26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun upas datang. Petani mungkin menunggu embun upas pergi.

Ada orang-orang yang datang ke Dieng bukan terutama untuk menikmati pemandangan. Mereka datang ketika malam belum benar-benar pergi. Jaket dikenakan berlapis-lapis. Sarung tangan menutup jemari. Kepala diselimuti kupluk. Beberapa orang bahkan berjalan dengan langkah tergesa-gesa, seolah ada sesuatu yang harus segera ditemukan sebelum pagi benar-benar menjadi pagi.

Udara menggigit. Napas keluar seperti asap tipis. Tanah terasa keras dan dingin. Rumput yang sehari sebelumnya hijau perlahan berubah menjadi putih. Pada dedaunan, pagar, atap kendaraan, bahkan permukaan benda-benda yang terbuka, kristal-kristal kecil berkilauan ketika cahaya pertama matahari mulai menyentuhnya.

“Sudah muncul?”

Pertanyaan itu mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling sering terdengar pada pagi-pagi tertentu di Dieng.

Orang-orang datang untuk melihat embun upas, embun beku yang oleh mata awam sering disebut sebagai “salju Dieng”. Mereka mencarinya di sekitar Kompleks Candi Arjuna, Lapangan Pandawa, kawasan Dharmasala, hingga lahan-lahan pertanian kentang warga di Dieng Kulon dan Dieng Wetan.

Yang menarik bukan semata-mata embun itu. Yang menarik adalah hasrat manusia untuk melihatnya.

Mengapa seseorang rela bangun jauh sebelum matahari terbit, menempuh perjalanan, menginap, menggigil dalam suhu ekstrem, bahkan menunggu kemungkinan yang belum tentu terjadi, hanya demi melihat lapisan putih yang beberapa jam kemudian akan lenyap?

Pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari persoalan wisata dan memasuki wilayah pengalaman manusia. Sebab barangkali, yang sedang dicari orang-orang di Dieng bukanlah es. Mereka sedang mencari pengalaman tentang keajaiban.

Dieng dan Keajaiban yang Datang Bersama Dingin

Saya dan dua orang rekan akhir pekan lalu berkesempatan mengunjungi lapangan dusun Karangsari, sekitar satu kilometer ke barat dari  kompleks Candi Arjuna dan di situlah kami bersama ratusan pengunjung lain menunggu datangnya embun upas. Embun upas adalah fenomena frost atau embun beku yang terbentuk ketika suhu cukup rendah sehingga air mengalami pembekuan pada permukaan benda. Dataran Tinggi Dieng memang memiliki kondisi yang memungkinkan fenomena tersebut terjadi, terutama pada musim kemarau.

Pada 9–10 Juli 2026, misalnya, embun upas kembali muncul di sejumlah kawasan Dieng. Suhu yang tercatat bervariasi menurut sumber dan lokasi pengukuran. Laporan mengenai kejadian tersebut menyebut angka hingga sekitar minus 6 derajat Celsius berdasarkan pemantauan setempat, sementara pengukuran resmi AWS BMKG yang dikutip media mencatat suhu terendah minus 2,1 derajat Celsius.

Angka tersebut sebenarnya tidak perlu menjadi pusat perhatian kita. Yang lebih menarik adalah pengalaman yang lahir darinya. Sebab bagi manusia yang hidup di wilayah tropis, putihnya rerumputan akibat kristal es menghadirkan sebuah paradoks pengalaman. Kita mengenal es sebagai sesuatu yang berasal dari lemari pendingin, pegunungan tinggi, atau negeri-negeri empat musim. Tetapi di Dieng, es muncul di halaman candi, di rumput, di kebun kentang, dan di atap kendaraan. Seolah-olah sebuah fragmen musim dingin dari dunia yang jauh tiba-tiba dipindahkan ke Jawa.

Di sinilah pengalaman the sublime mulai dapat dibaca. Dalam pengalaman tentang yang sublime, manusia berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya takjub sekaligus menyadarkan bahwa dirinya kecil. Keindahan tidak lagi sekadar sesuatu yang menyenangkan mata. Ia menjadi pengalaman yang sedikit mengusik, bahkan mengguncang kesadaran.

Embun upas menawarkan pengalaman semacam itu dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak ada gunung yang sedang meletus. Tidak ada badai besar. Tidak ada lautan yang mengamuk. Hanya rumput yang membeku.

