4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
September 14, 2026
in Khas
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Suasana diskusi publik “Rezim Perdagangan Bebas di Indo-Pasifik: Implikasinya terhadap Agraria, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan” di Pusdiklat SPI, Bogor, 3 September 2026

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru dapat memperdalam ketergantungan pangan, mempersempit ruang kebijakan negara, dan menempatkan petani kecil sebagai pihak yang paling rentan”.

Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan dari hasil diskusi publik bertajuk “Rezim Perdagangan Bebas di Indo-Pasifik: Implikasinya terhadap Agraria, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama UPN “Veteran” Jakarta dan Universitas Sumatera Utara pada 3 September lalu. Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan bebas tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekspor atau perluasan pasar, tetapi juga dari siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mengendalikan rantai perdagangan, dan siapa yang harus menanggung biayanya.

Pertanyaan itu penting karena perdagangan bebas selalu datang membawa janji yang terdengar meyakinkan: pasar yang lebih luas, investasi yang meningkat, harga yang lebih murah, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun, ketika kawasan Indo-Pasifik semakin dipenuhi perjanjian perdagangan dan kemitraan ekonomi, integrasi tidak dengan sendirinya menciptakan hubungan yang setara.

Negara-negara di kawasan terhubung melalui WTO, RCEP, berbagai perjanjian perdagangan bebas ASEAN, serta kesepakatan bilateral. Arsitektur tersebut membuat perdagangan pertanian semakin terintegrasi. Akan tetapi, bagi jutaan petani kecil di negara-negara berkembang, persoalan utamanya bukanlah seberapa bebas perdagangan berlangsung, melainkan untuk kepentingan siapa kebebasan itu bekerja.

Masalah mendasarnya terletak pada ketimpangan kapasitas antarnegara dan antarpelaku ekonomi. Petani kecil di Indonesia, Pakistan, India, atau negara berkembang lainnya harus bersaing dengan produk pertanian dari negara yang memiliki dukungan fiskal, teknologi, infrastruktur, dan subsidi jauh lebih besar. Ketika produk impor yang lebih murah memasuki pasar domestik, persaingan yang terjadi bukan sekadar antara petani dari dua negara. Petani kecil sesungguhnya sedang berhadapan dengan keseluruhan kekuatan kebijakan, modal, dan teknologi yang menopang pertanian negara lain.

Karena itu, perdagangan bebas tidak pernah berlangsung di lapangan yang datar. Penghapusan tarif dan hambatan perdagangan dapat terlihat netral dalam teks perjanjian, tetapi akibatnya berbeda bagi setiap pihak. Perusahaan besar mempunyai modal, informasi, jaringan distribusi, dan kemampuan untuk berpindah pasar. Sebaliknya, petani kecil terikat pada tanah, musim tanam, utang produksi, dan pasar lokal. Ketika harga jatuh akibat tekanan impor, petani tidak dapat begitu saja memindahkan usaha atau menunggu keadaan pulih.

Ketergantungan di Balik Integrasi

Indonesia sering dipandang memperoleh manfaat dari keterlibatannya dalam perdagangan global karena menjadi pengekspor berbagai komoditas pertanian. Namun, struktur perdagangan kita masih menunjukkan persoalan serius. Dalam pemaparannya pada diskusi tersebut, Hartika Arbiyanti menunjukkan bahwa ekspor pertanian Indonesia masih bertumpu pada sejumlah komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kelapa, sementara kebutuhan terhadap pangan, sarana produksi, dan produk olahan dari luar negeri terus meningkat. Impor pangan Indonesia disebut naik dari sekitar 28 miliar dolar AS pada 2022 menjadi 29,6 miliar dolar AS pada 2024.

Angka tersebut tidak berarti bahwa seluruh impor harus dihentikan. Tidak ada negara yang sepenuhnya terlepas dari perdagangan internasional. Persoalannya adalah apakah perdagangan digunakan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional atau justru menggantikannya. Ketika impor menjadi jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan, sementara pembenahan produksi, distribusi, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan petani diabaikan, ketergantungan akan semakin melembaga.

Di sinilah kita perlu membedakan keterbukaan ekonomi dengan penyerahan sistem pangan kepada pasar global. Negara tetap memerlukan ruang kebijakan untuk melindungi komoditas strategis, menjamin harga yang layak, mengelola impor, membangun cadangan pangan, dan mendukung petani kecil.Apabila seluruh kebijakan tersebut diperlakukan semata-mata sebagai hambatan perdagangan, negara akan kehilangan kemampuan untuk memastikan rakyatnya memperoleh pangan sekaligus mempertahankan kehidupan produsennya.

