7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada “profesi” baru di dunia pendidikan. Pendidik yang murah senyum, penuh perhatian, hafal nama setiap murid, sabar mendengar keluh kesah mereka, tetapi semua itu dilakukan karena memang dibayar mahal oleh sekolah. Singkatnya, kasih sayang yang masuk dalam paket layanan pendidikan premium.

Namun begitu kalimat itu keluar, sontak saya sendiri langsung merasa tidak nyaman. Karena istilah itu mengacu pada posisi melanggar norma dan mengandung ketidakpantasan moral. Jadi segera saya merasa ini tuduhan yang terlalu biadab. Karena profesi guru tidak melanggar norma apa pun, serta juga banyak guru yang tetap mengajar dengan sepenuh hati, baik di sekolah negeri maupun swasta.  Itu memang benar. 

Maka dari itu, izinkan saya mematahkan istilah “Gigodik” itu sebelum para pembaca melempar sandal ke arah saya. Sebab persoalan sebenarnya bukanlah guru yang berpura-pura peduli. Persoalannya jauh lebih menyedihkan. Sistem pendidikan kita perlahan membuat kepedulian menjadi kemewahan.

Coba Pejamkan Mata Sejenak

Silakan para pembaca yang budiman untuk mengingat satu guru yang paling Anda kagumi semasa SD atau SMP. Saya berani bertaruh seratus ribuan, Anda tidak sedang mengingat guru dengan administrasi paling rapi. Bukan guru yang paling banyak sertifikat pelatihannya. Bukan pula guru yang paling mahir mengisi aplikasi penilaian. 

Yang Anda ingat justru sosok yang pernah meminjamkan buku, menunggu Anda selesai menangis dan mendengar masalah Anda, menepuk bahu ketika nilai jeblok, atau yang membela Anda saat seluruh kelas menertawakan kesalahan kecil Anda. Mengapa kenangan itu begitu melekat? Karena manusia selalu mengingat perhatian lebih lama daripada pelajaran.

Generasi saya tumbuh dengan lagu Iwan Fals tentang Oemar Bakrie. “Oemar Bakrie… Oemar Bakrie… pegawai negeri…” Lagu itu menggambarkan seorang guru yang hidup sederhana, bahkan cenderung kekurangan. Naik sepeda kumbang, bergaji pas-pasan, tetapi tetap mengajar. Ia menjadi simbol dedikasi seorang pendidik yang bekerja bukan karena mengejar kekayaan. 

Tentu saja lagu itu adalah karya seni, bukan laporan penelitian. Tidak semua guru pada masa itu seideal Oemar Bakrie. Namun ada satu hal yang membuat lagu itu tetap hidup hingga hari ini, bahwa masyarakat percaya bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa.  Sampai hari ini, sebagian kita masih menyanyikan lagu yang sama.

Tetapi dunia yang melahirkan Oemar Bakrie sudah berubah. Saya mulai menyadari sesuatu yang cukup mengganggu. Guru-guru yang paling menginspirasi saat ini justru semakin sering saya temui di sekolah-sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang tidak murah. Tengok bagaimana mereka menyambut murid di gerbang. Mengenal karakter setiap anak. Rajin berdialog dengan orang tua.  Mengajar tanpa tergesa-gesa, dan murid pun merasa diperhatikan sebagai manusia, bukan sekadar nomor induk.

Apakah Itu Berarti Guru Negeri Lebih Buruk?

Sama sekali tidak. Saya mengenal banyak guru negeri yang luar biasa. Bahkan juga sebagian guru terbaik dalam hidup saya berasal dari sekolah negeri. Lalu mengapa kesan itu muncul?  Jawabannya mungkin bukan berada pada gurunya,  melainkan pada sistem tempat guru itu bekerja. Kita sering lupa bahwa perhatian membutuhkan waktu. 

Empati membutuhkan energi, dan kesabaran membutuhkan ruang. Nah, guru yang setiap hari diburu laporan administrasi, target kurikulum, akreditasi, asesmen, pengisian aplikasi, hingga berbagai kewajiban birokrasi,  tentu akan lebih cepat kehabisan tenaga emosional.  Bukan karena ia tidak mencintai murid.  Tetapi karena ia terlalu lelah untuk mengekspresikan cinta itu.  Di sinilah kritik saya sebenarnya berada.  Samsek bukan kepada guru, lho ya.  Melainkan kepada kebijakan yang perlahan menguras sisi kemanusiaan profesi guru.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai iron cage, sangkar besi birokrasi. Semakin modern sebuah organisasi, semakin banyak aturan, prosedur, formulir, dan mekanisme pengawasan. Semuanya dibuat untuk meningkatkan efisiensi.

