KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan bantuan AI. Namun, kemudahan itu juga membawa tantangan baru. Siswa tidak hanya perlu tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami batas, risiko, dan tanggung jawab yang menyertainya.
Kesadaran tersebut menjadi landasan kegiatan AIDEA (Artificial Intelligence for Digital Ethics and Academic Learning): Pendampingan Penggunaan AI Secara Kritis dan Etis bagi murid SMP Negeri 7 Denpasar yang dilaksanakan mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Mahasaraswati Denpasar, Rabu, 23 September 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari mata kuliah Projek Kepemimpinan itu melibatkan murid kelas IX.8 sebagai peserta sosialisasi dan pelatihan. Mahasiswa PPG Calon Guru 2026 bertindak sebagai panitia sekaligus pelaksana. AIDEA diarahkan untuk mendampingi murid agar mampu memanfaatkan AI secara bijak, kritis, etis, dan bertanggung jawab.


Pelaksanaan AIDEA mendapat pendampingan dari Dr. I Nyoman Adi Susrawan, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing. Ia memberikan arahan kepada mahasiswa dalam merancang hingga melaksanakan kegiatan. Dukungan juga diberikan guru pamong Ni Nyoman Ardiani, S.Pd., M.Pd., yang turut membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan di sekolah.
Menurut Dr. I Nyoman Adi Susrawan, AI dapat membantu murid dalam berbagai kebutuhan pembelajaran. Namun, manfaat tersebut harus dibarengi kemampuan untuk memeriksa kembali informasi yang dihasilkan.
“Murid dapat memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, membuat rangkuman, dan mendukung penyelesaian berbagai tugas. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan untuk menggunakan AI secara bijak. Informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar, sehingga perlu diperiksa dan diverifikasi. Selain itu, penggunaan AI yang tidak tepat dapat menimbulkan ketergantungan, mengurangi kemandirian dalam belajar, serta berisiko terhadap kejujuran dan integritas akademik,” ujarnya.
Peringatan itu menjadi bagian penting dari pendampingan. Kemampuan menggunakan AI tidak cukup diukur dari seberapa cepat seseorang mendapatkan jawaban. Yang juga perlu dibangun adalah kebiasaan memeriksa informasi, mempertanyakan hasil yang diberikan teknologi, serta tetap menjaga kemandirian dalam menyelesaikan proses belajar.
Dengan cara itu, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti usaha pribadi. Murid tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan dan sejauh mana informasi yang dihasilkan dapat dipercaya.


Pendampingan Penggunaan AI oleh mahasiswa PPG Calon Guru 2026 Universitas Mahasaraswati Denpasar di SMP Negeri 7 Denpasar│Foto: Istimewa
Di tengah cepatnya perkembangan teknologi, AIDEA membawa satu penekanan penting. AI seharusnya membantu proses belajar, bukan menggantikan proses berpikir.
Dalam kegiatan ini, murid diberikan pemahaman agar tidak menggunakan AI hanya untuk melakukan copy-paste. Mereka diarahkan untuk memanfaatkan teknologi tersebut sebagai alat bantu pembelajaran secara mandiri dan bertanggung jawab.
Ketika membuka kegiatan, Kepala SMP Negeri 7 Denpasar, I Wayan Sugianta, S.Pd., M.M., M.Fis., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan AIDEA. Menurutnya, penggunaan AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pendidikan. Karena itu, murid perlu memiliki pemahaman yang tepat agar teknologi tidak hanya digunakan karena mudah dan cepat, tetapi juga dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Mahasaraswati Denpasar yang telah melaksanakan kegiatan pendampingan penggunaan AI bagi murid. Saat ini, penggunaan AI sudah menjadi hal yang lumrah, sehingga murid tidak hanya perlu mampu menggunakannya, tetapi juga memahami bagaimana memanfaatkannya secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab,” ujar Sugianta.
Ia berharap AIDEA dapat membantu murid memahami bahwa AI bukan sekadar alat untuk memperoleh jawaban instan. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung proses belajar, mencari informasi, mengembangkan ide, serta meningkatkan pemahaman terhadap materi.
Harapan itu juga berkaitan dengan keberlanjutan kerja sama antara SMP Negeri 7 Denpasar dan Universitas Mahasaraswati Denpasar melalui Memorandum of Understanding (MoU). Kerja sama tersebut diharapkan terus berkembang melalui berbagai kegiatan pendidikan yang memberi manfaat bagi murid, sekolah, maupun mahasiswa sebagai calon guru.

Pendampingan Penggunaan AI oleh mahasiswa PPG Calon Guru 2026 Universitas Mahasaraswati Denpasar di SMP Negeri 7 Denpasar│Foto: Istimewa
Kegiatan AIDEA berlangsung lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari murid kelas IX.8. Mereka berpartisipasi aktif dalam rangkaian sosialisasi dan pelatihan yang diberikan mahasiswa PPG Calon Guru 2026.
Bagi mahasiswa PPG, pelaksanaan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses belajar sebagai calon pendidik. Melalui AIDEA, mereka memperoleh pengalaman langsung dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan pengelolaan program di lingkungan sekolah.

Di sisi lain, murid diharapkan semakin memahami bahwa penggunaan teknologi selalu membutuhkan pertimbangan. Kemudahan yang ditawarkan AI perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, etika, kemandirian, dan tanggung jawab.
Melalui kegiatan tersebut, AIDEA tidak hanya berbicara mengenai bagaimana AI digunakan, tetapi juga bagaimana murid tetap menjaga peran mereka sebagai pembelajar. Teknologi dapat membantu menemukan informasi dan membuka berbagai kemungkinan, tetapi proses memahami, menilai, dan mempertanggungjawabkan hasil belajar tetap berada pada manusia.
AIDEA sekaligus diharapkan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadapi perkembangan teknologi di bidang pendidikan. Program ini dilaksanakan oleh tim mahasiswa PPG Calon Guru 2026 yang terdiri atas Anita Messakh, Made Eva Trisnadewi, Yuliana Ariyanti, Hendra Wirawan, I Wayan Agus Sukmadana, Ayu Silmiati, Fitriani Dwiyanti Putri, Ni Kadek Sri Haryanti, dan Nina Rezeki Sakinah.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