Namun justru karena kesederhanaannya, pengalaman itu menjadi intim. Manusia berdiri di hadapan sesuatu yang tidak dapat dibuatnya, tidak dapat diperintahnya, dan tidak dapat dipastikan kapan akan datang. Ia hanya dapat menunggu.

Fenomenologi: Ketika Embun Tidak Lagi Sekadar Embun

Fenomenologi mengajak kita kembali kepada pengalaman sebagaimana ia dialami sebelum buru-buru menjadikannya sekadar objek pengetahuan. Dengan pendekatan ini, kita tidak pertama-tama bertanya: berapa derajat suhunya? bagaimana proses pembekuannya? kapan fenomena itu terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu penting secara ilmiah. Tetapi fenomenologi mengajukan pertanyaan lain: Apa yang terjadi pada kesadaran manusia ketika ia berdiri di hadapan embun upas?

Di sinilah pengalaman menjadi lebih menarik daripada objeknya. Embun yang sama dapat memiliki makna berbeda bagi orang yang berbeda. Bagi ahli meteorologi, ia adalah frost. Bagi fotografer, ia adalah objek visual yang menakjubkan. Bagi wisatawan, ia adalah pengalaman langka. Bagi pembuat konten media sosial, ia mungkin menjadi gambar yang ingin dibagikan. Tetapi bagi petani kentang, embun upas dapat berarti kecemasan.

Dan di sinilah fenomenologi membantu kita memahami bahwa realitas tidak pernah hadir hanya sebagai benda di luar manusia. Ia hadir sebagai sesuatu yang dialami oleh kesadaran manusia dari posisi hidup tertentu.

Penelitian mengenai embun upas di kawasan Dieng juga menunjukkan bahwa frost dapat menyebabkan kerusakan tanaman kentang. Fenomena tersebut bukan sekadar estetika; ia memiliki konsekuensi nyata terhadap kehidupan petani. Bahkan pada Juli 2026, sekitar 25–30 hektare tanaman kentang dilaporkan terdampak embun beku. Karena itu, ada paradoks yang barangkali paling menarik dari embun upas: apa yang dicari wisatawan sebagai keindahan, dapat ditunggu petani sebagai ancaman. Satu fenomena. Dua dunia pengalaman.

Memburu Sesuatu yang Tidak Bisa Dijanjikan

Fenomenologi juga mengajak kita memperhatikan satu hal yang sering luput: penantian. Orang yang datang ke Dieng untuk berburu embun upas sebenarnya tidak sedang membeli sebuah kepastian. Ia membeli kemungkinan.

Tidak ada jaminan bahwa ketika bangun dini hari, rumput akan benar-benar putih. Tidak ada kepastian bahwa suhu malam itu akan cukup rendah. Tidak ada kontrak antara manusia dan alam yang mengatakan: “Datanglah besok pagi, dan saya akan memperlihatkan keajaiban.”

Justru karena itulah pengalaman tersebut menjadi berharga. Manusia modern terbiasa hidup dalam dunia kepastian yang dibuat teknologi. Jadwal kereta dapat dilihat dari telepon genggam. Cuaca dapat dipantau melalui aplikasi. Lokasi dapat ditemukan melalui GPS. Kamera dapat mengabadikan apa pun dalam hitungan detik.

Tetapi embun upas mengembalikan manusia kepada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikontrol. Kita dapat memprediksi. Kita dapat mengantisipasi. Tetapi kita tetap harus menunggu. Dan dalam penantian itu manusia kembali merasakan tubuhnya.

Dingin tidak lagi menjadi angka pada termometer. Dingin menjalar melalui telapak kaki, menembus pakaian, membuat tangan kaku, membuat tubuh ingin segera mencari kehangatan. Inilah yang oleh Maurice Merleau-Ponty dapat dibaca melalui gagasan tentang tubuh yang mengalami dunia. Tubuh bukan sekadar kendaraan yang membawa kesadaran. Tubuh adalah cara manusia hadir dan berhubungan dengan dunia.

Di Dieng, dingin membuat tubuh berbicara. Tubuh mengatakan: aku ada di sini. Tubuh menggigil. Tubuh menahan. Tubuh menunggu. Dan ketika akhirnya kristal-kristal putih itu terlihat, seluruh perjuangan tubuh memperoleh jawabannya. Bukan dalam bentuk hadiah material, melainkan dalam bentuk pengalaman: “Aku menyaksikannya sendiri.”

