yang dituliskan pengarang. Kehadiran unsur ini membuat novel terasa lebih kaya karena tidak hanya berbicara tentang pergulatan pribadi, tetapi juga tentang masyarakat tempat tokoh-tokohnya hidup.

Menariknya lagi, JS Khairen tidak berhenti pada upaya mempertemukan Ria dengan keluarganya. Ia juga memperlihatkan bagaimana seseorang harus berdamai dengan dirinya sendiri sebelum benar-benar mampu pulang. Kesadaran itu tidak datang secara tiba-tiba. Ria terlebih dahulu mengakui kelemahannya sendiri: “Rupanya aku terlalu sombong untuk bahkan meminta maaf kepada diriku sendiri.” (hal. 175). Pengakuan ini menjadi salah satu penanda awal rekonsiliasi dengan masa lalunya.

Perjalanan tersebut juga mengubah cara pandang Ria terhadap banyak hal yang dahulu ia benci. Salah satunya, pesantren. Dulu, Ria menganggap pesantren adalah simbol keterpaksaan dan hilangnya kebebasan. Namun, seiring perjalanan batinnya, pandangan itu perlahan berubah. Ia akhirnya mengakui, “Dulu aku bilang pesantren adalah kuburan massal impian banyak anak. Rupanya tidak. Aku baru paham maksud pentingnya pesantren hari ini.” (hal. 256). Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa kedewasaan acap kali lahir bukan karena keadaan berubah, melainkan karena manusia belajar melihat masa lalu dengan perspektif berbeda.

Puncak pemaknaan tentang rumah hadir menjelang akhir novel ketika Ria menyadari apa yang selama ini hilang dari keluarganya: “Rupanya ini yang luput dari keluarga kami selama ini. Percakapan. Bahasa keren anak zaman sekarang, deep talk. Selama ini, rumah kami hanya bangunan kosong, tanpa bicara. Tanpa nyawa. Sekarang, saat justru jauh dari rumah, nyawa itu hidup.” (hal. 317). Kutipan ini seolah merangkum keseluruhan gagasan novel: rumah tidak hanya dibangun dengan material, melainkan oleh percakapan, kehadiran, dan kesediaan untuk saling mendengar.

Dengan ketebalan 368 halaman, ‘Rumah’ berhasil menghadirkan kisah yang hangat tanpa kehilangan kedalaman. Ia tidak menawarkan jawaban atas semua persoalan hidup, tetapi memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan makna rumah menurut pengalaman masing-masing. Justru karena tidak semua persoalan diselesaikan secara tuntas, novel ini terasa lebih jujur dalam menggambarkan kehidupan. Sebab, hidup memang tidak selalu berakhir dengan semua luka yang sembuh atau semua pertanyaan yang terjawab.

Pada akhirnya, saya kembali pada kesan pertama ketika usai membaca kisah ini: ‘Rumah’ adalah novel yang ‘ramah’. Ramah bagi siapa saja yang sedang merindukan rumah, lama tidak mengenal rumah, atau bahkan sengaja menjauh dari rumah. Novel ini tidak hanya mengajak pembaca pulang kepada keluarga, tetapi juga pulang kepada diri sendiri, kepada percakapan yang hilang, dan kepada Tuhan sebagai tempat kembali yang paling hakiki.

Intinya, rumah bukan hanya sebuah bangunan yang menunggu kita pulang. Rumah adalah orang-orang yang masih membuka pintu ketika kita datang, ruang yang memberi kesempatan untuk saling memaafkan, dan tempat di mana hati akhirnya menemukan ketenangan. [T]

    Penulis: Dede Putra Wiguna
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: BukuJS KhairenSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

    Next Post

    Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

    Dede Putra Wiguna

    Dede Putra Wiguna

    Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

    Related Posts

    Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

    by Azwar
    July 17, 2026
    0
    Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

    Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

    Read moreDetails

    “Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

    by I Made Sujaya
    July 16, 2026
    0
    “Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

    Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

    Read moreDetails

    Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

    by IRZI
    July 12, 2026
    0
    Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

    KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

    Read moreDetails

    Mahindu, Si Perempuan Tembikar

    by Mas Ruscitadewi
    July 10, 2026
    0
    Mahindu, Si Perempuan Tembikar

    Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

    Read moreDetails

    “Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

    by I Nyoman Darma Putra
    July 9, 2026
    0
    “Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

    KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

    Read moreDetails

    Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

    by Dede Putra Wiguna
    July 1, 2026
    0
    Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

    Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

    Read moreDetails

    Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

    by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
    May 31, 2026
    0
    Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

    SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

    Read moreDetails

    Membaca Racauan Arman Dhani

    by Wayan Esa Bhaskara
    May 30, 2026
    0
    Membaca Racauan Arman Dhani

    Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

    Read moreDetails

    Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

    by Inno Koten
    May 20, 2026
    0
    Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

    TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

    Read moreDetails

    Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

    by Heski Dewabrata
    May 14, 2026
    0
    Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

    “Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

    Read moreDetails
    Next Post
    Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

    Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

      5 shares
      Share 5 Tweet 0
    • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
    Esai

    Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

    KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

    by Pande Susan
    July 24, 2026
    Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
    Pendidikan

    Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

    BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

    by Dede Putra Wiguna
    July 24, 2026
    Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
    Pameran

    Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

    DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

    by Dede Putra Wiguna
    July 24, 2026
    Siap-siap ke Lovina Festival 2026
    Panggung

    Siap-siap ke Lovina Festival 2026

    "Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

    by Komang Puja Savitri
    July 24, 2026
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
    Esai

    Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

    BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    July 24, 2026
    Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
    Esai

    Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

    Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

    by Surfian Rahmat AP
    July 24, 2026
    Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
    Gaya

    Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

    INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

    by tatkala
    July 24, 2026
    7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
    Khas

    7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

    KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

    by Nyoman Budarsana
    July 24, 2026
    Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
    Ulas Rupa

    Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

    BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

    by Angga Wijaya
    July 24, 2026
    Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
    Khas

    Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

    “SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

    by Dede Putra Wiguna
    July 24, 2026
    Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
    Ulas Rupa

    Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

    Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

    by Hartanto
    July 24, 2026
    Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
    Panggung

    Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

    PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

    by Nyoman Budarsana
    July 23, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co