17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada “profesi” baru di dunia pendidikan. Pendidik yang murah senyum, penuh perhatian, hafal nama setiap murid, sabar mendengar keluh kesah mereka, tetapi semua itu dilakukan karena memang dibayar mahal oleh sekolah. Singkatnya, kasih sayang yang masuk dalam paket layanan pendidikan premium.

Namun begitu kalimat itu keluar, sontak saya sendiri langsung merasa tidak nyaman. Karena istilah itu mengacu pada posisi melanggar norma dan mengandung ketidakpantasan moral. Jadi segera saya merasa ini tuduhan yang terlalu biadab. Karena profesi guru tidak melanggar norma apa pun, serta juga banyak guru yang tetap mengajar dengan sepenuh hati, baik di sekolah negeri maupun swasta.  Itu memang benar. 

Maka dari itu, izinkan saya mematahkan istilah “Gigodik” itu sebelum para pembaca melempar sandal ke arah saya. Sebab persoalan sebenarnya bukanlah guru yang berpura-pura peduli. Persoalannya jauh lebih menyedihkan. Sistem pendidikan kita perlahan membuat kepedulian menjadi kemewahan.

Coba Pejamkan Mata Sejenak

Silakan para pembaca yang budiman untuk mengingat satu guru yang paling Anda kagumi semasa SD atau SMP. Saya berani bertaruh seratus ribuan, Anda tidak sedang mengingat guru dengan administrasi paling rapi. Bukan guru yang paling banyak sertifikat pelatihannya. Bukan pula guru yang paling mahir mengisi aplikasi penilaian. 

Yang Anda ingat justru sosok yang pernah meminjamkan buku, menunggu Anda selesai menangis dan mendengar masalah Anda, menepuk bahu ketika nilai jeblok, atau yang membela Anda saat seluruh kelas menertawakan kesalahan kecil Anda. Mengapa kenangan itu begitu melekat? Karena manusia selalu mengingat perhatian lebih lama daripada pelajaran.

Generasi saya tumbuh dengan lagu Iwan Fals tentang Oemar Bakrie. “Oemar Bakrie… Oemar Bakrie… pegawai negeri…” Lagu itu menggambarkan seorang guru yang hidup sederhana, bahkan cenderung kekurangan. Naik sepeda kumbang, bergaji pas-pasan, tetapi tetap mengajar. Ia menjadi simbol dedikasi seorang pendidik yang bekerja bukan karena mengejar kekayaan. 

Tentu saja lagu itu adalah karya seni, bukan laporan penelitian. Tidak semua guru pada masa itu seideal Oemar Bakrie. Namun ada satu hal yang membuat lagu itu tetap hidup hingga hari ini, bahwa masyarakat percaya bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa.  Sampai hari ini, sebagian kita masih menyanyikan lagu yang sama.

Tetapi dunia yang melahirkan Oemar Bakrie sudah berubah. Saya mulai menyadari sesuatu yang cukup mengganggu. Guru-guru yang paling menginspirasi saat ini justru semakin sering saya temui di sekolah-sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang tidak murah. Tengok bagaimana mereka menyambut murid di gerbang. Mengenal karakter setiap anak. Rajin berdialog dengan orang tua.  Mengajar tanpa tergesa-gesa, dan murid pun merasa diperhatikan sebagai manusia, bukan sekadar nomor induk.

Apakah Itu Berarti Guru Negeri Lebih Buruk?

Sama sekali tidak. Saya mengenal banyak guru negeri yang luar biasa. Bahkan juga sebagian guru terbaik dalam hidup saya berasal dari sekolah negeri. Lalu mengapa kesan itu muncul?  Jawabannya mungkin bukan berada pada gurunya,  melainkan pada sistem tempat guru itu bekerja. Kita sering lupa bahwa perhatian membutuhkan waktu. 

Empati membutuhkan energi, dan kesabaran membutuhkan ruang. Nah, guru yang setiap hari diburu laporan administrasi, target kurikulum, akreditasi, asesmen, pengisian aplikasi, hingga berbagai kewajiban birokrasi,  tentu akan lebih cepat kehabisan tenaga emosional.  Bukan karena ia tidak mencintai murid.  Tetapi karena ia terlalu lelah untuk mengekspresikan cinta itu.  Di sinilah kritik saya sebenarnya berada.  Samsek bukan kepada guru, lho ya.  Melainkan kepada kebijakan yang perlahan menguras sisi kemanusiaan profesi guru.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai iron cage, sangkar besi birokrasi. Semakin modern sebuah organisasi, semakin banyak aturan, prosedur, formulir, dan mekanisme pengawasan. Semuanya dibuat untuk meningkatkan efisiensi.

