KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan: bagaimana memanfaatkan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian?
Persoalan itu mengemuka dalam Road to Bali Digifest 2026 yang digelar Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) di Auditorium Redha Gunawan, Senin, 26 Oktober 2026.
Mengusung tema “Mahasiswa Berinovasi, Pendidikan Bertransformasi, Bali Berdaya”, kegiatan ini mengajak mahasiswa melihat transformasi digital sebagai peluang menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat tanpa meninggalkan identitas budaya Bali.
Dua narasumber pun dihadirkan untuk membedah tantangan tersebut. Dr. I Gusti Agung Ngurah Trisna Jayantika, S.Pd., M.Pd., mengangkat topik “Bali sebagai Pulau Digital: Peran Mahasiswa Pendidikan dan Teknologi”. Sementara Gde Indra Ananta Wijaya, S.Kom., M.Kom., membahas “Artificial Intelligence untuk Pembelajaran dan Inovasi Teknologi”.

Diskusi yang dipandu Ir. I Kadek Juni Arta, S.Kom., M.Kom., IPP., itu mengupas peluang sekaligus tantangan pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan, termasuk bagaimana mahasiswa dapat mengambil peran sebagai pencipta inovasi, bukan sekadar pengguna teknologi.
Dalam pemaparannya, Gde Indra menyoroti semakin luasnya penggunaan AI dalam pendidikan. Teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa memahami materi, mengembangkan kreativitas, hingga menemukan pendekatan baru dalam menyelesaikan persoalan.
Namun, kemudahan itu tidak boleh membuat mahasiswa bergantung sepenuhnya pada teknologi.
“AI harus menjadi teman belajar mahasiswa, bukan menggantikan kemampuan mereka untuk berpikir. Teknologi ini perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan kreativitas dan melahirkan inovasi, tetapi mahasiswa tetap harus kritis, mandiri, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Dari perspektif lebih luas, Trisna Jayantika menekankan posisi strategis perguruan tinggi dalam menghadapi transformasi digital. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya kreativitas sekaligus pengembangan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi dan kreativitas. Teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk pembelajaran dan penelitian, tetapi juga untuk menjaga budaya Bali serta menghasilkan solusi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Baginya, kemajuan digital di Bali memiliki tantangan tersendiri. Inovasi harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal. Mahasiswa pun diharapkan tidak sekadar mahir menggunakan perangkat digital, tetapi mampu menciptakan solusi bagi kebutuhan masyarakat.

Trisna Jayantika pun menaruh harapan besar terhadap keberlanjutan kegiatan tersebut.
“Kami berharap Bali Digifest tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kegiatan ini harus menjadi titik awal lahirnya kolaborasi dan inovasi digital. Mahasiswa jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal,” katanya.
Melalui Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali berupaya memperkuat literasi digital mahasiswa sekaligus membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan teknologi.
Masa depan Bali sebagai pulau digital pada akhirnya tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan generasi mudanya menciptakan inovasi tanpa kehilangan akar budaya.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto






























