27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 12, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu Panggelaran), sebuah karya sastra Jawa Pertengahan berbentuk prosa. Kitab ini diperkirakan ditulis pada masa akhir kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15 Masehi. Meskipun demikian, salinan kolofon tertua yang ditemukan memiliki angka tahun 1557 Saka atau 1635 Masehi. Secara tradisional pustaka lontar ini berfungsi sebagai teks keagamaan esoteris, panduan ritual, sekaligus mitologi kosmologi masyarakat Jawa kuno mengenai asal-usul penataan Pulau Jawa.

Berangkat dari Mandala Pertapaan di Gunung Hyang

Tersebutlah seorang brahmana Jawa bernama Mpu Bharang yang menguasai berbagai kitab esoteris Tantra dan melakukan tapa di Gunung Hyang. Dalam khazanah kitab kuno Jawa, Gunung Hyang (sekarang dikenal sebagai Pegunungan Hyang-Argapura adalah kompleks pegunungan vulkanik tua yang membentang di wilayah Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, dan Situbondo, Jawa Timur. Kata “Hyang” berarti leluhur, dewa, atau entitas ilahi. Dalam pustaka lontar kuno, kawasan ini diidentifikasi sebagai pusat Mandala Kedewaguruan (wilayah suci pendidikan spiritual) kuno yang sepi dan jauh dari keramaian. Di lerengnya terdapat kuburan kembar bernama Kalyasem, tempat Mpu Bharang melakukan laku spiritual ekstrem penganut aliran Bhairawa-Saiwa.

Setelah menyelesaikan pertapaannya, Mpu Bharang berkeinginan meninggalkan Gunung Hyang untuk pergi menuju tanah India (Bhumi Jambudwipa). Sebelum berangkat, beliau menggubah sebuah kitab suci pedoman mistis bernama Hadidrawa / Adhiarwa beserta sebuah jubah kebesaran, yang sengaja ditinggalkan di dalam sanggar pemujaan.

Mpu Bharang kemudian berangkat menuju India terbang melintasi angkasa (ambaramargga). Perjalanan ini diikuti oleh dua pendeta Buddha (Sogata) yang membersamai perjalanannya, yaitu  Mpu Tapa-wangkĕng (dianggap titisan Dewa Brahma) dan Mpu Tapa-palet (dianggap titisan Dewa Wisnu).

Sesaat setelah mendarat di Bhumi Jambudwipa, Mpu Bharang menemui sekitar seribu orang brahmana lokal yang tengah melangsungkan pemujaan agung kepada Dewa Haricaṇḍana. Ketika Mpu Bharang melangkah mendekat dan membungkuk memberikan hormat, sebuah keajaiban mistis terjadi: bumi berguncang dahsyat oleh gempa (lindhu Batara Prathiwi) dan arca Batara Haricaṇḍana yang suci mendadak hancur terbelah dua.

Menyaksikan mukjizat dan kesaktian supranatural yang luar biasa dari pendeta Jawa ini, para brahmana India tercengang dan kagum. Mereka berbalik memuja Mpu Bharang serta menghadiahi beliau aneka harta mulia berupa emas, merah delima, ratna mutu manikam, dan intan. Namun, Mpu Bharang menolak seluruh harta duniawi tersebut. Beliau hanya meminta bertukar abu suci ritual (bhasma). Abu milik Mpu Bharang yang harum (ganta) ditukarkan dengan abu sewarna permata (ratnadwada) milik brahmana India. Semenjak peristiwa itu, abu Mpu Bharang diangkat menjadi abu kebesaran para penasihat suci di sana. Abu suci atau bhasma dari India dibawa oleh Mpu Bharang.

Membawa Arca Wisnu ke Jawa

Kabar kepanditaan Mpu Bharang terdengar oleh penguasa India saat itu, Sri Maharaja Cakrawati. Sang raja datang bersujud menghadap Mpu Bharang seraya mempersembahkan kain indah (dodot malit), emas, dan permata rajayogya. Mpu Bharang kembali menolaknya dan justru meminta benda yang paling disembah oleh sang raja. Tanpa ragu, Raja Cakrawati memperlihatkan sebuah arca emas perwujudan Batara Wisnu yang menjadi replika sesembahan utama di Jambudwipa. Mpu Bharang tidak mengambil arca asli tersebut, melainkan meniru rancang bangun dan detail ikonografinya untuk dibawa pulang ke tanah Jawa.

