28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

Chusmeru by Chusmeru
October 28, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 problematika rakyat Indonesia selesai. Begitu pun banyak yang berpikir, setelah presiden dipilih langsung oleh rakyat permasalahan negara ini sudah selesai.

Ternyata semua keliru. Indonesia tetap bermasalah dengan kemajemukannya. Kemerdekaan yang telah dicapai 81 tahun belum juga menyelesaikan masalah. Begitu pun pemilu yang menghasilkan wakil rakyat, kepala daerah, dan presiden secara langsung juga belum mampu membuat rakyat hidup tenang.

Masih ada tembok besar bernama etnosentrisme yang membuat persoalan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara ini tak pernah selesai. Seorang calon kepala daerah ditolak rakyat hanya karena berasal dari etnis tertentu. Pertandingan sepakbola diwarnai ujaran kebencian yang bernuansa rasisme. Mereka yang merantau dan bekerja di luar daerah diperlakukan diskriminatif karena berasal dari suku tertentu.

Etnosentrisme memang bukan hanya di Indonesia. Negara-negara maju dan modern pun masih ditemukan konflik sosial, ekonomi, dan politik yang bersumber dari perbedaan latar belakang suku, agama, ras, maupun antargolongan (SARA). Apalagi Indonesia yang begitu majemuk. Konflik acap muncul lantaran etnosentrisme.

Istilah penduduk pendatang menjadi terminologi yang bukan hanya bermakna sosial demografis, tetapi juga psikologis. Kaum pendatang acapkali menjadi sasaran kecurigaan dan kecemburuan sosial. Kadang pula menjadi sasaran permusuhan bila para pendatang itu lebih sukses secara ekonomi dan politik dibanding penduduk asli.

Etnosentrisme

Bukan barang baru, etnosentrisme sudah ada sejak peradaban manusia di muka bumi. Secara etimologis, etnosentrisme  merupakan salah satu praktik memandang atau menilai budaya orang lain berdasarkan nilai atau kepercayaan diri sendiri. Etnosentrisme menitikberatkan perilaku menerapkan budaya atau etnis sendiri sebagai acuan untuk menilai budaya, praktik, perilaku, kepercayaan orang lain.

Adalah William Graham Sumner, Sosiolog Amerika yang jauh hari sudah berbicara tentang etnosentrisme. Menurut Sumner, manusia itu makhluk berkelompok. Sejak lahir orang secara otomatis masuk ke satu kelompok dan membandingkannya dengan kelompok lain.

Setiap kelompok memupuk kebanggaan dan kesombongan, membanggakan diri lebih unggul, dan memandang rendah orang luar. Ciri semacam itu masih tampak pada masyarakat Indonesia yang mestinya lebih modern di tengah kemajemukan. Nyata adanya, ketika ada pendatang dari kelompok atau daerah lain dianggap asing, dicurigai, dan sering menjadi bahan pergunjingan.

Tembok besar yang bernama etnosentrisme di Indonesia menyeruak dalam dunia politik dan ekonomi. Pemilihan kepala daerah (pilkada) acap diwarnai narasi “Pemimpin harus putra daerah”. Ada folkways dan mores yang terus dijaga, yaitu pemimpin harus paham adat setempat. Karenanya, kampanye pilkada kadang bukan beradu program, tetapi adu identitas.

Konflik sumber daya dan otonomi daerah juga bisa berawal dari tembok besar etnosentrisme. Kecurigaan etnis masih begitu kuat. Pernyataan seperti:” Hasil alam kami dikuras orang Jawa” atau “Daerah itu malas, cuma bisa minta ke pusat” kadang masih terdengar. Tentu saja hal ini akan berdampak pada sulitnya komunikasi kebijakan antara pusat dan daerah.

Ketika toko ritel seperti Indomart dan Alfamart masuk ke pedesaan, muncul sentimen in-group dan out-group. Mereka dianggap kelompok luar yang menjajah warung dan pedagang lokal. Ada folkways yang terganggu, yaitu kebiasaan masyarakat mengobrol dan berutang di warung. Narasi etnosentrisme yang dibangun adalah “orang luar menguasai ekonomi kita”.

