“Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.”
Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., itu menjadi salah satu penanda penting dalam Wisuda Sarjana XLIX dan Magister III Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali).
UPMI Bali melepas 237 wisudawan dalam sidang senat terbuka di The Meru Sanur, Denpasar, Selasa, 18 Agustus 2026. Mereka terdiri atas 231 sarjana dan enam magister.
Sidang senat terbuka tersebut dipimpin Ketua Senat UPMI Bali, Prof. Dr. I Wayan Widana, S.Pd., M.Pd. Ratusan wisudawan mengenakan toga dan medali, menandai berakhirnya satu tahap perjalanan akademik sekaligus dimulainya babak baru di luar kampus.
Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., menjelaskan 237 wisudawan yang dilepas berasal dari tiga fakultas. Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) sebanyak 67 orang, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) sebanyak 63 orang, dan Fakultas Sains dan Teknologi sebanyak 107 orang.

Para wisudawan tersebut berasal dari 12 program studi. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister (S2) sebanyak enam orang, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah (S1) 15 orang, Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (S1) 37 orang, Prodi Pendidikan Seni Rupa (S1) sembilan orang, Prodi Pendidikan Sejarah (S1) delapan orang, Prodi Pendidikan Ekonomi (S1) 15 orang, Prodi Bimbingan Konseling (S1) 40 orang, Prodi Pendidikan Matematika (S1) 12 orang, Prodi Pendidikan Biologi (S1) tujuh orang, Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Olah Raga (S1) 62 orang, Prodi Teknik Informatika/Informatika (S1) 20 orang, dan Prodi Sistem Informasi (S1) enam orang.
Dengan bertambahnya 237 lulusan tersebut, jumlah alumni sejak era IKIP PGRI Bali hingga UPMI Bali sampai Agustus 2026 mencapai 25.573 orang. Sebanyak 23.789 merupakan alumni IKIP PGRI Bali dan 1.784 orang alumni UPMI Bali. UPMI Bali sendiri merupakan hasil penggabungan antara IKIP PGRI Bali dan STIMIK Denpasar sejak tahun 2020.

Di antara ratusan wisudawan, sejumlah nama mencatat prestasi akademik terbaik di masing-masing program studi. I Ketut Budiarta dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia meraih IPK 3,96. Ni Luh Widya Antari dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah meraih IPK 3,93. I Komang Yogi Swidarta dari Prodi Pendidikan Seni Rupa meraih IPK 3,94.
Magdalena Sitka Desari dari Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik meraih IPK 3,94. Ni Ketut Linda Dwiyanti dari Prodi Bimbingan dan Konseling meraih IPK 3,92. Ni Ketut Meita Iswari dari Prodi Pendidikan Sejarah meraih IPK 3,93. Ni Putu Srinadi dari Prodi Pendidikan Ekonomi meraih IPK 3,99.
Selanjutnya, Ni Kadek Suci Pratiwi dari Prodi Pendidikan Biologi meraih IPK 3,97, Ni Komang Arik Prasetiawati dari Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Olah Raga meraih IPK 3,90, I Gusti Ketut Adnyani dari Prodi Pendidikan Matematika meraih IPK 3,99, I Wayan Gede Indra Purnayasa dari Prodi Informatika meraih IPK 3,66, serta I Gusti Ngurah Bagus Mahadhita Pramudya Mandala dari Prodi Sistem Informasi meraih IPK 3,82.
Wisudawan terbaik diraih Ni Putu Srinadi Dewi dari Prodi Pendidikan Ekonomi dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,99 (Dengan Pujian) dan I Gusti Ketut Adnyani dari Prodi Pendidikan Matematika dengan IPK 3,99 (Dengan Pujian).

