29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
in Panggung
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

Sesi diskusi ‘How Do We Write the Unbearable?’ di Agung Stage, Taman Baca Ubud, dalam rangkaian UWRF 2026│Foto: tatkala.co/Dede

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan itu?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam sesi bertajuk Bagaimana Kita Menulis yang Tak Tertahankan? pada hari terakhir Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Minggu, 25 Oktober 2026, di Agung Stage, Taman Baca Ubud. Sesi tersebut berlangsung dalam bahasa Inggris, How Do We Write the Unbearable?

Di hadapan audiens yang memadati area diskusi, perbincangan berlangsung hangat dan reflektif. Perhatian tertuju pada panggung saat para pembicara mengupas pengalaman dan persoalan yang kerap sulit diungkapkan secara terbuka.

Diskusi yang dipandu Putri Emelli (jurnalis dan penata strategi kreatif), menghadirkan tiga perempuan dari latar belakang berbeda. Mereka adalah Dian Purnomo (novelis sekaligus peneliti isu sosial), Cyntha Hariadi (penulis puisi, cerpen, dan novel), serta Olphi Disya Arinda (psikolog klinis sekaligus penulis).

Ketiganya berbagi pandangan tentang bagaimana mengolah penderitaan, trauma, dan pengalaman manusia yang paling berat menjadi tulisan, tanpa kehilangan kejujuran maupun kepekaan terhadap mereka yang kisahnya diangkat.

Dian Purnomo memaparkan pandangannya dalam sesi diskusi ‘How Do We Write the Unbearable?’│Foto: tatkala.co/Dede

Dian Purnomo mengungkapkan bahwa pengalaman yang tak tertahankan kerap ditemuinya melalui penelitian dan perjumpaan dengan orang-orang yang hidup dalam situasi penuh ketidakadilan. Ia mencontohkan praktik kawin tangkap di Sumba hingga perdagangan manusia yang melibatkan perempuan dalam industri seks.

“Bagi saya, kisah-kisah orang yang saya temui, termasuk pengalaman yang saya alami sendiri, merupakan hal-hal yang tak tertahankan. Seperti praktik kawin tangkap di Sumba dan perdagangan manusia yang melibatkan perempuan,” ujar Dian.

Pengalaman dan hasil penelitian tersebut turut membentuk karya-karya Dian. Salah satunya novel Mawar, Bukan Nama Sebenarnya, yang mengangkat eksploitasi anak perempuan di kawasan Puncak. Karyanya bahkan telah diterbitkan dalam bahasa Polandia dan sedang diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Bagi Dian, persoalan yang dihadapi perempuan juga tidak dapat dilepaskan dari struktur kekuasaan yang lebih luas. Ia menilai patriarki bukan sekadar persoalan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

“Ketika berbicara tentang patriarki, kita tidak hanya berbicara tentang perempuan dan laki-laki, tetapi tentang sistem. Siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai,” tuturnya.

Pembahasan mengenai patriarki dan ketimpangan kekuasaan menyita perhatian audiens. Mereka menyimak dengan saksama penjelasan Dian bahwa persoalan tersebut bukan semata menyangkut gender, melainkan juga sistem kekuasaan yang memungkinkan ketidakadilan terus berlangsung.

Cyntha Hariadi memaparkan pandangannya dalam sesi diskusi ‘How Do We Write the Unbearable?’│Foto: tatkala.co/Dede

 

Persoalan ketimpangan dan suara-suara yang terpinggirkan juga menjadi perhatian Cyntha Hariadi. Melalui karya-karyanya, penulis asal Tangerang, Banten ini banyak mengeksplorasi isu keluarga, perempuan dan anak, kerusakan lingkungan, hingga persoalan identitas kelompok minoritas di Indonesia.

“Menulis tentang kelompok minoritas berarti memberi ruang bagi pengalaman yang sering kali tidak didengar. Tulisan bisa menjadi tempat bagi suara-suara itu untuk hadir,” ujarnya.

Menurut Cyntha, pengalaman kelompok minoritas penting mendapat tempat dalam karya sastra karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan kisahnya.

“Tidak semua pengalaman memperoleh ruang dalam percakapan sehari-hari. Melalui tulisan, kita bisa menghadirkan perspektif yang selama ini mungkin luput dari perhatian,” kata Cyntha.

Cyntha sendiri telah menerbitkan dua buku puisi, Ibu Mendulang Anak Berlari (2016) dan CICA (2024); dua kumpulan cerpen, Manifesto Flora (2017) dan Mimi Lemon (2023); serta novel dongeng Kokokan Mencari Arumbawangi (2020).

Olphi Disya Arinda memaparkan pandangannya dalam sesi diskusi ‘How Do We Write the Unbearable?’│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara itu, Olphi Disya Arinda membawa pembahasan pada dimensi psikologis, khususnya trauma dan bagaimana pengalaman menyakitkan dapat memengaruhi kehidupan seseorang.

“Trauma bukan sekadar peristiwa menyakitkan yang pernah dialami, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman itu membekas dalam diri seseorang. Karena itu, menuliskannya membutuhkan kepekaan,” jelasnya.

Sebagai psikolog profesional, Disya berpengalaman menangani berbagai persoalan, mulai dari trauma, kepribadian, relasi, pengasuhan, reproduksi, hingga gangguan mental klinis. Lulusan Universitas Padjadjaran yang melanjutkan pendidikan profesi psikolog di Universitas Indonesia ini juga aktif sebagai pembicara publik, pelatih korporat, dan kreator konten.

Dari perspektif psikologi, Disya menekankan pentingnya memperhatikan kondisi emosional ketika seseorang berhadapan kembali dengan pengalaman yang menyakitkan.

“Menuliskan pengalaman traumatis tidak selalu mudah. Ada emosi yang mungkin kembali muncul, sehingga penting untuk memahami kesiapan diri dan tidak memaksakan prosesnya,” terangnya.

Dari kiri ke kanan, Olphi Disya Arinda, Cyntha Hariadi, Dian Purnomo, dan Putri Emelli│Foto: tatkala.co/Dede

Suasana diskusi semakin reflektif ketika pembahasan beralih pada trauma dan pengalaman pribadi yang menyakitkan. Audiens diajak memahami bahwa di balik setiap tulisan tersimpan pengalaman manusia yang perlu disikapi dengan empati dan kepekaan, bukan sekadar keterampilan merangkai kata.

Melalui berbagai perspektif, diskusi tersebut menegaskan bahwa menuliskan pengalaman yang tak tertahankan bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga menuntut kepekaan dalam memahami luka, menjaga kebenaran, dan menghormati manusia di balik setiap kisah. Hal tersebut selaras dengan tema “Samarasā: Awareness, Empathy, Action” yang diusung UWRF 2026, yakni membangun kesadaran, menumbuhkan empati, dan mendorong tindakan nyata dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan.

Sebab, tidak semua penderitaan mudah diceritakan. Namun, melalui tulisan yang peka dan jujur, pengalaman yang selama ini terbungkam setidaknya memiliki kesempatan untuk diungkapkan, dibaca, dan didengar. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ubud Writers and Readers FestivalUWRFUWRF 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

Next Post

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails
Next Post
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co