17 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 17, 2026
in Esai
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung

Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-pusat kota, penjor menjulang tinggi sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma. Lengkungan bambu yang anggun, janur yang tertata indah, serta berbagai hasil bumi yang menghiasinya mengingatkan manusia pada hubungan suci antara alam, manusia, dan Sang Pencipta.

Dalam tradisi Hindu Bali, Galungan bukan sekadar perayaan ritual. Ia adalah momentum spiritual untuk menegakkan Dharma dalam diri. Penjor bukan hanya dekorasi keagamaan, melainkan simbol gunung kehidupan, keseimbangan kosmis, dan rasa syukur atas anugerah alam.

Namun ketika penjor telah berdiri tegak di luar diri, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah penjor kesadaran juga telah ditegakkan di dalam diri?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Bali menghadapi gelombang perubahan yang sangat besar. Pariwisata berkembang pesat, investasi mengalir deras, hotel dan vila tumbuh tanpa henti, pusat hiburan semakin ramai, sementara ritual keagamaan berlangsung semakin megah. Di balik semua itu, tersimpan pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah Bali sedang bergerak menuju kemajuan yang berkelanjutan, atau justru sedang kehilangan ruhnya sendiri?

Galungan sesungguhnya mengajak manusia tidak hanya merayakan kemenangan Dharma secara simbolis, tetapi juga menguji apakah Dharma masih menjadi kompas dalam menentukan arah masa depan.

Penjor Baru Kolonialisme: Kapitalisme dan Imperialisme Modern

Kolonialisme klasik datang dengan kapal perang, senapan, dan penjajahan wilayah. Namun kolonialisme modern sering kali hadir dalam wajah yang lebih halus: investasi yang tidak terkendali, penguasaan sumber daya oleh pemodal besar, eksploitasi ruang hidup, dan dominasi ekonomi yang membuat masyarakat lokal kehilangan kendali atas tanahnya sendiri.

Bung Karno sejak awal kemerdekaan telah mengingatkan tentang bahaya neokolonialisme dan imperialisme. Bentuknya bukan lagi penjajahan langsung, melainkan penguasaan ekonomi, budaya, dan bahkan cara berpikir masyarakat.

Di Bali, gejala itu mulai terlihat dalam berbagai bentuk. Harga tanah melambung hingga sulit dijangkau generasi muda Bali. Sawah produktif berubah menjadi kawasan wisata. Pantai dan ruang publik semakin banyak berada dalam kontrol kepentingan bisnis. Desa-desa tradisional perlahan berubah menjadi kawasan komersial.

Tidak semua investasi adalah masalah. Tidak semua pembangunan harus ditolak. Namun pertanyaan yang perlu diajukan adalah: siapa yang mengendalikan pembangunan itu? Siapa yang memperoleh manfaat terbesar? Dan siapa yang menanggung dampaknya?

Ketika masyarakat lokal hanya menjadi jongos dalam sistem ekonomi yang dibangun di atas tanah leluhurnya sendiri, maka muncul risiko yang pernah dialami banyak bangsa di dunia: menjadi tamu di rumah sendiri.

Penjor kolonialisme modern tidak lagi berupa bendera asing yang berkibar. Ia bisa hadir dalam bentuk dominasi pasar, ketergantungan ekonomi, dan logika pertumbuhan tanpa batas yang mengabaikan keseimbangan.

Karena itu, Galungan hari ini tidak hanya berbicara tentang kemenangan melawan kekuatan negatif dalam mitologi. Ia juga berbicara tentang kemampuan mengenali bentuk-bentuk Adharma yang hadir dalam kehidupan modern.

Gemerlap Pariwisata dan Bayangan yang Tidak Terlihat

Tidak dapat disangkal bahwa pariwisata telah memberikan manfaat besar bagi Bali. Jutaan wisatawan datang setiap tahun. Ribuan lapangan kerja tercipta. Infrastruktur berkembang. Pendapatan daerah meningkat.

Namun di balik gemerlap itu terdapat sisi lain yang sering tidak terlihat. Kemajuan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan batin. Gedung-gedung mewah tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan. Tingginya arus uang tidak selalu menghasilkan ketenangan sosial.

Bali hari ini menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks: kemacetan, banjir, krisis air bersih, alih fungsi lahan, kenaikan harga tanah, tekanan ekonomi keluarga, hingga perubahan pola hidup masyarakat.

Ironisnya, di tengah citra Bali sebagai pulau surga yang dipromosikan ke seluruh dunia, sebagian masyarakat lokal justru merasakan tekanan hidup yang semakin berat.

Generasi muda menghadapi tantangan baru. Mereka hidup di tengah budaya konsumtif global, persaingan ekonomi yang ketat, dan ekspektasi sosial yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, nilai-nilai tradisional yang selama ini menjadi penyangga kehidupan perlahan mengalami erosi.

