22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 3, 2026
in Kuliner
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Pembuka rangkaian Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026 di Bali yang diselenggarakan Alliance Française Bali (AF Bali)

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang ikut menentukan rasa, aroma, tekstur, bahkan karakter yang muncul pada setiap gigitan.

Susu menjadi titik awalnya. Jenis hewan yang menghasilkan susu, lingkungan tempat ternak dipelihara, proses pengolahan, suhu, hingga lamanya keju diperam dapat membawa perbedaan pada hasil akhirnya. Karena itu, mengenal keju tidak cukup hanya dengan mencicipinya. Ada pengetahuan yang perlu dipahami di baliknya.

Hal itu yang coba diperkenalkan kepada sekitar 100 mahasiswa perhotelan dalam kegiatan A Taste of French: The Art of Cheese. Kegiatan tersebut berlangsung di Institut Pariwisata dan Bisnis (IPB) Internasional dan Sekolah Perhotelan Bali (SPB), Denpasar, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026 di Bali yang diselenggarakan Alliance Française Bali (AF Bali). Founder Rosalie Cheese, Ayu Linggih, hadir sebagai pembicara untuk membawa peserta mengenal keju bukan sekadar sebagai bahan makanan, tetapi sebagai bagian dari pengetahuan gastronomi dan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Bagi mahasiswa yang kelak bersentuhan langsung dengan industri hospitality, pelajaran tentang keju menjadi lebih luas dari sekadar mengetahui jenis-jenisnya. Mereka diajak melihat bagaimana sebuah produk dibuat, disimpan, disajikan, hingga dipadukan dengan bahan lain untuk menghasilkan pengalaman rasa.

Di sana, keju lokal menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana pengetahuan gastronomi dapat tumbuh dari bahan, lingkungan, dan kreativitas yang ada di Indonesia.

Belajar dari Produk Lokal

Suasana kegiatan sekaligus memperlihatkan bagaimana gastronomi dapat menjadi bagian dari pertukaran budaya. Denys Cennet Planchard, Direktur AF Bali, mengatakan kegiatan budaya yang mereka lakukan merupakan bagian dari upaya membangun jembatan antara Prancis dan Indonesia.

Jembatan itu, menurut Denys, tidak hanya dibangun melalui produk-produk Prancis yang diperkenalkan di Indonesia. Pengetahuan dan praktik yang berkembang di Indonesia juga menjadi bagian dari pertukaran tersebut.

Karena itu, Rosalie Cheese dilibatkan dalam kegiatan ini. Produsen keju artisan lokal tersebut dinilai dapat memperlihatkan bagaimana teknik dan pengetahuan gastronomi dapat diterapkan serta dikembangkan oleh pelaku industri di Indonesia.

“Kegiatan budaya ini kami lakukan secara berkelanjutan dengan visi membangun jembatan antara Prancis dan Indonesia. Karena itu kami mengundang Rosalie Cheese, seorang wirausaha yang menggunakan teknik yang beragam dalam membuat keju,” ujar Denys.

Bagi dunia pendidikan, pertemuan semacam ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat profesi yang mungkin tidak mereka temui hanya melalui pembelajaran di kelas.

Direktur SPB, Dr. I Gusti Ayu Melistyari Dewi, SST.Par., M.Par., CHE., CIT., menilai hubungan antara institusi pendidikan dan dunia industri menjadi penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja.

Kerja sama SPB dengan AF Bali yang telah berlangsung selama satu tahun menjadi salah satu jalannya. Kegiatan seperti A Taste of French memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman tambahan, terutama dalam memahami bidang gastronomi yang terus berkembang.

“Kami berterima kasih atas kerja sama selama satu tahun dengan AF Bali. Kegiatan seperti ini bermanfaat bagi perkembangan karier mahasiswa, dan kami berharap bisa berkolaborasi kembali tahun depan,” ujarnya.

Hubungan antara pendidikan dan industri bahkan terlihat dari sosok Ratih. Alumni IPB Internasional dan SPB tersebut kini bekerja di Rosalie Cheese. Perjalanannya menjadi contoh bahwa ruang belajar di kampus dapat berlanjut ke industri gastronomi lokal.

Dari Ilmu Pangan hingga Membuat Keju di Bali

Ketika sesi utama dimulai, perhatian peserta kemudian diarahkan kepada sesuatu yang selama ini mungkin hanya mereka kenal sebagai makanan: susu.

Ayu Linggih membawa peserta masuk lebih jauh ke dalam proses pembuatan keju. Dengan latar belakang ilmu dan teknologi pangan serta pengalaman sebagai mentor kewirausahaan, ia menjelaskan bahwa karakter sebuah keju sangat bergantung pada bahan dasarnya.

Susu sapi, kambing, dan domba, misalnya, memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan itu kemudian ikut menentukan rasa keju yang dihasilkan.

“Sekitar 90 persen keju adalah susu, jadi susu adalah penentu utama. Rasanya bisa berbeda walaupun bahan lainnya sama,” jelas Ayu.

