2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 12, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu Panggelaran), sebuah karya sastra Jawa Pertengahan berbentuk prosa. Kitab ini diperkirakan ditulis pada masa akhir kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15 Masehi. Meskipun demikian, salinan kolofon tertua yang ditemukan memiliki angka tahun 1557 Saka atau 1635 Masehi. Secara tradisional pustaka lontar ini berfungsi sebagai teks keagamaan esoteris, panduan ritual, sekaligus mitologi kosmologi masyarakat Jawa kuno mengenai asal-usul penataan Pulau Jawa.

Berangkat dari Mandala Pertapaan di Gunung Hyang

Tersebutlah seorang brahmana Jawa bernama Mpu Bharang yang menguasai berbagai kitab esoteris Tantra dan melakukan tapa di Gunung Hyang. Dalam khazanah kitab kuno Jawa, Gunung Hyang (sekarang dikenal sebagai Pegunungan Hyang-Argapura adalah kompleks pegunungan vulkanik tua yang membentang di wilayah Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, dan Situbondo, Jawa Timur. Kata “Hyang” berarti leluhur, dewa, atau entitas ilahi. Dalam pustaka lontar kuno, kawasan ini diidentifikasi sebagai pusat Mandala Kedewaguruan (wilayah suci pendidikan spiritual) kuno yang sepi dan jauh dari keramaian. Di lerengnya terdapat kuburan kembar bernama Kalyasem, tempat Mpu Bharang melakukan laku spiritual ekstrem penganut aliran Bhairawa-Saiwa.

Setelah menyelesaikan pertapaannya, Mpu Bharang berkeinginan meninggalkan Gunung Hyang untuk pergi menuju tanah India (Bhumi Jambudwipa). Sebelum berangkat, beliau menggubah sebuah kitab suci pedoman mistis bernama Hadidrawa / Adhiarwa beserta sebuah jubah kebesaran, yang sengaja ditinggalkan di dalam sanggar pemujaan.

Mpu Bharang kemudian berangkat menuju India terbang melintasi angkasa (ambaramargga). Perjalanan ini diikuti oleh dua pendeta Buddha (Sogata) yang membersamai perjalanannya, yaitu  Mpu Tapa-wangkĕng (dianggap titisan Dewa Brahma) dan Mpu Tapa-palet (dianggap titisan Dewa Wisnu).

Sesaat setelah mendarat di Bhumi Jambudwipa, Mpu Bharang menemui sekitar seribu orang brahmana lokal yang tengah melangsungkan pemujaan agung kepada Dewa Haricaṇḍana. Ketika Mpu Bharang melangkah mendekat dan membungkuk memberikan hormat, sebuah keajaiban mistis terjadi: bumi berguncang dahsyat oleh gempa (lindhu Batara Prathiwi) dan arca Batara Haricaṇḍana yang suci mendadak hancur terbelah dua.

Menyaksikan mukjizat dan kesaktian supranatural yang luar biasa dari pendeta Jawa ini, para brahmana India tercengang dan kagum. Mereka berbalik memuja Mpu Bharang serta menghadiahi beliau aneka harta mulia berupa emas, merah delima, ratna mutu manikam, dan intan. Namun, Mpu Bharang menolak seluruh harta duniawi tersebut. Beliau hanya meminta bertukar abu suci ritual (bhasma). Abu milik Mpu Bharang yang harum (ganta) ditukarkan dengan abu sewarna permata (ratnadwada) milik brahmana India. Semenjak peristiwa itu, abu Mpu Bharang diangkat menjadi abu kebesaran para penasihat suci di sana. Abu suci atau bhasma dari India dibawa oleh Mpu Bharang.

Membawa Arca Wisnu ke Jawa

Kabar kepanditaan Mpu Bharang terdengar oleh penguasa India saat itu, Sri Maharaja Cakrawati. Sang raja datang bersujud menghadap Mpu Bharang seraya mempersembahkan kain indah (dodot malit), emas, dan permata rajayogya. Mpu Bharang kembali menolaknya dan justru meminta benda yang paling disembah oleh sang raja. Tanpa ragu, Raja Cakrawati memperlihatkan sebuah arca emas perwujudan Batara Wisnu yang menjadi replika sesembahan utama di Jambudwipa. Mpu Bharang tidak mengambil arca asli tersebut, melainkan meniru rancang bangun dan detail ikonografinya untuk dibawa pulang ke tanah Jawa.