Mpu Bharang bersama  Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet terbang kembali melintasi cakrawala menuju Pulau Jawa (Yawadwipa). Mereka memilih menetap di Gunung Brahma (Bromo), sebuah tempat sakral yang dalam mitologi Jawa kuno merupakan lokasi bertakhtanya Dewa Brahma sebagai pandai besi kosmik. Di tempat suci ini, ketiga mpu mendalami tiga ajaran rahasia: Mpu Bharang mempelajari ajaran Tigarahaṣya, Mpu Tapa-wangkĕng mempelajari ajaran Tigalana, dan Mpu Tapa-palet mempelajari ajaran Tigatĕpĕt

Di kaldera Gunung Bromo inilah, Mpu Bharang mulai menempa emas murni untuk memahat sebuah replika arca Wisnu berdasarkan ingatan visual yang didapatnya dari India. Proses pemahatan dibantu oleh Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet. Sisa serpihan emas yang terkikis saat proses mengukir memercik ke mana-mana bagai air dan seketika menjelma menjadi hamparan pasir hitam (kriśna)—sebuah mitos asal-usul yang melandasi keberadaan lautan pasir hitam di kaldera Bromo hingga hari ini. Setelah selesai, arca emas Wisnu tersebut disemayamkan di puncak Gunung Sundawini.

Arca Wisnu Turun-Temurun Dipuja Pewaris Tahta Kerajaan Daha

Kabar tentang keberadaan arca emas Batara Wisnu yang sangat indah di puncak Gunung Sundawini akhirnya sampai ke telinga Sri Maharaja Taki di Daha. Sang raja segera mengirimkan utusan resmi istana untuk mengundang Mpu Bharang beserta kedua mpu pengikutnya ke ibu kota.

Para utusan menghaturkan sembah: “Hamba sekalian utusan dari Baginda Raja di Daha, memohon kehadiran Sang Pendeta Agung untuk sudi datang ke ibu kota, Gusti.”

Mpu Bharang menyambut baik undangan tersebut. Ketiga pendeta suci itu terbang melewati angkasa dan mendarat di ibu kota Kerajaan Daha untuk menghadap Sri Maharaja Taki. Ketika sang raja memohon agar arca emas Wisnu tersebut diserahkan kepada pihak istana, Mpu Bharang dengan ikhlas memberikannya. Dikisahkan, peristiwa spiritual inilah yang melandasi mengapa arca emas suci peniru rupa India tersebut secara turun-temurun diangkat menjadi objek kultus pemujaan serta sesembahan utama (isthadewata) dari Sri Maharaja di Daha hingga generasi-generasi penguasa selanjutnya.

Dalam sejatah Jawa Kuno, yang dimaksud dengan Kerajaan Daha (Kediri/Panjalu) adalah kerajaan besar di Jawa Timur yang berpusat di tepi Sungai Brantas. Kerajaan ini eksis dalam rentang garis waktu abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi (1042–1222 M), dan Raja Airlangga membelah kerajaannya menjadi Janggala dan Kadiri (Daha). Tokoh raja yang disebutkan dalam teks, Sri Maharaja Toki (atau Taki), digambarkan dalam teks Tantu Pagelaran sebagai penguasa Daha pada era klasik tersebut, kemungkinan merujuk pada sosok pemimpin sebelum Raja Airlangga?

Kisah mitologis Mpu Bharang ini membawa secercah garis silsilah dan alasan kuat mengapa dinasti penguasa Daha (Kediri) dan para keturunannya di kemudian hari menjadi penganut setia aliran Wisnu (Waisnawa).

Secara arkeologis dan epigrafi, klaim spiritual di dalam teks Tantu Pagelaran ini berjalan beriringan (sejalan) dengan bukti-bukti otentik di lapangan: Pertama, Garudamukha dipakai sebagai stempel Airlangga. Airlangga, yang merupakan leluhur pembentuk Kerajaan Daha/Kediri, menggunakan lencana kerajaan berupa Garudamukha (wujud Garuda kendaraan Wisnu). Stempel ini digunakan dalam berbagai prasasti resminya sebagai legitimasi bahwa raja adalah titisan Dewa Wisnu (Wisnu-awatara) yang bertugas memelihara kedamaian dunia. Kedua, secara ikonografi, Raja-Raja Kediri dan para penerus takhta Daha seperti Raja Jayabhaya dan Raja Kameswara, secara konsisten digambarkan di dalam karya sastra Kakawin sezaman sebagai titisan Wisnu.

Hal krusial yang perlu dicatat dari naskah ini adalah penegasan bahwa paham “Wisnu” atau adopsi arca Wisnu, dalam konteks pustaka lontar Tantu Pagelaran, disebutkkan tidak dibawa oleh pendeta asing dari India, melainkan dijemput, ditiru, dan dibawa sendiri ke Jawa oleh Brahmana asli Jawa yang berkunjung ke India. Ini menunjukkan adanya proses seleksi budaya yang aktif (local genius) di mana orang Jawa kuno melakukan kunjungan ziarah ke pusat keagamaan ke Bhumi Jambudwipa, lalu membawa pulang esensi ajarannya untuk diterapkan pada kebudayaan lokal di Jawa. [T]

Tags: hinduindiajawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Next Post

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co