Dari Keindahan Menjadi Pembuktian Diri

Kalimat “aku menyaksikannya sendiri” memiliki arti yang lebih dalam daripada yang tampak. Manusia tidak hanya ingin mengetahui bahwa sesuatu ada. Ia ingin mengalaminya secara langsung. Foto di internet tidak cukup. Video di media sosial tidak sepenuhnya cukup. Cerita teman tidak cukup. Sebab pengalaman langsung memiliki kualitas yang berbeda.

Ada perbedaan antara mengetahui bahwa salju turun di suatu tempat dan berdiri di bawah sesuatu yang membeku di depan mata sendiri. Karena itu, perjalanan menuju embun upas dapat dibaca sebagai bentuk kecil dari self-transcendence, usaha manusia melampaui kenyamanan dirinya sendiri. Ia melawan kantuk. Ia melawan dingin. Ia meninggalkan tempat tidur. Ia berjalan pada pagi buta. Semua itu dilakukan untuk memperoleh satu pengalaman yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Dalam pengertian ini, wisata embun upas bukan semata pencarian destinasi. Ia adalah perjalanan menuju pengalaman yang berada sedikit di luar batas kebiasaan diri.

Ada kepuasan tertentu ketika seseorang berhasil melewati batas tersebut. “Dingin sekali, tetapi saya sampai.” “Bangun pukul tiga pagi, tetapi saya melihatnya.” “Harus menunggu beberapa hari, tetapi akhirnya muncul.” Di sana terdapat semacam pembuktian eksistensial yang sangat sederhana: aku pernah berada di sana ketika alam menunjukkan wajahnya yang berbeda.

Candi Arjuna dan Pertemuan Dua Waktu

Menariknya, salah satu lokasi paling populer untuk menyaksikan embun upas adalah Kompleks Candi Arjuna. Di tempat ini, pengalaman tentang alam dan pengalaman tentang sejarah bertemu dalam satu ruang.

Candi Arjuna diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke-8 Masehi pada masa Mataram Kuno Wangsa Sanjaya dan merupakan bagian dari perkembangan awal percandian Hindu aliran Siwa di Jawa. Di kawasan tersebut ditemukan prasasti berangka tahun 731 Saka atau sekitar 808 Masehi.

Kompleks ini kemudian mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Candi Arjuna pertama kali ditemukan pada 1814 oleh tentara Belanda, Thedorf Van Elf. Saat ditemukan, bangunannya masih tergenang oleh air. Kemudian pada pertengahan abad ke-19, baru diupayakan pemeliharaan candi, yang dimulai dengan mengeringkan air telaga di Dieng oleh HC Cornelius dari Inggris pada 1856. Setelah itu, upaya pemeliharaan dilanjutkan oleh J Van Kirnsberg dari Belanda, dengan dibantu oleh pemerintah kolonial.

Maka ada sesuatu yang puitis ketika kita berdiri di depan Candi Arjuna pada pagi yang membeku. Di sana terdapat dua waktu yang bertemu. Waktu sejarah yang menyimpan jejak manusia berabad-abad silam. Dan waktu alam yang hanya bertahan beberapa jam.

Batu candi bertahan melewati berabad-abad. Embun hanya bertahan sampai matahari meninggi. Candi menghadirkan keabadian relatif. Embun menghadirkan kefanaan. Namun justru keduanya bertemu di tempat yang sama.

Barangkali inilah yang membuat pengalaman menyaksikan embun upas di sekitar Candi Arjuna menjadi jauh lebih kuat daripada sekadar melihat lapisan es di halaman biasa.

Manusia berdiri di antara dua bentuk kefanaan: tubuhnya sendiri yang suatu hari akan hilang, dan embun yang sebentar lagi mencair. Sementara batu candi di depannya seolah berkata bahwa waktu dapat menyimpan sesuatu jauh lebih lama daripada usia manusia.

Estetika Kefanaan

Ada alasan mengapa sesuatu yang sebentar justru sering terasa lebih indah. Bunga yang akan layu terasa lebih berharga ketika sedang mekar. Matahari terbenam indah justru karena ia tidak dapat dihentikan. Dan embun upas menjadi menakjubkan karena kita tahu bahwa matahari akan menghapusnya. Di sinilah kita dapat menemukan estetika kefanaan.