Keberhasilan maupun kegagalan seseorang dalam beberapa kasus sering dikaitkan dengan latar belakang suku, agama, maupun kelompok. Ketika etnis tertentu berhasil di bidang politik maupun ekonomi, orang akan mengatakan:”Pantaslah dia kan orang sana”. Pun saat etnis lain melakukan tindakan menyimpang, orang berkata:”Dasar orang seberang”. Maka muncul stigmatisasi “etnis kaya, etnis miskin, etnis malas, etnis ulet, etnis rusuh”, dan sebagainya.

Etnosentrisme versi Sumner tentunya kurang menguntungkan bagi Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi slogan semata. Perbedaan suku, agama, maupun budaya digunakan untuk meniadakan satu sama lain. Perbedaan tak dianggap sebagai keniscayaan, tapi dicurigai sebagai sebuah ancaman. Maka tak heran bila kasus penolakan pembangunan rumah ibadah dan ujaran kebencian atas dasar SARA masih saja terjadi.

Kerja Bersama

Merobohkan tembok besar etnosentrisme tidak dapat hanya dilakukan satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama antara diri sendiri, komunitas, media, dan pemerintah. Tujuannya bukan untuk menghapus identitas etnis, agama, maupun golongan, tetapi belajar untuk hidup berbeda tanpa saling menyerang atau menjatuhkan.

Pada level individu, orang harus pindah dari fase defense menuju acceptance sebagaimana disarankan Milton J.Bennett. Jangan lagi menjelekkan etnis lain dengan sebutan negatif (denigration) maupun membanggakan diri sebagai etnis yang paling kaya, paling baik, atau paling religius (superiority).

Orang harus mampu menerima perbedaan. Orang bisa saja mempunyai cara maupun perilaku yang berbeda, namun itu bukan satu kesalahan. Itulah relativisme budaya yang perlu dipahami semua orang. Perjalanan lintasbudaya perlu dilakukan untuk mengenal beragam perbedaan, baik dalam hal bahasa, makanan, maupun cara etnis tertentu memanfaatkan waktu.

Komunitas memegang peran penting dalam menembus tembok besar etnosentrisme. Forum dialog antarkelompok perlu sering dilakukan. Jangan sampai terjadi, ujaran rasis dari satu etnis terhadap etnis lain sudah memicu ketegangan, baru dilakukan dialog. Festival budaya dan kuliner nusantara dapat menjadi salah satu cara menyadarkan warga akan kebanggaan pada perbedaan.

Ada yang beranggapan etnosentrisme adalah persoalan individual dan komunal. Orang yang berpendidikan rendah dan tinggal di kampung cenderung etnosentris. Anggapan itu tidak selamanya benar. Realitanya, mereka yang berpendidikan tinggi juga dapat bersikap rasis. Senator yang duduk di kursi empuk parlemen di Senayan juga bisa menjadi rasis. Bahkan isu-isu kesukuan dan agama kerap menjadi komoditas demi popularitas dan karir politik seseorang.

Media massa dan media online dapat dijadikan sarana perlawanan framing “kita” dan “mereka”. Begitu banyak komentar di media terkait isu suku, agama, dan golongan yang justru saling berbenturan. Media dapat berperan menyajikan konten yang edukatif dan menjadi jembatan budaya. Berita dan unggahan tentang kekerasan dengan menyebut nama etnis justru akan mengokohkan tembok etnosentrisme.

Posisi pemerintah sangat penting dalam membuat kebijakan yang inklusif. Jangan sampai, misalnya, rekrutmen aparatur sipil negara dengan embel-embel syarat “harus putra daerah”. Kompetensi harus lebih utama ketimbang kesukuan. Pendidikan multikultur harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak sudah berada di tahap acceptance sejak kecil.

Kemajemukan Indonesia adalah satu keniscayaan. Namun bukan untuk membangun tembok besar etnosentrisme. Orang tidak boleh dipaksa untuk melupakan etnisnya, karena justru akan menimbulkan mekanisme defensif yang kuat. Sebaliknya, menyeragamkan atau menyamaratakan etnis juga dapat meniadakan keunikan.

Sembilan puluh delapan tahun Sumpah Pemuda dan 81 tahun merdeka, bangsa ini masih perlu banyak belajar tentang kemajemukan. Sensitivitas etnosentrisme mesti dinaikkan levelnya, dari menolak yang berbeda menjadi menghormati yang berbeda dan bekerja sama dengan yang berbeda. Di sinilah tembok besar etnosentrisme itu akan runtuh dengan sendirinya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: refleksisumpah pemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co