Mpu Bharang bersama  Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet terbang kembali melintasi cakrawala menuju Pulau Jawa (Yawadwipa). Mereka memilih menetap di Gunung Brahma (Bromo), sebuah tempat sakral yang dalam mitologi Jawa kuno merupakan lokasi bertakhtanya Dewa Brahma sebagai pandai besi kosmik. Di tempat suci ini, ketiga mpu mendalami tiga ajaran rahasia: Mpu Bharang mempelajari ajaran Tigarahaṣya, Mpu Tapa-wangkĕng mempelajari ajaran Tigalana, dan Mpu Tapa-palet mempelajari ajaran Tigatĕpĕt

Di kaldera Gunung Bromo inilah, Mpu Bharang mulai menempa emas murni untuk memahat sebuah replika arca Wisnu berdasarkan ingatan visual yang didapatnya dari India. Proses pemahatan dibantu oleh Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet. Sisa serpihan emas yang terkikis saat proses mengukir memercik ke mana-mana bagai air dan seketika menjelma menjadi hamparan pasir hitam (kriśna)—sebuah mitos asal-usul yang melandasi keberadaan lautan pasir hitam di kaldera Bromo hingga hari ini. Setelah selesai, arca emas Wisnu tersebut disemayamkan di puncak Gunung Sundawini.

Arca Wisnu Turun-Temurun Dipuja Pewaris Tahta Kerajaan Daha

Kabar tentang keberadaan arca emas Batara Wisnu yang sangat indah di puncak Gunung Sundawini akhirnya sampai ke telinga Sri Maharaja Taki di Daha. Sang raja segera mengirimkan utusan resmi istana untuk mengundang Mpu Bharang beserta kedua mpu pengikutnya ke ibu kota.

Para utusan menghaturkan sembah: “Hamba sekalian utusan dari Baginda Raja di Daha, memohon kehadiran Sang Pendeta Agung untuk sudi datang ke ibu kota, Gusti.”

Mpu Bharang menyambut baik undangan tersebut. Ketiga pendeta suci itu terbang melewati angkasa dan mendarat di ibu kota Kerajaan Daha untuk menghadap Sri Maharaja Taki. Ketika sang raja memohon agar arca emas Wisnu tersebut diserahkan kepada pihak istana, Mpu Bharang dengan ikhlas memberikannya. Dikisahkan, peristiwa spiritual inilah yang melandasi mengapa arca emas suci peniru rupa India tersebut secara turun-temurun diangkat menjadi objek kultus pemujaan serta sesembahan utama (isthadewata) dari Sri Maharaja di Daha hingga generasi-generasi penguasa selanjutnya.

Dalam sejatah Jawa Kuno, yang dimaksud dengan Kerajaan Daha (Kediri/Panjalu) adalah kerajaan besar di Jawa Timur yang berpusat di tepi Sungai Brantas. Kerajaan ini eksis dalam rentang garis waktu abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi (1042–1222 M), dan Raja Airlangga membelah kerajaannya menjadi Janggala dan Kadiri (Daha). Tokoh raja yang disebutkan dalam teks, Sri Maharaja Toki (atau Taki), digambarkan dalam teks Tantu Pagelaran sebagai penguasa Daha pada era klasik tersebut, kemungkinan merujuk pada sosok pemimpin sebelum Raja Airlangga?

Kisah mitologis Mpu Bharang ini membawa secercah garis silsilah dan alasan kuat mengapa dinasti penguasa Daha (Kediri) dan para keturunannya di kemudian hari menjadi penganut setia aliran Wisnu (Waisnawa).

Secara arkeologis dan epigrafi, klaim spiritual di dalam teks Tantu Pagelaran ini berjalan beriringan (sejalan) dengan bukti-bukti otentik di lapangan: Pertama, Garudamukha dipakai sebagai stempel Airlangga. Airlangga, yang merupakan leluhur pembentuk Kerajaan Daha/Kediri, menggunakan lencana kerajaan berupa Garudamukha (wujud Garuda kendaraan Wisnu). Stempel ini digunakan dalam berbagai prasasti resminya sebagai legitimasi bahwa raja adalah titisan Dewa Wisnu (Wisnu-awatara) yang bertugas memelihara kedamaian dunia. Kedua, secara ikonografi, Raja-Raja Kediri dan para penerus takhta Daha seperti Raja Jayabhaya dan Raja Kameswara, secara konsisten digambarkan di dalam karya sastra Kakawin sezaman sebagai titisan Wisnu.

Hal krusial yang perlu dicatat dari naskah ini adalah penegasan bahwa paham “Wisnu” atau adopsi arca Wisnu, dalam konteks pustaka lontar Tantu Pagelaran, disebutkkan tidak dibawa oleh pendeta asing dari India, melainkan dijemput, ditiru, dan dibawa sendiri ke Jawa oleh Brahmana asli Jawa yang berkunjung ke India. Ini menunjukkan adanya proses seleksi budaya yang aktif (local genius) di mana orang Jawa kuno melakukan kunjungan ziarah ke pusat keagamaan ke Bhumi Jambudwipa, lalu membawa pulang esensi ajarannya untuk diterapkan pada kebudayaan lokal di Jawa. [T]

Tags: hinduindiajawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Next Post

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co