28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

tatkala by tatkala
October 28, 2026
in Panggung
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

Pertunjukan seni sekaligus diseminasi riset bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Senin, 26 Oktober 2026 | Foto: Istimewa

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar mengikuti iringan musik kelompok Swara SeadaNya. Namun, di tengah adegan yang menampilkan angkara murka raksasa pemangsa manusia dalam Kakawin Sutasoma itu, Gunawan tiba-tiba berjoget gemoy, menekuk siku, dan melompat kecil. Gerakannya menirukan joget khas Prabowo Subianto saat kampanye presiden.

Parodi berlanjut dengan gestur emosional yang mengingatkan penonton pada ekspresi Prabowo ketika menyaksikan final FIFA ASEAN Cup 2026 di Gelora Bung Karno. Perubahan gerak dari sosok yang garang menjadi jenaka itu mengundang perhatian penonton. Melalui adegan tersebut, Gunawan, yang akrab disapa Guntje, membawa persoalan kekuasaan dan perilaku politik masa kini ke dalam pertunjukan yang berangkat dari teks sastra Jawa Kuno.

Adegan itu merupakan bagian dari pertunjukan seni sekaligus diseminasi riset bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” yang digelar di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, pada Senin, 26 Oktober 2026. Pertunjukan ini merupakan hasil riset alih wahana Kakawin Sutasoma yang dipimpin pakar kebudayaan Jawa, Dr. Turita Indah Setyani, bersama kelompok seni lintas disiplin Swara SeadaNya.

Sejak Oktober 2025, kelompok yang digawangi Gunawan Wicaksono, Ayi Suminar, Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, Abrar Husin, Bay Guitaro, dan Dr. Ari Prasetiyo itu menelusuri kembali karya Mpu Tantular untuk menemukan relevansinya dengan kehidupan kontemporer. Riset tersebut tidak berhenti pada pembacaan teks, tetapi dilanjutkan dengan eksplorasi gerak, musik, karakter, dan bentuk penyajian di atas panggung.

Pertunjukan seni sekaligus diseminasi riset bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Senin, 26 Oktober 2026 | Foto: Istimewa

Dalam proses itu, pertentangan antara Sutasoma dan Purusada menjadi salah satu pokok yang dikembangkan. Sutasoma merepresentasikan welas asih, kedamaian, dan kebajikan, sedangkan Purusada menggambarkan kerakusan serta dorongan untuk menguasai dan menghancurkan pihak lain. Keduanya tidak hanya dihadirkan sebagai tokoh dalam kisah klasik, tetapi juga sebagai gambaran pertentangan nilai yang dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat.

“Purusada itu cermin dari nafsu kekuasaan yang sering kali dibungkus oleh kejenakaan publik,” ujar Gunawan seusai pertunjukan ketika diwawancarai sejumlah media.

Bagi Guntje, penyisipan parodi politik bukan sekadar upaya mengundang tawa. Latar belakangnya sebagai wartawan foto dan penulis budaya selama puluhan tahun turut membentuk kepekaannya terhadap simbol, perilaku tokoh publik, dan dinamika politik. Pengalaman tersebut ia bawa ke panggung untuk mengolah persoalan sosial menjadi pertunjukan yang dapat dibaca penonton melalui bahasa tubuh, ekspresi, dan humor.

Dalam kelompok Swara SeadaNya, pendekatan itu bertemu dengan kerja riset dan eksperimen artistik. Tokoh Purusada tidak hanya dimainkan sebagai raksasa yang kejam, tetapi juga dikembangkan melalui gestur yang dekat dengan kehidupan politik sehari-hari. Perpaduan karakter garang dan gerakan jenaka membuat penonton berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana kekuasaan ditampilkan, diterima, dan dipertontonkan kepada publik.

Refleksi Sumpah Pemuda

Selain mengkritik kekuasaan, pertunjukan “SUTASOMA VS PURUSADA” mengajak penonton menimbang kembali nilai persatuan dalam momentum menjelang peringatan ke-98 Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026.

