25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
September 14, 2026
in Khas
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Suasana diskusi publik “Rezim Perdagangan Bebas di Indo-Pasifik: Implikasinya terhadap Agraria, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan” di Pusdiklat SPI, Bogor, 3 September 2026

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru dapat memperdalam ketergantungan pangan, mempersempit ruang kebijakan negara, dan menempatkan petani kecil sebagai pihak yang paling rentan”.

Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan dari hasil diskusi publik bertajuk “Rezim Perdagangan Bebas di Indo-Pasifik: Implikasinya terhadap Agraria, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama UPN “Veteran” Jakarta dan Universitas Sumatera Utara pada 3 September lalu. Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan bebas tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekspor atau perluasan pasar, tetapi juga dari siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mengendalikan rantai perdagangan, dan siapa yang harus menanggung biayanya.

Pertanyaan itu penting karena perdagangan bebas selalu datang membawa janji yang terdengar meyakinkan: pasar yang lebih luas, investasi yang meningkat, harga yang lebih murah, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun, ketika kawasan Indo-Pasifik semakin dipenuhi perjanjian perdagangan dan kemitraan ekonomi, integrasi tidak dengan sendirinya menciptakan hubungan yang setara.

Negara-negara di kawasan terhubung melalui WTO, RCEP, berbagai perjanjian perdagangan bebas ASEAN, serta kesepakatan bilateral. Arsitektur tersebut membuat perdagangan pertanian semakin terintegrasi. Akan tetapi, bagi jutaan petani kecil di negara-negara berkembang, persoalan utamanya bukanlah seberapa bebas perdagangan berlangsung, melainkan untuk kepentingan siapa kebebasan itu bekerja.

Masalah mendasarnya terletak pada ketimpangan kapasitas antarnegara dan antarpelaku ekonomi. Petani kecil di Indonesia, Pakistan, India, atau negara berkembang lainnya harus bersaing dengan produk pertanian dari negara yang memiliki dukungan fiskal, teknologi, infrastruktur, dan subsidi jauh lebih besar. Ketika produk impor yang lebih murah memasuki pasar domestik, persaingan yang terjadi bukan sekadar antara petani dari dua negara. Petani kecil sesungguhnya sedang berhadapan dengan keseluruhan kekuatan kebijakan, modal, dan teknologi yang menopang pertanian negara lain.

Karena itu, perdagangan bebas tidak pernah berlangsung di lapangan yang datar. Penghapusan tarif dan hambatan perdagangan dapat terlihat netral dalam teks perjanjian, tetapi akibatnya berbeda bagi setiap pihak. Perusahaan besar mempunyai modal, informasi, jaringan distribusi, dan kemampuan untuk berpindah pasar. Sebaliknya, petani kecil terikat pada tanah, musim tanam, utang produksi, dan pasar lokal. Ketika harga jatuh akibat tekanan impor, petani tidak dapat begitu saja memindahkan usaha atau menunggu keadaan pulih.

Ketergantungan di Balik Integrasi

Indonesia sering dipandang memperoleh manfaat dari keterlibatannya dalam perdagangan global karena menjadi pengekspor berbagai komoditas pertanian. Namun, struktur perdagangan kita masih menunjukkan persoalan serius. Dalam pemaparannya pada diskusi tersebut, Hartika Arbiyanti menunjukkan bahwa ekspor pertanian Indonesia masih bertumpu pada sejumlah komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kelapa, sementara kebutuhan terhadap pangan, sarana produksi, dan produk olahan dari luar negeri terus meningkat. Impor pangan Indonesia disebut naik dari sekitar 28 miliar dolar AS pada 2022 menjadi 29,6 miliar dolar AS pada 2024.

Angka tersebut tidak berarti bahwa seluruh impor harus dihentikan. Tidak ada negara yang sepenuhnya terlepas dari perdagangan internasional. Persoalannya adalah apakah perdagangan digunakan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional atau justru menggantikannya. Ketika impor menjadi jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan, sementara pembenahan produksi, distribusi, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan petani diabaikan, ketergantungan akan semakin melembaga.

Di sinilah kita perlu membedakan keterbukaan ekonomi dengan penyerahan sistem pangan kepada pasar global. Negara tetap memerlukan ruang kebijakan untuk melindungi komoditas strategis, menjamin harga yang layak, mengelola impor, membangun cadangan pangan, dan mendukung petani kecil.Apabila seluruh kebijakan tersebut diperlakukan semata-mata sebagai hambatan perdagangan, negara akan kehilangan kemampuan untuk memastikan rakyatnya memperoleh pangan sekaligus mempertahankan kehidupan produsennya.

