29 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

Jaswanto by Jaswanto
June 17, 2026
in Kuliner
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

Becek dengan isian daging sapi | Foto: Gessipra

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya. Di Dusun Karang Binangun, Kerek, Tuban, dan sekitarnya, becek seolah menjadi hidangan wajib dalam setiap peristiwa penting. Kuliner berkuah yang sekilas menyerupai gule, tetapi lebih encer ini, nyaris tak pernah absen dari meja jamuan pada hari-hari besar masyarakat setempat.

Di Tuban, becek telah menjelma menjadi bagian dari identitas kuliner daerah. Hidangan ini dijual di berbagai warung dan rumah makan dengan beragam isian, mulai dari daging sapi, kerbau, kambing, menthok (serati), hingga rajungan. Namun, becek yang disajikan dalam hajatan warga umumnya berbahan daging sapi, kerbau, atau kambing. Di sepanjang pesisir utara Tuban, mudah saja Anda mendapati depot maupun restoran yang menyediakan menu becek—biasanya juga ada hidangan nasi jagung.

Namun, hingga kini saya belum menemukan jawaban yang meyakinkan tentang bagaimana becek mula-mula menjadi hidangan wajib dalam berbagai hajatan masyarakat Tuban. Kapan tepatnya kuliner ini hadir, bagaimana proses penyebarannya, dan mengapa ia mampu bertahan lintas generasi hingga hari ini, masih menjadi pertanyaan yang belum mudah dijawab. Yang jelas, becek seperti tiba-tiba telah melampaui posisinya sebagai sekadar makanan; ia menjadi bagian dari tradisi yang terus hadir dalam hampir setiap peristiwa penting dalam kehidupan warga Tuban.

Sependek pengetahuan saya, istilah becek bahkan tidak saya temukan dalam Serat Centhini—naskah yang mencatat begitu banyak ragam kuliner Jawa pada abad ke-19. Padahal, di sana disebut berbagai hidangan macam asem-asem, mangut, opor, pindang, pecel, semur, sate, dan brongkos, tetapi tidak ada satu pun rujukan pada becek. Ketika Raden Jayengresmi bersama dua abdinya, Gathak dan Gathuk, singgah di Tuban dalam kisah tersebut, hidangan bernama becek juga tidak muncul. Jadi, bisa saja kuliner ini muncul belakangan setelah serat tua itu ditulis atau justru sudah ada namun luput dari penulis Serat Centhini yang sebenarnya memang tidak bertujuan untuk mendokumentasikan kuliner-kuliner Jawa.

Dan terkait hikayat becek di Tuban, saya curiga ada perangaruh dari beberapa peradaban yang membuatnya lahir. Perlu Anda tahu, bahwa Tuban abad ke-15 bukan sekadar kabupaten kecil di pesisir utara Jawa, melainkan salah satu kota pelabuhan (bandar) terbesar dan tersibuk sebagaimana catatan Tomé Pires dalam Suma Oriental, yang menyebut Tuban pada abad ke-14 dan 15 adalah kota pelabuhan kosmopolitan terpenting di utara Jawa. Artinya, sebagai kota tua, Tuban memiliki sejarah yang panjang.

Becek menthok Tuban | Foto: Yulia Tokarmo

Sejak zaman Majapahit, kota ini sudah menjadi salah satu kota terpenting dengan Pelabuhan Kambang Putih-nya. Bahkan, beberapa riwayat menyebut bahwa Pelabuhan Kambang Putih sudah ada sejak pemerintahan Airlangga di Kahuripan. Lebih daripada itu, sumber China pada awal abad ke-15 yang termuat dalam kitab Ying Yai Shing-Lan menyebutkan bahwa Tuban merupakan salah satu dari empat kota besar di Jawa (Majapahit) yang tidak memiliki tembok kota.

Dan sebagai pintu gerbang internasional, Tuban menjadi titik temu berbagai peradaban. Saudagar dari Melayu, Arab, Gujarat, Persia, dan Tionghoa menetap dan berinteraksi dengan masyarakat Tuban. Atas pertemuan lintas budaya inilah, mungkin terjadi akulturasi antara teknik memasak tumis dan kuah kaldu kental dari para pedagang Gujarat, Persia, dan Arab dengan bumbu-bumbu lokal macam temu kunci, kencur, jinten, lengkuas, kunyit, santan, dll.

