MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar hilir mudik, sebagian mengangkut muatan menuju pelabuhan, sebagian lagi baru saja pulang dari perjalanan malam. Deru mesin dan kepulan asap knalpot bersahutan dengan bunyi motor yang parkir berjejer di bahu jalan. Di tengah keramaian itu, seorang pemuda berkaus merah marun dengan topi krem berdiri tenang di samping gerobaknya, tangannya sibuk membolak-balik adonan kecil berwarna kuning di atas cetakan logam berlubang bundar.
Gerobak itu bertuliskan dua kata yang mungkin sudah jarang didengar generasi baru: Maklor dan Cilor. Di bawahnya, sebaris slogan menegaskan alasan gerobak itu masih setia mangkal di sudut kota: “Jajanan Boleh Jadul, Rasa Tetap Milenial.”
“Monggo, Mas, mau yang maklor apa cilor? Bisa dicampur juga,” sapanya ramah begitu saya mendekat, tanpa menoleh sepenuhnya karena tangannya masih sibuk menata makaroni di cetakan.
Racikan yang Menembus Zaman
Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Faisal, nama panjangnya Muhammad Faisal. Ia sudah dua tahun berjualan maklor dan cilor keliling beberapa titik di Singaraja, dan belakangan memilih menetap setiap pagi di Jalan Merak karena ramai dilalui pekerja dan pelajar.
“Maklor itu makaroni telor, Mas. Cilor ya cilok telor, cilok yang digoreng pakai telur. Dulu pas saya SD, jajanan ini rajanya di depan sekolah. Sekarang jarang yang jual, makanya saya coba angkat lagi,” tuturnya sambil menuang makaroni rebus ke cetakan logam berlubang enam.
Ia menjelaskan, makaroni terlebih dahulu direbus hingga lunak, dicampur telur dan bumbu racikannya sendiri, lalu dituang ke cetakan yang dipanaskan di atas kompor kecil. Begitu pinggirannya berubah kecokelatan dan aromanya menguar ke udara pagi, adonan itu siap disiram saus sesuai selera pembeli.

“Yang penting sausnya jangan pelit, Mas. Itu kunci orang mau balik lagi,” ujarnya sambil terkekeh, lalu menunjuk deretan botol saus yang berjejer di ujung gerobak: saus sambal merah menyala, saus keju kekuningan, mayones putih pucat, hingga saus oranye lembut racikan sendiri.
Bertahan di Antara Deru Kendaraan

Berjualan di pinggir jalan besar bukan perkara mudah. Gerobak Faisal harus berbagi ruang dengan motor yang berhenti sembarangan, truk besar yang kadang menutupi pandangan pembeli dari kejauhan, dan debu jalanan yang beterbangan setiap kali kendaraan besar melintas.
“Kadang asap knalpot truk numpuk, Mas, mata jadi perih. Tapi ya saya syukuri saja, di sini ramai orang lewat pas jam berangkat kerja dan sekolah,” katanya, sembari sesekali mengipas asap tipis yang mengepul dari cetakan.
Tas pinggang kecil yang melingkar di badannya berisi uang kembalian, sekaligus, katanya, sebagian dari harapan hari itu. Faisal bercerita, hasil berjualan maklor dan cilor menjadi salah satu sumber nafkah untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya. “Alhamdulillah cukup buat makan dan sedikit ditabung, Mas. Rezeki itu jalannya macam-macam, yang penting halal dan berkah,” ujarnya, menunjuk stiker logo halal kecil yang ditempel di sisi gerobaknya.
Camilan yang Tak Lekang oleh Waktu

Di tengah gempuran jajanan kekinian yang datang silih berganti, jajanan seperti maklor dan cilor barangkali tak lagi berada di garis depan tren kuliner anak muda. Namun keberadaannya di sudut-sudut kota seperti Jalan Merak membuktikan satu hal: rasa yang sederhana dan harga yang bersahabat masih punya tempatnya sendiri di hati orang-orang yang enggan meninggalkan kenangan masa kecil.
“Saya pengin generasi sekarang juga tahu, jajanan zaman dulu itu enggak kalah enak sama yang viral-viral sekarang. Cuma beda kemasan saja,” kata Faisal sambil menyerahkan satu bungkus maklor hangat bersaus kepada saya, sebelum kembali sibuk melayani pembeli berikutnya yang baru turun dari motor.
Slogan yang tertempel di gerobaknya, “Jajanan Boleh Jadul, Rasa Tetap Milenial,” seolah menjadi pengingat bahwa sesuatu yang lama tidak selalu harus ditinggalkan. Ia bisa saja dikemas ulang, disesuaikan dengan lidah zaman sekarang, lalu dijajakan kembali di pinggir jalan yang sama—menemani siapa saja yang sekadar lewat, lalu berhenti sejenak untuk sarapan pagi yang murah dan mengenyangkan. [T]
Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole
























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





