3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

Jaswanto by Jaswanto
September 24, 2026
in Khas
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput liar | Foto: Istimewa

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu (23/9/2026) siang. Perupa, pelukis, penulis, sekaligus akademisi asal Bali yang aktif mengkaji seni rupa, budaya visual, dan tradisi lokal Bali itu, mengonfirmasi kondisi cagar budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang rupanya tak terawat sebagaimana mestinya.

Bale Kulkul Puri Pemecutan merupakan peninggalan sejarah dari abad ke-17. Berdiri di sudut barat daya perempatan (bencingah) kompleks Puri Agung Pemecutan Kuno, Denpasar, Bali, saat seluruh kompleks puri hancur dilalap api, Bale Kulkul ini menjadi satu-satunya struktur bangunan asli yang tersisa, utuh, dan tidak ikut terbakar saat Perang Puputan Badung pecah pada 1906.

Pada Minggu, 20 September 2026, bertempat di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Kota Denpasar, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar melaksanakan kegiatan penyerahan sertifikat Situs Cagar Budaya Kota Denpasar untuk tiga situs, yakni Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno, Pura Desa Bale Agung lan Puseh Desa Adat Tonja, dan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Denpasar.

Menurut keterangan takarir di akun Instagram Disbud Denpasar, penyerahan sertifikat ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan dan pelestarian warisan budaya di Kota Denpasar. “Bukan sekadar sebuah sertifikat, tetapi menjadi pengingat bersama akan pentingnya menjaga nilai sejarah, budaya, dan identitas yang diwariskan oleh para leluhur,” begitu keterangan foto penyerahan sertifikat yang diunggah Disbud Denpasar di akun Instagramnya empat hari lalu.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput liar | Foto: Istimewa

Jauh Panggang dari Api

Cagar budaya sering dipahami sebagai peninggalan masa lalu yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Bangunan tua, situs arkeologi, kawasan bersejarah, hingga struktur yang menyimpan jejak kehidupan masyarakat pada masa lampau bukan sekadar benda mati. Di dalamnya terdapat pengetahuan, ingatan, identitas, dan cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat terbentuk.

Karena itu, negara menempatkan cagar budaya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bahkan menegaskan bahwa negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya. Pengelolaannya juga melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Sementara itu, dalam konteks situs cagar budaya di Kota Denpasar, pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Cagar Budaya.

Namun, semua itu seperti jauh panggang dari api saat melihat kondisi, khsusunya, situs cagar budaya Bale Kulkul Puri Pemecutaan Kuno yang banyak diitumbuhi rumput dan semak liar―yang bisa saja merusak struktur bangunan situs. Belukar itu hidup nyaman, tumbuh di sela-sela ukiran dan nyaris menyelimuti bangunan. Kondisi ini juga sangat bertentangan dengan Kota Denpasar yang dianggap sebagai Kota Pusaka, Heritage City.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput dan tumbuhan liar | Foto: Istimewa

“Program pemkot (atau pemerintah pada umumnya) sebenarnya bagus, penetapan CB (cagar budaya), dll. Tetapi selalu berhenti pada tahap inventaris sampai penetapan. Padahal, bagian terpenting dari, katakanlah, perlindungan cagar budaya adalah pengetahuan masyarakat sekitar dalam merawat atau menjaga objeknya,” kritik Ajik Dewa, panggilan akrab Dewa Purwita Sukahet.

Menurutnya, kasus semacam ini kemungkinan tidak hanya terjadi kepada Bale Kulkul Puri Pemecutan, pun terhadap banyak situs cagar budaya di Bali, di mana pun. “Sepertinya begitu. Di Buleleng kan banyak juga objek CB yang kasusunya sama,” tuturnya.

Benar. Cagar budaya memang membutuhkan perawatan secara rutin. Kondisinya harus dipantau, lingkungan sekitarnya dikendalikan, data diperbarui, dan kemungkinan kerusakan harus dideteksi sejak awal. Kementerian Kebudayaan pada 2026 juga menekankan bahwa tantangan pelestarian bukan hanya mengenai besarnya anggaran, tetapi terutama keberlanjutan pembiayaan. Pemeliharaan rutin, pengawasan, data, serta sumber daya manusia tetap dibutuhkan setelah sebuah proyek fisik selesai.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput liar | Foto: Istimewa

Dengan demikian, logika proyek tidak selalu cocok diterapkan pada cagar budaya. Sebuah situs tidak dapat diperlakukan seperti jalan yang selesai diperbaiki lalu ditinggalkan sampai mengalami kerusakan berikutnya. Ia membutuhkan perhatian yang terus-menerus.