Namun, bagi Rektor UPMI Bali, wisuda bukan sekadar tentang angka, gelar, atau seremoni. Menurutnya, hari itu merupakan momen ketika semua perjuangan menemukan jawabannya.
Ia mengingatkan para wisudawan agar jangan pernah berani kepada orang tua. Kasih orang tua, menurutnya, adalah sesuatu yang tulus dan menjadi cahaya.
“Orang tua adalah samudera kasih yang tak pernah habis, kasih mereka tak pernah meminta balas, tetapi ikhlas,” kata Prof. Suarta.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa pencapaian akademik para wisudawan tidak lahir sendirian. Ada keluarga yang mendampingi, menunggu, dan berkorban selama proses pendidikan berlangsung.
Prof. Suarta juga menegaskan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang apa yang diraih, tetapi sejauh mana seseorang dapat bermakna bagi orang lain. Menurutnya, tantangan sesungguhnya justru ada di luar.
“Jangan mencari pekerjaan, tapi ciptakan pekerjaan. Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya,” tegas Prof. Suarta.
Setelah melewati ruang-ruang kuliah, tugas, ujian, penelitian, dan berbagai proses akademik, para lulusan kini berhadapan dengan dunia yang menuntut lebih dari sekadar ijazah. Gelar yang diperoleh harus menemukan bentuknya melalui karya dan kebermanfaatan.

Sebagai anggota kelompok ahli Gubernur Bali, Prof. Suarta juga mengajak hadirin untuk mendaftar di UPMI Bali dengan memanfaatkan program beasiswa ‘Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS)’. UPMI Bali menyediakan kuota 100 kursi penerima SKSS.
“Ini program Gubernur Bali untuk SDM Bali yang unggul. Selain bebas biaya kuliah, juga dapat uang saku Rp 1.400.000/bulan per mahasiswa,” kata Prof. Made Suarta.
Pesan untuk para lulusan juga disampaikan Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. Ia menegaskan para wisudawan merupakan etalase UPMI Bali, sekaligus menjadi tulang punggung dan ‘think thank’ PGRI untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
“Hari ini S.Kom., tak hanya jadi Sarjana Komputer tapi juga ‘Sarjana Kompetitor’. S.Pd., bukan hanya Sarjana Pendidikan, namun Sarjana ‘Percaya Diri’. M.Pd., bukan hanya Magister Pendidikan tapi juga ‘Makin Percaya Diri’,” kata IGB Arthanegara.
Kepala LLDikti Wilayah VIII, Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU., ASEAN, Eng., turut menegaskan perkembangan UPMI Bali. Ia menyebut UPMI Bali memiliki 41 doktor yang artinya sudah mencapai 32 persen sehingga sudah melampaui standar.
“Artinya mahasiswa di UPMI Bali sudah diampu oleh SDM yang berkualitas,” ujar Bagus Eratodi.

Sementara itu, Gubernur Bali, I Wayan Koster, melalui sambutan yang dibacakan Asisten III Setda Provinsi Bali, Dr. I Wayan Serinah, S.Sos., M.Si., berpesan agar para wisudawan menjadi SDM Bali yang unggul dan berintegritas.
Pesan tersebut kembali membawa perhatian pada pengorbanan orang tua yang berada di balik keberhasilan setiap lulusan. “Di balik setiap toga yang dikenakan ada hasil panen yang disisihkan, ada kebutuhan yang ditunda untuk kesuksesan Anda. Jadi jangan lupakan jasa orang tua.”
Dalam rangkaian wisuda, penghargaan juga diberikan kepada wisudawan berprestasi serta dosen berprestasi. Suasana turut dimeriahkan dengan sejumlah hiburan. Salah satunya pementasan tari kontemporer “Harmoni Nusantara”, hasil garapan dosen Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik), dengan koreografer I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn.
Pada akhirnya, wisuda bukan hanya menjadi perayaan atas gelar yang berhasil diraih. Di balik toga, medali, dan ijazah yang dibawa pulang, ada perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat.
Sebanyak 237 wisudawan UPMI Bali meninggalkan kampus dengan gelar masing-masing. Namun, seperti pesan Prof. Suarta, gelar tidak cukup untuk dipajang. Ia harus dibuktikan dengan karya, dijalani dengan tanggung jawab, dan tidak membuat mereka lupa kepada orang tua yang ikut membayar harga dari setiap pencapaian itu.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