Pengaruh Islam juga mungkin memiliki peran penting dalam pembentukan tradisi ini. Sejak abad ke-15, pesisir utara Jawa menjadi salah satu pusat penyebaran Islam yang ramai. Bersamaan dengan masuknya ajaran agama, turut hadir pula budaya kenduri, sedekah makanan, dan jamuan komunal yang berkembang luas di dunia Islam. Di berbagai kawasan Timur Tengah, Persia, hingga Asia Selatan, tradisi memasak daging dalam kuali besar untuk dibagikan kepada masyarakat telah berlangsung selama berabad-abad. Dan dalam banyak kesempatan, makanan Timur Tengah tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, melainkan juga sebagai wujud syukur, sedekah, dan ikatan sosial. Boleh jadi, tradisi semacam inilah yang kemudian berjumpa dengan budaya slametan masyarakat Jawa dan melahirkan bentuk-bentuk kuliner komunal yang kita kenal sekarang, termasuk becek.

Masakan berempah mengingatkan kita pada India, tradisi jamuan komunal mengingatkan kita pada dunia Islam, sementara teknik membuat kuah daging dalam jumlah besar memiliki kemiripan dengan tradisi kuliner Tiongkok. Karena itu, sangat mungkin becek merupakan hasil percampuran panjang dari berbagai tradisi kuliner yang pernah singgah di Pelabuhan Kambang Putih itu—meski anggapan semacam ini mungkin tak sepenuhnya benar. Oleh karena itu harus diteliti lebih lanjut.

Namun, terlepas dari sejak kapan becek hadir di Tuban dan peradaban mana yang memengaruhinya, saya meyakini bahwa hidangan ini sejak awal memang bukanlah makanan yang tersedia setiap saat. Konsumsi daging—baik sapi, kerbau, kambing, maupun menthok—jelas bukan bagian dari menu harian sebagian besar masyarakat masa lalu. Di samping bumbu becek yang harus menggunakan banyak sekali jenis rempah, daging juga merupakan bahan pangan yang mahal, sulit diperoleh, dan karena itu wajar hanya hadir pada momen-momen tertentu.

Selain itu, becek tampaknya juga lahir dari logika sosial yang berbeda dari sekadar urusan cita rasa. Daging, sekali lagi, adalah sumber pangan yang terbatas, sementara kebutuhan untuk berbagi dalam peristiwa-peristiwa komunal—seperti pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya itu tadi—justru menuntut jangkauan yang luas. (Silakan datang ke acara-acara di Desa Gaji dan sekitarnya, Anda akan tahu seberapa banyak undangan, kerabat, dan tetangga yang perlu dikasih makan dan dikirimi maknan.)

Oleh karena itu, jika seekor kambing, misalnya, hanya dibagikan sebagai potongan daging mentah macam daging kurban, atau diolah menjadi sate, tentu saja jumlah orang yang dapat menikmatinya amat terbatas. Di sinilah saya kira masakan berkuah merupakan pilihan yang logis dan cerdas. Dengan tambahan air, santan, dan rempah-rempah, volume hidangan dapat diperbesar berkali-kali lipat tanpa harus menambah jumlah daging.

Fenomena semacam ini tidak hanya ditemukan di Tuban. Berbagai bangsa di dunia mengenal makanan berkuah yang sepertinya lahir dari kebutuhan serupa. Misalnya pho di Vietnam, stew di Eropa, hotpot di Tiongkok, maupun beragam sup dan kari di Asia Selatan. Dalam seluruh kasus tersebut, kuah berfungsi sebagai sarana memperpanjang jangkauan daging sehingga lebih banyak orang dapat menikmati rasa dan gizinya. Dengan kata lain, kuah bukan sekadar pelengkap kuliner, melainkan kearifan sosial yang memungkinkan masyarakat mengubah keterbatasan menjadi kelimpahan bersama.

Kita tahu, kuah memiliki sifat cair yang homogen. Ketika sari-sari daging lambat laun larut ke dalam kuah setelah direbus berjam-jam, rasa dan esensi nutrisi daging tersebut menjadi milik bersama. Siapa pun yang menyendok kuah becek akan mendapatkan rasa “berkah” daging yang sama persis. Dengan demikian, dalam sebuah acara, kuah becek mengaburkan batas sosial antara si kaya dan si miskin—semua orang menyantap kuah yang sama dengan jumlah isian daging yang sama rata.

