25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
in Esai
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”.

Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali mengingat keberadaannya. Tidak ada yang salah dengan itu, justru peringatan semacam ini penting. Ia membuat wayang kembali dibicarakan di tengah kehidupan yang semakin riuh oleh hal-hal baru.

Tetapi sebagai orang yang tumbuh dekat dengan dunia pedalangan Bali, saya justru tergelitik oleh satu pertanyaan : sejak kapan sebenarnya para dalang Bali merasa perlu memiliki Hari Wayang?

Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan.

Barangkali mereka tidak pernah merasa perlu menciptakannya.

Sebab jauh sebelum istilah Hari Wayang Nasional maupun Hari Wayang Dunia ramai kita kenal, para dalang di Bali telah mempunyai satu hari istimewa untuk wayang.

Namanya Tumpek Wayang.

Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Sebab Tumpek Wayang tidak datang dengan spanduk bertuliskan Selamat Hari Wayang. Tidak ada seremoni penghargaan. Tidak ada panggung khusus yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa hari itu wayang sedang dirayakan.

Sebaliknya, yang terjadi justru lebih sunyi. Wayang dirapikan. Perangkat pedalangan ditata.
banten dipersiapkan. Doa dihaturkan.

Wayang yang pada hari-hari lain berada di tangan dalang sebagai media pertunjukan, pada hari itu ditempatkan kembali sebagai sesuatu yang dimuliakan.

Mungkin di situlah perbedaan menarik antara merayakan wayang dan memuliakan wayang.

KETIKA WAYANG BERHENTI MENJADI TONTONAN

Tumpek Wayang seperti mengajak seorang dalang berhenti sejenak dari kesibukannya memainkan wayang.

Aneh juga sebenarnya, setiap saat dalang menarikan wayang, berbicara, bertengkar, bercanda, jatuh cinta, berperang, bahkan berbicara tentang Tuhan. Tetapi pada Tumpek Wayang, seolah-olah keadaan berbalik.

Bukan lagi dalang yang “menghidupkan” wayang.

Justru wayanglah yang mengingatkan sang dalang tentang kehidupannya.

Bahwa di balik keterampilan memainkan tokoh, ada pengetahuan yang diwariskan. Di balik suara dan dialog, ada guru yang pernah mengajarkan. Di balik tangan yang lincah memainkan wayang, ada proses panjang yang membentuk seorang dalang.

Karena itu yang mendapat perhatian bukan hanya wayangnya, Keropak, kelir, cepala, dan berbagai perangkat yang menyertai pagelaran pewayangan turut memperoleh tempat dalam momentum tersebut, benda-benda itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain tetapi bagi seorang dalang, benda-benda tersebut menyimpan perjalanan.

Tumpek Wayang kemudian menjadi semacam ruang untuk mengembalikan kesadaran bahwa wayang bukan semata-mata produk seni.

Ia adalah sebuah dunia.

LALU DATANGLAH SAPUH LEGER

Ada lapisan lain yang membuat Wuku Wayang menjadi semakin menarik.

Pada rentang waktu inilah kita sering menjumpai pagelaran Wayang Sapuh Leger, yang berkaitan dengan panglukatan Sapuh Leger bagi mereka yang lahir pada Wuku Wayang.

Di sini wayang semakin sulit disebut sekadar tontonan.

Kisah tentang Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Rare Kumara membawa kita pada sebuah perjalanan yang pada salah satu bagiannya mempertemukan Sang Hyang Kala dengan sang dalang.

Pertemuan itu penting, sebab dalang di dalam kisah Sapuh Leger bukan hanya orang yang duduk di belakang kelir sambil memainkan tokoh Ia seakan berada dalam posisi yang unik, menjadi pencerita sekaligus hadir di dalam struktur spiritual cerita yang sedang dituturkannya.

Di sinilah kita bertemu dengan istilah Dalang Samirana.

Dalam tradisi pedalangan Bali, gelar ini tidak semata-mata berbicara tentang kepandaian seseorang memainkan wayang. Ia membawa bayangan tentang kematangan seorang dalang, pengetahuan, kemampuan pedalangan, pengalaman, sekaligus laku spiritual yang menyertainya.

Maka menjadi dalang tiba-tiba terdengar jauh lebih berat daripada sekadar mampu membuat penonton tertawa, sebab ada saat ketika tangannya tidak hanya dituntut piawai menggerakkan wayang. Ada saat ketika dirinya sendiri menjadi bagian dari tanggung jawab pertunjukan itu.

WAYANG TIDAK MEMBUTUHKAN UCAPAN SELAMAT

Mungkin ini terdengar sedikit nakal.

Tetapi saya membayangkan wayang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan ucapan Selamat Hari Wayang.

Yang dibutuhkan wayang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit, ada orang yang mau mempelajarinya, ada dalang yang terus memainkannya, ada generasi yang berani menafsirkannya, ada masyarakat yang masih menyediakan ruang baginya, dan ada pengetahuan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Barangkali karena itulah Tumpek Wayang terasa begitu menarik.

Ia tidak meminta kita sekadar mengingat wayang.

Ia meminta kita membangun hubungan dengannya.

Dan mungkin jauh sebelum kita sibuk menentukan kapan wayang harus dirayakan, para pendahulu telah meninggalkan sebuah cara yang jauh lebih dalam untuk melakukannya.

Bukan dengan mengatakan:

“Hari ini adalah Hari Wayang.”

Tetapi dengan sebuah tindakan sederhana, mengeluarkan wayang, membersihkannya, menatanya, menghaturkan persembahan, mengingat guru dan pengetahuan yang diwariskan, lalu menyadari kembali bahwa apa yang berada di tangan seorang dalang bukan sekadar benda pertunjukan.

Ia adalah pengetahuan.

Ia adalah ingatan.

Ia adalah laku.

Dan selama semua itu masih diwariskan, wayang tidak sedang diperingati, Wayang sedang dihidupkan. [T]

Tags: Hari Wayangpewayanganwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

Next Post

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co