Dari susu, proses berlanjut dengan penggunaan kultur mikroba dan rennet hingga terbentuk dadih. Dalam proses tersebut, sekitar setengah volume awal dapat berubah menjadi whey.

Namun, membuat keju tidak berhenti ketika dadih terbentuk atau ketika produk mulai menyerupai keju yang dikenal konsumen. Ada serangkaian proses yang harus dikendalikan agar produk tetap aman dan memiliki karakter yang konsisten.

Pengendalian pH dan suhu, pengawasan titik kritis produksi, pelatihan tim, serta penerapan SOP menjadi bagian dari proses tersebut. Setiap tahap membutuhkan ketelitian karena sedikit perubahan dapat memengaruhi hasil akhir.

Membuat keju di Bali menghadirkan tantangan lain. Rosalie Cheese memperoleh susu dari peternak di Jawa Timur dan Bali. Sementara itu, kondisi Bali yang lembap membuat proses produksi membutuhkan penyesuaian tersendiri.

Iklim tidak bisa diubah. Karena itu, proses produksi yang harus menyesuaikan keadaan tanpa kehilangan konsistensi produk menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhitungkan.

Begitu pula dengan waktu.

Keju tidak semuanya siap dinikmati dalam waktu yang sama. Ada jenis yang dapat disajikan lebih cepat, sementara jenis lainnya membutuhkan proses pemeraman yang jauh lebih panjang. Sebagian keju Rosalie bahkan dapat menjalani pemeraman hingga enam bulan.

Dengan demikian, membuat keju juga berarti belajar tentang waktu. Ada bahan yang harus menunggu sebelum mencapai karakter yang diinginkan.

Ketika Keju Bertemu Jamu dan Teh

Setelah memahami perjalanan keju dari susu hingga menjadi produk yang siap disantap, peserta kemudian diajak melihat sisi lain: bagaimana keju dinikmati.

Berbagai varian Rosalie Cheese diperkenalkan. Peserta mempelajari cara penyimpanan, teknik memotong, plating, serta mengenali perbedaan tekstur dan rasa. Salah satu produk Rosalie yang pernah meraih penghargaan tingkat nasional juga menjadi bagian dari pengenalan tersebut.

Namun, pembicaraan tentang pairing tidak berhenti pada keju dan wine.

Ada jamu dan teh.

Pilihan tersebut membawa keju ke dalam konteks yang lebih dekat dengan kebiasaan dan bahan yang dikenal masyarakat Indonesia. Bagi Ayu, eksplorasi semacam itu membuka kemungkinan pengalaman gastronomi yang berbeda.

“Orang datang ke Indonesia mencari pengalaman baru, jadi pairing tidak harus selalu dengan wine karena itu sudah banyak,” kata Ayu.

Gagasan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa gastronomi tidak selalu harus mengikuti satu pola. Bahan lokal dan kebiasaan masyarakat dapat menjadi bagian dari penciptaan pengalaman baru.

Bagi mahasiswa perhotelan, pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa bekerja di industri hospitality tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis. Ada kemampuan untuk mengenali bahan, memahami karakter rasa, membaca kebiasaan dan budaya tamu, serta mengolah semuanya menjadi sebuah pengalaman.

Sepotong keju, dengan demikian, membawa cerita yang jauh lebih panjang daripada apa yang tampak di atas piring.

Ada peternak yang menghasilkan susu, ada proses produksi yang membutuhkan ketelitian, ada waktu yang diperlukan untuk pemeraman, dan ada pengetahuan tentang bagaimana produk tersebut akhirnya disajikan kepada tamu.

Di Bali, cerita itu kemudian bertemu dengan kemungkinan-kemungkinan baru: keju lokal, teknik gastronomi, pendidikan perhotelan, serta bahan-bahan yang tumbuh dari tradisi Indonesia sendiri.

Membuka Perjalanan Rendez-vous Rasa

Pertemuan mahasiswa dengan dunia keju tersebut menjadi awal dari rangkaian Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026 di Bali.

AF Bali menjadwalkan enam kegiatan dalam rangkaian yang berlangsung hingga 3 Oktober. Gastronomi menjadi titik temu berbagai kegiatan yang menghubungkan pendidikan, bahasa, budaya, dan pengalaman kuliner.

Jika Prancis selama ini dikenal dengan tradisi kejunya, perjumpaan di Bali menunjukkan bahwa pengetahuan gastronomi tidak berjalan satu arah.

Ada teknik yang dapat dipelajari, tetapi ada pula bahan, kebiasaan, dan kreativitas lokal yang dapat menjadi bagian dari percakapan.

Dan mungkin, dari situlah sebuah gigitan keju menjadi lebih dari sekadar rasa. Ia menjadi cerita tentang bagaimana sebuah produk berpindah dari peternak, ruang produksi, tangan pembuat, hingga akhirnya bertemu dengan lidah seseorang—dan di setiap tahapnya, selalu ada pengetahuan yang ikut menyertainya.[T]

Sumber/Penulis: Rilis/Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

Tags: A Taste of French: The Art of CheeseAlliance Française BaliRendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

Next Post

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co