Dalam perspektif Pancamaya Kosha, pembangunan Bali tampaknya sangat berhasil memenuhi kebutuhan Annamaya Kosha (lapisan fisik) dan sebagian Manomaya Kosha (lapisan mental-emosional), tetapi belum tentu menyentuh Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan) dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati).

Akibatnya, kemajuan lahiriah tidak selalu diikuti kemajuan batiniah. Di sinilah paradoks Bali modern muncul dengan sangat jelas.

Mewahnya Ritual dan Tingginya Angka Bunuh Diri

Salah satu kenyataan yang mengundang refleksi mendalam adalah adanya kasus-kasus bunuh diri yang cukup tinggi dan menjadi perhatian serius di Bali dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut sering menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman namun penting untuk diajukan.

Bagaimana mungkin di tengah kehidupan religius yang begitu kuat, ritual yang begitu megah, dan budaya spiritual yang begitu kaya, masih ada begitu banyak individu yang merasa kehilangan harapan?

Tentu penyebab bunuh diri sangat kompleks. Faktor ekonomi, psikologis, keluarga, kesehatan mental, dan tekanan sosial saling berinteraksi. Tidak adil menyederhanakan masalah hanya pada satu faktor. Namun fenomena ini mengingatkan bahwa ritual dan spiritualitas bukanlah hal yang  sama.Ritual adalah kendaraan. Spiritualitas adalah perjalanan batin.

Ritual dapat dilakukan secara sempurna, tetapi kesadaran belum tentu tumbuh. Upacara dapat berlangsung megah, tetapi hati manusia tetap merasa kosong. Simbol-simbol agama dapat hadir di mana-mana, tetapi penderitaan psikologis tetap tidak terlihat.

Para Guru Suci sering mengingatkan bahwa agama sejatinya harus menjadi sarana transformasi kesadaran. Jika praktik keagamaan hanya berhenti pada aspek seremonial, maka manusia dapat kehilangan esensi terdalamnya.

Dalam bahasa Galungan, kemenangan Dharma tidak cukup dirayakan melalui simbol. Ia harus diwujudkan dalam kualitas kesadaran.

Ketika seseorang merasa dicintai, diterima, memiliki tujuan hidup, dan terhubung dengan makna yang lebih besar, maka daya tahan mentalnya menjadi lebih kuat. Sebaliknya, ketika hidup hanya diukur oleh status sosial, kekayaan, atau penampilan luar, maka manusia menjadi rentan terhadap kehampaan eksistensial. Inilah salah satu pelajaran penting yang perlu direnungkan bersama.

Menegakkan Penjor Kesadaran untuk Masa Depan Bali

Bali tidak membutuhkan penolakan terhadap modernitas. Bali juga tidak harus memusuhi pariwisata. Yang dibutuhkan adalah kesadaran yang cukup tinggi untuk memastikan bahwa pembangunan tetap berada dalam kendali nilai-nilai Dharma.

Penjor kesadaran berarti kemampuan melihat jauh melampaui keuntungan jangka pendek.

Ia berarti keberanian menjaga sawah bukan sekadar sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai warisan peradaban. Ia berarti memandang budaya bukan sebagai komoditas wisata semata, melainkan sebagai jiwa masyarakat Bali. Ia berarti menempatkan manusia lebih penting daripada angka statistik pertumbuhan ekonomi.

Dalam perspektif Peta Kesadaran David Hawkins, masyarakat yang didominasi rasa takut, keserakahan, dan ambisi kekuasaan akan menghasilkan keputusan yang berbeda dibanding masyarakat yang bergerak dari cinta, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh investor, pemerintah, atau pasar global. Masa depan Bali juga ditentukan oleh tingkat kesadaran masyarakatnya sendiri.

Galungan mengingatkan bahwa kemenangan Dharma selalu dimulai dari dalam diri. Ketika penjor kesadaran tegak di hati setiap orang Bali, maka mereka tidak akan mudah terjebak oleh berbagai bentuk kolonialisme modern yang menjanjikan kemakmuran tetapi berpotensi menggerus identitas.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bagi Bali bukanlah berapa juta wisatawan yang datang setiap tahun. Bukan pula seberapa megah ritual yang dapat diselenggarakan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah generasi mendatang masih dapat mewarisi Bali yang sesungguhnya?

Bali yang kuat karena kearifan lokalnya. Bali yang indah karena alamnya. Bali yang dihormati karena budayanya. Bali yang sejahtera tanpa kehilangan jiwanya.

Jika penjor di luar rumah telah ditegakkan pada Hari Galungan, maka kini saatnya menegakkan penjor kesadaran di dalam diri. Sebab hanya dengan kesadaran itulah Bali dapat tetap menjadi Bali, bukan sekadar destinasi wisata yang gemerlap, melainkan sebuah peradaban yang hidup, bermartabat, dan memiliki nilai-nilai luhur yang diwarisi para bijak terdahulu. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu Balikesadaranpenjor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co