SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, “Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?”
Pertanyaan itu sering kali mampir ketika saya dan keluarga bahu-membahu melakukan berbagai upaya demi menjemput kesembuhan saya. Di sela-sela perjuangan melawan sakit ini, saya memilih untuk terus menulis setiap hari—sebuah ikhtiar sederhana untuk melupakan rasa sakit sekaligus merawat harapan. Menulis menjadi terapi, dan di atas lembar-lembar tulisan itu, saya selalu menegaskan satu sikap mental, “Saya optimistis bahwa saya akan sembuh dan dapat beraktivitas kembali seperti sediakala.” Namun, sebagai orang yang akrab dengan kata-kata, sebuah perenungan kecil tiba-tiba muncul: ketika kita mengucapkan kalimat tersebut sebagai penguat jiwa, apakah struktur kalimat yang kita gunakan sudah benar-benar mapan dalam kaidah bahasa kita?
Dalam belantara bahasa Indonesia, kita sering kali dicekoki pemahaman purba bahwa sebuah kalimat barulah sah jika predikatnya berupa kata kerja (verba) aktif. Harus ada tindakan, ada aktivitas fisik, ada keringat yang menetes. Padahal, bahasa kita jauh lebih lentur dan puitis dari sekadar urusan subjek yang memukul atau objek yang dipukul. Ada sebuah ruang luas yang disebut kalimat adjektival—sebuah struktur anggun ketika subjek bersanding langsung dengan predikat yang berupa kata sifat (adjektiva).
Ketika saya menulis saya optimistis, saya sedang tidak menceritakan sebuah aksi fisik. Saya sedang memotret keadaan, melukis suasana jiwa, atau menegaskan sebuah keteguhan sikap. Di sinilah letak keunikan bahasa Indonesia. Tanpa perlu disangga oleh kata kerja bantu seperti is, am, atau are dalam bahasa Inggris, subjek dan kata sifat bisa langsung menjalin kemitraan yang sah sebagai kalimat yang mandiri.
Petualangan bahasa menjadi kian menarik ketika kita mempertemukannya dengan situasi tubuh. Kalimat/klausa sesederhana saya sakit atau saya sembuh sejatinya adalah kalimat/klausa adjektival yang memotret status fisik saya. Dari titik inilah, kita bisa melihat tetangga dekatnya dalam tata bahasa, yaitu apa yang disebut verba keadaan (stative verbs). Jika verba aktif menuntut gerakan otot, verba keadaan justru merekam situasi yang diam dan abstrak. Ketika saya menulis bahwa saya sedang menderita sakit atau melewati masa perawatan, kata menderita dan melewati di sana berperan sebagai verba keadaan. Batas antara verba keadaan dan kata sifat memang setipis rambut; keduanya sama-sama merekam sebuah kondisi diam. Namun, ada kontras psikologis yang magis di sini: tubuh saya boleh jadi sedang terikat oleh situasi pasrah saat saya sakit, tetapi melalui tulisan, pikiran saya merdeka memilih kalimat adjektival yang bertenaga: saya optimistis.
Namun, kenyamanan berbahasa kadang membuat kita abai pada batas-batas tipis yang memisahkan ketepatan. Mana yang lebih tepat, saya optimis atau saya optimistis?
Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita akan menemukan bahwa kedua kata ini memegang mandat yang berbeda. Kata optimistis adalah bentuk kata sifat (adjektiva). Sifat inilah yang bertugas menerangkan kondisi jiwa penuh harapan dari si subjek. Maka, kalimat/klausa saya optimistis adalah bentuk kalimat adjektival yang paripurna dan baku. Sementara itu, optimis dicatat sebagai kata benda (nomina) yang merujuk pada manusianya—orang yang selalu berpengharapan baik.
Tentu saja, dalam warung kopi kehidupan atau obrolan santai sehari-hari, perbedaan tipis ini kerap kali menguap karena lidah kita menyukai kepraktisan. Namun, menulis—bagi saya yang sedang berjuang untuk sembuh—bukan sekadar tentang asal saling mengerti. Ini tentang bagaimana kita menghargai presisi estetika dari alat komunikasi kita sendiri. Berbahasa dengan tertib adalah cara kita menghormati isi kepala dan merawat kesadaran kita. Jadi, dalam menghadapi ujian kehidupan apa pun, apakah kita hanya ingin sekadar menjadi seorang yang optimis, atau mulai berani memilih untuk melangkah dengan sikap yang benar-benar optimistis? [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole






