Melalui kuah yang melimpah pula, tuan rumah hajatan atau penyelenggara ritus keagamaan juga dapat menjalankan fungsi redistribusi ekonomi secara terhormat. Mereka tidak perlu menyajikan gunungan daging mewah untuk dianggap dermawan; tapi hanya perlu memastikan bahwa kuah rempah yang kaya rasa itu mengenyangkan dan membahagiakan banyak orang. Dengan begitu, seekor hewan tidak hanya mengenyangkan segelintir orang saja, tetapi dapat dinikmati oleh orang sekampung, para tetangga, dan tamu undangan. Dalam pengertian ini, becek dapat mencerminkan etika berbagi yang mengutamakan kebersamaan di atas kelimpahan, sebuah strategi budaya yang memungkinkan perayaan sosial tetap berlangsung meski sumber daya yang tersedia tidak pernah benar-benar berlimpah.

Sampai di sini, perlu Anda ketahui, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki hidangan berkuah yang menjadi makanan bersama dalam perayaan-perayaan besar. Di Aceh terdapat kuah beulangöng yang lazim dimasak saat kenduri dan hari-hari keagamaan. Di Minangkabau dikenal berbagai jenis gulai yang menjadi sajian utama pesta adat. Masyarakat Banjar memiliki soto Banjar, orang Makassar mempunyai coto, sementara di pesisir Jawa Timur berkembang aneka soto, gule, dan kaldu yang sama-sama mengandalkan perpaduan daging, rempah, dan kuah dalam jumlah besar. Meski berbeda nama dan cita rasa, seluruh hidangan itu memperlihatkan pola yang serupa: dimasak secara kolektif, disajikan untuk banyak orang, dan hadir terutama dalam momen-momen yang dianggap penting oleh masyarakat.

Kesamaan tersebut mengisyaratkan bahwa tradisi kuliner berkuah sesungguhnya merupakan salah satu warisan budaya yang sangat tua di Nusantara. Sebagai wilayah yang sejak berabad-abad lalu berada di jalur perdagangan Samudra Hindia, kepulauan ini menerima berbagai pengaruh teknik memasak dari India, Timur Tengah, dan Asia Timur. Kehadiran rempah-rempah, penggunaan santan, serta kebiasaan merebus daging dalam waktu lama kemudian bertemu dengan bahan-bahan lokal dan melahirkan beragam hidangan berkuah yang kita kenal hari ini. Dalam konteks itu, becek dapat dibaca sebagai salah satu cabang dari pohon besar tradisi kuliner berkuah Nusantara yang tumbuh dengan karakter khas Tuban.

Becek menthok di sebuah warung makan di Tuban | Foto: Suka Jalan

Dan Anda juga perlu tahu bahwa orang yang memiliki hajat di dusun-dusun seperti Karang Binangun tidak pernah merasa sendiri. Karena itu, mbecek—memasak becek—selalu dikerjakan secara bersama-sama oleh para perewang (pendarat dalam bahasa Karang Binangun). Proses pembuatan kuah dalam skala besar memang mustahil ditangani seorang diri. Kuali-kuali raksasa yang dipenuhi kuah becek memerlukan nyala tungku yang stabil, pengadukan yang terus-menerus, serta racikan rempah yang tepat.

Oleh sebab itu, becek tentu saja tidak sekadar kuliner legendaris, melainkan pemicu lahirnya praktik rewang—gotong royong yang berlangsung di rumah yang punya gawe. Sementara laki-laki menyiapkan kayu bakar dan urusan menyembelih hewan, mbecek menjadi alasan sosial yang mempertemukan ibu-ibu, kerabat, dan tetangga untuk berkumpul, berbincang, serta bekerja bersama selama berjam-jam dalam proses pemasakan. Di sekitar tungku, percakapan bisa mengalir sehangat kuah yang mendidih. Semakin lama kuah diaduk bersama, semakin kuat pula solidaritas yang ikut “direbus” di dalamnya. Dengan demikian, becek bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga merawat ikatan sosial yang menjadi fondasi kehidupan di desa. Lain halnya di kota yang apa-apa cukup mengandalkan jasa boga yang praktis.

Sampai di sini, sebagaimana kata Mumu Aloha, “dapur menjadi pertimbangan penting, sebab dari sinilah perjalanan dimulai. Dan di mata para juru masak dan pewaris ramuan bumbu-bumbu, kuliner—atau yang berkaitan dengannya—terus-menerus dipertimbangkan sebagai bagian dari memori kolektif, sumber kearifan bersama, juga titik tolak dan sekaligus tempat kembali.”[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kabupaten TubankulinerTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Next Post

Bung Karno di Rumah Petani   

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
Bung Karno di Rumah Petani   

Bung Karno di Rumah Petani   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co