Para peserta menyimak dan mencatat pemaparan dalam diskusi publik

Pengalaman Asia Selatan yang disampaikan Qammar Abbas, seorang petani asal Pakistan memberikan peringatan penting. Petani di kawasan tersebut mempertahankan kebijakan harga penyangga minimum karena mereka memahami bahwa harga bukan sekadar hasil pertemuan abstrak antara permintaan dan penawaran.

Harga menentukan apakah petani mampu melanjutkan produksi, membayar utang, dan mempertahankan tanahnya. Di Pakistan, penghentian pembelian gandum oleh negara dan pelemahan jaminan harga membuat petani kecil semakin terbuka terhadap gejolak pasar. Ketika perlindungan dicabut atas nama efisiensi, risiko tidak menghilang; risiko hanya dipindahkan dari negara dan perusahaan kepada petani.

Dari Rempah ke Nikel

Perdagangan di Indo-Pasifik juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan agraria. Dalam forum tersebut, Ali Akbar, petani asal Maluku Utara, menghubungkan sejarah panjang perdagangan di Maluku dengan ekspansi industri ekstraktif saat ini. Dahulu, rempah-rempah menarik kekuatan kolonial, hari ini, ekspansi industri nikel kembali menempatkan tanah dan ruang hidup masyarakat dalam pusaran akumulasi global. Pengalaman Maluku menunjukkan bagaimana keterhubungan dengan pasar dunia dapat berjalan beriringan dengan perampasan dan pemusatan penguasaan sumber daya.

Perubahan komoditas tidak selalu mengubah pola dasarnya. Daerah penghasil memasok bahan mentah bagi pasar global, sementara nilai tambah, teknologi, dan pusat pengambilan keputusan berada di tempat lain. Pada saat yang sama, masyarakat setempat menanggung kehilangan tanah, kerusakan lingkungan, dan menyempitnya ruang produksi pangan.

Dengan demikian, pembicaraan mengenai perdagangan bebas tidak cukup berhenti pada angka ekspor, investasi, atau pertumbuhan. Kita harus menanyakan siapa yang menguasai tanah, siapa yang mengendalikan rantai nilai, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang menanggung kerugiannya.

Kedaulatan Pangan sebagai Arah

Jawaban atas persoalan tersebut bukanlah menutup diri dari dunia. Yang dibutuhkan adalah menempatkan perdagangan sebagai instrumen untuk memenuhi kepentingan rakyat, bukan menjadikan masyarakat tunduk pada kepentingan perdagangan. Ukuran keberhasilan kebijakan perdagangan pertanian seharusnya bukan hanya peningkatan nilai ekspor, tetapi juga bertambahnya pendapatan petani, terlindunginya tanah pertanian, menguatnya produksi pangan domestik, dan berkurangnya ketergantungan terhadap input serta pangan impor. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap perundingan perdagangan didahului penilaian dampak terhadap petani kecil dan sistem pangan nasional.

Organisasi petani harus dilibatkan secara bermakna, bukan sekadar diberi informasi setelah keputusan dibuat.Indonesia juga harus mempertahankan ruang untuk menggunakan tarif, pengaturan volume impor, stok publik, subsidi yang berpihak kepada petani kecil, dan kebijakan harga yang layak. Di saat yang sama, penguatan koperasi petani, pengadaan publik dari produsen kecil, reforma agraria, dan pembangunan industri pengolahan yang dikendalikan secara lebih demokratis harus menjadi bagian dari strategi perdagangan.

Diskusi tersebut dilaksanakan pada 3 September 2026 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan SPI, Bogor. Forum ini menghadirkan Hartika Arbiyanti, Dosen Hubungan Internasional UPN “Veteran” Jakarta; Qammar Abbas dari Komite Jaringan Petani Pakistan (PKRC); serta Ali Akbar, Pemuda Tani SPI dari Maluku Utara. Diskusi dimoderatori oleh Mujahid Widian, Dosen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Peserta dari Diskusi ini adalah para petani anggota SPI dari berbagai wilayah, serta beberapa perwakilan organisasi jaringan SPI di kawasan Asia Tenggara dan Timur.[T]

Tags: Serikat Petani IndonesiaUniversitas Pembangunan Nasional Veteran JakartaUPN Veteran Jakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

Next Post

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

"In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co