DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi panjang dan fokus mendengarkan. Di sana, mereka tak lagi sekadar menghafal koreografi, tetapi juga belajar membangun karakter, menyusun adegan, hingga merajut alur dramatari yang utuh. Ini menjadi penanda bahwa perjalanan mereka tengah memasuki babak baru.
Harapan itu tumbuh melalui dukungan hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam Program BIMA (Inovasi Seni Nusantara). Bersama tim pelaksana dari Universitas Bumigora, Sanggar Putri Nyale di Lombok Tengah menjalani tahap pertama program bertajuk “Pemberdayaan Sanggar Putri Nyale Melalui Seni Pertunjukan Dramatari untuk Mendukung Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Lombok Tengah”—yang dimulai dari 12 Juli sampai September 2026 itu.

Program tersebut tidak hanya menghadirkan lokakarya, tetapi juga pendampingan latihan dramatari serta penyerahan bantuan inventaris berupa kostum tari, perlengkapan make up, dan perangkat sound system. Ketiga bentuk dukungan itu dirancang saling melengkapi, agar sanggar memiliki kemampuan artistik sekaligus fasilitas yang memadai untuk terus berkarya.
Workshop menjadi pintu awal bagi para anggota sanggar untuk memahami konsep penciptaan dramatari. Mereka diajak mendalami pengembangan artistik, menyusun konsep pertunjukan, hingga memikirkan strategi pengemasan karya agar mampu tampil sebagai produk wisata budaya yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya Sasak.
Proses belajar kemudian berlanjut di ruang latihan. Bersama para fasilitator, anggota sanggar mempraktikkan penyusunan adegan, pengembangan karakter, komposisi gerak, hingga membangun alur pertunjukan yang utuh. Pendekatan ini dipilih agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, melainkan langsung diterapkan menjadi karya yang siap dikembangkan menuju pementasan.

Ketua pelaksana program, Taufik Mawardi, M.A., menilai pemberdayaan komunitas seni harus dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, penguatan kapasitas seniman tidak cukup hanya melalui pelatihan, tetapi juga perlu diiringi dengan penyediaan sarana yang menunjang proses kreatif.
“Melalui dukungan Program BIMA Inovasi Seni Nusantara, kami berupaya menghadirkan pendampingan yang benar-benar menjawab kebutuhan sanggar. Workshop dan latihan bertujuan meningkatkan kapasitas artistik para anggota, sementara bantuan inventaris menjadi modal awal agar mereka memiliki sarana yang lebih memadai untuk berlatih dan memproduksi pertunjukan secara profesional,” ujarnya.
Bagi Taufik, sasaran program ini jauh melampaui lahirnya satu karya dramatari. Yang ingin dibangun adalah kemandirian komunitas seni agar mampu terus berkembang setelah program berakhir.

“Kami berharap setelah program ini selesai, Sanggar Putri Nyale tidak hanya memiliki karya baru, tetapi juga memiliki kemampuan, pengalaman, dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai pertunjukan berikutnya. Pada akhirnya, sanggar diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam penguatan pariwisata budaya dan ekonomi kreatif di Lombok Tengah.”
Semangat yang sama dirasakan Pembina Sanggar Putri Nyale, Nyoman Prawani Wulantari, S.Sn.. Baginya, program ini membuka pengalaman baru bagi para anggota sanggar yang selama ini lebih banyak berkutat pada tari tradisional.
“Pendampingan yang dilakukan sangat membantu kami dalam memahami proses penciptaan dramatari. Selama ini kami lebih banyak bergerak pada tari tradisional, sedangkan melalui program ini kami belajar bagaimana mengembangkan sebuah pertunjukan yang memiliki alur cerita, penyajian artistik, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Sasak.”

Selain pengetahuan baru, kehadiran inventaris pendukung dinilai akan memberi manfaat jangka panjang bagi aktivitas berkesenian di sanggar.
“Kami sangat bersyukur atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan melalui Program Inovasi Seni Nusantara. Bantuan kostum, make up, dan sound system akan menjadi inventaris yang dapat kami gunakan dalam latihan maupun pementasan ke depan. Dukungan ini memberikan semangat baru bagi seluruh anggota untuk terus berkarya.”
Tahap pertama ini menjadi fondasi bagi rangkaian program berikutnya, yakni penyempurnaan dramatari hingga pementasan sebagai luaran utama kegiatan. Kolaborasi antara Kemdiktisaintek, Universitas Bumigora, dan Sanggar Putri Nyale diharapkan tidak hanya melahirkan sebuah pertunjukan baru, tetapi juga menjadi model pemberdayaan komunitas seni yang mampu memperkuat pelestarian budaya Sasak sekaligus membuka ruang baru bagi berkembangnya pariwisata budaya dan ekonomi kreatif di Lombok Tengah.[T]
Sumber/Penulis: Rilis/Jaswanto
Editor: Adnyana Ole































