27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada “profesi” baru di dunia pendidikan. Pendidik yang murah senyum, penuh perhatian, hafal nama setiap murid, sabar mendengar keluh kesah mereka, tetapi semua itu dilakukan karena memang dibayar mahal oleh sekolah. Singkatnya, kasih sayang yang masuk dalam paket layanan pendidikan premium.

Namun begitu kalimat itu keluar, sontak saya sendiri langsung merasa tidak nyaman. Karena istilah itu mengacu pada posisi melanggar norma dan mengandung ketidakpantasan moral. Jadi segera saya merasa ini tuduhan yang terlalu biadab. Karena profesi guru tidak melanggar norma apa pun, serta juga banyak guru yang tetap mengajar dengan sepenuh hati, baik di sekolah negeri maupun swasta.  Itu memang benar. 

Maka dari itu, izinkan saya mematahkan istilah “Gigodik” itu sebelum para pembaca melempar sandal ke arah saya. Sebab persoalan sebenarnya bukanlah guru yang berpura-pura peduli. Persoalannya jauh lebih menyedihkan. Sistem pendidikan kita perlahan membuat kepedulian menjadi kemewahan.

Coba Pejamkan Mata Sejenak

Silakan para pembaca yang budiman untuk mengingat satu guru yang paling Anda kagumi semasa SD atau SMP. Saya berani bertaruh seratus ribuan, Anda tidak sedang mengingat guru dengan administrasi paling rapi. Bukan guru yang paling banyak sertifikat pelatihannya. Bukan pula guru yang paling mahir mengisi aplikasi penilaian. 

Yang Anda ingat justru sosok yang pernah meminjamkan buku, menunggu Anda selesai menangis dan mendengar masalah Anda, menepuk bahu ketika nilai jeblok, atau yang membela Anda saat seluruh kelas menertawakan kesalahan kecil Anda. Mengapa kenangan itu begitu melekat? Karena manusia selalu mengingat perhatian lebih lama daripada pelajaran.

Generasi saya tumbuh dengan lagu Iwan Fals tentang Oemar Bakrie. “Oemar Bakrie… Oemar Bakrie… pegawai negeri…” Lagu itu menggambarkan seorang guru yang hidup sederhana, bahkan cenderung kekurangan. Naik sepeda kumbang, bergaji pas-pasan, tetapi tetap mengajar. Ia menjadi simbol dedikasi seorang pendidik yang bekerja bukan karena mengejar kekayaan. 

Tentu saja lagu itu adalah karya seni, bukan laporan penelitian. Tidak semua guru pada masa itu seideal Oemar Bakrie. Namun ada satu hal yang membuat lagu itu tetap hidup hingga hari ini, bahwa masyarakat percaya bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa.  Sampai hari ini, sebagian kita masih menyanyikan lagu yang sama.

Tetapi dunia yang melahirkan Oemar Bakrie sudah berubah. Saya mulai menyadari sesuatu yang cukup mengganggu. Guru-guru yang paling menginspirasi saat ini justru semakin sering saya temui di sekolah-sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang tidak murah. Tengok bagaimana mereka menyambut murid di gerbang. Mengenal karakter setiap anak. Rajin berdialog dengan orang tua.  Mengajar tanpa tergesa-gesa, dan murid pun merasa diperhatikan sebagai manusia, bukan sekadar nomor induk.

Apakah Itu Berarti Guru Negeri Lebih Buruk?

Sama sekali tidak. Saya mengenal banyak guru negeri yang luar biasa. Bahkan juga sebagian guru terbaik dalam hidup saya berasal dari sekolah negeri. Lalu mengapa kesan itu muncul?  Jawabannya mungkin bukan berada pada gurunya,  melainkan pada sistem tempat guru itu bekerja. Kita sering lupa bahwa perhatian membutuhkan waktu. 

Empati membutuhkan energi, dan kesabaran membutuhkan ruang. Nah, guru yang setiap hari diburu laporan administrasi, target kurikulum, akreditasi, asesmen, pengisian aplikasi, hingga berbagai kewajiban birokrasi,  tentu akan lebih cepat kehabisan tenaga emosional.  Bukan karena ia tidak mencintai murid.  Tetapi karena ia terlalu lelah untuk mengekspresikan cinta itu.  Di sinilah kritik saya sebenarnya berada.  Samsek bukan kepada guru, lho ya.  Melainkan kepada kebijakan yang perlahan menguras sisi kemanusiaan profesi guru.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai iron cage, sangkar besi birokrasi. Semakin modern sebuah organisasi, semakin banyak aturan, prosedur, formulir, dan mekanisme pengawasan. Semuanya dibuat untuk meningkatkan efisiensi.

Namun di saat yang sama, ruang spontanitas manusia perlahan menyempit. Bukankah sekolah kita kini mulai menunjukkan gejala seperti itu? Guru dinilai dari dokumen dan diukur melalui indikator.  Diawasi lewat aplikasi lalu dievaluasi menggunakan angka.  Padahal hubungan antara guru dan murid tidak pernah lahir dari angka. Ia lahir dari tatapan mata, percakapan, perhatian, dan kehadiran.

Di sisi lain, sekolah-sekolah swasta unggulan memiliki keleluasaan yang lebih besar. Mereka mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik, pelatihan yang lebih rutin, rasio guru dan murid yang lebih kecil, serta budaya kerja yang sering kali lebih mendukung relasi personal. Akibatnya, banyak guru terbaik memilih bekerja di sana. 

Ini bukan dosa, bukan pula pengkhianatan. Ini adalah konsekuensi logis ketika pasar mulai ikut mengatur distribusi sumber daya manusia pendidikan.  Di sinilah kegelisahan saya muncul.  Jangan-jangan yang sedang dibeli oleh orang tua bukan sekadar gedung megah, laboratorium canggih, atau kurikulum internasional. Yang sebenarnya mereka beli adalah kesempatan, di mana anaknya diperhatikan sebagai manusia.

Pemikiran Pierre Bourdieu jadi terasa relevan. Pendidikan yang semestinya menjadi alat mobilitas sosial malah berubah menjadi mekanisme yang melahirkan ketimpangan. Mereka yang memiliki sumber daya lebih besar lebih mudah mengakses lingkungan belajar yang juga lebih mendukung. Dalam konteks Indonesia, saya melihat gejala lain yang lebih halus. Yang perlahan menjadi barang premium bukan hanya kualitas fasilitas. Melainkan kualitas hubungan, humanisasi pendidikan, dukungan empati, kedekatan, dan pendampingan.

Filsuf pendidikan Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung konsekuensi besar. Pendidikan tidak pernah sekedar berupa transfer pengetahuan, melainkan adalah perjumpaan antarmanusia. Masalahnya, perjumpaan membutuhkan waktu. Dan waktu adalah barang yang semakin langka di sekolah.

 Mungkin karena itulah kita semakin sering merindukan guru-guru masa lalu. Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka lebih modern. Tetapi karena mereka masih sempat menjadi manusia sebelum menjadi administrator pendidikan. Masih sempat mendengar cerita murid. Masih sempat mengenal kehidupan keluarganya.  Hari ini, sejatinya banyak guru ingin melakukan hal yang sama.  Hanya saja, sistem sering kali tidak memberi mereka kesempatan. Ketika bel pulang berbunyi, mereka harus berubah segera menjadi administrator.

Jadi, Apakah “Gigodik” Benar-Benar Ada?

Saya pastikan tidak. Yang ada justru fenomena yang lebih mengkhawatirkan. Di mana kita sedang membangun sistem pendidikan yang tanpa sadar membuat perhatian, empati, dan kedekatan lebih mudah tumbuh di tempat-tempat yang memiliki sumber daya lebih besar. Bukan karena kasih sayang bisa dibeli. Akan tetapi karena kesejahteraan, waktu, dan dukungan organisasi yang ada, bisa memberi ruang bagi kasih sayang itu untuk hadir. Dan di situlah ironi terbesar pendidikan kita.

Selama ini kita sibuk memperdebatkan kurikulum, ujian, akreditasi, sertifikasi, bahkan kecerdasan buatan. Namun kita hampir tidak pernah menggugat satu hal yang paling mendasar. Yaitu tentang kebijakan pendidikan kita, apakah masih memberi kesempatan kepada guru untuk benar-benar menjadi guru.

Sebab mungkin, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah berapa banyak dokumen yang berhasil diisi, bukan pula berapa banyak indikator yang berhasil dicapai.  Namun  berapa banyak anak yang pulang dari sekolah dengan keyakinan sederhana di hatinya bahwa di sana ada seorang guru yang benar-benar peduli kepada dirinya. Kalau hal itu sulit dibayangkan, mungkin yang sedang kehilangan arah bukan guru-guru kita, tetapi sistem pendidikan kita sendiri, sistem yang perlahan mengubah relasi pendidikan. Tabik.[T]

Tags: Pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

Next Post

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co