IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pertunjukan ini mengangkat sosok Maria Katarina Sumarsih, seorang ibu yang selama bertahun-tahun memperjuangkan keadilan atas kematian anaknya, Wawan, dalam Tragedi Semanggi I 1998.
Alih-alih menghadirkan peristiwa masa lalu sebagai catatan sejarah semata, Berpayung Waktu mencoba mendekatinya melalui pengalaman personal. Kehilangan seorang anak, ingatan yang terus melekat, dan perjuangan yang tidak kunjung selesai menjadi bagian dari perjalanan tokoh yang dihadirkan di atas panggung.
Pendekatan bio-fiksi digunakan untuk mempertemukan fakta dan pengalaman manusiawi. Dengan cara tersebut, kisah Maria Katarina Sumarsih tidak hanya ditempatkan sebagai cerita tentang sebuah peristiwa, tetapi juga sebagai pengalaman tentang bagaimana seseorang hidup bersama ingatan dan menjadikannya alasan untuk terus bergerak.

Naskah Berpayung Waktu ditulis oleh Ihsan Abdiyana dalam Kelas Menulis Lakon Biofiksi. Dewi Qurrota Ayun, peserta Kelas Akting, dipercaya memerankan tokoh dalam monolog tersebut, sementara penyutradaraan ditangani Iswadi Pratama, pengampu Kelas Akting sekaligus Kelas Penyutradaraan.
Karya ini pertama kali dipresentasikan dalam Festival Kelas Titimangsa 2026 pada 2 Agustus 2026 di Shoemaker Studios, Cikini, Jakarta. Setelah itu, Berpayung Waktu melanjutkan perjalanannya ke Tasikmalaya.
Di atas panggung, perjalanan ingatan itu hendak disampaikan secara intim. Penonton tidak hanya diajak mengetahui sebuah peristiwa, tetapi juga merasakan bagaimana kehilangan dan ingatan dapat menetap begitu lama di dalam diri seseorang. Ingatan, dalam konteks ini, bukan sesuatu yang pasif. Ia dapat menjadi energi untuk bertahan, sekaligus menjadi bagian dari perjuangan untuk mencari keadilan.
Bagi Dewi Qurrota Ayun, pertunjukan ini tidak berhenti pada fungsi sebagai tontonan. Ia melihat panggung sebagai ruang yang memungkinkan penonton berhenti sejenak, melihat kembali sebuah pengalaman, dan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini terlewatkan.


Gagasan tersebut sejalan dengan posisi IdeAlternatif yang berupaya mempertemukan seni pertunjukan dengan persoalan-persoalan yang hidup di tengah masyarakat. Teater ditempatkan bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai ruang untuk menghadirkan cerita, gagasan, dan percakapan yang dekat dengan pengalaman manusia.
IdeAlternatif merupakan kanal media pribadi Ihsan Abdiyana yang ditujukan untuk kolaborasi penciptaan karya seni dengan nilai benar, baik, dan indah untuk semua kalangan, sekaligus menjadi ruang aman untuk bersama.
Perjalanan Berpayung Waktu sendiri tidak dimaksudkan berhenti pada satu panggung. Ihsan Abdiyana, selaku produser sekaligus penulis naskah, melihat karya ini sebagai sesuatu yang masih dapat terus tumbuh dan menemukan ruang baru.
“Sebagai sebuah karya bertumbuh, “Berpayung Waktu” akan terus dikembangkan dan didedikasikan untuk disajikan secara berkala serta berkeliling dari satu tempat ke tempat lain”. Ujar Ihsan Abdiyana, selaku produser sekaligus penulis naskah monolog ini.


Tasikmalaya menjadi salah satu persinggahan dalam perjalanan tersebut. Selain pertunjukan, kunjungan ini juga membuka ruang sharing process dan diskusi bersama komunitas maupun publik setempat. Pertemuan itu menjadi kesempatan untuk membicarakan proses penciptaan karya sekaligus memperluas percakapan mengenai ingatan, kehilangan, dan perjuangan atas keadilan.
Dengan demikian, perjalanan Berpayung Waktu tidak sekadar membawa sebuah pertunjukan monolog dari Jakarta ke Tasikmalaya. Pun membawa sebuah ingatan yang belum selesai dan mengajak orang-orang di tempat baru untuk kembali membicarakannya.
Sebab waktu memang terus berjalan. Tetapi bagi mereka yang kehilangan, ingatan tidak selalu bergerak mengikuti jarum jam. Ada kenangan yang bertahan, ada pertanyaan yang terus menunggu jawaban, dan ada perjuangan yang memilih untuk tidak dilupakan.[T]






