Wisatawan sebenarnya tidak hanya sedang melihat es. Ia sedang menyaksikan sesuatu yang sedang menuju ketiadaannya. Kristal-kristal putih itu perlahan kehilangan bentuk. Tetes air muncul. Rumput kembali hijau. Tanah kembali basah. Dunia yang semula tampak seperti negeri empat musim perlahan kembali menjadi Dieng yang biasa. Keindahan tersebut memiliki batas waktu. Dan justru karena batas itulah manusia terdorong untuk mengabadikannya.

Kamera dikeluarkan. Telepon genggam diangkat. Foto diambil. Tubuh manusia ingin mengatakan kepada waktu: jangan hilangkan semuanya.

Tetapi foto hanya menyelamatkan bentuk. Ia tidak dapat menyimpan dinginnya. Tidak dapat menyimpan suara langkah kaki di atas rerumputan. Tidak dapat menyimpan napas yang mengepul. Tidak dapat menyimpan perasaan ketika seseorang pertama kali melihat hamparan putih itu setelah menunggu sejak dini hari. Dengan demikian, fotografi sebenarnya hanya menyelamatkan sebagian kecil dari pengalaman. Sisanya tinggal di dalam tubuh dan ingatan.

“Salju” dari Negeri Tropis

Sebutan “salju Dieng” mungkin juga menarik dibaca secara fenomenologis. Kita membandingkan sesuatu yang kita lihat dengan sesuatu yang sudah kita kenal melalui imajinasi. Salju adalah gambaran yang telah lama hidup dalam kesadaran masyarakat tropis. Ia hadir melalui film, televisi, buku, internet, cerita perjalanan, dan foto-foto dari negeri empat musim.

Karena itu ketika embun upas memutihkan Dieng, manusia seperti menemukan sesuatu dari imajinasi tersebut di halaman rumah sendiri. Tidak perlu terbang ke Eropa. Tidak perlu pergi ke Jepang. Tidak perlu menunggu musim dingin di negeri lain. Di Jawa, pada pagi tertentu, rumput di sekitar candi dapat berubah putih. Pengalaman itu memberi sensasi yang unik: yang jauh tiba-tiba menjadi dekat.

Namun secara fenomenologis, mungkin justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan tidak buru-buru menyebutnya sebagai “salju”. Sebab embun upas bukan salju. Ia adalah fenomena khas pegunungan tropis yang memiliki kondisi ekologis dan meteorologis sendiri.

Menyebutnya “salju” memang menarik secara budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia memberi nama pada sesuatu berdasarkan pengalaman dan referensi yang telah tersimpan dalam kesadarannya.

Kita tidak pernah melihat dunia dengan mata yang sepenuhnya kosong. Kita melihatnya melalui ingatan. Melalui bahasa. Melalui imajinasi. Melalui apa yang pernah kita ketahui sebelumnya. Dan mungkin karena itulah embun upas terasa begitu ajaib. Ia bukan hanya fenomena alam. Ia adalah pertemuan antara alam dan imajinasi manusia.

Tetapi bagi Petani, Ini Bukan Keajaiban

Di titik ini, barangkali kita perlu menarik kembali pandangan agar tidak terjebak dalam romantisme wisata. Embun upas memang indah. Tetapi keindahan itu tidak netral.

Bagi petani kentang Dieng, embun upas dapat menjadi persoalan ekonomi dan bahkan ancaman terhadap penghidupan.  Frost injury pada kentang di Dataran Tinggi Dieng menunjukkan bahwa suhu rendah dan itu dapat menyebabkan kerusakan tanaman, daun kentang dapat menghitam, layu, dan rusak akibat embun beku.

Maka kita berhadapan dengan paradoks yang lebih dalam. Wisatawan mungkin berkata: “Semoga malam ini embun upas muncul.”

Petani mungkin justru berharap: “Semoga malam ini tidak terlalu dingin.”

Kalimat pertama adalah kerinduan terhadap keindahan. Kalimat kedua adalah kecemasan terhadap kehidupan. Di antara keduanya, alam tidak memilih pihak. Alam hanya berlangsung. Manusialah yang memberinya makna berdasarkan posisi hidupnya.