Dalam konteks kebangsaan, pertentangan Sutasoma dan Purusada dapat dibaca sebagai gambaran pergulatan antara kepentingan bersama dan ego kelompok. Sumpah Pemuda pada 1928 menjadi tonggak ketika para pemuda dari beragam latar belakang daerah, bahasa, dan budaya menyatakan komitmen untuk bertanah air, berbangsa, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia.

Ikrar tersebut menuntut kesediaan untuk melampaui kepentingan kedaerahan demi tujuan bersama. Semangat itu berhadapan dengan persoalan yang masih relevan hingga kini, seperti sikap eksklusif, kebencian terhadap kelompok berbeda, dan ambisi pribadi yang mengabaikan kepentingan masyarakat luas.

Nilai welas asih dalam Kakawin Sutasoma menjadi salah satu landasan refleksi tersebut. Sikap menghargai sesama, mengendalikan diri, dan menerima perbedaan dapat menjadi bekal untuk merawat persatuan di tengah keberagaman. Nilai-nilai itu juga berkaitan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dikenal luas sebagai prinsip persatuan dalam perbedaan.

Pertunjukan seni sekaligus diseminasi riset bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Senin, 26 Oktober 2026 | Foto: Istimewa

Manajer Swara SeadaNya, Ayi Suminar, mengatakan bahwa pertarungan kedua tokoh tersebut memiliki kaitan dengan kehidupan bangsa saat ini.

“Pertarungan antara Sutasoma dan Purusada bukan sekadar kisah wiracarita klasik, melainkan cerminan dari pergulatan jiwa bangsa kita hari ini. Esensi Sumpah Pemuda pada dasarnya adalah kemenangan ‘Sutasoma’, welas asih, persatuan, dan keluhuran budi, atas ‘Purusada’, segala bentuk egoisme, perpecahan, dan angkara murka yang bersemayam dalam diri. Oleh karena itu, merawat Indonesia dan menjaga kebhinekaan adalah medan pertempuran batin yang harus terus kita menangkan setiap hari dari dalam diri kita sendiri,” ungkap Ayi.

Dalam pertunjukan ini, pertentangan Sutasoma dan Purusada tidak semata-mata diarahkan untuk menentukan siapa yang menang. Keduanya menjadi cara untuk membicarakan konflik nilai yang terus muncul dalam kehidupan manusia, baik dalam hubungan antarpersonal maupun dalam kehidupan berbangsa.

Pesan itu juga disampaikan melalui koreografi dua penari remaja, Ganeshauman Taqwa Lumakso dan Indonesiana Ayuningtyas. Ganeshauman membawakan figur Sutasoma, sedangkan Indonesiana memerankan Purusada. Melalui gerak dan gestur, keduanya mengolah pertentangan antara welas asih dan angkara murka menjadi bahasa tubuh yang dapat disaksikan secara langsung oleh penonton.

Pertunjukan seni sekaligus diseminasi riset bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Senin, 26 Oktober 2026 | Foto: Istimewa

Kehadiran dua penari muda tersebut memperluas ruang refleksi pertunjukan kepada generasi berikutnya. Persatuan dan penghormatan terhadap keberagaman tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi juga nilai yang perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui perpaduan riset sastra, musik, koreografi, dan parodi politik, Swara SeadaNya berupaya menghadirkan kembali Kakawin Sutasoma dalam bentuk pertunjukan yang berhubungan dengan persoalan masa kini. Pementasan ini sekaligus menunjukkan bahwa teks klasik dapat menjadi bahan pembacaan kritis terhadap perilaku manusia dan kehidupan bernegara.

Pertunjukan tersebut terlaksana dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, LPDP, dan Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia. Melalui kegiatan ini, Swara SeadaNya mengajak penonton meninjau kembali nilai-nilai dalam Kakawin Sutasoma sekaligus merefleksikan makna Sumpah Pemuda: merawat persatuan, menghormati perbedaan, dan mengendalikan kepentingan diri agar tidak merugikan kehidupan bersama.[T]

Tags: alih wahanaGunawan WicaksonoKakawin SutasomaSutasoma vs Purusada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

Next Post

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails
Next Post
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co