Namun di saat yang sama, ruang spontanitas manusia perlahan menyempit. Bukankah sekolah kita kini mulai menunjukkan gejala seperti itu? Guru dinilai dari dokumen dan diukur melalui indikator.  Diawasi lewat aplikasi lalu dievaluasi menggunakan angka.  Padahal hubungan antara guru dan murid tidak pernah lahir dari angka. Ia lahir dari tatapan mata, percakapan, perhatian, dan kehadiran.

Di sisi lain, sekolah-sekolah swasta unggulan memiliki keleluasaan yang lebih besar. Mereka mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik, pelatihan yang lebih rutin, rasio guru dan murid yang lebih kecil, serta budaya kerja yang sering kali lebih mendukung relasi personal. Akibatnya, banyak guru terbaik memilih bekerja di sana. 

Ini bukan dosa, bukan pula pengkhianatan. Ini adalah konsekuensi logis ketika pasar mulai ikut mengatur distribusi sumber daya manusia pendidikan.  Di sinilah kegelisahan saya muncul.  Jangan-jangan yang sedang dibeli oleh orang tua bukan sekadar gedung megah, laboratorium canggih, atau kurikulum internasional. Yang sebenarnya mereka beli adalah kesempatan, di mana anaknya diperhatikan sebagai manusia.

Pemikiran Pierre Bourdieu jadi terasa relevan. Pendidikan yang semestinya menjadi alat mobilitas sosial malah berubah menjadi mekanisme yang melahirkan ketimpangan. Mereka yang memiliki sumber daya lebih besar lebih mudah mengakses lingkungan belajar yang juga lebih mendukung. Dalam konteks Indonesia, saya melihat gejala lain yang lebih halus. Yang perlahan menjadi barang premium bukan hanya kualitas fasilitas. Melainkan kualitas hubungan, humanisasi pendidikan, dukungan empati, kedekatan, dan pendampingan.

Filsuf pendidikan Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung konsekuensi besar. Pendidikan tidak pernah sekedar berupa transfer pengetahuan, melainkan adalah perjumpaan antarmanusia. Masalahnya, perjumpaan membutuhkan waktu. Dan waktu adalah barang yang semakin langka di sekolah.

 Mungkin karena itulah kita semakin sering merindukan guru-guru masa lalu. Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka lebih modern. Tetapi karena mereka masih sempat menjadi manusia sebelum menjadi administrator pendidikan. Masih sempat mendengar cerita murid. Masih sempat mengenal kehidupan keluarganya.  Hari ini, sejatinya banyak guru ingin melakukan hal yang sama.  Hanya saja, sistem sering kali tidak memberi mereka kesempatan. Ketika bel pulang berbunyi, mereka harus berubah segera menjadi administrator.

Jadi, Apakah “Gigodik” Benar-Benar Ada?

Saya pastikan tidak. Yang ada justru fenomena yang lebih mengkhawatirkan. Di mana kita sedang membangun sistem pendidikan yang tanpa sadar membuat perhatian, empati, dan kedekatan lebih mudah tumbuh di tempat-tempat yang memiliki sumber daya lebih besar. Bukan karena kasih sayang bisa dibeli. Akan tetapi karena kesejahteraan, waktu, dan dukungan organisasi yang ada, bisa memberi ruang bagi kasih sayang itu untuk hadir. Dan di situlah ironi terbesar pendidikan kita.

Selama ini kita sibuk memperdebatkan kurikulum, ujian, akreditasi, sertifikasi, bahkan kecerdasan buatan. Namun kita hampir tidak pernah menggugat satu hal yang paling mendasar. Yaitu tentang kebijakan pendidikan kita, apakah masih memberi kesempatan kepada guru untuk benar-benar menjadi guru.

Sebab mungkin, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah berapa banyak dokumen yang berhasil diisi, bukan pula berapa banyak indikator yang berhasil dicapai.  Namun  berapa banyak anak yang pulang dari sekolah dengan keyakinan sederhana di hatinya bahwa di sana ada seorang guru yang benar-benar peduli kepada dirinya. Kalau hal itu sulit dibayangkan, mungkin yang sedang kehilangan arah bukan guru-guru kita, tetapi sistem pendidikan kita sendiri, sistem yang perlahan mengubah relasi pendidikan. Tabik.[T]

Tags: Pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

Next Post

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co