BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa lain, sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat. Perjalanan tersebut kini berhadapan dengan tantangan lain, bagaimana bahasa Bali tetap digunakan ketika kebiasaan berbahasa generasi muda ikut berubah.
Persoalan itu dibahas dalam Kuliah Tamu Widyā Wacana, yang mengangkat tema, “Bahasa Bali: Dimensi Kesejarahan, Perubahan, dan Isu Kepunahan”, Rabu, 9 September 2026. Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) itu menghadirkan Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum. sebagai pembicara dan Dr. Dra. Ni Wayan Sumitri, M.Si. sebagai moderator.
Kuliah tamu yang digelar untuk memperingati Hari Aksara Internasional tersebut merupakan kolaborasi Program Studi Pendidikan Bahasa Bali dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), UPMI Bali. Akademisi dan guru bahasa Bali bertemu membicarakan keberlanjutan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Pembicaraan mengenai keberlanjutan itu tidak dapat dilepaskan dari perubahan bahasa. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UPMI Bali, Dr. Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum., mengatakan bahasa bersifat dinamis dan terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Pada saat yang sama, bahasa daerah menghadapi kemungkinan semakin ditinggalkan generasi muda.
“Bahasa akan hidup jika digunakan, akan kuat jika diteliti, dan memiliki masa depan jika bangga menggunakannya,” ujarnya.
Ruang penggunaan itu kini juga terbuka melalui teknologi. Menurut Ekasriadi, media sosial serta karya seni dan sastra dapat dimanfaatkan untuk membawa bahasa Bali ke ruang-ruang yang digunakan masyarakat saat ini. Dengan cara itu, perubahan teknologi dapat menjadi sarana penggunaan bahasa Bali, bukan justru menjauhkannya dari penutur.
Untuk memahami perubahan tersebut, Putu Eka Guna Yasa mengajak peserta menengok perjalanan bahasa Bali. Kondisinya saat ini tidak dapat dilepaskan dari jejak masa lalu, mulai tuturan lisan yang masih digunakan masyarakat hingga peninggalan tertulis berupa guratan dan tatahan aksara pada berbagai dokumen.
Jejak itu menunjukkan bahwa perubahan bukan hal baru bagi bahasa Bali. Sejak abad IX hingga XXI, bahasa Bali menyerap sekaligus menyesuaikan pengaruh bahasa-bahasa luar sesuai kebutuhan masyarakat. Perubahan terjadi pada bunyi atau fonologi, tata bahasa, hingga sistem kesantunan atau sor-singgih.

Karena perubahan terus berlangsung, menjaga bahasa Bali tidak hanya menjadi pekerjaan guru atau akademisi. Pemerintah, penyuluh bahasa, kreator konten, dan masyarakat juga memiliki peran untuk mencegah bahasa Bali bergerak menuju kepunahan.
“Karena itu, pelestarian bahasa Bali tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk lama. Bahasa Bali perlu terus digunakan, diteliti, dikembangkan, dan dihadirkan dalam ruang-ruang baru yang dekat dengan generasi muda,” tutur Eka Guna Yasa.
Perjalanan bahasa Bali selama berabad-abad memperlihatkan perubahan yang terus terjadi. Kini, keberlangsungannya bergantung pada seberapa luas bahasa itu digunakan, mulai dari rumah, sekolah, karya sastra, penelitian, media sosial, dan ruang-ruang tempat generasi muda berkomunikasi.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































