KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang dialami remaja, memberikan dukungan, dan menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk bercerita. Berangkat dari pentingnya peran tersebut, Universitas Udayana melalui Program Udayana Mengabdi memberikan pembekalan kepada ibu-ibu PKK Desa Lebih, Kabupaten Gianyar, melalui program “Pemberdayaan Ibu PKK sebagai Pendamping Kesehatan Mental Remaja Melalui Deteksi Dini, Dukungan Psikososial, dan Literasi Digital Keluarga” pada 09 September 2026.
Program ini secara khusus menyasar ibu-ibu PKK Desa Lebih sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas keluarga dalam mendampingi kesehatan mental remaja. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Dinas DP3AP2KB Kabupaten Gianyar, dan Universitas Udayana.
Pemilihan ibu-ibu PKK sebagai sasaran bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan masyarakat, mereka memiliki kedekatan dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Peran tersebut menjadi modal penting untuk membangun kepedulian terhadap kesehatan mental remaja mulai dari lingkungan yang paling dekat dengan mereka, yaitu keluarga.
Masa remaja merupakan periode yang penuh perubahan. Selain menghadapi perubahan fisik dan emosional, remaja juga berhadapan dengan berbagai tuntutan dari sekolah, pertemanan, keluarga, serta lingkungan sosial yang semakin luas. Di sisi lain, perkembangan media digital membuat tantangan tersebut semakin kompleks. Media sosial dapat menjadi ruang untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, tetapi juga dapat menghadirkan risiko seperti cyberbullying, tekanan sosial, paparan konten negatif, hingga penggunaan media digital yang tidak sehat. Kondisi tersebut membuat keluarga perlu memiliki kemampuan untuk menjadi pendamping yang baik. Bukan sekadar mengawasi, tetapi juga mampu mendengarkan, memahami, dan berkomunikasi dengan remaja tanpa menghakimi.
Melalui program ini, ibu-ibu PKK dibekali pemahaman mengenai bagaimana mengenali perubahan pada kondisi psikologis maupun perilaku remaja yang perlu diperhatikan. Materi deteksi dini disampaikan oleh narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, dengan penekanan bahwa mengenali tanda awal bukan berarti memberikan diagnosis kepada remaja. Ketika terdapat kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, keluarga diharapkan memahami bahwa dukungan profesional dapat diperlukan. Dengan demikian, deteksi dini diarahkan untuk meningkatkan kepekaan keluarga, bukan memberikan label terhadap kondisi yang dialami remaja.
Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai dukungan psikososial dari Dinas DP3AP2KB Kabupaten Gianyar. Ibu-ibu PKK diajak memahami bahwa terkadang hal sederhana seperti bersedia mendengarkan, memberikan ruang untuk berbicara, dan merespons dengan empati dapat menjadi bagian penting dari dukungan yang diberikan keluarga. Pendampingan juga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan remaja di dunia digital. Karena itu, materi mengenai literasi digital keluarga yang disampaikan oleh narasumber Universitas Udayana menjadi bagian dari rangkaian pembekalan.
Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana keluarga dapat mendampingi remaja agar menggunakan media digital secara lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab. Pemahaman mengenai risiko cyberbullying, tekanan media sosial, paparan konten negatif, dan penggunaan teknologi yang berlebihan menjadi bagian dari pembahasan.

Ketua Tim Pengabdian Universitas Udayana Dr. Ni Putu Widarini, SKM, MPH, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan ibu-ibu PKK dalam mendampingi remaja, terutama dalam mengenali kondisi yang perlu diperhatikan dan memberikan dukungan awal di lingkungan keluarga.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin ibu-ibu PKK memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk lebih peka terhadap kondisi remaja. Harapannya, mereka dapat menjadi pendamping yang mampu mendengarkan, berkomunikasi dengan baik, dan mengetahui langkah yang tepat apabila menemukan kondisi yang membutuhkan bantuan lebih lanjut,” ujar Widarini.
Pemberdayaan bukan hanya sekadar memberikan informasi, tetapi membangun kapasitas agar masyarakat mampu mengambil peran secara lebih bermakna. Dengan keluarga yang lebih peka, komunikasi yang lebih suportif, dan literasi digital yang lebih baik, Desa Lebih diharapkan dapat terus membangun lingkungan yang semakin ramah terhadap kesehatan mental remaja. [T][Rls]































