SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari kemerdekaan. Di antara beragam ungkapan tersebut, ada satu kata yang hampir selalu hadir dan melekat erat, yakni dirgahayu. Di balik penggunaannya yang sangat masif, kata ini masih sering disalahkaprahkan, baik dari segi makna maupun penataannya dalam kalimat. Meninggalkan polemik angka yang kerap menyertai, menarik untuk menengok kembali perjalanan kata dirgahayu melalui kacamata linguistik, mulai dari akar Sanskerta hingga perjalanannya meresap ke dalam bahasa Indonesia, termasuk meluruskan miskonsepsi umum yang menyamakannya dengan “ulang tahun” serta dinamika penulisannya dalam aksara lokal.
Salah satu kesalahan persepsi yang paling sering mengakar di tengah masyarakat adalah menganggap kata dirgahayu bersinonim langsung dengan “ulang tahun” atau “selamat ulang tahun”. Secara leksikal dan gramatikal, anggapan ini keliru. Kata dirgahayu bukanlah kata benda (nomina) yang berarti hari jadi atau tanggal kelahiran, melainkan bentuk seruan atau doa yang berkedudukan sebagai kata sifat (adjektiva).
Secara etimologis, penelusuran linguistik membawa kita langsung pada akar bentuk asalnya. Kata dirgahayu dalam bahasa Indonesia merupakan hasil adopsi dan penyesuaian dari bentuk Sanskerta, yakni dīrghāyu. Berdasarkan Kamus Daring Sanskerta, kata ini terbentuk dari gabungan dua unsur dasar: dīrgha yang berarti ‘panjang’, dan āyu (atau āyus) yang berarti ‘usia’ atau ‘hidup’. Dalam tradisi asalnya, penggabungan ini melahirkan makna dasar berupa pengharapan atau doa agar sesuatu diberkati dengan kehidupan yang panjang, sehat, dan tumbuh harmonis.
Transformasi dari dīrghāyu dalam bahasa Sanskerta menjadi dirgahayu dalam bahasa Indonesia tidak terjadi secara instan. Proses ini melalui jalur transmisi budaya dan sastra klasik, terutama melalui perantara bahasa Jawa Kuno (Kawi). Merujuk pada Kamus Jawa Kuno—Indonesia karya P.J. Zoetmulder, jejak kata ini terekam kuat sebagai kosakata yang menghubungkan konsep kehidupan panjang dengan doa restu dalam khazanah sastra klasik Nusantara. Dalam teks-teks lama dan epigrafi tersebut, kosakata Sanskerta diadaptasi bukan sekadar sebagai alat komunikasi biasa, melainkan sebagai sarana legitimasi kultural. Dalam kamus-kamus sejarah bahasa Indonesia, kata ini kerap diberi penanda sastra lama, membuktikan rekam jejaknya sebagai kosakata arkais yang dihidupkan kembali untuk memenuhi kebutuhan wacana modern di ranah seremonial.
Seiring perpindahannya, terjadi pula penyempitan makna. Jika dalam akar aslinya kata ini dapat digunakan untuk mendoakan individu, dalam bahasa Indonesia modern dirgahayu mengalami spesialisasi fungsi. Kata ini kini dikhususkan bagi subjek yang bersifat makro atau institusional, seperti negara dan lembaga besar, saat memperingati hari jadi mereka. Dari sudut pandang semantik, menyamakan dirgahayu dengan “ulang tahun” adalah sebuah dislokasi makna, sebab ulang tahun adalah penanda waktu, sedangkan dirgahayu adalah bentuk permohonan agar eksistensi objek tersebut berumur panjang.
Menariknya, isu kebahasaan ini beririsan secara unik dengan praktik sosiolinguistik di daerah, seperti di Bali. Dalam ruang publik di Bali, kita kerap mendapati penulisan kata dirgahayu menggunakan aksara Bali yang merujuk pada ejaan aslinya, yakni dīrghāyu (mengikuti kaidah Sanskerta dan Jawa Kuno). Padahal, secara tata tulis modern, dirgahayu telah resmi diserap dan menjadi bagian dari sistem ortografi bahasa Indonesia yang menganut prinsip fonemis—menulis apa yang dibaca dan membaca apa yang ditulis. Ketika sebuah kata asing telah diserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia, kaidah penulisan aksara Bali yang digunakan untuk merekam bahasa Indonesia mestinya mengikuti wujud serapan Indonesianya (dirgahayu), alih-alih terus-menerus merujuk pada bentuk etimologis aslinya (dīrghāyu). Pertukaran kode tulis ini penting untuk mendisiplinkan kaidah bahasa Indonesia tanpa kehilangan identitas aksara lokal.
Menilik kembali perjalanan dirgahayu menyadarkan kita bahwa sebuah kata menyimpan sejarah panjang tentang bagaimana budaya masa lalu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Memahami bahwa dirgahayu berasal dari akar dīrghāyu—sekaligus mendudukkan aturan penulisannya secara tepat dalam bahasa Indonesia maupun aksara daerah—merupakan langkah esensial untuk merawat martabat bahasa kita secara utuh. [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole































