27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada “profesi” baru di dunia pendidikan. Pendidik yang murah senyum, penuh perhatian, hafal nama setiap murid, sabar mendengar keluh kesah mereka, tetapi semua itu dilakukan karena memang dibayar mahal oleh sekolah. Singkatnya, kasih sayang yang masuk dalam paket layanan pendidikan premium.

Namun begitu kalimat itu keluar, sontak saya sendiri langsung merasa tidak nyaman. Karena istilah itu mengacu pada posisi melanggar norma dan mengandung ketidakpantasan moral. Jadi segera saya merasa ini tuduhan yang terlalu biadab. Karena profesi guru tidak melanggar norma apa pun, serta juga banyak guru yang tetap mengajar dengan sepenuh hati, baik di sekolah negeri maupun swasta.  Itu memang benar. 

Maka dari itu, izinkan saya mematahkan istilah “Gigodik” itu sebelum para pembaca melempar sandal ke arah saya. Sebab persoalan sebenarnya bukanlah guru yang berpura-pura peduli. Persoalannya jauh lebih menyedihkan. Sistem pendidikan kita perlahan membuat kepedulian menjadi kemewahan.

Coba Pejamkan Mata Sejenak

Silakan para pembaca yang budiman untuk mengingat satu guru yang paling Anda kagumi semasa SD atau SMP. Saya berani bertaruh seratus ribuan, Anda tidak sedang mengingat guru dengan administrasi paling rapi. Bukan guru yang paling banyak sertifikat pelatihannya. Bukan pula guru yang paling mahir mengisi aplikasi penilaian. 

Yang Anda ingat justru sosok yang pernah meminjamkan buku, menunggu Anda selesai menangis dan mendengar masalah Anda, menepuk bahu ketika nilai jeblok, atau yang membela Anda saat seluruh kelas menertawakan kesalahan kecil Anda. Mengapa kenangan itu begitu melekat? Karena manusia selalu mengingat perhatian lebih lama daripada pelajaran.

Generasi saya tumbuh dengan lagu Iwan Fals tentang Oemar Bakrie. “Oemar Bakrie… Oemar Bakrie… pegawai negeri…” Lagu itu menggambarkan seorang guru yang hidup sederhana, bahkan cenderung kekurangan. Naik sepeda kumbang, bergaji pas-pasan, tetapi tetap mengajar. Ia menjadi simbol dedikasi seorang pendidik yang bekerja bukan karena mengejar kekayaan. 

Tentu saja lagu itu adalah karya seni, bukan laporan penelitian. Tidak semua guru pada masa itu seideal Oemar Bakrie. Namun ada satu hal yang membuat lagu itu tetap hidup hingga hari ini, bahwa masyarakat percaya bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa.  Sampai hari ini, sebagian kita masih menyanyikan lagu yang sama.

Tetapi dunia yang melahirkan Oemar Bakrie sudah berubah. Saya mulai menyadari sesuatu yang cukup mengganggu. Guru-guru yang paling menginspirasi saat ini justru semakin sering saya temui di sekolah-sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang tidak murah. Tengok bagaimana mereka menyambut murid di gerbang. Mengenal karakter setiap anak. Rajin berdialog dengan orang tua.  Mengajar tanpa tergesa-gesa, dan murid pun merasa diperhatikan sebagai manusia, bukan sekadar nomor induk.

Apakah Itu Berarti Guru Negeri Lebih Buruk?

Sama sekali tidak. Saya mengenal banyak guru negeri yang luar biasa. Bahkan juga sebagian guru terbaik dalam hidup saya berasal dari sekolah negeri. Lalu mengapa kesan itu muncul?  Jawabannya mungkin bukan berada pada gurunya,  melainkan pada sistem tempat guru itu bekerja. Kita sering lupa bahwa perhatian membutuhkan waktu. 

Empati membutuhkan energi, dan kesabaran membutuhkan ruang. Nah, guru yang setiap hari diburu laporan administrasi, target kurikulum, akreditasi, asesmen, pengisian aplikasi, hingga berbagai kewajiban birokrasi,  tentu akan lebih cepat kehabisan tenaga emosional.  Bukan karena ia tidak mencintai murid.  Tetapi karena ia terlalu lelah untuk mengekspresikan cinta itu.  Di sinilah kritik saya sebenarnya berada.  Samsek bukan kepada guru, lho ya.  Melainkan kepada kebijakan yang perlahan menguras sisi kemanusiaan profesi guru.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai iron cage, sangkar besi birokrasi. Semakin modern sebuah organisasi, semakin banyak aturan, prosedur, formulir, dan mekanisme pengawasan. Semuanya dibuat untuk meningkatkan efisiensi.

Namun di saat yang sama, ruang spontanitas manusia perlahan menyempit. Bukankah sekolah kita kini mulai menunjukkan gejala seperti itu? Guru dinilai dari dokumen dan diukur melalui indikator.  Diawasi lewat aplikasi lalu dievaluasi menggunakan angka.  Padahal hubungan antara guru dan murid tidak pernah lahir dari angka. Ia lahir dari tatapan mata, percakapan, perhatian, dan kehadiran.

Di sisi lain, sekolah-sekolah swasta unggulan memiliki keleluasaan yang lebih besar. Mereka mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik, pelatihan yang lebih rutin, rasio guru dan murid yang lebih kecil, serta budaya kerja yang sering kali lebih mendukung relasi personal. Akibatnya, banyak guru terbaik memilih bekerja di sana. 

Ini bukan dosa, bukan pula pengkhianatan. Ini adalah konsekuensi logis ketika pasar mulai ikut mengatur distribusi sumber daya manusia pendidikan.  Di sinilah kegelisahan saya muncul.  Jangan-jangan yang sedang dibeli oleh orang tua bukan sekadar gedung megah, laboratorium canggih, atau kurikulum internasional. Yang sebenarnya mereka beli adalah kesempatan, di mana anaknya diperhatikan sebagai manusia.

Pemikiran Pierre Bourdieu jadi terasa relevan. Pendidikan yang semestinya menjadi alat mobilitas sosial malah berubah menjadi mekanisme yang melahirkan ketimpangan. Mereka yang memiliki sumber daya lebih besar lebih mudah mengakses lingkungan belajar yang juga lebih mendukung. Dalam konteks Indonesia, saya melihat gejala lain yang lebih halus. Yang perlahan menjadi barang premium bukan hanya kualitas fasilitas. Melainkan kualitas hubungan, humanisasi pendidikan, dukungan empati, kedekatan, dan pendampingan.

Filsuf pendidikan Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung konsekuensi besar. Pendidikan tidak pernah sekedar berupa transfer pengetahuan, melainkan adalah perjumpaan antarmanusia. Masalahnya, perjumpaan membutuhkan waktu. Dan waktu adalah barang yang semakin langka di sekolah.

 Mungkin karena itulah kita semakin sering merindukan guru-guru masa lalu. Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka lebih modern. Tetapi karena mereka masih sempat menjadi manusia sebelum menjadi administrator pendidikan. Masih sempat mendengar cerita murid. Masih sempat mengenal kehidupan keluarganya.  Hari ini, sejatinya banyak guru ingin melakukan hal yang sama.  Hanya saja, sistem sering kali tidak memberi mereka kesempatan. Ketika bel pulang berbunyi, mereka harus berubah segera menjadi administrator.

Jadi, Apakah “Gigodik” Benar-Benar Ada?

Saya pastikan tidak. Yang ada justru fenomena yang lebih mengkhawatirkan. Di mana kita sedang membangun sistem pendidikan yang tanpa sadar membuat perhatian, empati, dan kedekatan lebih mudah tumbuh di tempat-tempat yang memiliki sumber daya lebih besar. Bukan karena kasih sayang bisa dibeli. Akan tetapi karena kesejahteraan, waktu, dan dukungan organisasi yang ada, bisa memberi ruang bagi kasih sayang itu untuk hadir. Dan di situlah ironi terbesar pendidikan kita.

Selama ini kita sibuk memperdebatkan kurikulum, ujian, akreditasi, sertifikasi, bahkan kecerdasan buatan. Namun kita hampir tidak pernah menggugat satu hal yang paling mendasar. Yaitu tentang kebijakan pendidikan kita, apakah masih memberi kesempatan kepada guru untuk benar-benar menjadi guru.

Sebab mungkin, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah berapa banyak dokumen yang berhasil diisi, bukan pula berapa banyak indikator yang berhasil dicapai.  Namun  berapa banyak anak yang pulang dari sekolah dengan keyakinan sederhana di hatinya bahwa di sana ada seorang guru yang benar-benar peduli kepada dirinya. Kalau hal itu sulit dibayangkan, mungkin yang sedang kehilangan arah bukan guru-guru kita, tetapi sistem pendidikan kita sendiri, sistem yang perlahan mengubah relasi pendidikan. Tabik.[T]

Tags: Pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

Next Post

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails
Next Post
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co