Para peserta menyimak dan mencatat pemaparan dalam diskusi publik

Pengalaman Asia Selatan yang disampaikan Qammar Abbas, seorang petani asal Pakistan memberikan peringatan penting. Petani di kawasan tersebut mempertahankan kebijakan harga penyangga minimum karena mereka memahami bahwa harga bukan sekadar hasil pertemuan abstrak antara permintaan dan penawaran.

Harga menentukan apakah petani mampu melanjutkan produksi, membayar utang, dan mempertahankan tanahnya. Di Pakistan, penghentian pembelian gandum oleh negara dan pelemahan jaminan harga membuat petani kecil semakin terbuka terhadap gejolak pasar. Ketika perlindungan dicabut atas nama efisiensi, risiko tidak menghilang; risiko hanya dipindahkan dari negara dan perusahaan kepada petani.

Dari Rempah ke Nikel

Perdagangan di Indo-Pasifik juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan agraria. Dalam forum tersebut, Ali Akbar, petani asal Maluku Utara, menghubungkan sejarah panjang perdagangan di Maluku dengan ekspansi industri ekstraktif saat ini. Dahulu, rempah-rempah menarik kekuatan kolonial, hari ini, ekspansi industri nikel kembali menempatkan tanah dan ruang hidup masyarakat dalam pusaran akumulasi global. Pengalaman Maluku menunjukkan bagaimana keterhubungan dengan pasar dunia dapat berjalan beriringan dengan perampasan dan pemusatan penguasaan sumber daya.

Perubahan komoditas tidak selalu mengubah pola dasarnya. Daerah penghasil memasok bahan mentah bagi pasar global, sementara nilai tambah, teknologi, dan pusat pengambilan keputusan berada di tempat lain. Pada saat yang sama, masyarakat setempat menanggung kehilangan tanah, kerusakan lingkungan, dan menyempitnya ruang produksi pangan.

Dengan demikian, pembicaraan mengenai perdagangan bebas tidak cukup berhenti pada angka ekspor, investasi, atau pertumbuhan. Kita harus menanyakan siapa yang menguasai tanah, siapa yang mengendalikan rantai nilai, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang menanggung kerugiannya.

Kedaulatan Pangan sebagai Arah

Jawaban atas persoalan tersebut bukanlah menutup diri dari dunia. Yang dibutuhkan adalah menempatkan perdagangan sebagai instrumen untuk memenuhi kepentingan rakyat, bukan menjadikan masyarakat tunduk pada kepentingan perdagangan. Ukuran keberhasilan kebijakan perdagangan pertanian seharusnya bukan hanya peningkatan nilai ekspor, tetapi juga bertambahnya pendapatan petani, terlindunginya tanah pertanian, menguatnya produksi pangan domestik, dan berkurangnya ketergantungan terhadap input serta pangan impor. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap perundingan perdagangan didahului penilaian dampak terhadap petani kecil dan sistem pangan nasional.

Organisasi petani harus dilibatkan secara bermakna, bukan sekadar diberi informasi setelah keputusan dibuat.Indonesia juga harus mempertahankan ruang untuk menggunakan tarif, pengaturan volume impor, stok publik, subsidi yang berpihak kepada petani kecil, dan kebijakan harga yang layak. Di saat yang sama, penguatan koperasi petani, pengadaan publik dari produsen kecil, reforma agraria, dan pembangunan industri pengolahan yang dikendalikan secara lebih demokratis harus menjadi bagian dari strategi perdagangan.

Diskusi tersebut dilaksanakan pada 3 September 2026 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan SPI, Bogor. Forum ini menghadirkan Hartika Arbiyanti, Dosen Hubungan Internasional UPN “Veteran” Jakarta; Qammar Abbas dari Komite Jaringan Petani Pakistan (PKRC); serta Ali Akbar, Pemuda Tani SPI dari Maluku Utara. Diskusi dimoderatori oleh Mujahid Widian, Dosen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Peserta dari Diskusi ini adalah para petani anggota SPI dari berbagai wilayah, serta beberapa perwakilan organisasi jaringan SPI di kawasan Asia Tenggara dan Timur.[T]

Tags: Serikat Petani IndonesiaUniversitas Pembangunan Nasional Veteran JakartaUPN Veteran Jakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

Next Post

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails
Next Post
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

"In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co