Namun di saat yang sama, ruang spontanitas manusia perlahan menyempit. Bukankah sekolah kita kini mulai menunjukkan gejala seperti itu? Guru dinilai dari dokumen dan diukur melalui indikator.  Diawasi lewat aplikasi lalu dievaluasi menggunakan angka.  Padahal hubungan antara guru dan murid tidak pernah lahir dari angka. Ia lahir dari tatapan mata, percakapan, perhatian, dan kehadiran.

Di sisi lain, sekolah-sekolah swasta unggulan memiliki keleluasaan yang lebih besar. Mereka mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik, pelatihan yang lebih rutin, rasio guru dan murid yang lebih kecil, serta budaya kerja yang sering kali lebih mendukung relasi personal. Akibatnya, banyak guru terbaik memilih bekerja di sana. 

Ini bukan dosa, bukan pula pengkhianatan. Ini adalah konsekuensi logis ketika pasar mulai ikut mengatur distribusi sumber daya manusia pendidikan.  Di sinilah kegelisahan saya muncul.  Jangan-jangan yang sedang dibeli oleh orang tua bukan sekadar gedung megah, laboratorium canggih, atau kurikulum internasional. Yang sebenarnya mereka beli adalah kesempatan, di mana anaknya diperhatikan sebagai manusia.

Pemikiran Pierre Bourdieu jadi terasa relevan. Pendidikan yang semestinya menjadi alat mobilitas sosial malah berubah menjadi mekanisme yang melahirkan ketimpangan. Mereka yang memiliki sumber daya lebih besar lebih mudah mengakses lingkungan belajar yang juga lebih mendukung. Dalam konteks Indonesia, saya melihat gejala lain yang lebih halus. Yang perlahan menjadi barang premium bukan hanya kualitas fasilitas. Melainkan kualitas hubungan, humanisasi pendidikan, dukungan empati, kedekatan, dan pendampingan.

Filsuf pendidikan Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung konsekuensi besar. Pendidikan tidak pernah sekedar berupa transfer pengetahuan, melainkan adalah perjumpaan antarmanusia. Masalahnya, perjumpaan membutuhkan waktu. Dan waktu adalah barang yang semakin langka di sekolah.

 Mungkin karena itulah kita semakin sering merindukan guru-guru masa lalu. Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka lebih modern. Tetapi karena mereka masih sempat menjadi manusia sebelum menjadi administrator pendidikan. Masih sempat mendengar cerita murid. Masih sempat mengenal kehidupan keluarganya.  Hari ini, sejatinya banyak guru ingin melakukan hal yang sama.  Hanya saja, sistem sering kali tidak memberi mereka kesempatan. Ketika bel pulang berbunyi, mereka harus berubah segera menjadi administrator.

Jadi, Apakah “Gigodik” Benar-Benar Ada?

Saya pastikan tidak. Yang ada justru fenomena yang lebih mengkhawatirkan. Di mana kita sedang membangun sistem pendidikan yang tanpa sadar membuat perhatian, empati, dan kedekatan lebih mudah tumbuh di tempat-tempat yang memiliki sumber daya lebih besar. Bukan karena kasih sayang bisa dibeli. Akan tetapi karena kesejahteraan, waktu, dan dukungan organisasi yang ada, bisa memberi ruang bagi kasih sayang itu untuk hadir. Dan di situlah ironi terbesar pendidikan kita.

Selama ini kita sibuk memperdebatkan kurikulum, ujian, akreditasi, sertifikasi, bahkan kecerdasan buatan. Namun kita hampir tidak pernah menggugat satu hal yang paling mendasar. Yaitu tentang kebijakan pendidikan kita, apakah masih memberi kesempatan kepada guru untuk benar-benar menjadi guru.

Sebab mungkin, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah berapa banyak dokumen yang berhasil diisi, bukan pula berapa banyak indikator yang berhasil dicapai.  Namun  berapa banyak anak yang pulang dari sekolah dengan keyakinan sederhana di hatinya bahwa di sana ada seorang guru yang benar-benar peduli kepada dirinya. Kalau hal itu sulit dibayangkan, mungkin yang sedang kehilangan arah bukan guru-guru kita, tetapi sistem pendidikan kita sendiri, sistem yang perlahan mengubah relasi pendidikan. Tabik.[T]

Tags: Pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

Next Post

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co