Karena itu, ketika wisatawan datang ke kebun kentang untuk mengabadikan embun upas, ada etika yang seharusnya ikut dibawa: jangan menginjak, merusak, atau memasuki tanaman warga tanpa izin. Sebab sesuatu yang bagi kita adalah latar belakang foto mungkin bagi orang lain adalah sumber penghidupan. Di situlah pengalaman estetis seharusnya berakhir pada kesadaran etis.

Apa Sesungguhnya yang Kita Kejar?

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan tentang embun upas tidak berhenti pada “mengapa orang ingin melihat es di Dieng?” Pertanyaannya dapat dibuat lebih dalam: Mengapa manusia selalu ingin mengalami sesuatu yang langka?

Mengapa kita rela menempuh perjalanan untuk melihat matahari terbit, menunggu gerhana, mengejar bunga yang hanya mekar beberapa hari, berdiri di tepi pantai saat matahari tenggelam, atau datang jauh-jauh ke Dieng demi melihat rerumputan membeku?

Mungkin karena manusia sesungguhnya membutuhkan pengalaman yang membuatnya keluar sejenak dari rutinitas. Kehidupan sehari-hari terlalu sering membuat dunia tampak biasa.  umah. Kantor. Jalan. Telepon genggam. Pekerjaan. Pertemuan. Rutinitas.

Hari demi hari berjalan tanpa kejutan. Lalu tiba-tiba alam memperlihatkan sesuatu yang tidak biasa. Rumput menjadi putih. Air menjadi kristal. Napas menjadi asap. Dan manusia kembali merasa: dunia ternyata masih menyimpan rahasia. Barangkali itulah yang paling dicari oleh orang-orang yang memburu embun upas.

Bukan sekadar es. Bukan pula sekadar foto. Mereka sedang mencari sebuah pengalaman ketika dunia sehari-hari tiba-tiba menjadi asing kembali. Dan ketika dunia menjadi asing, manusia pun sejenak melihat dirinya sendiri dengan cara yang berbeda. Ia menyadari bahwa dirinya tidak berkuasa atas alam. Ia hanya dapat datang. Menunggu. Menyaksikan. Dan bersyukur jika alam berkenan memperlihatkan wajahnya.

Embun yang Mengajarkan Kita Menunggu

Pada akhirnya matahari selalu datang. Kristal-kristal itu akan mencair. Lapisan putih perlahan menghilang. Dieng kembali menjadi dirinya yang biasa. Namun mungkin justru di situlah pelajaran paling penting dari embun upas.

Kita sering mengira pengalaman berharga adalah pengalaman yang dapat kita miliki. Padahal ada pengalaman yang hanya dapat kita saksikan. Embun tidak bisa dimiliki. Ia tidak bisa dibawa pulang. Tidak bisa disimpan dalam botol. Tidak bisa diperpanjang dengan kehendak manusia. Ia datang pada waktunya sendiri dan pergi ketika waktunya selesai. Manusia hanya memperoleh beberapa menit untuk berhadapan dengannya.

Bukankah kehidupan kita juga demikian? Kita datang. Menunggu. Mengalami. Lalu kehilangan. Barangkali itulah sebabnya embun upas begitu memikat. Di dalam kristal-kristal kecil yang menempel pada rumput itu, manusia seperti sedang melihat miniatur kehidupannya sendiri.

Indah karena fana.

Berharga karena tidak lama.

Menggetarkan karena tidak dapat dimiliki.

Dan mungkin, ketika matahari akhirnya mencairkan embun terakhir, orang-orang yang sejak dini hari menunggunya akan pulang dengan membawa sesuatu yang tidak tampak dalam foto. Bukan salju. Bukan es. Bukan pula sekadar kenangan tentang Dieng.

Melainkan kesadaran bahwa ada hal-hal tertentu dalam hidup yang justru menjadi indah karena kita tidak mampu menahannya. Embun upas mengajarkan satu hal yang sederhana:

keajaiban tidak selalu hadir untuk kita miliki. Kadang-kadang ia hanya datang agar kita sempat menyaksikannya.

Dan setelah itu, ia pergi. Seperti pagi. Seperti masa lalu. Seperti hampir semua hal yang pernah kita cintai. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Diengembun upasfilosofi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

Next Post

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co