Hal-Hal yang Perlu Dilakukan

Mengenai masalah tersebut, Ajik Dewa menawarkan beberapa hal yang bisa dilakukan, khsusnya, oleh Pemerintah Kota Denpasar. Pertama, mengupayakan edukasi terkait pemeliharaan objek cagar budaya. “Sekarang kan banyak media edukasinya, bisa online atau offline,” ujarnya. “Masyarakat tidak dapat diharapkan ikut menjaga objek cagar budaya apabila mereka tidak mengetahui nilai penting, kondisi, serta cara memperlakukannya dengan benar,” sambungnya.

Edukasi mengenai pemeliharaan cagar budaya dapat dilakukan melalui dua jalur yang saling melengkapi, yakni secara luring dan daring. Edukasi luring dapat dilakukan melalui kunjungan ke situs, pameran, lokakarya, diskusi, pelatihan, kegiatan bersama sekolah, komunitas, maupun masyarakat di sekitar kawasan cagar budaya. Melalui pertemuan langsung, masyarakat dapat melihat kondisi objek, memahami bagian-bagian yang rentan mengalami kerusakan, sekaligus belajar mengenai tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan.

Pendekatan semacam ini penting karena pemeliharaan cagar budaya bukan hanya pekerjaan tenaga ahli. Ada tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh masyarakat, seperti tidak menyentuh bagian tertentu dari objek, tidak mencoret permukaan bangunan, tidak memindahkan benda, menjaga kebersihan lingkungan situs, serta melaporkan apabila menemukan kerusakan atau aktivitas yang berpotensi mengancam keberadaan cagar budaya.

Namun, edukasi tidak harus selalu menunggu masyarakat datang ke situs. Perkembangan teknologi digital membuka ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan cagar budaya sekaligus mengajarkan cara menjaganya. Pemerintah, lembaga kebudayaan, komunitas, dan pengelola situs dapat memanfaatkan media sosial, laman resmi, video pendek, infografik, podcast, webinar, hingga tur virtual sebagai sarana edukasi.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi tumbuhan liar | Foto: Istimewa

Kedua, membuat peta sebaran objek CB di Denpasar. “Supaya masyarakat tahu dan ngeh dengan keberadaan cagar budaya di sekitar meraka. Narasi CB ini memang penting untuk di-up,” ujar Ajik Dewa.

Peta yang dimaksud Aji Dewa bertujuan untuk mengetahui di mana objek cagar budaya berada. Pemerintah daerah dapat menyusun peta sebaran objek cagar budaya yang memuat lokasi, jenis, status penetapan, kondisi, serta informasi penting lainnya mengenai setiap objek. Peta semacam ini bukan sekadar penunjuk lokasi, tetapi dapat menjadi basis data spasial untuk membantu pemerintah memahami sebaran dan kondisi cagar budaya dalam suatu wilayah.

Peta sebaran menjadi penting karena objek cagar budaya tersebar di berbagai tempat, mulai dari kawasan perkotaan, pedesaan, pesisir, hingga wilayah yang sulit dijangkau. Tanpa informasi spasial yang memadai, pengawasan dan pemeliharaan berpotensi dilakukan secara tidak merata. Pemerintah dapat mengetahui objek mana yang berada dalam kawasan rawan pembangunan, objek yang berada di lingkungan padat penduduk, maupun situs yang membutuhkan perhatian lebih karena berada jauh dari pusat pemerintahan.

Peta tersebut juga dapat dilengkapi dengan informasi mengenai tingkat kerentanan setiap objek. Misalnya, objek yang terancam oleh abrasi, banjir, longsor, pertumbuhan permukiman, pembangunan infrastruktur, vandalisme, atau faktor lingkungan lainnya dapat ditandai secara khusus. Dengan demikian, peta tidak berhenti sebagai daftar lokasi, tetapi berkembang menjadi instrumen untuk menentukan prioritas pemantauan dan tindakan pelestarian.

Lebih jauh, peta sebaran cagar budaya dapat dibuka kepada masyarakat melalui platform digital yang mudah diakses. Masyarakat dapat mengetahui keberadaan situs di sekitar tempat tinggalnya, mempelajari sejarahnya, serta mendapatkan informasi mengenai aturan kunjungan dan cara ikut menjaga objek tersebut. Bagi sekolah dan komunitas, peta dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengenali sejarah lokal dan melihat hubungan antara satu situs dengan situs lainnya dalam suatu kawasan.

“Kalau kondisinya terus begini, ya berarti formalitas aja penetapannya,” kata Ajik Dewa sembari membubuhkan emoticon tertawa.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bale Kulkul Puri PemecutanKota DenpasarSitus Cagar Budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Next Post

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co